‘Natal Masa SMA dan Cinta Monyet’ (NATAL Part III)


Image

Post ini rasanya terlambat,. 🙂 Anyway, saya hanya mau melanjutkan kisah Natal yang sudah saya lewati termasuk Natal 2013 kemarin. Saya hanya sekedar mengingat kembali semua moment saat hari Natal atau dalam masa dan mencoba membingkainya dalam rangkaian kata-kata.

Kisah Natal terakhir adalah Natal yang ke-15 ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP yang mana Natal diwarnai dengan kejadian ‘Nyasar Menjelang Natal’. Walau saya tersesat tetapi akhirnya menemukan ‘jalan pulang’ yang bukan karena hanya kekuatan saya menghadapinya tetapi juga karena saya menemukan seorang ‘malaikat penolong’ yang menunjukkan saya jalan pulang itu dan pada akhirnya bisa merayakan Natal bersama orangtua. Tak hanya merayakan Natal tetapi juga melewati malam pergantian Tahun Baru 2000 bersama orang-orang tercinta.

Saya melewati liburan beberapa minggu di rumah dan cerita akan Natal 16 sebenarnya berkaitan dengan liburan ini. Pada waktu liburan ini, timbul niat untuk melanjutkan pendidikan di Timor. Alasannya cukup mengena, ‘Saya sudah malas merantau, bukan karena pendidikannya yang tidak baik atau bermutu tetapi karena alasan jarak.’ Saya harus menghabiskan kurang lebih 3 hari untuk melakukan perjalanan dari Pulau Timor menuju Pulau Sumba, pulau yang juga terkenal dengan Kuda Sandelwoodnya. Alasan ini juga di-amini oleh kedua orangtua saya. Orangtua, bapa-mama, jelas sangat setuju.

Saat itu saya sudah kelas 3 SMP dan beberapa bulan lagi akan UAN dan akan masuk SMA. Karena jalur pendidikan SMP saya agak beda dengan sekolah umum, yang mana sekolah saya berlabel ‘Seminari’ (pendidikan calon imam) maka orangtua langsung mengajak saya untuk mencari informasi mengenai sekolah SMA Seminari Lalian. Sekolah ini yang memang secara pendidikan cocok atau merupakan bagian dari pendidikan untuk calon imam (calon Pastor Katolik). Dan singkatnya, dari hasil konsultasi ini maka akhirnya saya pindah dari Seminari Sinar Buana-Sumba Barat Daya (waktu itu masih Sumba Barat) menuju Seminari Lalian-Atambua di kabupaten Belu pada awal tahun pelajaran baru 2000/2001.

Di sini, kisah Natal selama berada di SMA-masa ‘puber’ terukir dengan pola dan ukiran yang berbeda.

Natal selama duduk di bangku SD dan SMP masih penuh dengan kepolosan. Waktu itu pikiran dan perasaan hanya tertuju pada kenikmatan untuk memperoleh pakaian baru, bisa menikmati kue-kue natal dan bisa menikmati indahnya bermain petasan bersama teman-teman. Waktu SMP kadar makna natal sedikit naik. Hidup di perantauan membangkitkan rasa rindu dan memori akan natal yang indah bersama orangtua, adik-adik dan segenap keluarga besar. Natal membuat saya betul-betul kangen akan suasana rumah.

Ketika duduk di bangku SMA, saya sudah dekat dengan orangtua dan jarak ke rumah pun hanya beberapa jam dari tempat saya bersekolah sehingga dengan mudah saya bisa merayakan natal bersama orangtua dan selalu mengulang kenangan akan natal masa kecil. Tentunya ada hidangan kue natal. Makna natal juga makin dalam artinya. Bahwa natal bukan hanya sekedar datang mengikuti perayaannya lalu pulang ke rumah menikmati kue natal bersama keluarga, tetapi bahwa natal memberi makna untuk kehidupan saya sebagai seorang Kristiani dan merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan diri dan membuat perubahan-perubahan penting dalam hidup.

Sebagai seminaris natal merupakan hari yang cukup sibuk. Kami harus bekerja di paroki. Kami harus melakukan tugas kami sebagai seminaris yang mana selama natal kami harus selalu membantu persiapan-persiapan menjelang perayaan natal seperti membuat kandang natal, menghias gereja, menjadi pelayan altar, membawakan lagu koor komuni dan sebagainya. Intinya kami harus terlibat aktif selama masa natal baik itu kerja fisik maupun kerja non fisik.

Masa liburan natal juga menjadi momen penting dalam masa puber saya. Natal membuat gelora asmara dan gelora cinta membara dalam hati. Natal ke-16 lah yang paling istimewa di masa puber ini (natal tahun 2001 dan akan memasuki tahun 2002). Natal ini membawa saya pada pertautan ‘hati’ dengan seorang bunga desa sebut saja ‘Desi’. Pertautan dua hati ini adalah yang pertama bagi saya alias ‘my first love’. My really first love, sehingga gelora cinta dan sayang seolah mendapatkan yang tepat dan saya begitu senang dan bahagia. Indahnya jatuh cinta memang tiada duanya. Senang yang sesenangnya sampai kadang melakukan hal konyol. Selalu semangat mengikuti misa, walau mungkin di tempat lain kebanyakan orang biasanya sudah tidak terlibat dalam perayaan ekaristi atau misa, seperti misa natal kedua, dan perayaan-perayaan setelah hari natal tgl 24-25 Desember. Memang pantas saya harus selalu aktif dan terlibat dalam perayaan-perayaan ekaristi, apalagi karena status saya sebagai seminaris. Tetapi kalau diingat motivasi lain tersirat di dalamnya. Ya hanya dengan mengikuti perayaan ekaristi, saya bisa bertemu dan mengobrol dengan gadis pujaan hati. 🙂

Kekonyolan karena efek samping first love juga terjadi manakala kedapatan orangtua senyum-senyum sendiri di tempat tidur. Betapa malunya ya.

‘Senyum-senyum kenapa?’ tanya mama yang waktu itu mendapati saya.

‘Sonde‼’ jawab saya singkat dengan ekspresi malu-malu. 🙂

Kadang sudah merasa bete dan sangat kangen, pasti naik angkutan desa yang bisa melewati rumah si gadis. Jangankan bertemu dan bertatapan muka, lewat depan rumahnya saja pasti sudah sangat membahagiakan. Hal konyol juga ketika kartu ucapan selamat Natalnya selalu tersimpan rapi di rak lemari. Berkali-kali dan hampir setiap menit saya menatapnya, mencium aromanya yang begitu wangi, dan di saat itu gambar wajahnya seperti nampak  pada lembaran kartu natal, di atas loteng rumah, di tembok dan di mana-mana.

Kekonyolan yang sangat keterlaluan dan hampir dikatakan anak durhaka manakala sang pujaan hati mendapat tempat paling banyak di hati dan mendapat perhatian lebih besar dari pada perhatian yang dicurahkan pada orantua. Waktu itu liburan natal ke-17 (natal tahun 2002 menuju pergantian tahun 2003) sudah berakhir dan saya harus kembali ke asrama tempat sekolah saya. Pada hari itu, saya janjian untuk bertemu hanya mau ‘say good bye’. Hanya karena mau pamitan dengan gadis saya, akhirnya saya lupa pamitan dengan keluarga terutama, kedua orangtua saya. Tahu apa jadinya? Teman-teman yang mengangkut barang-barang saya di rumah bertemu mama dan kata mereka beliau sampai menitikkan air mata mengingat kelakuan anaknya demikian. Memang sangat menyedihkan jika diingat kembali. Saya sungguh keterlaluan sampai melupakan orantua demi ‘cinta monyet’ ini. Sungguh konyol. Hati orangtua pasti hancur lebur ketika anaknya berbuat demikian. Jarak tidak lagi jauh tetapi karena liburan sangat terbatas yang mana kami hanya bisa liburan di rumah saat natal, paskah dan liburan panjang, Juni-Juli. Hanya waktu ini yang bisa mempertemukan saya dan orangtua. Hanya waktu ini juga yang bisa mempertemukan saya dengan si pujaan hati, akan tetapi saya semestinya lebih bijak dan pandai mengatur waktu.

Memang waktu sudah berlalu dan kenangan akan kejadian ini sudah berlalu pula. Tentu waktu tak bisa diulang. Sehingga biarlah kenangan ini tertulis sebagai bagian dari hidup saya dan sebagai tanda maaf saya pada keluarga, terutama orangtua dan lebih utama tanda maaf untuk mama yang sudah sampai menitikan air matanya. I always love you mama.

Orang mengatakan ‘First love never die’, cinta pertama takkan mati. Memang benar tetapi yang saya alami mungkin beda. Cinta pertama saya perlahan-lahan pudar seiring waktu. Banyak alasan yang membuat saya mulai menghindar, mulai dari peristiwa tak digubris, hingga seolah si dia seolah berpaling dari saya karena mungkin menemukan orang lain yang lebih tepat. Karena alasan-alasan ini maka saya pun mulai mencari jalan lain dan akhirnya menemukan ‘yang lain’ juga.

Natal ke-18 (natal tahun 2003 menuju pergantian tahun 2004) saya dipertemukan dengan yang lain itu sebut saja namanya Vina. Si dia ini saya anggap lebih baik dari yang sebelumnya dan lebih ‘aduhai’ :-). Terajutlah kisah asmara dua hati ini sampai-sampai saya nekat mampir di rumahnya, memperkenalkan diri pada kedua orangtuanya bahkan saat ulang tahun sweet 17th nya, saya diundang sebagai tamu istimewa. What a great day. Saya sungguh bahagia, luka karena ditinggal terobati dengan kehadiran yang baru, ‘Vina’. Lagu Manado ‘Arang Tempurung’ seolah menjadi soundtrack perjalanan kisah kami.

Natal ke-19 (tahun 2004 menuju pergantian tahun baru 2005), saya sudah tamat dari Seminari Lalian dan berhasil masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk calon imam. Pertengahan tahun 2004 sampai natal 2005 (tepatnya awal 2006) saya habiskan di Novisiat SVD Nenuk-Atambua, tempat pembinaan calon imam tarekat SVD (Serikat Sabda Allah). Hampir tak ada waktu untuk berlibur ke kampung halaman untuk melihat orangtua apalagi berjumpa si Vina. Tetapi beruntung, saat masih di tingkat I kami diberi kesempatan untuk libur natal sehari saja yaitu pas tanggal 25 Desember. Kesempatan ini menjadi kesempatan yang baik dan tak saya sia-siakan. Di sela-sela kunjungan ke rumah dan mengucapkan selamat natal pada orangtua, saya pun menyempatkan diri mengunjungi si Vina. Ya hanya mau melepas rasa kangen dan selebihnya mengucapkan selamat natal juga.

Hanya beberapa menit saja tetapi sangat berarti. Saya bisa menatap kembali wajahnya dari dekat, melihat kedua bola matanya yang sayup-sayup itu dan intinya menikmati menit-menit yang indah itu bersama dia, nothing more. Lagi-lagi, saya sangat bahagia. Sangat bahagia berduaan tetapi ternyata itu menjadi pertemuan terakhir kami. Karena setelah saya kembali ke biara, praktis tak ada banyak waktu berjumpa. Di saat itupun si Vina ternyata sudah dengan ‘yang lain’ dan hubungan kami akhirnya putus dengan sendirinya. Again, tidak ada kata pisah sama seperti cinta pertama saya. Asmara yang saya jalani bersama mereka berjalan begitu saja dan berakhir begitu saja. Perih memang, tetapi untuk apa ditangisi. Namanya juga cinta monyet, cinta yang terjalin karena gelora asmara masa puber, hahaha.

Masih ada dua gadis yang turut menghiasi asmara masa puber saya waktu duduk di bangku SMA. Tetapi kisahnya sama saja. Semuanya berhembus seperti angin, tak tau datangnya dari mana dan berakhirnya di mana. Tak jelas arahnya tetapi hanya bisa dirasakan. Kehadiran mereka sungguh saya rasakan dan sadari. Mereka sangat berpengaruh dan memberikan arti yang mendalam dalam perenungan saya untuk menemukan diri saya. Dari diri mereka lah, saya belajar dan sadar akan panggilan yang saya jalani waktu itu di dalam lingkungan biara.

***bersambung***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s