Natal ’20an : Novis, Jogja dan Oenak (NATAL Part IV)


Bertahun-tahun, mulai dari SMP sampai menjadi seorang Frater Novis, saya hidup dalam lingkungan biara dan menjalani hidup membiara. Saya menjalani kehidupan yang ‘tidak sama’ dengan teman-teman lain di luar biara. Awalnya saya cukup menikmatinya karena merupakan bagian dari cita-cita masa kecil saya, tetapi lambat laun saya mulai sadar akan panggilan saya yang sebenarnya dan memutuskan untuk mengundurkan diri. Natal ke-20 (natal tahun 2005 menuju pergantian tahun 2006) menandai akhir dari perjalanan saya dalam hidup membiara sekaligus menandai pergumulan awal saya memasuki dunia luar yang nan luas ini.

Keluar dari sangkar burung dan terbang mengitari alam nan luas. Seperti seekor burung yang baru belajar terbang, yang keluar dari sangkar, hinggap di tepian sangkar sebentar. Menghirup udara bebas dalam-dalam, pandangannya jauh ke depan, ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah. Kemudian kedua sayapnya dikepakkan, mencoba merasakan setiap energi yang keluar dari sayap-sayapnya lalu terbang melintasi alam nan luas. Pengalaman pertama terbang tentu tak mengenakkan, ada rasa gugup, kuatir dan takut. Burung yang baru belajar terbang pasti mengalami pengalaman jatuh. Walaupun jatuh dan jatuh lagi, ia tahu kodratnya sebagai makluk hidup yang dianugerahi sayap untuk terbang dan terbang mencari kehidupannya sendiri, terbang menjelajahi setiap sudut tempat yang bisa ia hinggapi demi mendapatkan makanan. Burung pun tahu bahwa ada saat di mana ia akan mencari kehidupannya sendiri dan terlepas dari induknya.

Saya mengalami hidup di dalam sangkar dan sekarang mulai terbang keluar ke alam luas. Tidak mudah memang. Pikiran dan perasaan berkecamuk sejak hari pertama menghirup udara luar. Ada perasaan, gugup, kuatir dan takut. Saya sudah terbiasa dengan hidup di dalam biara yang mana semua waktu sudah diatur dan kegiatan-kegiatan yang dijalani pun sudah teratur menurut waktunya. Makan-minum saja sudah disiapkan, seolah hidup dimanjakkan dengan aneka fasilitas yang mudah dan enak, tinggal mencicipi. Tetapi sekarang, saya sudah berada di dunia luar. Saya sendiri yang mengatur waktu dan mengatur kehidupan sendiri tanpa aturan yang baku seperti yang sudah saya alami dalam biara.

Hati kecil terus bertanya-tanya, ‘Apa yang sudah saya lakukan ini? Apakah ini adalah keputusan yang tepat? Apakah kehidupan saya akan lebih baik?’ Berbagai macam pertanyaan berkecamuk tetapi keputusan sudah dibuat. ‘Apapun yang terjadi, saya akan hadapi,’ demikian akhir kata dari perasaan yang tak menentu itu.

Hari-hari awal di luar memang tak meng-enak-an. Saya mulai belajar menjalani kehidupan luar. Sementara perlakuan orangtua pun berubah, tak sama seperti waktu masih di seminari atau biara. Saya sadari itu dan bukan hanya perasaan yang mengatakannya. Saya mulai belajar kerja kasar, kerja yang jarang saya lakukan waktu masih di dalam biara. Pekerjaan yang saya lakukan seperti memberi makanan untuk ternak, pergi berkebun dan ke sawah layaknya hidup orang tani. Berat rasanya tetapi saya rela melakukannya karena memang itu pilihan yang saya mau. Merenung dan merenung, pekerjaan apapun saya lakukan. 4 bulan lamanya saya tinggal bersama orangtua dan menjalani rutinitas yang biasa mereka lakukan sambil mencari jalan untuk kuliah.

Di sela-sela jam makan malam kadang kami berdiskusi tentang rencana kuliah. Kami berdiskusi, kira-kira jurusan apa yang akan saya pilih. Orangtua dengan hati nurani dan nasehat-nasehatnya terus membuka wawasan saya. Terkadang saya merasa orangtua memaksakan kehendak mereka pada saya untuk memilih jurusan yang mereka mau. Mereka mengarahkan saya untuk menjadi seorang guru. Tetapi saya juga tetap dengan pendirian. Saya sudah berpikir untuk tak menjadi seorang guru. Kadang diskusi berakhir dengan nada emosi. Orangtua emosi, saya pun ikutan emosi.

Sampai akhirnya, seperti menemukan satu pencerahan. Tak disangka-sangka, secara mengejutkan orangtua sepertinya mengikuti kemauan saya. Singkat cerita bapa mengizinkan saya untuk menempuh pendidikan di tanah Jawa. What a great moment. Jangankan melihat tanah Jawa, membayangkannya saja sudah senang bukan main apalagi sekarang akan tinggal dan kuliah di Jawa. Senang dan gembira bukan main.

Pertengahan tahun 2006, saya memulai petualangan di tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma (USD) menjadi tempat saya menempuh bangku kuliah. Apa yang membuat orangtua mengizinkan saya kuliah di sini juga karena jurusan pendidikan yang saya pilih tidak tersedia di kampus-kampus yang ada di Kupang. Di USD saya mengambil jurusan Sastra Inggris (English Literature) yang memang tidak ada di Kupang.

Dengan demikian elegi natal terukir di tempat baru dengan pengalaman baru. Natal ke-21 (Natal 2006 menuju pergantian tahun baru 2007) saya rayakan di Jogja. Saya sudah berusia 20an sehingga natal masa kecil seolah sirna tak berasa di sini. Ya hidup di tengah mayoritas, natal serasa seperi perayaan hari biasa. Walau pun demikian, natal ya natal. Saya tetap menghayatinya sebagai perayaan besar. Perayaan besar atau kecil tergantung tiap pribadi memaknainya. Saya tetap memaknainya sebagai perayaan keselamatan.

Mungkin yang tak berasa adalah moment ketika selesai perayaan natal. Soalnya setelah misa mau ke mana? Mau ucapkan selamat natal di mana? Pada siapa? Untungnya saya mengenal beberapa rekan, sahabat dan beberapa kenalan se-daerah sehingga kami bisa berbagi suka cita natal bersama. Di sinilah saya memaknai natal juga sebagai moment mempererat tali persaudaraan di tanah rantau.

Yang beda juga bahwa semenjak di Jogja, ucapan natal tidak lagi melalui kartu natal, tetapi kali ini lewat SMS. Serasa lebih asyik mengirimkan ucapan selamat natal lewat sms. Ya ceritanya saya baru punya hp sendiri pas berada di Jogja. 🙂

Selanjutnya natal ke-22 tahun 2007 sampai natal ke-25 thn 2010 saya masih merayakannya di Yogya. Masih dengan suasana yang sama. Makna natal itu soal penghayatan individu. Suasana natal setelah misa memang biasa-biasa saja tetapi tetap natal adalah hari keselamatan. Sebasar apa keselamatan itu, ya itu makna yang hanya saya sendiri yang maknai. Makna natal bagi saya selama berada di Jogja bahwa saya belajar bersabar, belajar untuk menjadi pribadi yang kuat, berani dan percaya diri. Natal menjadi moment untuk memohon berkat Tuhan dalam setiap liku-liku hidup saya. Saya memohon berkatNya agar saya tetap tegar sampai menyelesaikan kuliah saya.

Natal kadang saya rayakan dengan teman-teman kampus, kenalan dari daerah lain. Ada Rendi, Betu, Lito, Aloy, Moris, Axel, Emil, Angel, Om Erson, Riki Anyan, Stefen, Yosafat, Abed, Finus  dan masih banyak lagi. Natal bersama mereka memang berkesan. Saya kangen mereka semua. Seandainya waktu bisa terulang.

Kadang saya rayakan natal dengan saudara-saudari sedaerah dan sekampung, seperti Rilus dengan kekasihnya, Djuniuk dan adiknya Esry. Biasanya setelah perayaan natal baru kami bisa berkumpul bersama.

Di Jogaja saya cukup aktif dalam koor dan selama di Jogja koor yang paling berkesan adalah bersama Gandroeng Choir. Gandroeng seperti menjadi keluarga bagi saya juga. Saya kangen dengan mereka dan berharap suatu saat saya bisa reunian dengan mereka. Mas Didit, mas Wawan, miss Aree, mereka pribadi yang luar biasa.

5 kali merayakan natal di Jogja. Tepat awal November 2011 saya kembali ke tanah kelahiran saya, tempat saya dibesarkan. Sedih, seolah tak ingin kembali, tetapi apa daya. Rasanya ada yang belum tuntas untuk dijalankan di Jogja, tetapi itulah hidup dan itulah saya dengan segala keterbatasannya. Saya bukanlah siapa-siapa, seseorang yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Life must go on.

Saya harus meneruskan perjalanan hidup saya. Serasa ada yang belum tuntas tetapi bukan kah tujuan mulia saya untuk mendapatkan ijasah sudah tuntas. 5 tahun saya bergumul dan pada akhirnya saya menerima titel gelar sarjana. Apa itu masih kurang? Tetap ada yang kurang dan saya akan kembali mempertanyakan kembali ‘yang belum tuntas itu’, mengambilnya dan membawanya sebagai hadiah terindah, gelar terindah. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan menunjukkan jalan itu. Saya belum mengatakan selamat tinggal Jogja karena saya yakin saya akan kembali mengambil apa yang menjadi ‘milik saya’ di sana.

***

November 2011 saya kembali ke Timor khususnya kampung halaman tercinta Oenak. Saya kembali bersentuhan dengan dunia saya dibesarkan. Dan kembali saya merayakan natal di sini. Saya merayakan natal ke-26 di kampung halaman. Segala memori akan natal masa kecil terukir kembali di kapela Naiola. Perayaan natal yang sederhana dengan nyanyi dan tarian yang meriah. Bersama itu pula saya menyerahkan diri sepenuhnya di hadapan sang Juruselamat Yang lahir. Saya mengucapkan syukur dan terima kasih karena saya sudah menyelesaikan tugas kuliah saya. Saya membayar lunas kepercayaan orangtua yang sudah mengirim saya jauh melalang buana dan kembali dengan hasil yang memuaskan hati mereka. Sembari saya meminta pertolongannya agar saya segera mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan pekerjaan.

Dan itu nyata. Tahun baru 2012 menjadi tahun berahmat. Saya dianugerahkan pekerjaan di mana saya benar-benar bisa hidup mandiri, bebas dari tanggung jawab orangtua. Natal 2012-natal ke-27 kembali saya mengucap syukur karena anugerah indah ini. Natal bersama orangtua, adik-adik dan segenap keluarga besar.

Dan Natal tahun 2013 adalah natal saya yang ke-28. Apa yang istimewa? Yang istimewa bahwa saya terinspirasi untuk merenungkan semua moment natal sepanjang hidup saya, mulai dari natal masa balita, kanak-kanak, natal remaja hingga saat ini. Atas semua pengalaman ini, saya sadar dan yakin bahwa kasih Tuhan tidak terlambat bagi mereka yang masih percaya padaNya. Saya bisa tetap kuat dan tegar seperti ini karena Dia ada bersamaku. Tuhan Juruselamat masih hadir bersamaku. Saya bersyukur bahwa saya masih bisa merayakan natal bersama orangtua, adik-adik, saudara-saudari dan segenap keluarga besar. Salam Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.
~ T H E    E N D ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s