Pengorbanan!


Siang itu, bersama seorang rekan kerja hendak makan siang di hotel – salah satu kegiatan kantor diselenggarakan di sana sehingga kami diundang untuk ikut makan siang. Diundang lho,. šŸ™‚ Dan lebih dari itu, ini namanya solidaritas – menghargai orang yang mengundang.

Sial! Bukannya enak yang didapat, malah sial yang datang. Baru saja keluar dari kantor, dan baru beberapa meter perjalanan, hujan deras langsung mengguyur.

Karena hujan, maka kami langsung menepikan motor di sebuah bangunan kios yang lagi tutup. Kami berteduh di emperan kios bersama beberapa orang ibu dan anak-anaknya yang baru dijemput di sekolah. Ada juga beberapa bapa-bapa. Sangkanya hujan akan segera berhenti, tetapi malah makin deras. Jarak pandang makin suram karena hujan makin deras. Kilat guntur mulai beriringan menghantam bumi.

Kami semua kedinginan di bawah naungan kecil emperan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dan memang ini waktunya untuk makan siang tetapi kami semua tidak bisa berbuat apa-apa karena hujan. Kami orang dewasa saja mulai rasa lapar apalagi anak-anak. Ibu-ibu yang bernaung bersama kami nampak mulai gelisa karena anak-anak mereka mulai mengeluh ‘lapar’.

Seorang ibu nampak mulai mencari akal atau cara. Beliau menelpon kenalan untuk menjemput mereka (anak-anak) menggunakan mobil. Tak lama berselang, mobil pick up muncul.

Suatu pemandangan yang menarik. Sang ibu memayung 2 anaknya menuju mobil menggunakan mantel yang ia pakai. Ia rela basah kuyup di bawah guyuran hujan yang deras asal anak-anaknya tidak basah dan makin kedinginan. Anak-anaknya berhasil dimasukkan ke dalam mobil tanpa basah kuyup, tetapi si ibu basah kuyup. Beliau kemudian mengenakan kembali mantelnya dan menyusul mobil itu menggunakan motor. Melihat kejadian ini, saya langsung berbisik pada teman saya, ‘memang pegorbanan seorang ibu!’

Pengorbanan seorang ibu itu sederhana, ia memberi yang terbaik untuk anak-anaknya, memberi dirinya seutuhnya pada mereka, sampai tak peduli dengan apa yang bisa menimpah dirinya. Memikul anaknya dalam kandungan selama 9 bulan, melahirkan anaknya dengan susah payah – perjuangan antara hidup dan mati. Kemudian merawat dan membesarkan anaknya hingga mereka kembali menjadi ibu atau ayah bagi generasi berikutnya.

Betapa durhakanya anak jika tak menghargai ibunya, apalagi sampai memaki dan
memukul ibunya. Belum terlambat untuk menghargai pengorbanan seorang ibu!

Love You, mom!

Love You, mom!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s