Bahasa Dawan – Uab Meto

Bahasa Dawan dikatakan sebagai bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Oleh penutur asli, bahasa Dawan juga disebut Uab Meto atau Molok Meto.

Bahasa Dawan atau Uab Meto adalah salah satu bahasa dengan jumlah penutur yang banyak – sekitar 600.000 lebih penutur. Penutur bahasa Dawan tersebar di pulau Timor khususnya Timor Barat yang mencakup wilayah kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), sebagian wilayah selatan kabupaten Kupang seperti Buraen, Amarasi, wilayah utara seperti Amfoan. Bahasa ini juga ditutur oleh sebagian masyarakat di kantong wilayah Timor Leste – Ambenu.

Tersebarnya penutur bahasa Dawan di berbagai wilayah ini maka dengan sendirinya berpengaruh pada ‘dialek’. Antara wilayah satu dengan wilayah yang lain, ada perbedaan dialek. Misalnya dialek di wilayah kabupaten TTU berbeda dengan dialek di wilayah TTS atau kabupaten Kupang. Sementara di wilayah TTU sendiri, ada perbedaan dialek pula antara satu atau beberapa kecamatan dengan kecamatan lain, misalnya dialek orang Insana berbeda dengan dialek orang Miomaffo dan Noemuti.

Peta Persebaran Bahasa Dawan - Uab Meto
Peta Persebaran Bahasa Dawan – Uab Meto (sumber : www.indonesiatraveling.com)

Bahasa Dawan sejatinya belum memiliki struktur resmi atau baku, baik kosa kata dan struktur kalimatnya. Bukti-bukti tertulis mengenai bahasa ini memang agak sulit ditemukan. Artinya bahwa bahasa ini lebih banyak digunakan secara lisan atau ditutur dari pada didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Hampir pasti tidak ada cerita-cerita daerah yang dituangkan dalam bentuk tulisan bahasa Dawan.

Sering ada semacam candaan bahwa bahasa Dawan atau Uab Meto lebih gampang ‘di-omongkan’ dari pada ditulis. Jika bisa ditulis, penutur asli bahkan akan kesulitan untuk membaca kembali tulisan dalam bahasa Dawan tersebut:-) . Penutur asli merasa ‘kesulitan’ untuk membaca kembali tulisan dalam bahasa Dawan karena memang ‘tekanan-tekanan’ dalam bahasa verbal tidak nampak dalam kosa kata yang tertulis.

Bahasa Dawan dipengaruhi juga oleh kolonialisasi – Portugis, Belanda. Kata-kata yang berkaitan dengan keagamaan (Kristen) banyak diserap ke dalam bahasa Dawan. Bahasa Indonesia juga berpengaruh dalam bahasa Dawan, menjadi bahasa serapan tetapi dengan cara tutur yang sedikit berbeda dan bisa sama seperti bahasa Indonesianya.

Terlepas dari kompleksitas bahasa Dawan ini, beruntung bahwa seiring dengan perkembangan teknologi – this heavenet, ada banyak penutur asli Dawan atau Uab Meto yang mulai mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Beruntung ada Pak Yohanes Manhitu – penutur Dawan asli yang telah mendedikasikan seluruh dirinya untuk menciptakan dan membuat kosa kata-kosa kata baku dalam bahasa Dawan. Beliau juga sering membuat opini, cerita bahkan puisi dalam bahasa Dawan dengan menggunakan kosa kata yang ia ciptakan. Sekiranya karya beliau yang akan menjadi baku untuk digunakan oleh setiap penutur Uab Meto.

Saya yakin bahwa beliau telah berhasil membuat bahasa Dawan menjadi hidup dan menghidupi setiap penuturnya menjadi manusia yang sadar akan kekayaan budayanya. (Disadur dari berbagai sumber)

2 November: Hari Arwah

Sudah berada pada bulan November.

Ada yang mengupdate status di facebook dan ngetweet di Twitter ‘November Rain’. Terbersit di pikiran bahwa mungkin si empunya account lagi berusaha menyanyikan lagu milik ‘Guns n Roses’ ini. Atau mungkin dia lagi berjuang mengingatkan banyak orang bahwa musim hujan sudah dekat. Sebagaimana kita tau bahwa bulan November sangat identik dengan musim hujan.

Bulan November – kalau dikait-kaitkan, bulan ini menghadirkan kejutan-kejutan kecil.
“Jadi beda satu purnama di Timor dan di Jogja?” (AADC 2014 1/2 – Ada Apa Dengan Cawatmu?) 😛 . Awal bulan ini kita di-WOW kan dengan mini drama yang dipersembahkan LINE, yang mencoba menghidupkan kembali film AADC 2002. Mereka yang hidup dan sedang cinta-cintaan monyet pada masa itu pasti tahu mengenai film satu ini. Ternyata yang indah hanya di tipi 😛 .

Masyarakat Indonesia juga ternyata terkejut tat kala Presiden baru kita Pak Jokowi bisa berpidato lancar menggunakan bahasa Inggris pada sidang APEC 2014 yang dilangsungkan di Beijing – China. Tanpa teks pula. Kita saja heran, apalagi pak Fadli Son hehehee.

Tak hanya kejutan, bulan November ternyata bulan ‘peringatan’.
Tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenangnya sebagai hari Pahlawan. Kita mengkhususkanya untuk mengingat jasa Para Pahlawan yang sudah berani mati demi tercapainya kemerdekaan RI. Dan satu-satunya kota pahlawan di Indonesia adalah kota Surabaya – kota yang menjadi simbol perjuangan para pahlawan Indonesia. Konon semangat kepahlawanan katanya tumbuh dari kota ini.

Selain tanggal 10 November, ada cerita tradisi dari Timor yang syarat makna. Tanggal 2 November menjadi hari peringatan yang sekiranya bisa menyumbangkan pengetahuan baru. Bahwa di Timor ada satu tradisi yang masih awet, tetap dijalankan dan dipelihara turun-temurun yaitu ‘tradisi ziarah ke makam’ yang dilakukan setiap tanggal 2 November. Tanggal ini memiliki persamaan dengan peringatan 10 November. Bahwa keduanya merupakan hari peringatan akan mereka yang sudah meninggal.

Pada tanggal ini, keluarga-keluarga akan mengunjungi makam keluarga – tempat peristirahatan orang tercinta, kerabat dan teman yang sudah meninggal. Biasanya orang membawa lilin, bunga untuk dibakar dan ditaburkan di atas makam. Selain itu, keluarga-keluarga juga membawa makanan khusus seperti nasi kuning, daging. Minuman seperti teh, kopi dan juga ‘sopi’ (arak kampung) 🙂 .

Ini dia, makanan special nya!

Ini dia, makanan special nya!

Tempat Peristirahatan Nenek Fransiska Iku Salem di TPU Up'Batan!

Tempat Peristirahatan Nenek Fransiska Iku Salem di TPU Up’Batan!

Ziarah sambil memperbaiki kuburan keluarga di TPU Up'Batan!

Ziarah sambil memperbaiki kuburan keluarga di TPU Up’Batan!

Lilin dibakar dan bunga ditaburkan di atas makam. Keluarga-keluarga akan menghidangkan makanan dan minuman terlebih dahulu kepada arwah yang dikunjungi. Makanan dan minuman akan disediakan di piring dan gelas terpisah yang kemudian diletakkan di atas makam. Hanya symbol bahwa mereka (yang sudah meninggal) ada. Kita memperhatikan mereka dan mereka juga akan ikut makan bersama kita (keluarga yang berkunjung). Keluarga lalu berdoa bersama – mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal agar selamat sampai tempat keselamatan yaitu ‘surga’. Acara ziarah ditutup dengan makan bersama. Makanan dan minuman yang dipisahkan untuk arwah tadi akan digabung kembali dan bisa dihidangkan untuk orang-orang yang berziarah.

Anak-anak pun turut hadir membakar lilin untuk keluarganya yang sudah meninggal!

Anak-anak pun turut hadir membakar lilin untuk keluarganya yang sudah meninggal!

Demikian yang terjadi bahwa tanggal 2 November sudah menjadi hal lazim yang dijalankan dan dihidupi terus-menerus dan tak akan lekang oleh waktu. Selain tanggal ini, keluarga juga biasanya berziarah ke makam pada hari Minggu Paskah. Hal yang sama pula yang dilakukan di kuburan.

Ziarah di TPU Seungkoa!

Ziarah di TPU Seungkoa!

Keluarga bercengkrama setelah doa dan makan bersama di TPU Seungkoa!

Keluarga bercengkrama setelah doa dan makan bersama di TPU Seungkoa!

Sejatinya aktivitas ini berkaitan dengan iman dan kepercayaan bahwa ada ‘kehidupan setelah kematian’. Bahwa orang yang sudah meninggal sebenarnya masih hidup dan ada bersama kita. Kita perlu mendoakan mereka terus-menerus agar hidup mereka tenang di surga. Ada keyakinan juga bahwa mereka yang sudah meninggal bisa menjadi pendoa untuk kita semua. Jika kita berdoa atas nama mereka maka apa yang kita minta dan harapkan bisa terkabul.

Dalam sejarahnya, nenek moyang orang Timor dahulu kala sudah mengenal agama traditional yaitu Animisme – percaya akan ‘batu dan kayu’. Batu dan kayu dianggap sebagai ‘Usi’ (Tuhan). Misionaris dari negeri Barat kemudian memperkenalkan agama Katolik. Agama ini tidak menghapus tradisi lokal, tetapi memperbaharuinya. Bahkan gereja mengadopsi kearifan lokal dan memberikan tempat khusus agar tradisi-tradisi lokal tetap hidup dan lestari.

Seperti ziarah ke makam setiap tanggal 2 November. Gereja universal sudah mengakuinya dan mengkhususkan tanggal ini sebagai hari devosi kepada semua arwah orang beriman yang sudah meninggal dunia.

Naik-Naik Ke Puncak Fatumnasi

Rasanya belum seru kalau touring yang membuat senang dan gembira belum diceritakan dalam bentuk tulisan – di blog ini maksudnya 🙂 .

Ceritanya hari kemarin libur, Pesta Kenaikan Isa Almasih – pesta khusus untuk umat Kristiani. Tetapi lebih dari itu, liburan untuk orang yang sehari-hari ngantor tentu menjadi sesuatu yang membahagiakan, serasa dunia (hati saya) gembira menyambutnya. Ya, walau hanya sehari akan tetapi rehat sejenak dari rutinitas sangat berarti – bisa istirahat atau bisa refreshing mencari suasana baru.

Liburan kemarin sebenarnya niatnya hanya mau istirahat – masuk gereja, makan dan tidur. Yang pertama dan kedua sudah saya jalankan. Pagi kemarin sudah ke gereja menunaikan tugas iman, kemudian makan untuk mengisi kantong perut yang sudah nyaring, dan terakhir juga sudah meletakkan kepala dengan tenang di bantal. Matapun sudah tertutup. Dunia serasa tenang.

HP yang tanpa sengaja saya taruh di dekat telinga tiba-tiba berbunyi nyaring, membuat saya terbangun. Bunyi BBM. Mata masih berat melihat tulisan-tulisan di HP.

Hasil kong kali kong,.

Hasil kong kali kong,.


Teman kantor ngajak jalan-jalan ke Fatumnasi. Katanya bertiga saja, si pengundang – Ika Rambu bersama Ricky Modok (teman kantor juga) dan saya sendiri. Sebenarnya liburan ini, enaknya tidur saja. Malas jalan, tetapi membaca nama Fatumnasi, kantuk yang sudah di ubun-ubun langsung pending. Sempat pikiran juga soal jalannya, apalagi motor kesayangan belum pernah masuk medan berat. Tetapi dalam hati perjalanan hari ini akan sangat menyenangkan. Kegembiraan hari ini menentukan kegembiraan selanjutnya 😛 .

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Alhasil liburan hari kemarin diisi dengan touring ke puncak Fatumnasi – mencari udara segar dan suasana baru di sana. Fatumnasi di mana? Ya mari kita lihat di peta pulau Timor (mudah-mudahan nampak di sana). Fatumnasi itu ada di kabupaten TTS, propinsi NTT. Wilayah ini terletak sekitar 50 km di sebelah utara kota SoE. Fatumnasi berada di dekat puncak gunung Mutis – gunung tertinggi di NTT dengan tinggi 2427 dpl. Sensasi ketinggiannya ini yang membuat hati ini serasa dipacu untuk mengatakan ‘ia’. Mari kita jalan! Suasananya tak beda jauh dengan cerita tentang Fatuulan .

Jalan menuju ke Fatumnasi memang tak ada pilihan lain kecuali kita harus melewati jalan yang berbatu, berkelok dan ada tanjakan-tanjakan. Tanjakan sih tidak masalah, tetapi tanjakan diikuti dengan jalan yang rusak, itu yang soal. Kendati demikian pengalaman melewati medan berat seperti ini justru akan selalu terkenang. Ini menantang bro,… kalau menggunakan kendaraan roda dua. Badan terhentak-hentak sama seperti gelora hati yang berdebar-debar ingin ke puncak Fatumnasi.

Menarik bukan? Sangat menarik. Setelah melewati perkampungan desa Ajobaki, kami melewati barisan hutan pinus. Barisan pohonnya rapi, lebih dari itu rindang dan hampir seluruh batang pohonnya ditumbuhi lumut hijau yang menambah keindahan pemandangannya. Saya jepret beberapa bagian keindahan hutan ini.

Ada puncak bukit kecil di kiri jalan hutan pinus ini. Kami berhenti sejenak dan menikmati keindahan gelombang gunung-gunung nun jauh di sana. Di kejauhan terlihat deretan gunung-gunung. Hampir tak ada kata-kata untuk bisa mengekspresikan rasa senang dan kagum ini. Parade foto sesi pertama dimulai.

Pinus yang indah

Pinus yang indah

Hati yang gembira adalah obat :-)

Hati yang gembira adalah obat 🙂

Awesome landscape hahh,..

Awesome landscape hahh,..

Tidak hanya sampai di sini. Perjalanan kami lanjutkan. Masih 5 km lagi untuk mencapai puncak Fatumnasi. Setelah puas foto di ujung desa Ajobaki, kami melaju lagi dengan motor menuju tempat tujuan utama. Kanan dan kiri jalan masih hutan pinus dan setelah keluar dari hutan ini kami memasuki perkampungan yang nota bene masih asli, alamnya masih perawan alias masih terjaga dengan baik, masih hijau dan yang pasti udaranya dingin walau waktu menunjukkan pukul 13.12 WITA. Mataharinya panas tetapi angin yang bertiup terasa sangat dingin. Untung kami semua mengenakan sweater, jadi bisa membantu menghangatkan tubuh.

Naik-naik ke puncak Fatumnasi. Seandainya bisa dibuatkan lagu, pasti indah juga. Karena alamnya begitu indah.Beruntung bahwa kabut belum turun saat kami masih dalam perjalanan ke sana.

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Kami akhirnya mencapai puncak Fatumnasi dan kami langsung menuju homestay ‘Lopo Mutis’. Sebagaimana tertulis di papan namanya, Lopo Mutis menyediakan informasi singkat mengenai wilayah yang akan kami kunjungi dan tentunya lapor diri juga. Teman Ricky sudah kenal dengan penghuninya, sehingga lapor diri dibarengi dengan basa-basi sambil bertanya mengenai homestay ini. Kami sangat penasaran, apa sih yang ada di homestay ini? Sesuai dengan namanya yaitu rumah untuk menginap. Jumlahnya ada 8 buah, 6 berbentuk rumah kecil dan sisanya berbentuk rumah bulat yang merupakan salah satu kearifan lokal. Isinya hanya perlengkapan untuk tidur, tempat tidur dan teman-temannya.
Salah satu penghuni sekaligus penjaganya, bapak Mateos Anin, mengatakan sering ada tamu yang berkunjung ke sana, bukan hanya dari dalam negeri seperti dari daerah Jawa tetapi juga dari luar negeri. Sehingga tempat ini disediakan untuk menginap. Terlebih orang-orang bule, mereka suka menginap di rumah bulat., kata bapak Anin yang membawa kami keliling untuk melihat-lihat.

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Beliau kemudian membawa kami untuk melihat barang-barang pusaka di rumah utamanya sekaligus tempat beliau bersama keluarganya menginap. Barang-barang pusaka peninggalan nenek moyang yang masih tersimpan dengan baik, digantung di tiang-tiang penyanggah rumahnya. Ada gong, bano (giring-giring), pedang, tongkat, kalunga, dan mata uang perak. Salah satu mata uang perak keramat digantung di lehernya. Yang ini tidak sembarang dipakai. Hanya turunan Sani Anin (nenek moyang beliau – generasi ke-8) yang boleh memakainya. Bapa Mateos sendiri sekarang generasi ke-11. Beberapa barang lain yang juga katanya keramat dan tidak boleh dipegang orang lain adalah tongkat, kursi. Semuanya warisan yang tidak bisa dipegang selain turunan dari nenek moyangnya. Beliau mengatakan barang-barang pusaka ini sudah ada sejak tahun 1848. Wow. Pembicaraan akhirnya berakhir dengan suguhan minuman panas – teh dan kopi panas. Aroma kopi panas rasanya sangat nikmat menghalau dinginnya Fatumnasi.

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Beberapa saat di homestay, kami melanjutkan perjalanan ke cagar alam gunung Mutis. Satu pemandangan alam yang tak kalah menarik. Isinya hanya hutan yang tentunya dilindungi. Barisan pohon-pohon besar di kanan dan kiri jalan. Sepanjang 5 km, hanya berdiri pohon-pohon ini.

Waktu semakin sore. Suasana cagar alam ini cukup menyeramkan untuk pendatang baru karena memang tak ada penghuni. Tetapi beruntung anak-anak dari perkampungan di Fatumnasi sementara lalu-lalang di sini. Mereka berjalan berkelompok, laki-laki dan perempuan. Ada yang sementara berjalan kaki searah dengan arah motor kami. Sementara dari kejauhan nampak kelompok kecil lainnya berjalan berlawanan dengan arah motor. Mereka juga jalan kaki saja. Yang perempuan, masing-masing menjunjung seikat kayu kering, demikian juga yang laki-laki. Tetapi mereka membawanya dengan cara memikul. Rupanya anak-anak ini baru kembali mencari kayu api. Anak-anak ini kemudian kami ajak untuk berfoto bersama, foto BIAAG.

Sebenarnya kami masih mau melanjutkan perjalanan hingga dekat dengan puncak gunung Mutis, tetapi waktu sudah semakin sore. Kabut juga mulai turun, menutupi sebagian hutan. Udaranya jelas bertambah dingin. Touring kami berakhir di tengah hutan cagar alam ini. Kami lanjut foto-foto, narsis selagi bisa. Alam ini ini serasa menyambut kami dengan tangan terbuka. Hanya kabut yang mulai menyelimuti hutan ini tetapi hari ini tetaplah cerah. Kami pun ceriah menikmatinya. Bahagia selagi bisa menikmati secuil bahagia itu.
Rasa kuatir dengan motor kesayangan akhirnya terbayar lunas dengan menikmati alam liar yang sangat indah. Bersyukur hari ini bisa menikmati keindahan alam. Dalam hati, ternyata bukan hanya di seberang sana yang memiliki tempat alam yang indah. Di sini, wilayah yang juga adalah asal nenek moyang saya, memiliki tempat yang jauh lebih indah 😀 .

Welcome to Cagar Alam Mutis

Welcome to Cagar Alam Mutis

BIAAG Yuk,.

BIAAG Yuk,.

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Buat Dia Bangga (Random Story, Special for Dad)

Beberapa kejadian penting dalam hidup saya bersama orang-orang tercinta berlalu dengan sejuta makna. 2 Minggu lalu tepatnya tanggal 20 Februari 2014, saya bersama keluarga merasa sangat gembira dan bahagia karena Ulang Tahun bapak tercinta, Josef Sanam, yang genap berusia 60 tahun. Sungguh suatu pengalaman yang indah karena masih bisa melihat beliau tersenyum dan semangat menjalani hidupnya. Senang dan bahagia karena melihat bapak JS, sapaan akrabnya sekarang, masih terlihat sehat dan segar. Guratan-guratan wajah yang keriput sudah mulai nampak tetapi semangat hidup dan semangat untuk membuat sesuatu yang berharga belum luntur dimakan usia. Malah ia makin dan makin bersemangat untuk berbuat baik bagi generasi penerusnya. Lebih dari itu senang masih merasakan kasih sayang orangtua. Mereka masih bisa menemani kami anak-anaknya mengarungi kehidupan ini.

One Moment in Borobudur Temple

One Moment in Borobudur Temple

Tambak ikan yang baru saja dibuat dan sementara ditata menjadi salah satu bukti nyata betapa beliau mau meninggalkan sesuatu yang berharga untuk anak-anaknya. ‘Suatu saat ini bisa menjadi aset berharga, tempat pemancingan dan bila perlu menjadi tempat hiburan untuk banyak orang,’ kata beliau kala menemani dia di tepi kolam-kolam ikan itu. Dari pengeluaran yang beliau sudah kucurkan memang terlihat kolam-kolam ikan menjadi perhatian serius beliau dan sudah ia rancang untuk menjadi alternatif karirnya setelah pensiun menjadi seorang PNS. Lebih dari itu ini menjadi investasi untuk masa depan.

Seminggu setelah Ulang Tahun bapak JS, giliran anak lelakinya yang tunggal berULTA. Tanggal 1 Maret menjadi hari yang berharga dan berarti untuk lelakinya itu. Bukan hanya membuka lembaran hari baru di bulan baru, tetapi juga kembali membuka lembaran baru kehidupannya. Kendati demikian, tak banyak yang tahu kecuali orangtua, adik-adik dan keluarga dekat saja. Dan memang pribadi lelaki itu agak tertutup dan kehidupannya tak mau diketahui banyak orang. Apa lagi media wkwkwkwk. Sehingga ULTA kali ini dirayakan di rumah seadanya. Tahun-tahun sebelumnya, orangtua yang menghidangkan makanan enak dan lezat alias pengeluaran ditanggung ortu, tetapi kali ini giliran dia yang menguras dompet untuk biaya makan-makan di rumah. Bahagianya,..akhirnya bisa mengeluarkan sedikit biaya dari hasil keringat sendiri untuk makan bersama ortu, adik-adik dan keluarga. Berharap makin banyak rejeki mengalir, Amin.

Seminggu lagi berlalu dengan cepat. Tanggal 8 Maret 2014, kembali mendapatkan undangan resmi dari Bapak untuk menghadiri acara perpisahan beliau dengan guru-gurunya di Wini-Kecamatan Insana Utara- Kefamenanu, sekaligus acara pelepasan jabatan alias pensiun sebagai seorang PNS. Tanggal 1 Maret 2014 menjadi hari resmi, hari terakhirnya sebagai PNS tetapi acara pesta perpisahannya terlaksana di tanggal 8 Maret ini.

Sempat menolak untuk hadir, tetapi akhirnya luluh karena beliau sudah berkali-kali mengundang dan dengan nada meminta yang sangat halus. Rasanya tak tega mendengar orangtua terus meminta dan berharap anaknya bisa menghadiri acaranya. Saya sudah sangat cape dengan rutinitas kerja selama seminggu, ditambah perjalanan jauh kembali ke rumah, dari SoE ke Noemuti, sangat melelahkan. Alasan ini yang membuat saya menolak untuk hadir, tetapi kata-kata beliau yang terakhir membuat saya tak kuasa lagi untuk menolak, “Kalau orang lain yang undang kalian hadir, tetapi bapak sendiri yang undang kamu tolak.” Dalam kata-katanya.

Saya kemudian merenung bahwa kehadiran saya ternyata lebih dari hanya sekedar hadir. Ada kebanggaan tersendiri yang beliau rasakan jika saya ada di tengah-tengah teman-teman gurunya, para pengawas dan utusan dari dinas PPO kabupaten. Beliau merasa sangat bangga dengan kehadiran saya. Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya saya ikut hadir dalam acara perpisahan beliau yang mana perjalanan ke Wini harus ditempuh dalam waktu 3 jam.

Yang saya renungkan bahwa membuat orangtua bangga dan bahagia dengan sendirinya kita sudah memperpanjang usia mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah bapak dalam acara pensiunnya akan senantiasa membuat dia hidup lebih lama dan lama. Saya juga berpikir bahwa membahagiakan orangtua tak selamanya harus membawa mereka keliling dunia tetapi cukup dengan mendukung mereka atas apa yang mereka minta dan mereka lakukan, dengan sendirinya kita sudah membuat mereka sangat bahagia dan bangga menjalani hari-hari hidupnya. Love you Dad,.live a long life! Happy 60th Birthday!

Sanam Sr & Sanam Jr

Sanam Sr & Sanam Jr

Anak Desa Menari Bonet Sambil Promosi Hak Anak

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan kami baru saja turun dari mobil yang membawa kami ke desa Oeekam, satu desa yang nun jauh ke arah tenggara dari kota SoE. Setelah keluar dari mobil, terlihat satu pemandangan yang luar biasa dan mempesona. Sekelompok anak desa bersama beberapa orang dewasa yang menjadi pendampingnya sudah berkumpul di dalam tenda yang disiapkan di depan kantor desa Oeekam. Mereka duduk berkelompok-kelompok menurut desanya. Terlihat beberapa masih sibuk di sana-sini, membetulkan pakaian dan perhiasan yang mereka kenakan, ada yang terlihat sementara melakukan latihan pemantapan terakhir – vocalizing sebelum perform. Hari ini anak-anak dari desa-desa dampingan Plan akan perform tarian Bonet¹ – salah satu rangkaian acara Jambore Anak yang berlangsung selama 2 hari, tanggal 5-6 Februari 2014.

Tarian Bonet dari salah satu peserta

Tarian Bonet dari salah satu peserta


Senang dan gembira terpancar dari wajah anak-anak desa yang polos ini. Terlihat senyum mereka tulus apa adanya. Ada yang kelihatan tegang dan serius menatap tetapi tetap tidak mengurangi semangat mereka untuk tampil di atas panggung. Sebaliknya mereka terlihat antusias dan siap untuk unjuk kebolehan dalam ber-bonet.

Anak-anak desa ini sudah berpakaian adat lengkap dengan segala perhiasan atau asesorisnya. Anak-anak gadis mengenakan tais² yang dipadukan dengan kebaya dan selendang kecil – dipakai melintang dari bahu kiri atas ke pinggul kanan bawah atau sebaliknya dari bahu kanan atas ke pinggang kiri bawah. Kalung-kalung berwarna juga melingkar di leher mereka. Sanggul dan pita berwarna pun dikenakan untuk menghiasi kepala. Bedak menjadi make up sederhana yang merias wajah, membuat mereka menjadi menarik dan terlihat cantik.

Anak-anak laki-laki juga tampil gagah dengan pakaian adat yang mereka kenakan. Mereka mengenakan kain bete³ yang diikat kencang menggunakan bete ana⁴ (baca: bet’ana) – fungsi lain dari bet ‘ana adalah sebagai ikat pinggang. Kain bete dipadukan dengan kemeja biasa, ada juga yang tak memakai kemeja tetapi menggantikan kemeja dengan kain bete – bete dililitkan di kedua bahu. Sementara asesoris yang mereka kenakan seperti alu⁵ (baca: aul ana) yang bermotif macam-macam lengkap dengan tiba. Anak laki-laki juga memiliki hiasan kepala yang khas yang beda dengan anak perempuan. Hiasan kepala ini biasa dinamakan piul nairuf⁶. Piul nairuf dibentuk menyerupai ikat kepala khas laki-laki, dipakai melingkar di kepala. Ada yang mengganti fungsi piul nairuf dengan bentuk paten ikat kepala lain dan bermotif macam-macam.

Melihat anak-anak sudah mengenakan pakaian adat lengkap – berarti mereka sudah siap untuk pentas. Dan sesaat setelah kami tiba dan duduk di dalam tenda acara, acarapun segera dibuka oleh MC. MC memberikan pengarahan dan pengantar awal tentang kegiatan ini, termasuk menyebutkan berapa banyak jumlah peserta yang terlibat di dalamnya. Ada 18 team/desa yang akan tampil.

Sebagai bagian dari acara pembukaan, MC segera mengundang beberapa perwakilan dari desa untuk segera naik ke atas panggung dan membacakan naskah janji peserta lomba. Setelah itu para dewan juri juga diundang ke atas panggung melakukan hal yang sama yaitu pembacaan naskah sumpah. Tujuan pembacaan sumpah tak lain adalah agar peserta dan dewan juri bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai mana mestinya.

Ada MC kedua. MC pemandu acara awal dan pembacaan sumpah adalah orang dewasa – seorang guru. Kali ini yang memandu jalannya acara Bonet adalah MC dari anak-anak – anak SMA. Mungkin wajar bagi mereka yang tinggal di kota, tetapi sangat menarik dan menjadi moment yang berkesan – luar biasa jika dilihat dari kacamata orang desa. Bukan mau menyepelekan anak-anak di desa, akan tetapi moment seperti ini biasanya langka. Bahwa anak-anak di desa sekarang tidak kalah dengan mereka yang di kota. Artinya mereka sudah bisa dan berani tampil dalam acara formal – event yang besar seperti jambore anak TTS ini.

Kalau dirunut, hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras Plan sebagai salah satu LSM international yang memfokuskan kerjanya pada anak. Sesuai dengan detail visinya yang sangat briliant, ‘Sebuah dunia di mana anak-anak mampu mewujudnyatakan seluruh potensi mereka dalam masyarakat yang menghargai hak-hak dan martabat manusia,’ maka penampilan yang bagus dari sang MC anak ini jelas merefleksikan seluruh karya Plan di desa.

Ketika tarian bonet mulai dipentaskan oleh anak-anak – desa demi desa perform, terasa lebih nyata bagaimana Plan berkarya untuk merangsang anak-anak mewujudkan seluruh potensinya. Terlihat bahwa mereka menikmatinya dan mampu menampilkan yang terbaik – mulai dari cara masuk-keluar panggung, cara memberi hormat pada penonton dan perform. Mereka bahkan mampu menyanyikan syair-syair bonet dengan begitu indah dan dengan suara yang lantang sambil memadukannya dengan gerakkan kaki dan tangan yang indah pula.

Plan ingin berkontribusi lebih dan lebih, mendorong anak-anak untuk terus mempromosikan hak-hak mereka dalam masyarakat. Maka tak tanggung-tanggung, syair-syair dalam lomba bonet ini juga adalah plesetan tentang materi hak anak, perlindungan anak, pengetahuan tentang pentingnya sanitasi dan pentingnya anak memiliki akte kelahiran. Baru di TTS di mana anak-anak bisa berbonet sambil promosi hak anak – pada acara jambore anak antar desa se-kabupaten TTS.

Semoga suara anak-anak ini didengar dan semakin membahana menembus segala batas ruang dan waktu. 🙂

Anak-anak dengan pakaian adat - salah satu pakaian yang khas di Timor

Anak-anak dengan pakaian adat – salah satu pakaian yang khas di Timor


Peserta Bonet - anak perempuan dengan pakaian khasnya

Peserta Bonet – anak perempuan dengan pakaian adat Timor

Catatan Kaki :

¹Bonet, tarian traditional orang Timor yang biasa dilakukan pada saat acara nikah, pesta adat, dan acara-acara lainnya. Tarian bonet dilakukan oleh sejumlah orang, wanita dan pria, menyanyi sambil berpegangan tangan dan menggerakan kaki ke kanan – berlawanan dengan arah jarum jam, kemudian maju dan mundur dalam bentuk lingkaran. Gerakan disesuaikan dengan syair yang dinyanyikan. Lebih mendalam tentang tarian Bonet bisa dibaca di sini Bonet, Tradisi Yang Terlupakan.

²Tais, kain tenun berbentuk seperti sarung yang khusus digunakan oleh kaum wanita. Tais becorak macam-macam.

³Bete, kain tenun yang dikhususkan untuk kaum laki-laki. Bercorak macam-macam. Umumnya Bete dibuat persegi panjang.

⁴Bete Ana (Bet ‘ana), bentuk dan ukurannya sama seperti selendang. Ada yang dikhususkan sebagai ikat pinggang.

⁵Alu (baca: Aul mamat), asesoris khusus pria berbentuk seperti tas kecil dilengkapai dengan tabung kecilnya yang disebut ‘tiba’. Alu fungsinya sebagai tempat sirih-pinang.Tiba, dipakai untuk tempat sirih, pinang dan tembakau.

⁶Piul Nairuf, ikat kepala khusus untuk pria. Dibentuk bermacam-macam.