“Do What You Love and Love What You Do!”


Ungkapan ini sudah sering saya baca di media, terutama media sosial – Facebook, Twitter dan kawan-kawan. Teman-teman penyuka kata-kata inspiratif sering memposting atau hanya sekedar share gambar berupa kata-kata inspiratif dari tokoh-tokoh tertentu.

Kata-kata ini juga pernah saya dengar, diucapkan oleh para motivator. Dan saya pikir semua motivator yang beraliran entrepreneur pasti akan mengungkapkan hal yang sama dan dalam pikirannya pasti tertanam paham ini “Do What You Love and Love What You Do!”

Love What You Do

Steve Jobs saja mengatakannya,.:-)

Dalam perjalanan hidup dan dalam permenungan-permenungan kecil pribadi, ungkapan ini rasanya relevan. Secara tidak sengaja, pilihan-pilihan kecil dalam hidup menjadi jawaban atas ungkapan ini. Dulu – zaman masih sekolah, dari SD, SMP dan SMA, rasanya belum bisa banyak berbicara atau tahu dalam membahasakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Tahunya ‘Ini pilihan saya’.

Dalam rumah, sering berdebat dengan orangtua (baca: bapa) mengenai pilihan-pilihan yang saya buat. Tidak mudah memang untuk meyakinkan orangtua. Mereka mau A, saya mau B. Pilihan untuk kuliah ‘apa dan di mana’ pernah menjadi perdebatan hangat dan seru. Syukur bahwa pada akhirnya mereka merestui pilihan yang saya buat dan bisa tamat dengan hasil yang memuaskan – walau tidak Cum Laude 🙂 .

Perdebatan masih berlanjut. Setelah selesai kuliah, lagi-lagi berdebat ‘kerja di mana’. Pilihan hati, ingin berkarir di tanah rantau, sementara orangtua menginginkan agar kembali dan bekerja di kampung halaman. Saya menolak dan ingin membuktikan bahwa di tanah rantau saya bisa sukses, bisa memenuhi harapan mereka untuk hidup mandiri. Saya bisa menjalankan kehidupan saya dengan baik dan memberi manfaat setidaknya untuk diri sendiri. Keinginan saya ternyata tak kesampaian dan saya tak bisa membuktikan apa-apa. Saya kalah dan dalam hati ‘Orangtua tidak merestui’.

Kegagalan untuk menemukan kerja di tanah rantau berujung pada kesimpulan ini. Ada yang tak beres dan harus diperbaiki. Keputusan untuk pulang kampung menjadi pilihan yang harus. Perlu berdiskusi secara baik dengan orangtua, dari hati ke hati dan bisa meyakinkan mereka tentang pilihan-pilihan yang diinginkan. Ketika orangtua tak merestui, sekali-kali ‘jangan’, karena hasilnya akan tidak bagus bahkan sangat buruk.

Sekarang giliran sudah kerja dan hidup mandiri, kadang masih saja terjadi perdebatan soal pilihan karir ke depan. Kadang orangtua menyinggung soal kerja menjadi PNS. Hhmmm,.ya boleh lah. Menjadi PNS bukan tidak baik tetapi tidak harus menjadi ‘kewajiban’ kan? 😛 . Kalau tidak jadi PNS tidak mati juga kan? 😀 . Kalau ada kerja yang ternyata lebih mengena di hati, kenapa tidak dijalankan?

Di Timor pada khususnya dan umumnya di NTT, ada semacam satu pemahaman masal yang merasuk dalam diri para orangtua bahwa “PNS’ adalah pilihan kerja satu-satunya yang bisa membuat hidup lebih hidup. Seperti impian yang menjadi kenyataan kalau bisa kerja menjadi PNS. Hadew,..saya kira orang-orang di luar daerah akan menertawakan ini. Bob Sadino pasti tertawa terpingkal-pingkal mendengar hal ini 😀 .

So, Do What You Love and Love What You Do! Simply follow your heart and action!!!

Just Follow Your Heart

Just Follow Your Heart

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s