Melihat dan Mendengar


Saat masih kecil atau kanak-kanak, sering secara spontan kita mengemukakan cita-cita. Anak-anak perempuan pasti bilang saya ingin menjadi bidan. Saya ingin jadi suster. Kalau yang laki-laki sering bilang saya ingin menjadi guru. Saya ingin menjadi dosen. Saya ingin mejadi pilot.

Saya ingat waktu masih kecil pernah ditanya, kalau besar mau jadi apa? Saya menjawab spontan, ‘Saya mau jadi dosen.’ Saya ingat waktu itu bapa saya pernah bilang kalau dosen gajinya besar. Karena itu kata dosen selalu terbawa dalam cita-cita masa kecil karena apa? Ya karena pernah mendengar bahwa dosen gajinya besar tadi. 🙂 

Ya itulah cita-cita masa kecil. Mengapa kok masih kecil kita sudah tahu jenis-jenis pekerjaan? Belajar tho. 🙂 Sebenarnya kita sendiri tidak tahu seperti apa jenis pekerjaan itu tetapi yang pasti pengetahuan kita akan sesuatu sudah terbentuk sejak kecil lewat indra pendengaran dan penglihatan. Melihat dan mendengar membuat kita tahu akan konstruksi suatu pekerjaan sehingga ketika ditanya mengenai cita-cita lantas kita akan menjawab secara spontan sesuai dengan apa yang sudah pernah kita lihat dan dengar. Bisa karena melihatnya di televisi atau karena melihat orang lain yang berprofesi seperti itu atau karena pernah mendengarnya.

Seorang anak gadis yang bercita-cita menjadi seorang bidan terbentuk karena mungkin ibunya berprofesi sebagai seorang bidan yang mana si anak melihat ibunya mengenakan pakaian putih setiap hari. Ketika ibunya membawa si anak ke tempat kerja dan saat berpapasan dengan orang lain, orang tersebut menyapa ibunya, ‘Selamat pagi ibu bidan.’ Saat berada di tempat kerja pasien-pasien menyebut kata bidan berulang-ulang. Bisa saja ibunya bukan seorang bidan tetapi tetangganya bidan atau mungkin karena ia kebetulan mendengar kata bidan pada suatu kesempatan seperti saat berobat ke puskesmas.  Maka secara tidak langsung timbul cita-cita ingin menjadi seorang bidan. ‘Kenapa mau jadi bidan? Mau rawat orang sakit.’

Seorang anak laki-laki yang tinggal di suatu desa dengan nada pede ingin menjadi seorang pilot. Ketika ditanya lagi, ‘Kenapa mau menjadi pilot? Saya mau bawa pesawat.’ Jawab si anak polos. Apakah di desa ada pesawat terbang? Apakah pilot bekerja di desa? Tentu tidak. Lantas dari mana ia bisa tahu kalau pekerjaan pilot itu untuk menerbangkan pesawat? Si anak mungkin sudah pernah mendengar tentang pekerjaan seorang pilot melalui televisi. Atau mungkin ketika belajar di sekolah ia mendengar pelajaran tentang jenis-jenis pekerjaan dan visualisasi jenis pekerjaan itu dengan gambar.

Saya sendiri pernah bercita-cita ingin menjadi seorang frater. Kenapa mau menjadi frater? Ya karena masih kecil saya sering melihat frater di gereja. Pernah juga para frater novis berkunjung ke paroki kami. Mereka terlihat gagah dan menawan saat mengenakan jubah dan berdiri di atas altar bersama imam. Pokonya terlihat keren. Yang lebih cool lagi, saat mereka mendampingi sekolah kami dalam kegiatan ret-ret sekolah. Ada permainan-permainan yang membuat kami sangat senang. 

Demikian bahwa melihat dan mendengar sangat berpengaruh dalam mengutarakan cita-cita saat masih kecil. Am I right Buddies? Apakah saya benar? 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s