Natal Masa Kecil, SD dan SMP (NATAL Part I)


natal
Natal 2013 ini akan menjadi Natal ke-28 saya di dunia ini. Hitung-hitungan Natal pertama sampai Natal kelima serasa masih di awan-awan, tak mengerti apa itu Natal. Waktu itu bapak-ibu pasti membawa saya mengikuti perayaan Natal, akan tetapi seperti apa dan bagaimana perayaannya, saya tak tahu. Saat balita pasti perayaan Natal ramai dengan tangisan si bayi imut yang selalu memecah kesunyian malam perayaan Natal. Ibu pasti sibuk menenangkan si kecil itu, mengelus-elus dia agar bisa tenang. Sementara ibu sendiri pasti tak bisa mengikuti perayaan misa Natal dengan hikmat karena beliau hanya sibuk mengurus diri si kecil yang rewel. Dan pasti bapak Josef Sanam (bapa saya) tak gubris dengan urusan ibu.

Natal keenam sampai Natal kesepuluh, perlahan-lahan saya mulai bisa mengetahui apa itu Natal dan bagaimana perayaannya. Dengan polos makna Natal selalu identik dengan baju baru, celana baru dan sepatu baru. Intinya adalah pakaian baru. Natal serasa akan hambar, tak berarti kalau tak ada pakaian baru. Senang bukan main jika bapa atau ibu membelikan baju baru yang ada gambarnya atau baju kemeja lengan pendek dan celana pendek baru. Saat itu kami tinggal di mes guru (rumah dinas untuk guru) sebelum pindah ke rumah kami yang baru. Saya akan memakai pakaian baru dan menunjukkannya untuk teman-teman, tetangga dan keluarga. ‘Au paek sebaol fe’u (saya pakai baju baru), demikian yang biasa saya katakan pada orang-orang.

Natal kesebelas, secara polos juga makna Natal tak jauh dari pakaian baru, tetapi karena saya sudah memasuki usia belasan maka yang beda hanya di celana barunya. Saya sudah mulai mengenakan celana panjang. Rasanya tak pas kalau tak memakai celana panjang saat Natal. Saya ingat waktu itu bapa menyarankan untuk membeli celana pendek, tetapi dengan tegas saya menolak (kalau tidak beli ya menangis). Strategi melawan dari seorang anak yang pastinya akan membuat orangtua pusing bahkan emosi.

Natal di era usia ini juga identik dengan bunyi petasan. Anak-anak seusia saya mulai kelas 4-6 SD, sibuk bermain petasan di sore hari dan tempat bermain favorit ya di jalan Upbatan (dekat kuburan) dan di jalan Nete Belanda (Jembatan Belanda) dekat golong hok dan ada sebuah gereja Protestan namanya GMIT. Petasan yang biasa kami mainkan adalah jenis rakitan sendiri. Petasan ini dirakit dari busi motor yang tak dipakai lagi. Bagian ujung perapian busi dilubangkan lalu ujungnya ditutup dengan baut yang pas sesuai lubang busi. Baut direkatkan dengan ban dalam motor atau oto (demikian sebutan kami untuk mobil saat kecil). Maksudnya agar baut tidak terlepas saat dimainkan.

Cara bermainnya simple, busi yang sudah dilubangkan ujungnya diisi dengan serbuk dari batang korek api. Setelah terisi hampir sekitar ¾, ujungnya ditutup dengan kertas cokelat dari korek api tersebut. Selanjutnya baut dipakai untuk menutup ujung busi. Bagian ekor busi diikatkan dengan sepotong kain atau plastik, maksudnya agar busi bisa dilemparkan ke atas setinggi-tingginya dan jatuh kembali ke aspal dengan sempurna. Benda yang dilemparkan ke atas memang pasti akan jatuh kembali ke bawah karena Gravitasi bumi, tetapi maksudnya agar busi yang jatuh kembali itu dalam posisi sempurna, yang mana penutup bautnya yang akan menghantam aspal. Saat baut menghantam aspal maka akan terjadi bunyi ledakkan yang keras. Bunyi ledakkan itu hasil dari serbuk korek api dan kertas luarnya yang diisi di ujung busi. Besar-kecil bunyi ledakkan tergantung banyaknya serbuk yang diisi di busi.

Permainan yang asyik tetapi sebetulnya berbahaya untuk anak-anak seusia kami, apalagi tanpa pengawasan orangtua. Bagi anak-anak sekarang harap selalu dalam pengawasan orangtua. Perbuatan ini jangan ditiru.

***

Natal saat masih usia SD juga identik dengan kue kering dan roti bakar, khas buatan ibu Maria Meol (ibu saya). Favorit saya adalah roti bakar. Sampai sekarang paling senang kalau ada gosongnya di belakang roti. Tak rame kalo tak ada kue selama perayaan Natal. Hampir semua rumah di kampung pasti berusaha untuk membuat kue Natal. Apapun jenis kuenya yang pasti akan selalu ada kue, maksudnya untuk dihidangkan saat ada tamu yang berkunjung untuk mengucapkan selamat Natal. Saat Natal pasti banyak tamu, baik itu tetangga, kenalan, maupun keluarga dari luar kampung akan datang mengucapkan selamat Natal.

Luar biasa kalo diingat bahwa dulu kekeluargaannya masih sangat tinggi, harmonis dan saling berbagi sukacita Natal. Tradisi dalam keluarga saya dulu demikian. Tanta Deta bersama kakak-kakak yang tinggal di kota Kefa, pasti datang ke kampung Oenak untuk mengucapkan selamat Natal untuk kakek-nenek saya, Sila dan Pah Rure, demikian sebutan akrab untuk ibu dan ayah dari bapak saya. Tanta Deta adalah Putri kedua mereka, kakak dari ayah saya.

Suasana Natal akan semarak meriah dengan kehadiran mereka. Canda tawa akan memecah kesunyian kampung. Sila dan pah akan menjadi orang yang paling berbangga dan bahagia karena melihat anak-anaknya bersama cucu-cucunya datang mengunjungi dan mengerumuni mereka dengan penuh keceriaan. Mereka akan duduk berkumpul di Lopo (rumah khas di Timor, khususnya TTU) dan bercerita sepanjang hari. Kami, cucu-cucunya yang masih kecil akan berlarian ke sana kemari di halaman rumah, bermain petak umpet, bermain kuda-kudaan, memanjat pohon. Kadang-kadang berlarian dengan makanan atau kue yang sementara dikunya di mulut 🙂 . How bad we were at that time. Sesekali akan terdengar suara teguran dari orangtua ataupun dari om tanta ataupun kakak-kakak yang sudah dewasa karena tingkah laku kami yang berlebihan itu. Kendati demikian tak menghalangi kami untuk terus bermain seperti biasa, menikmati masa kanak-kanak yang aduhai ribetnya.

Sungguh romantis, nikmat penuh keceriaan dan sukacita saat Natal di kampung saat masih usia kanak-kanak.

Natal keduabelas sampai Natal ketigabelas, saya rayakan di perantauan di Weetabula-Sumba Barat Daya. Tahun 1997-2000, Weetabula masih merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Sumba Barat dan merupakan sebuah pulau terpisah dari pulau Timor. Pada kesempatan ini, perayaan Natal saya rayakan dengan suasana berbeda dan jauh dari orangtua. Ada rasa gembira karena bisa melihat tempat lain di luar kampung halaman, akan tetapi juga meninggalkan rasa sedih mendalam karena untuk pertama kalinya hidup jauh dari orangtua. Praktis Natal serasa berbeda. Waktu Natal, pasti ada hadiah pakaian baru, ada kue Natal buatan ibu dan lagi bisa berkumpul bersama keluarga, adik-kakak, om tante dan bisa bermain petasan bersama teman-teman di kampung.

Di sini, di Sumba tak ada lagi pakaian baru, kue buatan ibu. Apalagi Natal saya rayakan bersama keluarga teman. Numpang tinggal selama Natal. L Pertama kali juga di mana saya harus tinggal dengan orang lain yang bukan keluarga. Ada perasaan malu berlebihan, minder dan kurang percaya diri saat berinteraksi dengan mereka. Tahun pertama berada di Sumba, saya merayakan dengan keluarga kak Frengki dan Aris di Waikabubak (lupa nama familynya 🙂 ). Tahun kedua saya rayakan di Melolo, Sumba Timur di tempat tugas P. Yosef Banamtuan, SVD, akan tetapi karena beliau tugas keluar ke salah satu stasi yang jauh maka saya harus menginap di tempat teman namanya Johan Rau, keluarga Manggarai yang sudah berdominsili di Melolo. Kembali saya berinteraksi dengan keluarga lain dan perasaan yang muncul adalah malu dan minder berinteraksi dengan mereka.

Selama 2 tahun berturut-turut saya merayakan Natal dengan keluarga lain di tanah rantau. Saya bersyukur bahwa saya sudah berproses mengenal tempat lain, bersosialisasi dengan orang lain di saat masih berusia 12 tahun, saat masih duduk di bangku SMP. Kalau diingat, adalah sebuah pengalaman berharga bisa berada di tanah rantau dan merayakan Natal dengan tradisi berbeda.

Tahun 1999 saat saya duduk di bangku kelas 3 SMP, liburan Natal cukup panjang (1 bulan lebih) maka  kami diberi kesempatan untuk libur di rumah. Selain itu karena tahun 1999 dekatnya ke tahun baru 2000 yang merupakan permulaan milenium baru dan abad baru dalam sejarah peradaban manusia. Maka ini menjadi pertimbangan lain dari pimpinan sekolah bahwa rasanya tidak pas kalau tak merayakan moment ini bersama keluarga. Ini perkiraan saya. Di samping itu, muncul isu besar yang mana dikatakan bahwa tahun 2000 dunia akan kiamat, what the hell, kiamat??. Waktu itu saya mengerti kiamat sama dengan bumi terbalik. Maka biar saya mati bersama bapa ibu dan segenap keluarga, pikir saya demikian saat itu. 🙂

Jadilah Natal kelimabelas saya kembali ke rumah dan merayakan Natal bersama bapa-ibu, adik-adik dan semua keluarga. Dua tahun lamanya saya merayakan Natal di tempat lain, kini saya bisa merayakan Natal lagi dengan mereka. Senang bukan main. Bisa merasakan sukacita dan kegembiraan yang lama tak dirasa. Nostalgia Natal masa SD bisa terulang kembali di sini dan memulai tahun baru 2000, abad baru abad ke-20 dan milenium baru juga bersama mereka-orang-orang tercinta. How happy I was. 🙂

***bersambung***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s