Anak Desa Menari Bonet Sambil Promosi Hak Anak


Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan kami baru saja turun dari mobil yang membawa kami ke desa Oeekam, satu desa yang nun jauh ke arah tenggara dari kota SoE. Setelah keluar dari mobil, terlihat satu pemandangan yang luar biasa dan mempesona. Sekelompok anak desa bersama beberapa orang dewasa yang menjadi pendampingnya sudah berkumpul di dalam tenda yang disiapkan di depan kantor desa Oeekam. Mereka duduk berkelompok-kelompok menurut desanya. Terlihat beberapa masih sibuk di sana-sini, membetulkan pakaian dan perhiasan yang mereka kenakan, ada yang terlihat sementara melakukan latihan pemantapan terakhir – vocalizing sebelum perform. Hari ini anak-anak dari desa-desa dampingan Plan akan perform tarian Bonet¹ – salah satu rangkaian acara Jambore Anak yang berlangsung selama 2 hari, tanggal 5-6 Februari 2014.

Tarian Bonet dari salah satu peserta

Tarian Bonet dari salah satu peserta


Senang dan gembira terpancar dari wajah anak-anak desa yang polos ini. Terlihat senyum mereka tulus apa adanya. Ada yang kelihatan tegang dan serius menatap tetapi tetap tidak mengurangi semangat mereka untuk tampil di atas panggung. Sebaliknya mereka terlihat antusias dan siap untuk unjuk kebolehan dalam ber-bonet.

Anak-anak desa ini sudah berpakaian adat lengkap dengan segala perhiasan atau asesorisnya. Anak-anak gadis mengenakan tais² yang dipadukan dengan kebaya dan selendang kecil – dipakai melintang dari bahu kiri atas ke pinggul kanan bawah atau sebaliknya dari bahu kanan atas ke pinggang kiri bawah. Kalung-kalung berwarna juga melingkar di leher mereka. Sanggul dan pita berwarna pun dikenakan untuk menghiasi kepala. Bedak menjadi make up sederhana yang merias wajah, membuat mereka menjadi menarik dan terlihat cantik.

Anak-anak laki-laki juga tampil gagah dengan pakaian adat yang mereka kenakan. Mereka mengenakan kain bete³ yang diikat kencang menggunakan bete ana⁴ (baca: bet’ana) – fungsi lain dari bet ‘ana adalah sebagai ikat pinggang. Kain bete dipadukan dengan kemeja biasa, ada juga yang tak memakai kemeja tetapi menggantikan kemeja dengan kain bete – bete dililitkan di kedua bahu. Sementara asesoris yang mereka kenakan seperti alu⁵ (baca: aul ana) yang bermotif macam-macam lengkap dengan tiba. Anak laki-laki juga memiliki hiasan kepala yang khas yang beda dengan anak perempuan. Hiasan kepala ini biasa dinamakan piul nairuf⁶. Piul nairuf dibentuk menyerupai ikat kepala khas laki-laki, dipakai melingkar di kepala. Ada yang mengganti fungsi piul nairuf dengan bentuk paten ikat kepala lain dan bermotif macam-macam.

Melihat anak-anak sudah mengenakan pakaian adat lengkap – berarti mereka sudah siap untuk pentas. Dan sesaat setelah kami tiba dan duduk di dalam tenda acara, acarapun segera dibuka oleh MC. MC memberikan pengarahan dan pengantar awal tentang kegiatan ini, termasuk menyebutkan berapa banyak jumlah peserta yang terlibat di dalamnya. Ada 18 team/desa yang akan tampil.

Sebagai bagian dari acara pembukaan, MC segera mengundang beberapa perwakilan dari desa untuk segera naik ke atas panggung dan membacakan naskah janji peserta lomba. Setelah itu para dewan juri juga diundang ke atas panggung melakukan hal yang sama yaitu pembacaan naskah sumpah. Tujuan pembacaan sumpah tak lain adalah agar peserta dan dewan juri bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai mana mestinya.

Ada MC kedua. MC pemandu acara awal dan pembacaan sumpah adalah orang dewasa – seorang guru. Kali ini yang memandu jalannya acara Bonet adalah MC dari anak-anak – anak SMA. Mungkin wajar bagi mereka yang tinggal di kota, tetapi sangat menarik dan menjadi moment yang berkesan – luar biasa jika dilihat dari kacamata orang desa. Bukan mau menyepelekan anak-anak di desa, akan tetapi moment seperti ini biasanya langka. Bahwa anak-anak di desa sekarang tidak kalah dengan mereka yang di kota. Artinya mereka sudah bisa dan berani tampil dalam acara formal – event yang besar seperti jambore anak TTS ini.

Kalau dirunut, hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras Plan sebagai salah satu LSM international yang memfokuskan kerjanya pada anak. Sesuai dengan detail visinya yang sangat briliant, ‘Sebuah dunia di mana anak-anak mampu mewujudnyatakan seluruh potensi mereka dalam masyarakat yang menghargai hak-hak dan martabat manusia,’ maka penampilan yang bagus dari sang MC anak ini jelas merefleksikan seluruh karya Plan di desa.

Ketika tarian bonet mulai dipentaskan oleh anak-anak – desa demi desa perform, terasa lebih nyata bagaimana Plan berkarya untuk merangsang anak-anak mewujudkan seluruh potensinya. Terlihat bahwa mereka menikmatinya dan mampu menampilkan yang terbaik – mulai dari cara masuk-keluar panggung, cara memberi hormat pada penonton dan perform. Mereka bahkan mampu menyanyikan syair-syair bonet dengan begitu indah dan dengan suara yang lantang sambil memadukannya dengan gerakkan kaki dan tangan yang indah pula.

Plan ingin berkontribusi lebih dan lebih, mendorong anak-anak untuk terus mempromosikan hak-hak mereka dalam masyarakat. Maka tak tanggung-tanggung, syair-syair dalam lomba bonet ini juga adalah plesetan tentang materi hak anak, perlindungan anak, pengetahuan tentang pentingnya sanitasi dan pentingnya anak memiliki akte kelahiran. Baru di TTS di mana anak-anak bisa berbonet sambil promosi hak anak – pada acara jambore anak antar desa se-kabupaten TTS.

Semoga suara anak-anak ini didengar dan semakin membahana menembus segala batas ruang dan waktu. 🙂

Anak-anak dengan pakaian adat - salah satu pakaian yang khas di Timor

Anak-anak dengan pakaian adat – salah satu pakaian yang khas di Timor


Peserta Bonet - anak perempuan dengan pakaian khasnya

Peserta Bonet – anak perempuan dengan pakaian adat Timor

Catatan Kaki :

¹Bonet, tarian traditional orang Timor yang biasa dilakukan pada saat acara nikah, pesta adat, dan acara-acara lainnya. Tarian bonet dilakukan oleh sejumlah orang, wanita dan pria, menyanyi sambil berpegangan tangan dan menggerakan kaki ke kanan – berlawanan dengan arah jarum jam, kemudian maju dan mundur dalam bentuk lingkaran. Gerakan disesuaikan dengan syair yang dinyanyikan. Lebih mendalam tentang tarian Bonet bisa dibaca di sini Bonet, Tradisi Yang Terlupakan.

²Tais, kain tenun berbentuk seperti sarung yang khusus digunakan oleh kaum wanita. Tais becorak macam-macam.

³Bete, kain tenun yang dikhususkan untuk kaum laki-laki. Bercorak macam-macam. Umumnya Bete dibuat persegi panjang.

⁴Bete Ana (Bet ‘ana), bentuk dan ukurannya sama seperti selendang. Ada yang dikhususkan sebagai ikat pinggang.

⁵Alu (baca: Aul mamat), asesoris khusus pria berbentuk seperti tas kecil dilengkapai dengan tabung kecilnya yang disebut ‘tiba’. Alu fungsinya sebagai tempat sirih-pinang.Tiba, dipakai untuk tempat sirih, pinang dan tembakau.

⁶Piul Nairuf, ikat kepala khusus untuk pria. Dibentuk bermacam-macam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s