Cerita Dari Desa


Perjalanan ke desa selalu menyisahkan banyak cerita. Selalu ada hal menarik yang perlu diceritakan. Bukan untuk mengekspose orang desa, mengeploitasi kehidupan mereka tetapi sekedar untuk mengingatkan kita bahwa ternyata banyak orang di tempat lain masih berkutat dengan kehidupan yang memprihatinkan, jauh dari kehidupan layak.

Ceritanya, kemarin saya melakukan perjalanan ke beberapa desa, desa Kokoi, desa Fatulunu dan terakhir berlabuh di desa Nunleu. Desa-desa ini masuk dalam Kecamatan Amanatun Selatan-Kab. TTS. Tujuan perjalanan saya hanya untuk mengantar merchandise berupa ‘Payung’ yang akan dibagikan untuk anak-anak Plan. Dalam perjalanan mata saya melihat banyak hal. Dari mata, masuk ke otak lalu turun ke hati – saya melihat lalu merenungkan semuanya. Yang selalu membuat saya ngeri dan selalu bertanya-tanya dalam hati adalah pertama tentu jalannya. Jangan pernah membayangkan untuk berjalan di atas aspal yang licin. Yang ada kita berjalan di aspal dan tanah bergelombang. Jalan rata hanya beberapa km kemudian kita akan memasuki jalan berlubang dan berkerikil.

Rumah Bulat

Rumah Bulat

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung


Pemandangan yang tak kalah menyayat hati adalah kondisi rumah dan kehidupan orang-orang di sana. Rumah-rumah warga masih jauh dari kata layak. Ada yang masih menghuni ‘rumah bulat’ – dikelilingi tanaman jagung yang tahun ini akan gagal panen karena curah hujan yang kurang. Ada yang sudah tinggal di rumah ber-seng dan bertembok, ya cukuplah. Tetapi tetap kehidupan sangat sulit di sana – Life is really tough. Kehidupan seperti ini yang akhirnya menghantar banyak anak-anak desa ke kota kabupaten, propinsi bahkan ke luar pulau untuk menjadi buruh kasar dan ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI.

Maka pantas saja di luar NTT, orang tahunya daerah kita daerah miskin. Memang itu kenyataannya dan kita tidak boleh marah jika dikatakan miskin – dalam artian kehidupan ekonomi kita masih jauh dari layak. Harian Kompas tanggal 3 Februari 2014 di salah satu tulisan yang berjudul ‘Saatnya Serius Mengevaluasi’ (halaman 5), menyebutkan bahwa NTT memiliki banyak warga miskin.

17 Agustus 2014, Indonesia sudah akan merayakan HUT Proklamasi kemerdekaan yang ke-69. Sudah 69 tahun Indonesia merdeka, tetapi melihat kehidupan masyarakat di sini, apakah betul Indonesia itu merdeka? Pada 17 Agustus dan hari-hari besar National, anak-anak di desa dengan suara lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Guru-guru di daerah sangat fanatik dan kadang kejam jika anak-anak sekolah salah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka memaksa agar menyanyikannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Indonesia, Tanah Airku
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
jadi pandu ibuku, dst

Anak-anak di desa sangat bangga menyanyikannya. Tetapi apakah Indonesia bangga memiliki anak-anak ini, apakah Indonesia bangga dengan kehidupan orang di desa-desa ini?

Sebentar lagi Indonesia akan mengadakan Pemilu – memilih calon perwakilan rakyat. Spanduk-spanduk ajakan untuk ikut Pemilu terpampang di mana-mana. ‘Ayo ikut Pemilu’. Seandainya di spanduk tertulis, ‘ayo ikut bantu warga miskin’. Tak kurang bahkan lebih banyak lagi poster, baliho dan spanduk calon DPR tertempel di mana-mana, menjadi pemandangan bagus yang menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan. Warga yang fanatik dengan calon nya bahkan terus memantau pemasangan baliho-baliho agar tidak rusak dan memastikannya masih nampak jelas terlihat. Para calon sendiri juga mulai lebih banyak turun ke desa-desa, melihat berbagai kekurangan yang akan diperbaikinya dan janji manis pun diobral. Pertanyaannya apa mereka ini calon perwakilan rakyat yang tepat dan mampu memperhatikan nasib rakyat yang ia wakili? Apakah betul mereka akan sungguh-sungguh bekerja memperjuangkan aspirasi rakyat? Memperbaiki segala hal yang telah mereka lihat di desa? Atau kehidupan akan kembali seperti sedia kala atau malah akan semakin buruk bahkan kehidupan masyarakatnya sendiri akan lebih susah? Hadew cape dech,.. đŸ˜› (dalam hati persetan yang penting nanti dapat proyek! ckckckc)

Menyoal ini memang panjang dan bertahap. Dan lagi katanya pembangunan tidak sekali jadi, butuh proses. Sampai kapan proses itu akan terus berproses pak? Sudah 2014, milenium baru, abad baru, tahun-tahun kemerdekaan semakin panjang. Bertahun-tahun masyarakat ini hidup dalam lilitan kehidupan yang memprihatinkan dan kemiskinan semakin terstruktur. Apakah ini yang namanya proses pembangunan?

Lagi dikatakan pembangunan manusia dan karakternya serta pedidikan lebih diutamakan. Anak-anak di desa harus berjalan tak kurang dari 2 km untuk mencapai sekolahnya. Dan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka harus bersekolah siang karena masih dititipkan di bangunan SD – di sini dikenal dengan Sekolah Satap, Sekolah satu atap. Sudah cape berjalan, keringat bercucuran bahkan seragam sekolah mereka saja mulai usang. Dan sampai di sekolah kadang mereka tak menemui gurunya, guru tak mencukupi. Kebutuhan sekolahpun tak mencukupi di sana. Mereka belajar apa adanya.

Balik lagi ke kehidupan masyrakatnya, mereka pun seolah masih berjalan di tempat. Pembangunan seolah tak menyentuh mereka. Kalau pun ada, mereka pasti tak merasakan pembangunan yang berkarakter dan mendidik mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka akan selalu menjadi sasaran empuk pemangku kepentingan pemerintah, calon perwakilan daerah dan swasta.

Berharap kehidupan orang-orang desa akan diperhatikan dan mendapat kehidupan yang lebih layak.

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Dari Desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s