Mari Menyambut Pilpres 9 Juli 2014


Sebulan lebih saya absen menulis dalam blog ini (baca: ngeblog). Banyak kesibukan yang akhirnya membuat diri lupa dan sedikit sulit menemukan waktu untuk ngeblog. Ada kegiatan kantor yang beruntun selama sebulan ini, ada hiruk pikuk pesta sepak bola dunia yang kalau tak nonton – apalagi team favorite, serasa ada yang hilang. Lebih dari itu, saya lagi merenungkan soal mau dibawa ke mana bangsa dan negara ini? Wkwkwkw 😀 Ya begitulah !!!

Intermezzo‼

Tanggal 9 Juli 2014, sejarah baru akan terlukis di tanah air tercinta Indonesia. Tanggal ini menandai babak baru pemilihan Capres dan Cawapres. Tinggal sehari lagi bangsa Indonesia akan memiliki pemimpin baru – Presiden dan Wakil Presiden baru yang akan menduduki tahta tertinggi di negeri ini selama 5 tahun ke depan.
Tentang pesta demokrasi lima tahunan ini, saya – sebagai warga negara, mau memberi secuil pandangan pribadi tentang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ini.

Pemilu kali ini rasa-rasanya menjadi Pilpres yang berbeda. Suasananya seru dan sangat menegangkan. Pemilu-pemilu sebelumnya mungkin sama menegangkan, tetapi tahun-tahun sebelumnya aggap saja saya masih buta – belum memahami apa itu Pemilu yang sebenarnya. Coblos pertama asal ikut rame. Tahun pertama ikut serta dalam Pemilu adalah tahun 2004 kala itu untuk pertama kalinya saya terdaftar sebagai salah satu DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang telah memenuhi batas usia minimum untuk ikut dalam Pemilu. Hasilnya saya ikut coblos penguasa yang sementara ini berkuasa. Ya intinya ikut rame. 😛

Yang beda dari sebelumnya bahwa dalam Pemilu kali ini hanya ada dua pasangan Capres dan Cawapres. Dengan demikian hak suara tiap warga negara tentunya hanya akan jatuh pada dua pilihan saja – nomor 1 atau nomor 2. Nomor 1 untuk Prabowo – Hatta sementara nomor 2 untuk Jokowi dan JK.

Hanya ada dua pilihan ini yang akhirnya membuat warga negara ini seolah dibawah atau tepatnya digiring untuk memihak pada satu kubu politik – kubu nomor urut 1 atau kubu nomor urut 2. Artinya perseteruan politik kaum elit negeri ini telah mempengaruhi masyarakat untuk masuk dalam drama politik Pilpres tahun 2014. Masyarakat yang sebelumnya tak melek politik akhirnya terbangun dan ramai-ramai ikut dalam dinamika Pilpres.

Masyarakat ramai-ramai omong politik, berargumen tentang Capres dan Cawapres. Black campaign terdengar dan tertulis di mana-mana. Lebih dari itu, masyarakat sendiri mulai terkotak dalam dua pilihan. Hasil dari kotak-kotak ini yang akhirnya melahirkan pertikaian horisontal antar masyarakat sendiri. Masyarakat yang sebelumnya tergolong dalam masyarakat cinta damai dan berhati nyaman malah bertikai hanya karena memihak pada salah satu pasangan Capres dan Cawapres (baca : tragedi di Jogja ).

Di dunia maya (Facebook, Twitter, BBM, Instagram – kebetulan saya punya ini) lebih rame lagi membahas tentang Capres dan Cawapres pilihannya. Media-media social ini sepertinya menjadi arena paling bebas untuk mengekspresikan dukungan pada salah satu pasangan baik melalui tulisan-tulisan sepotong maupun melalui foto atau meme. Hasilnya timbul komen-komen yang menjurus pada isu sara dan tak kurang ada yang berkonflik dalam dunia maya. Ada tindak kekerasan verbal dalam dunia maya.

Dalam media sosial, Capres dan Cawapres kali ini dibanding-bandingkan dengan kisah pewayangan antara Pandawa dan Kurawa – siapa yang Pandawa dan siapa yang Kurawa ya itu penilaian masyarakat yang sempat saya baca dalam media sosial. Yang lain membandingkan kedua pasangan Capres dan Cawapres ini dengan cerita Harry Potter – Dumbledor dan Voldemort. Ada lagi yang membandingkannya dengan cerita film The Lord of The Ring – salah satu Capres dan Cawapres dianggap sebagai the Companion of the Ring dan yang satunya dianggap pengikutnya Saruman. Wow. Aku gak ikut-ikut. Cuman baca trus tertawa geli. 😀

Itulah politik. Siapa saja bebas berbicara, berpendapat mengenai Capres dan Cawapres pilihannya. Tentunya tiap-tiap orang – sebagai warga negara yang baik tahu mana pilihan yang tepat. Tiap warga negara tentu memiliki alasannya sendiri untuk memilih no 1 atau no 2.

Politik adalah sesuatu yang saya benci dan sengaja untuk tidak tahu, tetapi pada akhirnya saya tidak bisa memungkiri bahwa politik ternyata penting untuk diketahui. Politik bukan hanya milik kaum elit politik tetapi juga milik tiap warga negara yang mau mengubah nasib bangsanya ke arah yang lebih baik. Ketika masyarakat salah memilih pemimpinnya maka negara ini akan hancur dalam segala aspek kehidupan – ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Mari kita sambut Pilpres besok (9/7/2014) dengan memilih Capres dan Cawapres yang tepat menurut pilihan hati nurani kita masing-masing.

Pilih saya yang setia menunggumu,.:-P

Pilih saya yang setia menunggumu,. 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s