Apa Yang Salah?


Bagi kebanyakan kita, apakah pernah berhenti sejenak dan merenungkan hidup, ketika sesuatu yang sangat anda inginkan dan dambakan dalam hidup ternyata tak menjadi kenyataan, atau tak kesampaian atau singkatnya kita katakan ‘Fail’. Lantas apa yang terlintas di pikiran?

Beberapa hari ini saya sedikit terpojok dan terpaksa harus merenungkan arti hidup ini. Sejenak saya bertanya dalam hati ‘Apa yang salah?’. Sepertinya ada yang salah dan memang ada yang salah dengan ‘diri ini’ – bukan perkara mempersalahkan diri sendiri atau bahkan harus mempersalahkan orang lain atau bahkan harus mempersalahkan ‘Dia’ yang tak kelihatan, yang tak memberi apa yang diinginkan. Akan tetapi memang ada yang salah secara persona, ada yang salah dalam membangun relasi horisontal dan bahkan relasi vertikal dan ini harus segera diperbaiki.

Bagi saya pribadi, kenyataan pahit sudah sering saya alami dan mungkin berulang-ulang. Setiap kali mengalami pengalaman ‘fail’, yang pasti ada rasa ‘bersalah’. Sedikit shock pasti, frustrasi jelas, putus asa, iya.

Selalu akan terbawa pada perenungan. Merenung dan merenung.

Pada akhirnya harus saya katakan bahwa pengalaman ‘Fail’ bukan akhir dari segalanya. Pengalaman gagal bukan perkara berakhirnya dunia dan harus disesali terus menerus. Sebaliknya pengalaman gagal biarlah menjadi ‘peringatan’ untuk selalu mawas diri dan lebih mempersiapkan diri dengan baik. Lebih meningkatkan kualitas hidup dari berbagai aspek. Pengalaman gagal harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki bagian diri yang tak bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Harus banyak kerja keras.

Mungkin banyak yang bilang ini ‘hanya kata-kata penghiburan’. Ya,.memang ini adalah kata penghiburan. Tho kenyataan mengatakan demikian dan kenyataan pula harus membawa kita pada tahap ‘memperbaiki’. Untuk apa memikirkan sesuatu yang sudah terjadi.

Masih ada jalan lain yang bisa meningkatkan kualitas hidup. Bahwa ternyata kualitas hidup tidak ditentukan oleh satu langkah saja, tetapi ada banyak langkah atau tahapan lain yang bisa membuat diri ini ‘berharga’ bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk sesama dan terlebih membuat diri tetap berharga di mata Tuhan – Sang Pencipta. Rasa percaya diri jelas harus tetap dipertahankan pada kondisi batin yang tidak stabil seperti ini.

Gagal seharusnya menjadi awal untuk terus memacu diri ke arah yang lebih baik.

Dear God, hanya satu pintaku,.bantu aku menjadi pribadi yang terus berjuang memperbaiki hidup!

PadaMU aku Berserah! :-(

PadaMU aku Berserah! 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s