Nyasar Menjelang Natal (NATAL Part II)


Dalam perayaan Natal kelimabelas ini, ada beberapa moment penting yang ikut mewarnai hidup saya menjelang hari Natal, 25 Desember 1999 seperti dilema, sedih, kuatir, takut dan senang bercampur gembira. Sebelum hari liburan sempat ada tawaran dilematis dari seorang Frater TOP, Fr. Policarpus, Pr (sekarang sudah Romo) untuk berlibur ke tempat asalnya di Bajawa-Flores. Tawaran ini menjadi menarik karena beliau menanggung ongkos kembalinya atau saat pulang dari Bajawa. Selain itu saya juga belum pernah menginjakkan kaki di pulau yang bernama lain Pulau Bunga tersebut. Saya sempat mengatakan ‘ia’ tetapi kemudian ‘tidak’. Ujung-ujungnya saya berpikir ini tahun terakhir dari abad 20 dan akhir milenium pertama dan akan memasuki permulaan millenium baru dan abad baru; lagian isu kiamat sangat menakutkan. Saya mau mati bersama orangtua, pikir saya waktu itu. Karena perasaan takut ini maka saya urungkan niat berlibur bersama beliau. Saya mengurungkan niat untuk melihat Pulau Flores, terutama melihat beberapa obyek wisata menarik di kabupaten Bajawa yang terkenal dengan Pulau Kelelawar dan Air panas So’A.

Akhirnya saya memutuskan untuk berlibur di kampung halaman di Kefa-Pulau Timor. Keputusan untuk berlibur di kampung halaman inilah yang akhirnya menggiring saya pada sebuah peristiwa pilu dan akan menjadi peristiwa penting yang takkan pernah saya lupakan. Sebuah peristiwa yang boleh dikatakan sebagai peristiwa ‘iman’, yang mana jika saya tak kuat, tak memiliki iman dan harapan menghadapinya, maka mungkin saya telah berada di ‘dunia lain’. Puji syukur dan terima kasih berlimpah pada Tuhan bahwa kuasa dan berkat-Nya ternyata luar biasa bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Peristiwa yang saya maksud adalah ‘peristiwa nyasar’ di pelabuhan Waingapu-Sumba Timur yang mana kejadiannya menjelang perayaan Natal 1999. ‘Sial,’ satu kata yang bisa saya ungkapkan untuk mendefinisikan keadaan saya waktu itu. Ya sial menjemput saya di pelabuhan Waingapu-Sumba Timur. Kejadiaannya bermula saat saya salah mengerti jadual kapal tujuan Kupang. Sepengetahuan saya bahwa kapal Veri tujuan Bolok-Kupang biasanya berangkat hari Rabu, namun ternyata jadual ini sudah berubah. Jadual baru kapal Veri tujuan Kupang yaitu hari Jumat. Alhasil saya harus nyasar selama 2 hari di kota Waingapu, terhitung dari Rabu malam sampai Jumat siang.

Tahun 1999, belum ada layanan telpon genggam atau HP, yang ada hanya telepon umum yang menggunakan Coin. Saya bisa saja menghubungi orang-orang yang saya kenal di kota ini. Ada beberapa keluarga yang saya kenal termasuk seorang teman SD saya bernama Yovi Bano yang bersekolah di kota Waingapu dan dia tinggal bersama om Paternya di pastoran Wara. Ada juga keluarga Amtonis, sebuah keluarga Insana, yang sudah menetap di Waingapu. Sangat bisa saya menghubungi mereka untuk meminta tumpangan namun ternyata perasaan malu yang berlebihan menghambat saya untuk menghubungi mereka. What a stupid boy I was. L Malu,..malu,.. ‘Malu bertanya sesat di jalan.’ Peribahasa ini memang pas kena.

Dua hari nyasar di kota Waingapu menyisahkan cerita tersendiri. Sedih, sesedihnya sampai menangis di pinggiran pelabuhan hingga terlihat seperti pengemis emperan yang biasa duduk di pinggiran jalan minta belaskasihan dari orang-orang yang berjalan di depannya. Saya sempat nekat meminta tumpangan pada sebuah keluarga (suami-istri) pedagang kaki lima yang kebetulan berjualan dekat pintu masuk pelabuhan, namun ditolak. Secara halus mereka menyuruh saya untuk meminta tumpangan di sebuah rumah yang berada di pinggiran pantai, tak jauh dari tempat mereka berjualan. Mereka menunjukkan rumah itu pada saya tetapi saya mengurungkan niat. Entah kenapa, saya enggan masuk ke rumah itu. Dari luar terdengar canda tawa wanita yang lebih dari 2 orang. Saya sempat menengok ke dalam dan hanya melihat beberapa wanita mengenakan sarung, mereka tertawa ria karena mungkin ada yang bercerita hal lucu. Sejenak timbul perasaan kuatir dan takut. ‘Jangan-jangan rumah ini rumah bordil?’ Saya bertanya-tanya dalam hati demikian. Karena ceritanya sih lokalisasi biasa berada dekat pelabuhan. Karena perasaan kuatir demikian makanya saya enggan masuk.

Saya hanya bisa kembali mengapus air mata yang kembali turun membasahi pipi saya sambil berjalan menjauh dari rumah itu. Sesekali saya melayangkan pandangan ke atas langit hitam yang dihiasi bintang-bintang. Mereka nampak sangat indah malam itu, tetapi hati saya hancur tak seindah rupa mereka. Saya membayangkan wajah bapak-ibu dan adik-adik. Sedih bukan main. Bocah ingusan yang masih kecil, jauh dari orangtua dan harus nyasar di kota yang jauh. ‘Mengapa Tuhan harus seperti ini?’

Saya ingat waktu itu, saya membeli sebotol aqua dengan sepotong roti untuk makan malam saya. Saya duduk dengan perasaan yang sangat sedih di pinggir jalan di pintu masuk pelabuhan dan dekat dengan pedagang kaki lima tadi, berharap ia bisa berubah pikiran dan menampung saya di rumahnya. Rupanya sang suami iba dengan keadaan saya tetapi istrinya menolak. Dari kejauhan saya mendengar nada penolakan dari sang istri dan raut wajahnya berkali-kali mengatakan tidak. Ingin saya berteriak ‘ibu tolong’ tetapi apa daya saya tak sanggup.

Beberapa menit berlalu, mungkin dalam hitungan sejam, sebuah keajaiban terjadi. Miracle. Saya masih duduk di pinggir jalan kebingungan dengan derai air mata yang terus turun membasahi pipi. Sesekali saya mengusap air mata, mencoba menghalaunya agar tak mengalir, tetapi tetap saja tak tertahankan. Tiba-tiba sebuah angkot melintas di depan saya. Melihat saya yang duduk di pinggir jalan, si kernek atau konjak (sebutan orang Timur Indonesia) menawarkan jasa tumpangan.

‘Waingapu, Waingapu!’ konjak biasa berteriak demikian untuk menawarkan jasa angkot.

Saya masih saja duduk kebingungan. Dalam hati ‘Kalau ikut angkot lantas ke mana?’ Karena saya tak menyahut maka si bapak, sang pedagang kaki lima yang sudah mengepak-ngepak barangnya untuk pulang ke rumah, menceritakan keadaan saya pada si kernek. Mungkin dia mengatakan ‘tolong anak ini, dia nyasar.’ Saya hanya mengira saja karena saya melihat ada pembicaraan serius antara si bapak dan konjak dengan beberapa orang di dalamnya. Lantas dari dalam angkot terdengar suara panggilan dari seorang pria dengan tinggi sekitar 160 cm, berkulit sawo matang dan agak kurus dengan tatoo di lengannya.

Ia memakai topi, mengenakan kaos yang tak berlengan sehingga kelihatan tatoonya, dan selembar kain Bali melingkar di pinggangnya. Trend tahun 1999an kain Bali dipakai menggantikan celana sekedar untuk bergaya. Ia duduk di dalam angkot bersama dua orang temannya. Kedua orang ini tidak bisa saya gambarkan rupa mereka, ya waktu itu cahaya dalam angkot remang-remang. Lagi-lagi kebiasaan angkot demikian, hampir di semua wilayah daerah NTT.

Lantas dia menanyakan apa yang terjadi dengan saya dan dengan polosnya saya menceritakan hal yang sudah saya ceritakan pada si pedagang kaki lima tadi bahwa saya salah jadual kapal dan tak tahu mau bermalam di mana. Dia langsung menyuruh saya memasuki angkot.

‘Masuk’, singkat saja beliau mengatakan demikian.

Sempat bingung dan memang saya bingung. Bukannya batin tenang tetapi malah tambah kuatir dan takut. Sedih bercampur takut. Bagaimana tidak, menemui orang asing yang bersedia memberikan tumpangan untuk bermalam, tetapi dari tampangnya anda bisa tahu dia seorang preman dan lebih mengerihkan lagi temannya yang duduk di sebelahnya membawa ‘kelewang’ sejenis pedang berukuran panjang. Dalam angkot saya hanya diam terpaku sambil memandang mereka dengan rasa cemas. Dalam hati kecil, saya sudah pasrah bahwa malam ini mungkin akhir hidup saya, akhir saya melihat dunia dan menghirup udara segar. Saya tidak akan melihat lagi cahaya matahari esok hari. Saya berpikir bahwa mungkin mereka mau merampok saya dengan berpura-pura memberi tumpangan.

Waktu itu saya membawa tas dan di dalamnya berisi uang yang dikirim oleh orangtua untuk biaya perjalanan pulang kampung. Tak seberapa sih uang dalam dompet tapi naluri penjahat dan perampok kan selalu berpikiran yang wow dan imajinasinya tinggi membayangkan uang yang banyak. Tambahan naluri perampok pasti ingin saja merampok kalau ia tidak memiliki uang. Walau sedikit pasti mereka akan sangat senang bisa mendapatkan sedikit uang dari hasil rampokkannya. Saya hanya seorang anak kecil, apa daya jika saya melawan. Yang ada mampus dihajar mereka. Saya memang membayangkan yang bukan-bukan. Berkali-kali saya menyebut nama Tuhan dalam hati sambil menyerahkan diri, berpasrah seperti Jesus waktu di kayu Salib. ‘Ya Allah, ke dalam tanganMu Kuserahkan jiwaKu’ (halah, lebay).

Si pria itu kemudian mulai bercerita, mencoba untuk mengajak saya bercerita atau berbicara. Ya mungkin juga maksudnya untuk menghibur saya dan membuat saya tenang lewat berbicara.

‘Kamu anak kedua yang saya selamatkan, tetapi dia nyasarnya di terminal’, kata si pria itu menjelaskan.

Dia mengatakan bahwa saya adalah anak kedua yang dia selamatkan tetapi saya dia selamatkan di pelabuhan. Kemudian dia bercerita panjang lebar tentang anak pertama yang ia selamatkan itu. Saya sudah lupa isi ceritanya tetapi paling kurang intinya dia menyelamatkan anak itu. Sesekali saya menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang sudah saya lupa juga. Maklum perasaan takut dan kuatir yang membuat konsentrasi saya buyar untuk mendengar ceritanya dan dalamkan di hati. Sudah 13 thn berlalu sejak Desember 1999 dan saya baru membangkitkan kembali memori ini dalam bentuk tulisan. Saat itu saya sudah berusia 14 tahun tetapi postur tubuh saya sangat kecil dan kelihatan seperti bocah SD.

Dia juga sempat mengatakan, ‘Ini angkot terakhir sehingga kamu beruntung’, kata dia (kata-kata ini juga yang saya ingat).

Lambat laun, perjalanan makin jauh. Jalan demi jalan kami lalui, gang demi gang pun kami lalui. Percakapan yang kami bangun membuat perasaan cemas saya berkurang sedikit tetapi hanya beberapa persen. Tak kurang dari 90%. Ya saya tetap saja cemas. ‘Ke mana mereka membawa saya,’ demikian kata saya dalam hati. Fokus pandangan saya kadang saya tujukan ke arah pria yang membawa kelewang itu. Sesekali juga saya menatap ke luar dari balik jendela angkot. Ya cemas belum juga surut dari rawut wajah saya.

Menit-menit berlalu, akhirnya angkot menepi di pinggir jalan. Tak tahu di mana. Kota Waingapu sudah pernah saya jelajahi sebelumnya, tetapi tempat ini rasanya masih asing bagi saya apalagi malam makin larut dan suasana di sekitar agak gelap. Si pria bertatoo dan yang hanya mengenakan kain Bali itu keluar dari angkot dan segera dia menyuruh saya ikut turun. Walau cemas saya menurut saja. Saya mengira 2 orang temannya yang dalam angkot akan ikut turun dan itu artinya akan berbahaya buat saya. Tetapi ternyata tidak. Mereka tetap di dalam angkot termasuk si pembawa kelewang. Kemudian si pria bertatoo ini melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat berpisah.

“Ok bro, sampai ketemu besok he,” mungkin seperti ini kata beliau (ya berpisah khas orang-orang bagian Timur Indonesia ya seperti ini, atau paling kurang mendekati seperti ini J).

Kali ini rasa gugup dan cemas makin berkurang. Kata-kata perpisahan antara si pria bertatoo dan temannya membuat saya sedikit lega. Artinya tinggal kami berdua, saya dan si pria bertatoo sehingga rasa cemas soal mereka mau merampok saya sangat kecil kemungkinannya. Setelah angkot meninggalkan kami, si pria ini lantas mengajak saya masuk ke rumah yang persis berada di depan jalan tempat kami turun dari angkot. Dia berjalan mendahului saya dan saya mengikuti dia dari belakang.

Ada sebuah rumah tembok, beratap seng. Warna jendela-jendelanya biru. Rumah itu terhitung besar dan bersambungan dengan sebuah rumah kecil berdinding bebak di belakangnya seperti dapur. Tetapi bukan dapur, rumah yang di belakang ini ternyata rumah lama dan yang di depan adalah rumah baru mereka. Kami berjalan menuju rumah kecil yang di belakang itu. Berjalan melewati samping rumah besar. Malam sudah makin larut, bunyi jengkrik di mana-mana tetapi saya masih melihat jelas rumah itu. Dari arah sebelah kiri saat saya berjalan masuk, juga ada sebuah rumah kecil. Saya baru tahu keesokan harinya, ternyata itu kios milik mereka.

Si pria itu membuka pintu rumah yang ada di belakang. Dia masuk lalu menyuruh saya masuk juga. Di dalam rumah itu ada sebuah kamar di sebelah kiri pintu masuk. Dia lalu membuka pintu kamar itu. Saya masih berdiri sejenak, beliau masuk duluan dan menyalahkan lampu kamarnya. Lampunya dinyalakan dan warnanya suram, hmm ternyata hanya menggunakan lampu 5 watt, berwarna pula (warnanya lupa, antara merah, hijau atau biru-pokonya berwarna).

“Ini kamar saya,” kata beliau sambil menyuruh saya masuk.

Saya langsung menuju tempat tidur. Saya meletakkan tas di atasnya tetapi belum langsung tidur. Saya melihat-lihat kamarnya yang hanya berukuran sekitar 4 x 4 m persegi. Dinding rumahnya bebak termasuk kamarnya sehingga seluruh kamarnya ditutupi dengan kertas berwarna putih dan dihiasi dengan berbagai gambar, poster berukuran kecil dan besar untuk menutupi celah-celah bebak itu. Ada juga tulisan-tulisan di sekitarnya. Memang ini kamar bujang era 90an. Trend saat itu. Kata saya dalam hati dan memang saya mengagumi kamar dengan pola seperti ini. Walau masih kecil tetapi saya sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya kalau memiliki kamar sendiri seperti ini.

Berada di tempat tidur rasanya langsung ngantuk dan ingin cepat-cepat menghilangkan rasa capek yang sudah tak tertahankan ini. Walaupun capek sangat, namun perasaan cemas pun masih sedikit hinggap di dada. Hati kecil saya masih sedikit dug dag. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah malam ini benar-benar dia akan merampok saya. ‘Tidak,..tidak mungkin. Dia orang baik. Tampangnya saja yang seram tetapi hatinya baik. Rupanya sangar, bertatoo lagi, tetapi hatinya hati malaikat.’

Si pria bertatoo ini masih mondar-mandir dalam rumah, keluar masuk kamarnya. Melihat saya yang belum tidur, dia lantas menyuruh saya untuk segera istirahat. Pria ini memang orang baik. Saya merebahkan diri dengan perasaan cemas dan memang saya masih sedikit takut. Tempat tidurnya beukuran besar cukup untuk dua orang dan dekat dengan jendela. Saya tidur dekat jendela itu. Saya memejamkan mata, tetapi sesekali saya buka untuk melihat si pria ini. Saya mencuri-curi pandang. Beberapa saat kemudian, si pria itu pun ikut naik ke tempat tidur untuk istirahat. Saya bisa merasakan napasnya. Saya sudah memejamkan mata tetapi belum nyenyak. Dalam hati saya berdoa sejenak, menyebutkan nama Tuhan, membayangkan wajah bapa-ibu, adik-adik dan seketika,….sudah di awan-awan.

Cemas dan takut larut bersama malam. Kecapaian yang sungguh luar biasa membawa saya dalam alam mimpi dan tak tahu mimpi apa saya malam itu. Mungkin memimpikan kebaikan seorang yang saya kira penjahat atau perampok, yang tiba-tiba datang bak seorang malaikat. He’s really an Angel. Dobel Angel mungkin.

Bayangkan, nyasar di tempat umum saat matahari sudah meninggalkan bumi. Tidak ada orang yang dikenal di sekitar pelabuhan. Tidak ada telpon genggam atau HP saat itu. Yang ada hanya telpon umum. Tetapi rasa malu berlebihan menghambat saya, membutakan mata hati dan otak saya untuk berpikir wajar dan cerdas. Ada Yovi Bano bersama pamannya di Pastoran Wara. Ada Gonsa Amtonis (keluarga Insana-Kefa) di Waingapu. Saya bisa saja menghubungi mereka untuk bermalam tetapi saya betul-betul tidak bisa melakukannya.

Terlepas dari bisa tidaknya saya menghubungi kenalan-kenalan ini, ternyata pengalaman ini menjadi hal yang tak terlupakan. Kalau diingat-ingat kembali, ada nilai pembelajaran berharga. Boleh jadi ini jalan Tuhan, jalan yang memang harus saya lalui. Ini adalah jalan di mana saya bisa bertemu dan belajar dari pengalaman hidup, belajar melihat kebaikan seseorang dengan ‘kaca mata iman dan kasih’. Bahwa kebaikan, kasih Tuhan bisa datang kapan saja, di mana saja dan hadir dalam orang yang buruk rupa sekalipun. Orang yang sangar belum tentu buruk hatinya. Demikian orang yang cakap rupanya belum tentu cakap hatinya. Ada kebaikan yang timbul dari dalam hati mereka yang terlanjur kita anggap ‘jahat’ ketika melihat sepintas wajah mereka. ‘Don’t judge a book from the cover’. Malam itu adalah buktinya.

Ke-capee-an membawa saya pada tidur yang lelap dan mendalam (Lebih dalam,..lebih dalam, magician sih bilang begitu-halah gak nyambung J). Malam berlalu dan pagi menjemput. Tak terasa matahari sudah menari-nari di atas langit, cahayanya menyelinap sampai ke dalam kamar melalui celah-celah dinding rumah. Walau kertas-kertas menempel menutupi celah bebak, namun kuatnya cahaya matahari bisa nampak terang dari balik kertas di dalam kamar.

Saya tersadar dengan mata yang masih berat dan saya masih berada di atas tempat tidur.

‘Syukur saya masih hidup dan melihat matahari,’ ungkap saya dalam hati lagi.

Dari dalam kamar saya mendengar suara orang-orang yang lagi asyik bercerita, dan tak lain suara si preman yang ternyata sudah bangun mendahului saya. Dia sedang bercerita dengan ibu dan kakaknya. Sepintas saya mendengar dia menceritakan saya pada ibu dan kakaknya. Saya masih di atas tempat tidur sambil terus menguping. Lagian saya juga malu kalau keluar.

Si preman mungkin sadar bahwa saya sudah bangun atau memang ia mau membangunkan saya. Yang jelas saya sudah bangun ketika dia hendak masuk kamar. Lantas dia mengajak saya untuk memperkenalkan diri pada ibu dan kakaknya serta 2 orang keponakannya, yang seorang perempuan dan seorang laki-laki. Keduanya masih SD.

Saya keluar kamar dengan perasaan malu. Malu-malu kucing. Maklum masih kecil dan memang rasa ini yang selalu menghampiri saya ketika berada di lingkungan baru. Saya memperkenalkan diri dan memang tak terjadi perbincangan hangat di antara kami. Saya tak cakap dalam berbicara. Dan malu lah yang senantiasa menghambat saya bercerita. Saya hanya menjawab atau mengeluarkan suara kalau ditanya.

Walau tak ada perbincangan hangat, namun saya bisa merasakan kehangatan cinta, kebaikan dari keluarga ini. Mereka sungguh baik. Saya mendapat sambutan yang ramah. Tak ada penolakkan walau saya dibawa oleh si preman pada malam hari tanpa restu dari ibu nya terlebih dahulu. Situasi seperti yang saya alami pasti membuat mereka mengerti bahwa anak seusia saya saat itu dengan bentuk fisik seperti saat itu pasti belum cakap dalam banyak hal alias ‘mete’ (istilah untuk orang bingung atau idiot).

Pagi makin panas karena memang cahaya matahari makin bergeser ke ufuk Barat. Kehangatan cinta makin terpancar dari mata dan hati keluarga si abang preman. Detik-menit berlalu, satu kebaikan, dua kebaikan dan seterusnya terus mengalir pada diri saya menghapus semua kecemasan dan ketakutan saya. Pagi ini menandai kehadiran seorang anggota keluarga baru yang ‘nyasar’ kemudian diangkat dan dijadikan anak piara paruh waktu. Pagi ini menandai kehadiran saya sebagai bagian dari anggota keluarga mereka.

Setelah sarapan, si abang harus berangkat ke tempat kerjanya. Beliau seorang ‘penjaga terminal’ menggantikan almarhum ayahnya yang pernah menggeluti  pekerjaan ini. Masih terngiang di ingatan saya, ayahnya meninggal tertabrak mobil. Beliau bercerita demikian, makanya dia melanjutkan karier sang ayah.

Walau abang bekerja, saya tetap di rumah, bermain dengan 2 keponakannya. Dan merekalah yang ternyata membuat saya riang berada di rumah ini, merasa seperti di rumah sendiri. Kami bermain bersama, sore hari saya membantu mereka menyirami tanaman di belakang rumah. Saya merasa terhibur bersama mereka sebelum si abang pulang dari tempat kerja. Ternyata perbedaan usia yang tidak terlalu jauh menjadikan kami sehati dan sepergaulan. Kami merasa gembira bermain bersama (saya sudah lupa nama kedua adik ini-dan mungkin sekarang mereka sudah besar, mungkin juga sudah menikah).

Hari berlalu begitu cepat. Kemarin Rabu baru saja nyasar. Kemudian memasuki hari Kamis dengan aneka cerita bersama keluarga si abang preman. Banyak sekali kisah, tutur yang terucap tetapi sayang bahwa saya tidak bisa mengurainya secara detail. Saya hanya bisa merasakan belas kasih sayang yang sudah mereka berikan saat itu. Their love will last forever in my heart and memory.

Hari ini hari Jum’at, hari di mana harus pulang ke rumah. Ada senang bisa kembali ke rumah Bapa Josef dan mama Maria, menikmati hari Natal bersama mereka dan adik-adik, tetapi juga ada sedih meninggalkan keluarga yang baik ini. Keluarga yang sudah mengaangkat dan menyelamatkan saya dari ketersesatan. Ya saya sesat dan saatnya kembali ke rumah.

Yang pasti bahwa saya tak akan melupakan kehangatan kasih dan kebaikan keluarga si abang. Saya tidak akan lupa si abang yang pertama kali menemukan saya di pinggir pelabuhan, memberi saya tumpangan ketika saya tak memiliki rumah. Saya tidak akan melupakan sarapan pagi ataupun makan bersama ibu si abang di meja bundarnya. Saya tidak akan melupakan kegembiraan bersama 2 keponakan si abang. Mereka senantiasa menjadi penghibur di kala duka karena nyasar. Saya tidak akan melupakan makanan masakan kakak si abang. Saya juga tidak akan lupa nasi bungkus buatannya yang menjadi bekal perjalanan di atas kapal. Saya tidak akan melupakan teman-teman si abang yang sudah menemani saya saat malam kecemasan, Kamis kegembiraan bersama di terminal dan menghantar kembali saya menaiki kapal. Saya naik kapal ‘gratis’ alias no charge (jangan ditiru ya J).

Kapal Veri perlahan meninggalkan dermaga Waingapu dan kisah sedih karena nyasar pun berlalu dihempas ombak ke tepian pantai. Kisah itu bermula dan berakhir di Waingapu. Sudah 13 tahun berlalu tetapi memori akan pengalaman ini terus terpatri dalam ingatan saya. Saya goreskan dalam tulisan ini sekedar untuk membuatnya tetap hidup sepanjang hidup saya dan setelah hidup saya. Saya berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan si abang yang baik hati ini, si preman yang berhati malaikat ini hanya sekedar untuk mengucapkan ‘Terima Kasih’.

***

                                                                      Bersambung,..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s