Ke Desa


Masih pagi dan matahari perlahan bergeser ke arah barat. Akan tetapi awan hitam menutupinya sehingga cahayanya tak nampak dan yang ada mendung menaungi hampir seluruh kota SoE. Nampaknya hujan semalam masih menyisahkan mendung di pagi ini. Sesekali juga rintik hujan turun, menambah basah tanah.

Selasa, 21 Januari 2014. Jam di HP menunjukkan pukul 07.30. Saya sudah berada di kantor untuk melanjutkan aktifitas. Planing kerja yang sudah dibuat kemarin bahwa hari ini saya akan ke desa bersama bos saya (istilah kantor BRS, Building Relationship Supervisor) dan beberapa rekan staf lapangan (bahasa keren lembaga adalah CDO, Community Development Officer dan CDS, Community Development Supervisor) untuk mengikuti kegiatan cerdas cermat relawan desa yang bekerja untuk Plan. Saya dan rekan-rekan lekas mempersiapkan segala hal yang perlu. Beberapa menit kemudian, semuanya sudah siap dan kami berangkat. Beberapa rekan menggunakan mobil kantor, beberapa lagi memilih menggunakan motor, termasuk saya yang menggunakan Supra X 125 hasil pinjaman dari salah seorang rekan.

Saya memacu si gesit irit ini melewati jalanan menuju desa Napi kecamatan Kie-salah satu kecamatan di bagian tenggara dari kota SoE. Perjalanan ke sana umumnya 2 jam dengan jarak tempuh sekitar 60-an km. Hitung-hitungan, bisa ditempuh dalam waktu 1 ½ jam atau bisa juga sejam, tetapi jalannya berkelok-kelok, berlubang, dan tak semuanya beraspal alias masih pengerasan. Hampir ¾ jalan menuju tempat ini rusak parah (totally damaged). Sebelumnya beraspal tetapi rupanya aspal menjadi korban hujan dan longsor yang rentan di kawasan ini. Tambahan kualitas pengerjaan aspal yang asal-asalan membuatnya mudah dikikis air hujan. Hasilnya banyak aspal yang sudah kropos, hanya menyisahkan pasir dan kerikil. Oknum pembuat jalan mesti diperiksa nih 🙂 hahaha.

Sekarang sudah 2014 dan masih saja seperti ini. Akibatnya akses lambat, padahal hasil bumi di desa-desa sekitar cukup menjanjikan. Situasi jalan ini hanya salah satu dari sekian banyak jalan yang rusak di kabupaten ini. So pity.  Jalan rusak tidak diperbaiki. Ada perbaikan tetapi itu pun hanya beberapa km. Selalu ada alasan dana tidak mencukupi. Hallo,.tolong ko sadar ha! 🙂

Jalannya berlubang, bechhekkk (Cinta Laura ngomongnya begitchu). Hujan semalam dan yang sesekali turun di pagi ini membuat jalanan yang berlubang dan tak beraspal menjadi becek. Jalan aspal basah, apalagi jalan yang hanya menyisahkan tanah, pasir dan batu kerikil. Bukan hanya basah tetapi juga jalan berlumpur. Karena berlumpur, maka lalu-lalang kendaraan membuatnya menjadi becek. Yang sudah becek tambah becek. 😛

Tak mudah memang melewati jalan seperti ini dengan mengendarai sepeda motor. Harus extra hati-hati dan menjaga keseimbangan. Pandangan dan pikiran jelas harus fokus karena kalau sempat melihat ke arah lain berarti bisa tergelincir dan jatuh. Yang lebih bahaya, bisa terjun bebas ke jurang. Anda mau? No way.

Hati-hati, pandangan dan pikiran fokus serta menjaga keseimbangan badan. Ini kunci saya dalam mengendarai sepeda motor. Walau melaju dalam kecepatan tinggi, saya tetap memperhatikan aspek-aspek ini. Supra X 125 yang saya tunggangi melaju dengan kecepatan 80 kmph, kadang naik menjadi 100 di jalan aspal yang baik. Memasuki jalan berlubang dan becek, kecepatannya saya kurangi bisa sampai 20 kmph. Saya berkelok-kelok, menghindari jalan yang berlubang lebih parah atau yang penuh dengan kerikil besar atau yang digenangi air hujan.

Bebek asli Honda ini saya pacu bak di landasan balap. Stoner gadungan 🙂 . Gas menancap kencang di jalan yang rata dan yang ada sedikit aspalnya. Saking asyiknya menarik gas, kadang beta lupa kalau di depan ada lubang atau tonjolan aspal yang patah. Pasrah saja‼ Dan ban depan pasti menghantam keras. Shock depan juga menghantam keras sehingga seluruh badan bergetar.

Ada bagian jalan yang sangat licin dengan tonjolan kerikil besar. Pas tanjakan pula. Lumpur membalut kerikil-kerikil besar ini sehingga kadang ban motor tergelincir. Untungnya tidak sampai jatuh. Saya tetap usahakan memegang steer dengan kencang. Kadang kadua kaki saya julurkan ke bawah, mejaga kalau-kalau motor miring dan jatuh. Syukurlah bahwa saya bisa pergi dan kembali dengan selamat melewati jalan ini.

Asyik-asyik saja ke desa serasa off road. You want a challenge and this is really challenging bagi off roaders. Enjoy your ride fellas. 🙂

 

Advertisements

3 thoughts on “Ke Desa

  1. Pingback: Fatuulan: Negeri di Atas Awan | ManaShines

  2. Pingback: ManaShines

  3. Pingback: Sentuh Hati Anak-Anak | ManaShines

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s