Naik-Naik Ke Puncak Fatumnasi


Rasanya belum seru kalau touring yang membuat senang dan gembira belum diceritakan dalam bentuk tulisan – di blog ini maksudnya πŸ™‚ .

Ceritanya hari kemarin libur, Pesta Kenaikan Isa Almasih – pesta khusus untuk umat Kristiani. Tetapi lebih dari itu, liburan untuk orang yang sehari-hari ngantor tentu menjadi sesuatu yang membahagiakan, serasa dunia (hati saya) gembira menyambutnya. Ya, walau hanya sehari akan tetapi rehat sejenak dari rutinitas sangat berarti – bisa istirahat atau bisa refreshing mencari suasana baru.

Liburan kemarin sebenarnya niatnya hanya mau istirahat – masuk gereja, makan dan tidur. Yang pertama dan kedua sudah saya jalankan. Pagi kemarin sudah ke gereja menunaikan tugas iman, kemudian makan untuk mengisi kantong perut yang sudah nyaring, dan terakhir juga sudah meletakkan kepala dengan tenang di bantal. Matapun sudah tertutup. Dunia serasa tenang.

HP yang tanpa sengaja saya taruh di dekat telinga tiba-tiba berbunyi nyaring, membuat saya terbangun. Bunyi BBM. Mata masih berat melihat tulisan-tulisan di HP.

Hasil kong kali kong,.

Hasil kong kali kong,.


Teman kantor ngajak jalan-jalan ke Fatumnasi. Katanya bertiga saja, si pengundang – Ika Rambu bersama Ricky Modok (teman kantor juga) dan saya sendiri. Sebenarnya liburan ini, enaknya tidur saja. Malas jalan, tetapi membaca nama Fatumnasi, kantuk yang sudah di ubun-ubun langsung pending. Sempat pikiran juga soal jalannya, apalagi motor kesayangan belum pernah masuk medan berat. Tetapi dalam hati perjalanan hari ini akan sangat menyenangkan. Kegembiraan hari ini menentukan kegembiraan selanjutnya πŸ˜› .

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Alhasil liburan hari kemarin diisi dengan touring ke puncak Fatumnasi – mencari udara segar dan suasana baru di sana. Fatumnasi di mana? Ya mari kita lihat di peta pulau Timor (mudah-mudahan nampak di sana). Fatumnasi itu ada di kabupaten TTS, propinsi NTT. Wilayah ini terletak sekitar 50 km di sebelah utara kota SoE. Fatumnasi berada di dekat puncak gunung Mutis – gunung tertinggi di NTT dengan tinggi 2427 dpl. Sensasi ketinggiannya ini yang membuat hati ini serasa dipacu untuk mengatakan β€˜ia’. Mari kita jalan! Suasananya tak beda jauh dengan cerita tentang Fatuulan .

Jalan menuju ke Fatumnasi memang tak ada pilihan lain kecuali kita harus melewati jalan yang berbatu, berkelok dan ada tanjakan-tanjakan. Tanjakan sih tidak masalah, tetapi tanjakan diikuti dengan jalan yang rusak, itu yang soal. Kendati demikian pengalaman melewati medan berat seperti ini justru akan selalu terkenang. Ini menantang bro,… kalau menggunakan kendaraan roda dua. Badan terhentak-hentak sama seperti gelora hati yang berdebar-debar ingin ke puncak Fatumnasi.

Menarik bukan? Sangat menarik. Setelah melewati perkampungan desa Ajobaki, kami melewati barisan hutan pinus. Barisan pohonnya rapi, lebih dari itu rindang dan hampir seluruh batang pohonnya ditumbuhi lumut hijau yang menambah keindahan pemandangannya. Saya jepret beberapa bagian keindahan hutan ini.

Ada puncak bukit kecil di kiri jalan hutan pinus ini. Kami berhenti sejenak dan menikmati keindahan gelombang gunung-gunung nun jauh di sana. Di kejauhan terlihat deretan gunung-gunung. Hampir tak ada kata-kata untuk bisa mengekspresikan rasa senang dan kagum ini. Parade foto sesi pertama dimulai.

Pinus yang indah

Pinus yang indah

Hati yang gembira adalah obat :-)

Hati yang gembira adalah obat πŸ™‚

Awesome landscape hahh,..

Awesome landscape hahh,..

Tidak hanya sampai di sini. Perjalanan kami lanjutkan. Masih 5 km lagi untuk mencapai puncak Fatumnasi. Setelah puas foto di ujung desa Ajobaki, kami melaju lagi dengan motor menuju tempat tujuan utama. Kanan dan kiri jalan masih hutan pinus dan setelah keluar dari hutan ini kami memasuki perkampungan yang nota bene masih asli, alamnya masih perawan alias masih terjaga dengan baik, masih hijau dan yang pasti udaranya dingin walau waktu menunjukkan pukul 13.12 WITA. Mataharinya panas tetapi angin yang bertiup terasa sangat dingin. Untung kami semua mengenakan sweater, jadi bisa membantu menghangatkan tubuh.

Naik-naik ke puncak Fatumnasi. Seandainya bisa dibuatkan lagu, pasti indah juga. Karena alamnya begitu indah.Beruntung bahwa kabut belum turun saat kami masih dalam perjalanan ke sana.

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Kami akhirnya mencapai puncak Fatumnasi dan kami langsung menuju homestay β€˜Lopo Mutis’. Sebagaimana tertulis di papan namanya, Lopo Mutis menyediakan informasi singkat mengenai wilayah yang akan kami kunjungi dan tentunya lapor diri juga. Teman Ricky sudah kenal dengan penghuninya, sehingga lapor diri dibarengi dengan basa-basi sambil bertanya mengenai homestay ini. Kami sangat penasaran, apa sih yang ada di homestay ini? Sesuai dengan namanya yaitu rumah untuk menginap. Jumlahnya ada 8 buah, 6 berbentuk rumah kecil dan sisanya berbentuk rumah bulat yang merupakan salah satu kearifan lokal. Isinya hanya perlengkapan untuk tidur, tempat tidur dan teman-temannya.
Salah satu penghuni sekaligus penjaganya, bapak Mateos Anin, mengatakan sering ada tamu yang berkunjung ke sana, bukan hanya dari dalam negeri seperti dari daerah Jawa tetapi juga dari luar negeri. Sehingga tempat ini disediakan untuk menginap. Terlebih orang-orang bule, mereka suka menginap di rumah bulat., kata bapak Anin yang membawa kami keliling untuk melihat-lihat.

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Beliau kemudian membawa kami untuk melihat barang-barang pusaka di rumah utamanya sekaligus tempat beliau bersama keluarganya menginap. Barang-barang pusaka peninggalan nenek moyang yang masih tersimpan dengan baik, digantung di tiang-tiang penyanggah rumahnya. Ada gong, bano (giring-giring), pedang, tongkat, kalunga, dan mata uang perak. Salah satu mata uang perak keramat digantung di lehernya. Yang ini tidak sembarang dipakai. Hanya turunan Sani Anin (nenek moyang beliau – generasi ke-8) yang boleh memakainya. Bapa Mateos sendiri sekarang generasi ke-11. Beberapa barang lain yang juga katanya keramat dan tidak boleh dipegang orang lain adalah tongkat, kursi. Semuanya warisan yang tidak bisa dipegang selain turunan dari nenek moyangnya. Beliau mengatakan barang-barang pusaka ini sudah ada sejak tahun 1848. Wow. Pembicaraan akhirnya berakhir dengan suguhan minuman panas – teh dan kopi panas. Aroma kopi panas rasanya sangat nikmat menghalau dinginnya Fatumnasi.

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Beberapa saat di homestay, kami melanjutkan perjalanan ke cagar alam gunung Mutis. Satu pemandangan alam yang tak kalah menarik. Isinya hanya hutan yang tentunya dilindungi. Barisan pohon-pohon besar di kanan dan kiri jalan. Sepanjang 5 km, hanya berdiri pohon-pohon ini.

Waktu semakin sore. Suasana cagar alam ini cukup menyeramkan untuk pendatang baru karena memang tak ada penghuni. Tetapi beruntung anak-anak dari perkampungan di Fatumnasi sementara lalu-lalang di sini. Mereka berjalan berkelompok, laki-laki dan perempuan. Ada yang sementara berjalan kaki searah dengan arah motor kami. Sementara dari kejauhan nampak kelompok kecil lainnya berjalan berlawanan dengan arah motor. Mereka juga jalan kaki saja. Yang perempuan, masing-masing menjunjung seikat kayu kering, demikian juga yang laki-laki. Tetapi mereka membawanya dengan cara memikul. Rupanya anak-anak ini baru kembali mencari kayu api. Anak-anak ini kemudian kami ajak untuk berfoto bersama, foto BIAAG.

Sebenarnya kami masih mau melanjutkan perjalanan hingga dekat dengan puncak gunung Mutis, tetapi waktu sudah semakin sore. Kabut juga mulai turun, menutupi sebagian hutan. Udaranya jelas bertambah dingin. Touring kami berakhir di tengah hutan cagar alam ini. Kami lanjut foto-foto, narsis selagi bisa. Alam ini ini serasa menyambut kami dengan tangan terbuka. Hanya kabut yang mulai menyelimuti hutan ini tetapi hari ini tetaplah cerah. Kami pun ceriah menikmatinya. Bahagia selagi bisa menikmati secuil bahagia itu.
Rasa kuatir dengan motor kesayangan akhirnya terbayar lunas dengan menikmati alam liar yang sangat indah. Bersyukur hari ini bisa menikmati keindahan alam. Dalam hati, ternyata bukan hanya di seberang sana yang memiliki tempat alam yang indah. Di sini, wilayah yang juga adalah asal nenek moyang saya, memiliki tempat yang jauh lebih indah πŸ˜€ .

Welcome to Cagar Alam Mutis

Welcome to Cagar Alam Mutis

BIAAG Yuk,.

BIAAG Yuk,.

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Advertisements

4 thoughts on “Naik-Naik Ke Puncak Fatumnasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s