Behave in Media Social!


Beberapa hari belakangan ini, nama Florence mungkin menjadi orang yang paling terkenal atau mendadak menjadi artis – artis SPBU di media social 😛 . Meminjam kata-kata Metro TV, Florence menjadi News Maker minggu ini bukan karena prestasi tetapi sebaliknya karena status kontroversial yang ditulisnya di media social Path.

Shut Up!

Shut Up! Behave mbak!

Karena status ini, seketika ribuan orang menyeruak dan marah dengan kata-kata umpetannya. Dan jelas kata-kata si Florence ini telah memancing emosi orang untuk memarahinya bahkan ia terancam untuk dipidana dan lebih buruk lagi ia bisa diusir dari wilayah Yogya. Bahwa penghinaan ini sudah melampaui batas, tidak masuk akal untuk seorang mahasiswa yang katanya S2 di UGM Yogya.

Semua orang jelas marah tetapi di sini saya tidak ikut-ikutan untuk menghina si nyonya ini. Dunia ini bulat. Tentu dia juga punya alasan mengapa sampai dia menulis demikian. Namanya orang marah pasti mulutnya lebih cerdas dari pada otaknya…hehehehe :-D, hanya marahnya dituangkan tidak pada tempatnya dan dengan cara yang tidak santun pula.

Sebaliknya ngangenin! :-P

Sebaliknya ngangenin!

Saya sadar bahwa sebagai manusia biasa kita tidak sempuran, tetapi sesungguhnya kita memiliki otak dan akal budi yang tidak dimiliki makluk lain. Untuk itu mari kita belajar sesuatu. Kejadian ini tentu memberikan satu pelajaran yang sangat berharga. Mulutmu harimaumu. Kalau orang Timor bilang ‘mulut jaga badan’.:-)

Perlu di simpan di otak bahwa media social bukan diary. Kita tidak dilarang untuk menulis di media social, tetapi sesungguhnya apa yang kita tulis seharusnya yang masuk akal, tidak berbau sara apalagi menghina orang (tulisan Florence menghina satu Propinsi). Apa yang tertulis di media social bisa dibaca ribuan orang – teman-temanmu, teman dari teman-temanmu dan seterusnya. So behave, fellas! 

Saya pernah menegur adik-adik saya yang belakangan gemar mengupdate status di facebook. Hampir tiap detik, status mereka muncul di beranda, bukan status yang menginspirasi, memotivasi diri sendiri atau status yang menghibur, tetapi sebaliknya status yang bernada sedih, kecewa, marah dan mengumpat orang. Wah ini bahaya. Sebagai seorang kakak (ya githu) terpaksa saya harus menegur mereka untuk tidak lagi memuat status-status yang berbau hal-hal negatif ini. Jangan sampai status mereka menjadi boomerang. 

Seorang guru saya (Pastor pembimbing rohani), dalam sebuah acara ret ret rohani pernah memberi trik untuk meluapkan amarah. Beliau mengatakan kalau marah dengan seseorang dan tidak bisa berbuat apa-apa – mau pukul salah, maka cari pohon pisang. Bayangkan seolah-olah pisang itu adalah si dia yang sudah bikin marah. Luapkan amarah di pohon pisang dan pukul pohon pisang sampai hancur.

Kalau marah dengan seseorang, atau sesuatu mungkin pohon pisang menjadi sasaran yang paling tepat. Again, behave in media social!

 

Note : Gambar diambil dari beberapa medsoc.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s