Ada Yang Datang, Ada Yang Pergi

Ada onak dan duri,
Ada lembah dan jurang,
Ada kerikil dan lubang,
Senang, gembira, sedih, kecewa, putus asa, merasa kehilangan, ada yang datang ada yang pergi,

dinamika yang terjadi sepanjang tahun ini demikian. Satu tahun berjalan seolah tak terasa. Banyak hal terjadi bahkan sampai pada detik-detik terakhir pergantian tahun baru. Walaupun demikian, hidup terus berjalan. Ada 1000 alasan untuk menyesali hidup, akan tetapi ada 1 alasan yang masih membuat saya terus bertahan. Tuhan mencintai saya.

Banyak hal yang telah saya lakukan yang membuat saya bangga dan mensyukurinya. Syukur bahwa saya masih diberikan kehidupan untuk menikmati banyak hal – mengalami cinta orangtua, mengalami indahnya berbagi dengan orangtua dan keluarga, mengalami pengalaman cinta dengan sesama, mengalami persaudaraan dan kekeluargaan di berbagai tempat.

Dan sebentar lagi akan memasuki tahun baru – tahun 2015. Banyak hal sudah berlalu, maka banyak hal pula yang akan datang di tahun yang baru ini. Usia baru jelas (semakin tua 😦 ). Dan yang pasti resulousi untuk tahun baru adalah bisa mengendarai mobil, bisa pergi jalan-jalan (kemana saja), memiliki keyboard baru (buat mainan), mengembangkan karier. 😀

Tuhan,.mudahkan jalanku menuju yang baik.

Happy New Year !!!

Happy New Year !!!

Iklan

Tahun Membahagiakan Orangtua

Sejenak mengasingkan diri dari hingar bingar rutinitas kerja selama beberapa hari, tetapi tho masih menyempatkan dua hari untuk kembali menjamah pekerjaan yang adalah bagian dari tanggung jawab. Dan tak sanggup rasanya meninggalkan tanggung jawab.

Apapun itu, kesibukan rutinitas atau pun melakukan yang lain, yang pasti bahwa hari Natal barusan lewat. Ada kisah Natal yang terukir di sini, bahwa masih kembali merayakan Natal bersama orang-orang tercinta, ayah-ibu, saudara-saudari dan keluarga besar.

Beberapa tahun lalu kegalauan menerpah kala tak pernah merasakan moment Natal bersama orang-orang tercinta. Dan saat ini, kekalutan masa itu telah lewat. Sudah 3 tahun berturut-turut hadir merayakan Natal bersama mereka – orang-orang tercinta. Senang dan bahagia bahwa bapa-ibu masih sehat-sehat, adik-adik dan semua anggota keluargapun masih tersenyum merayakan Natal ini. Perasaan sukacita juga hadir bahwa usaha dan kerja keras mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya termasuk saya, perlahan-laha menuai hasil yang baik.

Saya menyadari betul usaha keras orangtua semasa masih mengenyam pendidikan. Karena itu apa balasannya? Orangtua dan semua orang yang kita cintai tentu tak mengharapkan yang mewah untuk diberikan kepada mereka sebagai balasjasa tetapi cukup membuat mereka bahagia dengan perilaku, tindak-tanduk yang baik dihadapan mereka. Selebihnya kita memiliki ‘kesadaran dari dalam’ untuk memberi yang terbaik untuk orangtua. Dan yang terbaik untuk saya berikan pada mereka tahun ini adalah men-cat rumah. Yang ini tak tersurat dalam resolusi tahun baru kali lalu, melainkan tersirat dalam tema besarnya ‘tahun membahagiakan orangtua’.

Sudah bertahun-tahun rumah tempat kami tingggal dan dibesarkan tak pernah tersentuh cat. Rumah hanya kelihatan besarnya tetapi nampak artistik warna-warni tak ada. Dari kejauhan rumah ini seolah lesuh, tak berbentuk dan seolah menggambarkan keberadaan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Alasan yang selalu terlontar dari bibir orangtua ialah ‘uang semua habis untuk menyekolahkan kamu’. Sedih! Dan pada saatnya, rasanya tak tega melihat ‘tempat yang selalu memberi kehidupan ini’ terus kusam dimakan usia. Sebagai hadiah Natal maka ini yang sanggup saya berikan. Perlahan-lahan ‘tempat tinggal’ mulai berbentuk dan ceriah di usianya yang tak lagi muda ini.

Hanya ini yang bisa kupersembahkan untuk orangtua dan orang-orang tercinta.
Merry Christmas 2014!!! 😀

Season’s Greetings & Merry Christmas

‘Time flies fast.’ Waktu berlalu begitu cepat! Satu kalimat yang sering saya temui saat menerjemahkan surat-surat yang dikirim oleh orangtua sponsor untuk anak sponsor.

Memang waktu berlalu begitu cepat. Satu kenyataan yang memang sangat dirasakan oleh kita semua – orang di belahan dunia lain pun merasakannya. Apalagi sekarang sudah berada pada bulan Desember – bulan terakhir dalam tahun. Satu kalimat yang sanggup terucap yaitu Waktu berlalu begitu cepat. Apapun yang terjadi ini adalah kenyataan yang harus dilewati bahwa sekarang sudah bulan Desember 2014. 😛

Kenyataan lain yang akan selalu dikenang dan menjadi momen yang sangat membahagiakan adalah datangnya hari Natal. Memang tidak semua tahu atau sengaja tidak mau tahu tentang hari Natal. Tetapi bagi mereka yang hidup dari tradisi Kristiani akan selalu menganggap bulan Desember sebagai bulan Natal – bulan yang penuh dengan kebahagiaan, keceriaan dan sukacita besar karena merupakan bulan kelahiran ‘Sang Juru Selamat’ (Orang Kristen mengimani hal ini).

Sebagai bulan sukacita dan bulan kebahagiaan maka tak jarang pada bulan Desember orang-orang akan mengirimkan atau membagikan sukacita Natal dengan sesama yang lain. Singkatnya orang mengirimkan ucapan Selamat Natal untuk sesama – bukan hanya untuk sesama orang Kristen saja tetapi juga ucapan Natal bisa dibagikan untuk sesama non Kristen. Dan orang Kristen tak mengenal apakah ini halal atau haram mengucapkan Selamat Natal, yang ada bahwa sukacita Natal harus dibagikan dengan sesama umat manusia.

Ada beragam cara untuk mengucapkan Selamat Natal. Dulu waktu masih kecil, sering ucapan Natal diungkapkan dengan mengirimkan kartu Natal yang bisa didapatkan di toko-toko. Dan pada bulan seperti ini, kartu Natal sangat mudah didapat di toko. Seiring dengan perkembangan zaman, kini ucapan Natal lebih sering diucapkan dalam bentuk SMS yang tentunya akan dibuat sekreatif mungkin menggunakan karakter-karakter SMS.

Dalam konteks di Indonesia, ucapan Selamat Natal tentu dikhususkan untuk diucapkan pada mereka yang Kristiani. Dan ini rasanya sah, sebagai orang Kristiani tentunya saya akan merasa sangat senang dan bahagia. Demikian juga kalau ada yang mau membuat ucapan Natal dalam bahasa Inggris. ‘Merry Christmas’ akan terasa sangat menyentuh dan berkesan.

Masih dalam penggunaan bahasa Inggris, kadang ada yang menggunakan kalimat ini ‘Season’s Greetings’. Kok Season’s Greeting ya? Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia paling kurang seperi ini ‘Selamat Musim’ atau ‘Selamat memasuki musim’. Sesuatu yang bernada kurang pas dan kurang berkesan. Mungkin hanya perasaan saya saja, orang lain mungkin merasakannya dengan kesan berbeda.

Akan tetapi sepertinya ada yang mengganjal dengan ucapan Season’s Greetings. Kadang saya bertanya, apakah kita merayakan musim? Musim apa ya? Musim hujan? Atau musim apa yang dimaksud? (asal jangan musim kawin saja! 😛 )

Hari ini saya iseng mencari tahu soal Season’s Greetings. Saya menemukan beberapa sumber yang cukup memuaskan dan bisa dibilang masuk akal.

Ya, ternyata Season’s Greeting untuk konteks mereka yang hidup di negeri Barat, ucapan ini untuk men-generalisir semua orang. Maksudnya ucapan ini tidak ditujukan untuk kaum tertentu (Kristiani), tetapi ucapan ini juga untuk mereka yang non Kristiani. Bahwa di negeri seberang pada bulan seperti ini ternyata ada beberapa perayaan seperti perayaan Natal, Hanaukkah dan Kwaanza. Dan bahwa ternyata perayaan ini juga berkaitan dengan akan datangnya libur musim dingin yang mana semua orang tentu bersuka cita menyambut liburan musim dingin dengan suasana yang berselimutkan salju. 😛

Konteks negeri barat Season’s Greetings memang betul-betul sebuah ucapan yang ditujukan untuk semua orang ketika maksudnya untuk semua orang yang merayakan beberapa perayaan besar ini. Bahwa ucapan ini juga untuk tidak menyinggung orang dengan latar belakang tradisi tertentu.

Di Indonesia, sejatinya tidak ada perayaan di bulan Desember selain perayaan Natal. Apakah Season’s Greetings maksudnya juga ucapan untuk perayaan menyambut Tahun Baru?

Tetapi saya setuju juga ketika mereka yang berlatar belakang Kristen mau membagikan sukacita Natal. Sebaiknya ucapan Season’s Greetings lebih menjadi pilihan yang tepat ketimbang mengucapkan Selamat Natal atau Merry Christmas.

Akhir kata Merry Christmas, Season’s Greetings! 😀

Season's Greetings!

Season’s Greetings!

Natal ’20an : Novis, Jogja dan Oenak (NATAL Part IV)

Bertahun-tahun, mulai dari SMP sampai menjadi seorang Frater Novis, saya hidup dalam lingkungan biara dan menjalani hidup membiara. Saya menjalani kehidupan yang ‘tidak sama’ dengan teman-teman lain di luar biara. Awalnya saya cukup menikmatinya karena merupakan bagian dari cita-cita masa kecil saya, tetapi lambat laun saya mulai sadar akan panggilan saya yang sebenarnya dan memutuskan untuk mengundurkan diri. Natal ke-20 (natal tahun 2005 menuju pergantian tahun 2006) menandai akhir dari perjalanan saya dalam hidup membiara sekaligus menandai pergumulan awal saya memasuki dunia luar yang nan luas ini.

Keluar dari sangkar burung dan terbang mengitari alam nan luas. Seperti seekor burung yang baru belajar terbang, yang keluar dari sangkar, hinggap di tepian sangkar sebentar. Menghirup udara bebas dalam-dalam, pandangannya jauh ke depan, ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah. Kemudian kedua sayapnya dikepakkan, mencoba merasakan setiap energi yang keluar dari sayap-sayapnya lalu terbang melintasi alam nan luas. Pengalaman pertama terbang tentu tak mengenakkan, ada rasa gugup, kuatir dan takut. Burung yang baru belajar terbang pasti mengalami pengalaman jatuh. Walaupun jatuh dan jatuh lagi, ia tahu kodratnya sebagai makluk hidup yang dianugerahi sayap untuk terbang dan terbang mencari kehidupannya sendiri, terbang menjelajahi setiap sudut tempat yang bisa ia hinggapi demi mendapatkan makanan. Burung pun tahu bahwa ada saat di mana ia akan mencari kehidupannya sendiri dan terlepas dari induknya.

Saya mengalami hidup di dalam sangkar dan sekarang mulai terbang keluar ke alam luas. Tidak mudah memang. Pikiran dan perasaan berkecamuk sejak hari pertama menghirup udara luar. Ada perasaan, gugup, kuatir dan takut. Saya sudah terbiasa dengan hidup di dalam biara yang mana semua waktu sudah diatur dan kegiatan-kegiatan yang dijalani pun sudah teratur menurut waktunya. Makan-minum saja sudah disiapkan, seolah hidup dimanjakkan dengan aneka fasilitas yang mudah dan enak, tinggal mencicipi. Tetapi sekarang, saya sudah berada di dunia luar. Saya sendiri yang mengatur waktu dan mengatur kehidupan sendiri tanpa aturan yang baku seperti yang sudah saya alami dalam biara.

Hati kecil terus bertanya-tanya, ‘Apa yang sudah saya lakukan ini? Apakah ini adalah keputusan yang tepat? Apakah kehidupan saya akan lebih baik?’ Berbagai macam pertanyaan berkecamuk tetapi keputusan sudah dibuat. ‘Apapun yang terjadi, saya akan hadapi,’ demikian akhir kata dari perasaan yang tak menentu itu.

Hari-hari awal di luar memang tak meng-enak-an. Saya mulai belajar menjalani kehidupan luar. Sementara perlakuan orangtua pun berubah, tak sama seperti waktu masih di seminari atau biara. Saya sadari itu dan bukan hanya perasaan yang mengatakannya. Saya mulai belajar kerja kasar, kerja yang jarang saya lakukan waktu masih di dalam biara. Pekerjaan yang saya lakukan seperti memberi makanan untuk ternak, pergi berkebun dan ke sawah layaknya hidup orang tani. Berat rasanya tetapi saya rela melakukannya karena memang itu pilihan yang saya mau. Merenung dan merenung, pekerjaan apapun saya lakukan. 4 bulan lamanya saya tinggal bersama orangtua dan menjalani rutinitas yang biasa mereka lakukan sambil mencari jalan untuk kuliah.

Di sela-sela jam makan malam kadang kami berdiskusi tentang rencana kuliah. Kami berdiskusi, kira-kira jurusan apa yang akan saya pilih. Orangtua dengan hati nurani dan nasehat-nasehatnya terus membuka wawasan saya. Terkadang saya merasa orangtua memaksakan kehendak mereka pada saya untuk memilih jurusan yang mereka mau. Mereka mengarahkan saya untuk menjadi seorang guru. Tetapi saya juga tetap dengan pendirian. Saya sudah berpikir untuk tak menjadi seorang guru. Kadang diskusi berakhir dengan nada emosi. Orangtua emosi, saya pun ikutan emosi.

Sampai akhirnya, seperti menemukan satu pencerahan. Tak disangka-sangka, secara mengejutkan orangtua sepertinya mengikuti kemauan saya. Singkat cerita bapa mengizinkan saya untuk menempuh pendidikan di tanah Jawa. What a great moment. Jangankan melihat tanah Jawa, membayangkannya saja sudah senang bukan main apalagi sekarang akan tinggal dan kuliah di Jawa. Senang dan gembira bukan main.

Pertengahan tahun 2006, saya memulai petualangan di tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma (USD) menjadi tempat saya menempuh bangku kuliah. Apa yang membuat orangtua mengizinkan saya kuliah di sini juga karena jurusan pendidikan yang saya pilih tidak tersedia di kampus-kampus yang ada di Kupang. Di USD saya mengambil jurusan Sastra Inggris (English Literature) yang memang tidak ada di Kupang.

Dengan demikian elegi natal terukir di tempat baru dengan pengalaman baru. Natal ke-21 (Natal 2006 menuju pergantian tahun baru 2007) saya rayakan di Jogja. Saya sudah berusia 20an sehingga natal masa kecil seolah sirna tak berasa di sini. Ya hidup di tengah mayoritas, natal serasa seperi perayaan hari biasa. Walau pun demikian, natal ya natal. Saya tetap menghayatinya sebagai perayaan besar. Perayaan besar atau kecil tergantung tiap pribadi memaknainya. Saya tetap memaknainya sebagai perayaan keselamatan.

Mungkin yang tak berasa adalah moment ketika selesai perayaan natal. Soalnya setelah misa mau ke mana? Mau ucapkan selamat natal di mana? Pada siapa? Untungnya saya mengenal beberapa rekan, sahabat dan beberapa kenalan se-daerah sehingga kami bisa berbagi suka cita natal bersama. Di sinilah saya memaknai natal juga sebagai moment mempererat tali persaudaraan di tanah rantau.

Yang beda juga bahwa semenjak di Jogja, ucapan natal tidak lagi melalui kartu natal, tetapi kali ini lewat SMS. Serasa lebih asyik mengirimkan ucapan selamat natal lewat sms. Ya ceritanya saya baru punya hp sendiri pas berada di Jogja. 🙂

Selanjutnya natal ke-22 tahun 2007 sampai natal ke-25 thn 2010 saya masih merayakannya di Yogya. Masih dengan suasana yang sama. Makna natal itu soal penghayatan individu. Suasana natal setelah misa memang biasa-biasa saja tetapi tetap natal adalah hari keselamatan. Sebasar apa keselamatan itu, ya itu makna yang hanya saya sendiri yang maknai. Makna natal bagi saya selama berada di Jogja bahwa saya belajar bersabar, belajar untuk menjadi pribadi yang kuat, berani dan percaya diri. Natal menjadi moment untuk memohon berkat Tuhan dalam setiap liku-liku hidup saya. Saya memohon berkatNya agar saya tetap tegar sampai menyelesaikan kuliah saya.

Natal kadang saya rayakan dengan teman-teman kampus, kenalan dari daerah lain. Ada Rendi, Betu, Lito, Aloy, Moris, Axel, Emil, Angel, Om Erson, Riki Anyan, Stefen, Yosafat, Abed, Finus  dan masih banyak lagi. Natal bersama mereka memang berkesan. Saya kangen mereka semua. Seandainya waktu bisa terulang.

Kadang saya rayakan natal dengan saudara-saudari sedaerah dan sekampung, seperti Rilus dengan kekasihnya, Djuniuk dan adiknya Esry. Biasanya setelah perayaan natal baru kami bisa berkumpul bersama.

Di Jogaja saya cukup aktif dalam koor dan selama di Jogja koor yang paling berkesan adalah bersama Gandroeng Choir. Gandroeng seperti menjadi keluarga bagi saya juga. Saya kangen dengan mereka dan berharap suatu saat saya bisa reunian dengan mereka. Mas Didit, mas Wawan, miss Aree, mereka pribadi yang luar biasa.

5 kali merayakan natal di Jogja. Tepat awal November 2011 saya kembali ke tanah kelahiran saya, tempat saya dibesarkan. Sedih, seolah tak ingin kembali, tetapi apa daya. Rasanya ada yang belum tuntas untuk dijalankan di Jogja, tetapi itulah hidup dan itulah saya dengan segala keterbatasannya. Saya bukanlah siapa-siapa, seseorang yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Life must go on.

Saya harus meneruskan perjalanan hidup saya. Serasa ada yang belum tuntas tetapi bukan kah tujuan mulia saya untuk mendapatkan ijasah sudah tuntas. 5 tahun saya bergumul dan pada akhirnya saya menerima titel gelar sarjana. Apa itu masih kurang? Tetap ada yang kurang dan saya akan kembali mempertanyakan kembali ‘yang belum tuntas itu’, mengambilnya dan membawanya sebagai hadiah terindah, gelar terindah. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan menunjukkan jalan itu. Saya belum mengatakan selamat tinggal Jogja karena saya yakin saya akan kembali mengambil apa yang menjadi ‘milik saya’ di sana.

***

November 2011 saya kembali ke Timor khususnya kampung halaman tercinta Oenak. Saya kembali bersentuhan dengan dunia saya dibesarkan. Dan kembali saya merayakan natal di sini. Saya merayakan natal ke-26 di kampung halaman. Segala memori akan natal masa kecil terukir kembali di kapela Naiola. Perayaan natal yang sederhana dengan nyanyi dan tarian yang meriah. Bersama itu pula saya menyerahkan diri sepenuhnya di hadapan sang Juruselamat Yang lahir. Saya mengucapkan syukur dan terima kasih karena saya sudah menyelesaikan tugas kuliah saya. Saya membayar lunas kepercayaan orangtua yang sudah mengirim saya jauh melalang buana dan kembali dengan hasil yang memuaskan hati mereka. Sembari saya meminta pertolongannya agar saya segera mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan pekerjaan.

Dan itu nyata. Tahun baru 2012 menjadi tahun berahmat. Saya dianugerahkan pekerjaan di mana saya benar-benar bisa hidup mandiri, bebas dari tanggung jawab orangtua. Natal 2012-natal ke-27 kembali saya mengucap syukur karena anugerah indah ini. Natal bersama orangtua, adik-adik dan segenap keluarga besar.

Dan Natal tahun 2013 adalah natal saya yang ke-28. Apa yang istimewa? Yang istimewa bahwa saya terinspirasi untuk merenungkan semua moment natal sepanjang hidup saya, mulai dari natal masa balita, kanak-kanak, natal remaja hingga saat ini. Atas semua pengalaman ini, saya sadar dan yakin bahwa kasih Tuhan tidak terlambat bagi mereka yang masih percaya padaNya. Saya bisa tetap kuat dan tegar seperti ini karena Dia ada bersamaku. Tuhan Juruselamat masih hadir bersamaku. Saya bersyukur bahwa saya masih bisa merayakan natal bersama orangtua, adik-adik, saudara-saudari dan segenap keluarga besar. Salam Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.
~ T H E    E N D ~

‘Natal Masa SMA dan Cinta Monyet’ (NATAL Part III)

Image

Post ini rasanya terlambat,. 🙂 Anyway, saya hanya mau melanjutkan kisah Natal yang sudah saya lewati termasuk Natal 2013 kemarin. Saya hanya sekedar mengingat kembali semua moment saat hari Natal atau dalam masa dan mencoba membingkainya dalam rangkaian kata-kata.

Kisah Natal terakhir adalah Natal yang ke-15 ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP yang mana Natal diwarnai dengan kejadian ‘Nyasar Menjelang Natal’. Walau saya tersesat tetapi akhirnya menemukan ‘jalan pulang’ yang bukan karena hanya kekuatan saya menghadapinya tetapi juga karena saya menemukan seorang ‘malaikat penolong’ yang menunjukkan saya jalan pulang itu dan pada akhirnya bisa merayakan Natal bersama orangtua. Tak hanya merayakan Natal tetapi juga melewati malam pergantian Tahun Baru 2000 bersama orang-orang tercinta.

Saya melewati liburan beberapa minggu di rumah dan cerita akan Natal 16 sebenarnya berkaitan dengan liburan ini. Pada waktu liburan ini, timbul niat untuk melanjutkan pendidikan di Timor. Alasannya cukup mengena, ‘Saya sudah malas merantau, bukan karena pendidikannya yang tidak baik atau bermutu tetapi karena alasan jarak.’ Saya harus menghabiskan kurang lebih 3 hari untuk melakukan perjalanan dari Pulau Timor menuju Pulau Sumba, pulau yang juga terkenal dengan Kuda Sandelwoodnya. Alasan ini juga di-amini oleh kedua orangtua saya. Orangtua, bapa-mama, jelas sangat setuju.

Saat itu saya sudah kelas 3 SMP dan beberapa bulan lagi akan UAN dan akan masuk SMA. Karena jalur pendidikan SMP saya agak beda dengan sekolah umum, yang mana sekolah saya berlabel ‘Seminari’ (pendidikan calon imam) maka orangtua langsung mengajak saya untuk mencari informasi mengenai sekolah SMA Seminari Lalian. Sekolah ini yang memang secara pendidikan cocok atau merupakan bagian dari pendidikan untuk calon imam (calon Pastor Katolik). Dan singkatnya, dari hasil konsultasi ini maka akhirnya saya pindah dari Seminari Sinar Buana-Sumba Barat Daya (waktu itu masih Sumba Barat) menuju Seminari Lalian-Atambua di kabupaten Belu pada awal tahun pelajaran baru 2000/2001.

Di sini, kisah Natal selama berada di SMA-masa ‘puber’ terukir dengan pola dan ukiran yang berbeda.

Natal selama duduk di bangku SD dan SMP masih penuh dengan kepolosan. Waktu itu pikiran dan perasaan hanya tertuju pada kenikmatan untuk memperoleh pakaian baru, bisa menikmati kue-kue natal dan bisa menikmati indahnya bermain petasan bersama teman-teman. Waktu SMP kadar makna natal sedikit naik. Hidup di perantauan membangkitkan rasa rindu dan memori akan natal yang indah bersama orangtua, adik-adik dan segenap keluarga besar. Natal membuat saya betul-betul kangen akan suasana rumah.

Ketika duduk di bangku SMA, saya sudah dekat dengan orangtua dan jarak ke rumah pun hanya beberapa jam dari tempat saya bersekolah sehingga dengan mudah saya bisa merayakan natal bersama orangtua dan selalu mengulang kenangan akan natal masa kecil. Tentunya ada hidangan kue natal. Makna natal juga makin dalam artinya. Bahwa natal bukan hanya sekedar datang mengikuti perayaannya lalu pulang ke rumah menikmati kue natal bersama keluarga, tetapi bahwa natal memberi makna untuk kehidupan saya sebagai seorang Kristiani dan merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan diri dan membuat perubahan-perubahan penting dalam hidup.

Sebagai seminaris natal merupakan hari yang cukup sibuk. Kami harus bekerja di paroki. Kami harus melakukan tugas kami sebagai seminaris yang mana selama natal kami harus selalu membantu persiapan-persiapan menjelang perayaan natal seperti membuat kandang natal, menghias gereja, menjadi pelayan altar, membawakan lagu koor komuni dan sebagainya. Intinya kami harus terlibat aktif selama masa natal baik itu kerja fisik maupun kerja non fisik.

Masa liburan natal juga menjadi momen penting dalam masa puber saya. Natal membuat gelora asmara dan gelora cinta membara dalam hati. Natal ke-16 lah yang paling istimewa di masa puber ini (natal tahun 2001 dan akan memasuki tahun 2002). Natal ini membawa saya pada pertautan ‘hati’ dengan seorang bunga desa sebut saja ‘Desi’. Pertautan dua hati ini adalah yang pertama bagi saya alias ‘my first love’. My really first love, sehingga gelora cinta dan sayang seolah mendapatkan yang tepat dan saya begitu senang dan bahagia. Indahnya jatuh cinta memang tiada duanya. Senang yang sesenangnya sampai kadang melakukan hal konyol. Selalu semangat mengikuti misa, walau mungkin di tempat lain kebanyakan orang biasanya sudah tidak terlibat dalam perayaan ekaristi atau misa, seperti misa natal kedua, dan perayaan-perayaan setelah hari natal tgl 24-25 Desember. Memang pantas saya harus selalu aktif dan terlibat dalam perayaan-perayaan ekaristi, apalagi karena status saya sebagai seminaris. Tetapi kalau diingat motivasi lain tersirat di dalamnya. Ya hanya dengan mengikuti perayaan ekaristi, saya bisa bertemu dan mengobrol dengan gadis pujaan hati. 🙂

Kekonyolan karena efek samping first love juga terjadi manakala kedapatan orangtua senyum-senyum sendiri di tempat tidur. Betapa malunya ya.

‘Senyum-senyum kenapa?’ tanya mama yang waktu itu mendapati saya.

‘Sonde‼’ jawab saya singkat dengan ekspresi malu-malu. 🙂

Kadang sudah merasa bete dan sangat kangen, pasti naik angkutan desa yang bisa melewati rumah si gadis. Jangankan bertemu dan bertatapan muka, lewat depan rumahnya saja pasti sudah sangat membahagiakan. Hal konyol juga ketika kartu ucapan selamat Natalnya selalu tersimpan rapi di rak lemari. Berkali-kali dan hampir setiap menit saya menatapnya, mencium aromanya yang begitu wangi, dan di saat itu gambar wajahnya seperti nampak  pada lembaran kartu natal, di atas loteng rumah, di tembok dan di mana-mana.

Kekonyolan yang sangat keterlaluan dan hampir dikatakan anak durhaka manakala sang pujaan hati mendapat tempat paling banyak di hati dan mendapat perhatian lebih besar dari pada perhatian yang dicurahkan pada orantua. Waktu itu liburan natal ke-17 (natal tahun 2002 menuju pergantian tahun 2003) sudah berakhir dan saya harus kembali ke asrama tempat sekolah saya. Pada hari itu, saya janjian untuk bertemu hanya mau ‘say good bye’. Hanya karena mau pamitan dengan gadis saya, akhirnya saya lupa pamitan dengan keluarga terutama, kedua orangtua saya. Tahu apa jadinya? Teman-teman yang mengangkut barang-barang saya di rumah bertemu mama dan kata mereka beliau sampai menitikkan air mata mengingat kelakuan anaknya demikian. Memang sangat menyedihkan jika diingat kembali. Saya sungguh keterlaluan sampai melupakan orantua demi ‘cinta monyet’ ini. Sungguh konyol. Hati orangtua pasti hancur lebur ketika anaknya berbuat demikian. Jarak tidak lagi jauh tetapi karena liburan sangat terbatas yang mana kami hanya bisa liburan di rumah saat natal, paskah dan liburan panjang, Juni-Juli. Hanya waktu ini yang bisa mempertemukan saya dan orangtua. Hanya waktu ini juga yang bisa mempertemukan saya dengan si pujaan hati, akan tetapi saya semestinya lebih bijak dan pandai mengatur waktu.

Memang waktu sudah berlalu dan kenangan akan kejadian ini sudah berlalu pula. Tentu waktu tak bisa diulang. Sehingga biarlah kenangan ini tertulis sebagai bagian dari hidup saya dan sebagai tanda maaf saya pada keluarga, terutama orangtua dan lebih utama tanda maaf untuk mama yang sudah sampai menitikan air matanya. I always love you mama.

Orang mengatakan ‘First love never die’, cinta pertama takkan mati. Memang benar tetapi yang saya alami mungkin beda. Cinta pertama saya perlahan-lahan pudar seiring waktu. Banyak alasan yang membuat saya mulai menghindar, mulai dari peristiwa tak digubris, hingga seolah si dia seolah berpaling dari saya karena mungkin menemukan orang lain yang lebih tepat. Karena alasan-alasan ini maka saya pun mulai mencari jalan lain dan akhirnya menemukan ‘yang lain’ juga.

Natal ke-18 (natal tahun 2003 menuju pergantian tahun 2004) saya dipertemukan dengan yang lain itu sebut saja namanya Vina. Si dia ini saya anggap lebih baik dari yang sebelumnya dan lebih ‘aduhai’ :-). Terajutlah kisah asmara dua hati ini sampai-sampai saya nekat mampir di rumahnya, memperkenalkan diri pada kedua orangtuanya bahkan saat ulang tahun sweet 17th nya, saya diundang sebagai tamu istimewa. What a great day. Saya sungguh bahagia, luka karena ditinggal terobati dengan kehadiran yang baru, ‘Vina’. Lagu Manado ‘Arang Tempurung’ seolah menjadi soundtrack perjalanan kisah kami.

Natal ke-19 (tahun 2004 menuju pergantian tahun baru 2005), saya sudah tamat dari Seminari Lalian dan berhasil masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk calon imam. Pertengahan tahun 2004 sampai natal 2005 (tepatnya awal 2006) saya habiskan di Novisiat SVD Nenuk-Atambua, tempat pembinaan calon imam tarekat SVD (Serikat Sabda Allah). Hampir tak ada waktu untuk berlibur ke kampung halaman untuk melihat orangtua apalagi berjumpa si Vina. Tetapi beruntung, saat masih di tingkat I kami diberi kesempatan untuk libur natal sehari saja yaitu pas tanggal 25 Desember. Kesempatan ini menjadi kesempatan yang baik dan tak saya sia-siakan. Di sela-sela kunjungan ke rumah dan mengucapkan selamat natal pada orangtua, saya pun menyempatkan diri mengunjungi si Vina. Ya hanya mau melepas rasa kangen dan selebihnya mengucapkan selamat natal juga.

Hanya beberapa menit saja tetapi sangat berarti. Saya bisa menatap kembali wajahnya dari dekat, melihat kedua bola matanya yang sayup-sayup itu dan intinya menikmati menit-menit yang indah itu bersama dia, nothing more. Lagi-lagi, saya sangat bahagia. Sangat bahagia berduaan tetapi ternyata itu menjadi pertemuan terakhir kami. Karena setelah saya kembali ke biara, praktis tak ada banyak waktu berjumpa. Di saat itupun si Vina ternyata sudah dengan ‘yang lain’ dan hubungan kami akhirnya putus dengan sendirinya. Again, tidak ada kata pisah sama seperti cinta pertama saya. Asmara yang saya jalani bersama mereka berjalan begitu saja dan berakhir begitu saja. Perih memang, tetapi untuk apa ditangisi. Namanya juga cinta monyet, cinta yang terjalin karena gelora asmara masa puber, hahaha.

Masih ada dua gadis yang turut menghiasi asmara masa puber saya waktu duduk di bangku SMA. Tetapi kisahnya sama saja. Semuanya berhembus seperti angin, tak tau datangnya dari mana dan berakhirnya di mana. Tak jelas arahnya tetapi hanya bisa dirasakan. Kehadiran mereka sungguh saya rasakan dan sadari. Mereka sangat berpengaruh dan memberikan arti yang mendalam dalam perenungan saya untuk menemukan diri saya. Dari diri mereka lah, saya belajar dan sadar akan panggilan yang saya jalani waktu itu di dalam lingkungan biara.

***bersambung***

The End of 2013

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2013 dan beberapa jam lagi akan memasuki tahun baru, 2014.

Pertanyaan singkat, apa saja yang sudah dilakukan selama tahun ini? Resolusi apa saja yang berhasil atau terkabulkan selama 2013? Dan resolusi apa yang tak tercapai?

Resolusi 2013 saya singkat dan mungkin sedikit absurb. Saya hanya minta semoga masih bertahan dengan pekerjaan saya, menikmati pekerjaan dan setiap rezeki yang saya terima. Saya juga minta semoga mendapatkan hal-hal yang baik bisa menyenangkan dan membahagiakan orantua. Resolusi ini serasa kurang jelas tetapi menjadi jelas dan bermakna ketika saya melihat kembali ke belakang. Belakang gudang? Bukan, maksudnya hari-hari yang sudah saya lewati di tahun 2013.

Saya mengawali tahun 2013 dengan sebuah anugerah indah. Begitu indah dan life is so worthy. Bisa beli ‘motor baru’ adalah anugerah yang tiada taranya, haha. Ya serasa asyik saja bisa membeli motor dengan hasil ‘keringat’ sendiri. Momennya pas lagi di awal tahun di bulan Januari. Dulu zaman kuliah masih pake motor pembelian orangtua. Itupun motor bekas yang nota bene membuat cewek-cewek pada takut dan enggan nungging. What a pity. Bisa membeli motor baru adalah anugerah tahun 2013.

The following pictures are the difference between the old and the new one.

Image

Click foto untuk perbesar

Image

Click foto untuk perbesar

 Tahun 2013 menandai kepindahan saya ke SoE. Sebelumnya saya bekerja di Kupang. Yang beda hanya tempat baru, suasana baru, teman baru, posisi baru dan gaji baru tetapi tetap masih bekerja di Plan Indonesia. Momen ini menjadi indah karena pindah pas akhir tahun 2013, dan benar-benar bekerja serius di awal tahun 2013. Jadi ada jeda yang cukup untuk ‘santai.’ Santai bekerja tetapi pasti.

Ada perasaan senang juga karena saat bekerja di Kupang saya terus dihantui perasaan tak pasti mengenai posisi kerja saya. Ya maklum hanya tenaga kontrak, itupun kontrak hanya setahun. Jadi ada dua kemungkinan bisa diperpanjang atau langsung di-cut. Kecemasan saya menjadi sirna tatkala saya mendapat restu untuk pindah ke Plan PU SoE yang mana saya bisa menjadi tenaga kerja tetap. Label ‘pegawai tetap’ ini yang membuat suasana hati sumringah. Dan menjadi lebih indah waktu mendapatkan SK pengangkatan menjadi staf tetap terhitung mulai Maret 2013. Ceritanya label staf tetap juga yang memberikan suatu kepastian untuk membeli ‘kuda’ tunggangan baru. 🙂

Hari-hari tahun 2013 terus bergeser. Ada perasaan senang dan gembira dengan aneka hal-hal kecil dan simple. Senang dengan setiap kejadian hidup ini. Saya merasa senang karena selalu tampil dengan ‘gaya rambut baru’ (epen kah? Cupen tho…:-) ).

Image

Click foto untuk perbesar

Saya juga senang bersosialisasi dengan berbagai macam orang di desa tempat kerja Plan. Saya senang sesekali bisa turun desa melihat suasana desa.

Image

Click foto untuk perbesar

Saya senang bisa kembali melihat kota Metropolitan. Ceritanya awal November kemarin saya sempat menghabiskan 3 hari di Jakarta. Dan lebih serunya bisa berjalan keliling menggunakan TransJakarta ke beberapa tempat dan membawa pulang ‘oleh-oleh’ untuk orangtua, adik-adik, dan keluarga besar.

Image

Click foto untuk perbesar

Saya senang bisa melihat orangtua tersenyum, melihat adik-adik  tersenyum. Life is so fun with family. I really enjoy it. 🙂

Image

Click foto untuk perbesar

Bukan hanya senang dan gembira, kecewa, marah, putus asa, sedih dan duka pun ikut mewarnai tahun 2013. Kecewa tatkala ada yang membuat hal-hal yang tak sesuai dengan jalan pikiran dan pendapat saya. Marah tatkala ada yang menjengkelkan saat bekerja, baik melalui perkataan maupun tindakkan. Putus asa tatkala harapan untuk bekerja dengan nyaman terusik dengan tingkah laku dan ulah teman kerja yang tak senonoh atau sesuai dengan harapan yang saya idamkan sebelumnya. Putus asa, marah dan kecewa tatkala beban kerja ternyata melebihi tenggat waktu kerja. Selalu saja ada waktu lembur setiap harinya. Kadang saya merenung, is this the only work that I need? Is this the one that I look for and require my passion? L Saya kecewa dan marah tatkala harapan-harapan kecil yang saya impikan dalam bekerja menjadi suram karena faktor X.  Perenungan saya akhirnya berujung pada sebuah ‘kepasrahan.’ Whatever it may come, I will do it confidently and I will always be myself. Ya, menjadi ‘diri sendiri’ dalam bekerja kadang perlu dan harus ketika ‘tiadanya’ kenyamanan.

Perjalanan menuju akhir tahun juga tak luput dari peristiwa sedih. Tepat di pertengahan November Om Bala meninggal dunia. Beliau meninggalkan istri dan anak-anaknya setelah selama kurang lebih 2 tahun berjuang melawan penyakit yang diderita.

Demikian aneka warna perjalanan hidup selama setahun ini. Senang, gembira, kecewa, putus asa, marah dan sedih menjadi satu. Resolusi saya tahun ini hanya mau mendapatkan hal-hal yang baik, mendapatkan kegembiraan dan kenikmatan dalam bekerja. Saya memang sudah cukup menikmati semua yang saya alami dalam hidup saya selama setahun ini. Rezeki, amal, hidup bersosialisasi dan bahagia ketika melihat ‘yang dicinta’ ikut bahagia.

Saya juga tak bisa mengelak hal-hal yang tidak baik, di luar apa yang saya harapkan, terjadi pada diri saya. Semua yang terjadi adalah anugerah yang perlu di-syukuri. Kata d’Massiv dalam lirik lagunya, ‘Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.’ This is the end of the year but not the end of life. Life must go on. 🙂

Welcome and Happy New Year 2013!!!

***

Nyasar Menjelang Natal (NATAL Part II)

Dalam perayaan Natal kelimabelas ini, ada beberapa moment penting yang ikut mewarnai hidup saya menjelang hari Natal, 25 Desember 1999 seperti dilema, sedih, kuatir, takut dan senang bercampur gembira. Sebelum hari liburan sempat ada tawaran dilematis dari seorang Frater TOP, Fr. Policarpus, Pr (sekarang sudah Romo) untuk berlibur ke tempat asalnya di Bajawa-Flores. Tawaran ini menjadi menarik karena beliau menanggung ongkos kembalinya atau saat pulang dari Bajawa. Selain itu saya juga belum pernah menginjakkan kaki di pulau yang bernama lain Pulau Bunga tersebut. Saya sempat mengatakan ‘ia’ tetapi kemudian ‘tidak’. Ujung-ujungnya saya berpikir ini tahun terakhir dari abad 20 dan akhir milenium pertama dan akan memasuki permulaan millenium baru dan abad baru; lagian isu kiamat sangat menakutkan. Saya mau mati bersama orangtua, pikir saya waktu itu. Karena perasaan takut ini maka saya urungkan niat berlibur bersama beliau. Saya mengurungkan niat untuk melihat Pulau Flores, terutama melihat beberapa obyek wisata menarik di kabupaten Bajawa yang terkenal dengan Pulau Kelelawar dan Air panas So’A.

Akhirnya saya memutuskan untuk berlibur di kampung halaman di Kefa-Pulau Timor. Keputusan untuk berlibur di kampung halaman inilah yang akhirnya menggiring saya pada sebuah peristiwa pilu dan akan menjadi peristiwa penting yang takkan pernah saya lupakan. Sebuah peristiwa yang boleh dikatakan sebagai peristiwa ‘iman’, yang mana jika saya tak kuat, tak memiliki iman dan harapan menghadapinya, maka mungkin saya telah berada di ‘dunia lain’. Puji syukur dan terima kasih berlimpah pada Tuhan bahwa kuasa dan berkat-Nya ternyata luar biasa bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Peristiwa yang saya maksud adalah ‘peristiwa nyasar’ di pelabuhan Waingapu-Sumba Timur yang mana kejadiannya menjelang perayaan Natal 1999. ‘Sial,’ satu kata yang bisa saya ungkapkan untuk mendefinisikan keadaan saya waktu itu. Ya sial menjemput saya di pelabuhan Waingapu-Sumba Timur. Kejadiaannya bermula saat saya salah mengerti jadual kapal tujuan Kupang. Sepengetahuan saya bahwa kapal Veri tujuan Bolok-Kupang biasanya berangkat hari Rabu, namun ternyata jadual ini sudah berubah. Jadual baru kapal Veri tujuan Kupang yaitu hari Jumat. Alhasil saya harus nyasar selama 2 hari di kota Waingapu, terhitung dari Rabu malam sampai Jumat siang.

Tahun 1999, belum ada layanan telpon genggam atau HP, yang ada hanya telepon umum yang menggunakan Coin. Saya bisa saja menghubungi orang-orang yang saya kenal di kota ini. Ada beberapa keluarga yang saya kenal termasuk seorang teman SD saya bernama Yovi Bano yang bersekolah di kota Waingapu dan dia tinggal bersama om Paternya di pastoran Wara. Ada juga keluarga Amtonis, sebuah keluarga Insana, yang sudah menetap di Waingapu. Sangat bisa saya menghubungi mereka untuk meminta tumpangan namun ternyata perasaan malu yang berlebihan menghambat saya untuk menghubungi mereka. What a stupid boy I was. L Malu,..malu,.. ‘Malu bertanya sesat di jalan.’ Peribahasa ini memang pas kena.

Dua hari nyasar di kota Waingapu menyisahkan cerita tersendiri. Sedih, sesedihnya sampai menangis di pinggiran pelabuhan hingga terlihat seperti pengemis emperan yang biasa duduk di pinggiran jalan minta belaskasihan dari orang-orang yang berjalan di depannya. Saya sempat nekat meminta tumpangan pada sebuah keluarga (suami-istri) pedagang kaki lima yang kebetulan berjualan dekat pintu masuk pelabuhan, namun ditolak. Secara halus mereka menyuruh saya untuk meminta tumpangan di sebuah rumah yang berada di pinggiran pantai, tak jauh dari tempat mereka berjualan. Mereka menunjukkan rumah itu pada saya tetapi saya mengurungkan niat. Entah kenapa, saya enggan masuk ke rumah itu. Dari luar terdengar canda tawa wanita yang lebih dari 2 orang. Saya sempat menengok ke dalam dan hanya melihat beberapa wanita mengenakan sarung, mereka tertawa ria karena mungkin ada yang bercerita hal lucu. Sejenak timbul perasaan kuatir dan takut. ‘Jangan-jangan rumah ini rumah bordil?’ Saya bertanya-tanya dalam hati demikian. Karena ceritanya sih lokalisasi biasa berada dekat pelabuhan. Karena perasaan kuatir demikian makanya saya enggan masuk.

Saya hanya bisa kembali mengapus air mata yang kembali turun membasahi pipi saya sambil berjalan menjauh dari rumah itu. Sesekali saya melayangkan pandangan ke atas langit hitam yang dihiasi bintang-bintang. Mereka nampak sangat indah malam itu, tetapi hati saya hancur tak seindah rupa mereka. Saya membayangkan wajah bapak-ibu dan adik-adik. Sedih bukan main. Bocah ingusan yang masih kecil, jauh dari orangtua dan harus nyasar di kota yang jauh. ‘Mengapa Tuhan harus seperti ini?’

Saya ingat waktu itu, saya membeli sebotol aqua dengan sepotong roti untuk makan malam saya. Saya duduk dengan perasaan yang sangat sedih di pinggir jalan di pintu masuk pelabuhan dan dekat dengan pedagang kaki lima tadi, berharap ia bisa berubah pikiran dan menampung saya di rumahnya. Rupanya sang suami iba dengan keadaan saya tetapi istrinya menolak. Dari kejauhan saya mendengar nada penolakan dari sang istri dan raut wajahnya berkali-kali mengatakan tidak. Ingin saya berteriak ‘ibu tolong’ tetapi apa daya saya tak sanggup.

Beberapa menit berlalu, mungkin dalam hitungan sejam, sebuah keajaiban terjadi. Miracle. Saya masih duduk di pinggir jalan kebingungan dengan derai air mata yang terus turun membasahi pipi. Sesekali saya mengusap air mata, mencoba menghalaunya agar tak mengalir, tetapi tetap saja tak tertahankan. Tiba-tiba sebuah angkot melintas di depan saya. Melihat saya yang duduk di pinggir jalan, si kernek atau konjak (sebutan orang Timur Indonesia) menawarkan jasa tumpangan.

‘Waingapu, Waingapu!’ konjak biasa berteriak demikian untuk menawarkan jasa angkot.

Saya masih saja duduk kebingungan. Dalam hati ‘Kalau ikut angkot lantas ke mana?’ Karena saya tak menyahut maka si bapak, sang pedagang kaki lima yang sudah mengepak-ngepak barangnya untuk pulang ke rumah, menceritakan keadaan saya pada si kernek. Mungkin dia mengatakan ‘tolong anak ini, dia nyasar.’ Saya hanya mengira saja karena saya melihat ada pembicaraan serius antara si bapak dan konjak dengan beberapa orang di dalamnya. Lantas dari dalam angkot terdengar suara panggilan dari seorang pria dengan tinggi sekitar 160 cm, berkulit sawo matang dan agak kurus dengan tatoo di lengannya.

Ia memakai topi, mengenakan kaos yang tak berlengan sehingga kelihatan tatoonya, dan selembar kain Bali melingkar di pinggangnya. Trend tahun 1999an kain Bali dipakai menggantikan celana sekedar untuk bergaya. Ia duduk di dalam angkot bersama dua orang temannya. Kedua orang ini tidak bisa saya gambarkan rupa mereka, ya waktu itu cahaya dalam angkot remang-remang. Lagi-lagi kebiasaan angkot demikian, hampir di semua wilayah daerah NTT.

Lantas dia menanyakan apa yang terjadi dengan saya dan dengan polosnya saya menceritakan hal yang sudah saya ceritakan pada si pedagang kaki lima tadi bahwa saya salah jadual kapal dan tak tahu mau bermalam di mana. Dia langsung menyuruh saya memasuki angkot.

‘Masuk’, singkat saja beliau mengatakan demikian.

Sempat bingung dan memang saya bingung. Bukannya batin tenang tetapi malah tambah kuatir dan takut. Sedih bercampur takut. Bagaimana tidak, menemui orang asing yang bersedia memberikan tumpangan untuk bermalam, tetapi dari tampangnya anda bisa tahu dia seorang preman dan lebih mengerihkan lagi temannya yang duduk di sebelahnya membawa ‘kelewang’ sejenis pedang berukuran panjang. Dalam angkot saya hanya diam terpaku sambil memandang mereka dengan rasa cemas. Dalam hati kecil, saya sudah pasrah bahwa malam ini mungkin akhir hidup saya, akhir saya melihat dunia dan menghirup udara segar. Saya tidak akan melihat lagi cahaya matahari esok hari. Saya berpikir bahwa mungkin mereka mau merampok saya dengan berpura-pura memberi tumpangan.

Waktu itu saya membawa tas dan di dalamnya berisi uang yang dikirim oleh orangtua untuk biaya perjalanan pulang kampung. Tak seberapa sih uang dalam dompet tapi naluri penjahat dan perampok kan selalu berpikiran yang wow dan imajinasinya tinggi membayangkan uang yang banyak. Tambahan naluri perampok pasti ingin saja merampok kalau ia tidak memiliki uang. Walau sedikit pasti mereka akan sangat senang bisa mendapatkan sedikit uang dari hasil rampokkannya. Saya hanya seorang anak kecil, apa daya jika saya melawan. Yang ada mampus dihajar mereka. Saya memang membayangkan yang bukan-bukan. Berkali-kali saya menyebut nama Tuhan dalam hati sambil menyerahkan diri, berpasrah seperti Jesus waktu di kayu Salib. ‘Ya Allah, ke dalam tanganMu Kuserahkan jiwaKu’ (halah, lebay).

Si pria itu kemudian mulai bercerita, mencoba untuk mengajak saya bercerita atau berbicara. Ya mungkin juga maksudnya untuk menghibur saya dan membuat saya tenang lewat berbicara.

‘Kamu anak kedua yang saya selamatkan, tetapi dia nyasarnya di terminal’, kata si pria itu menjelaskan.

Dia mengatakan bahwa saya adalah anak kedua yang dia selamatkan tetapi saya dia selamatkan di pelabuhan. Kemudian dia bercerita panjang lebar tentang anak pertama yang ia selamatkan itu. Saya sudah lupa isi ceritanya tetapi paling kurang intinya dia menyelamatkan anak itu. Sesekali saya menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang sudah saya lupa juga. Maklum perasaan takut dan kuatir yang membuat konsentrasi saya buyar untuk mendengar ceritanya dan dalamkan di hati. Sudah 13 thn berlalu sejak Desember 1999 dan saya baru membangkitkan kembali memori ini dalam bentuk tulisan. Saat itu saya sudah berusia 14 tahun tetapi postur tubuh saya sangat kecil dan kelihatan seperti bocah SD.

Dia juga sempat mengatakan, ‘Ini angkot terakhir sehingga kamu beruntung’, kata dia (kata-kata ini juga yang saya ingat).

Lambat laun, perjalanan makin jauh. Jalan demi jalan kami lalui, gang demi gang pun kami lalui. Percakapan yang kami bangun membuat perasaan cemas saya berkurang sedikit tetapi hanya beberapa persen. Tak kurang dari 90%. Ya saya tetap saja cemas. ‘Ke mana mereka membawa saya,’ demikian kata saya dalam hati. Fokus pandangan saya kadang saya tujukan ke arah pria yang membawa kelewang itu. Sesekali juga saya menatap ke luar dari balik jendela angkot. Ya cemas belum juga surut dari rawut wajah saya.

Menit-menit berlalu, akhirnya angkot menepi di pinggir jalan. Tak tahu di mana. Kota Waingapu sudah pernah saya jelajahi sebelumnya, tetapi tempat ini rasanya masih asing bagi saya apalagi malam makin larut dan suasana di sekitar agak gelap. Si pria bertatoo dan yang hanya mengenakan kain Bali itu keluar dari angkot dan segera dia menyuruh saya ikut turun. Walau cemas saya menurut saja. Saya mengira 2 orang temannya yang dalam angkot akan ikut turun dan itu artinya akan berbahaya buat saya. Tetapi ternyata tidak. Mereka tetap di dalam angkot termasuk si pembawa kelewang. Kemudian si pria bertatoo ini melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat berpisah.

“Ok bro, sampai ketemu besok he,” mungkin seperti ini kata beliau (ya berpisah khas orang-orang bagian Timur Indonesia ya seperti ini, atau paling kurang mendekati seperti ini J).

Kali ini rasa gugup dan cemas makin berkurang. Kata-kata perpisahan antara si pria bertatoo dan temannya membuat saya sedikit lega. Artinya tinggal kami berdua, saya dan si pria bertatoo sehingga rasa cemas soal mereka mau merampok saya sangat kecil kemungkinannya. Setelah angkot meninggalkan kami, si pria ini lantas mengajak saya masuk ke rumah yang persis berada di depan jalan tempat kami turun dari angkot. Dia berjalan mendahului saya dan saya mengikuti dia dari belakang.

Ada sebuah rumah tembok, beratap seng. Warna jendela-jendelanya biru. Rumah itu terhitung besar dan bersambungan dengan sebuah rumah kecil berdinding bebak di belakangnya seperti dapur. Tetapi bukan dapur, rumah yang di belakang ini ternyata rumah lama dan yang di depan adalah rumah baru mereka. Kami berjalan menuju rumah kecil yang di belakang itu. Berjalan melewati samping rumah besar. Malam sudah makin larut, bunyi jengkrik di mana-mana tetapi saya masih melihat jelas rumah itu. Dari arah sebelah kiri saat saya berjalan masuk, juga ada sebuah rumah kecil. Saya baru tahu keesokan harinya, ternyata itu kios milik mereka.

Si pria itu membuka pintu rumah yang ada di belakang. Dia masuk lalu menyuruh saya masuk juga. Di dalam rumah itu ada sebuah kamar di sebelah kiri pintu masuk. Dia lalu membuka pintu kamar itu. Saya masih berdiri sejenak, beliau masuk duluan dan menyalahkan lampu kamarnya. Lampunya dinyalakan dan warnanya suram, hmm ternyata hanya menggunakan lampu 5 watt, berwarna pula (warnanya lupa, antara merah, hijau atau biru-pokonya berwarna).

“Ini kamar saya,” kata beliau sambil menyuruh saya masuk.

Saya langsung menuju tempat tidur. Saya meletakkan tas di atasnya tetapi belum langsung tidur. Saya melihat-lihat kamarnya yang hanya berukuran sekitar 4 x 4 m persegi. Dinding rumahnya bebak termasuk kamarnya sehingga seluruh kamarnya ditutupi dengan kertas berwarna putih dan dihiasi dengan berbagai gambar, poster berukuran kecil dan besar untuk menutupi celah-celah bebak itu. Ada juga tulisan-tulisan di sekitarnya. Memang ini kamar bujang era 90an. Trend saat itu. Kata saya dalam hati dan memang saya mengagumi kamar dengan pola seperti ini. Walau masih kecil tetapi saya sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya kalau memiliki kamar sendiri seperti ini.

Berada di tempat tidur rasanya langsung ngantuk dan ingin cepat-cepat menghilangkan rasa capek yang sudah tak tertahankan ini. Walaupun capek sangat, namun perasaan cemas pun masih sedikit hinggap di dada. Hati kecil saya masih sedikit dug dag. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah malam ini benar-benar dia akan merampok saya. ‘Tidak,..tidak mungkin. Dia orang baik. Tampangnya saja yang seram tetapi hatinya baik. Rupanya sangar, bertatoo lagi, tetapi hatinya hati malaikat.’

Si pria bertatoo ini masih mondar-mandir dalam rumah, keluar masuk kamarnya. Melihat saya yang belum tidur, dia lantas menyuruh saya untuk segera istirahat. Pria ini memang orang baik. Saya merebahkan diri dengan perasaan cemas dan memang saya masih sedikit takut. Tempat tidurnya beukuran besar cukup untuk dua orang dan dekat dengan jendela. Saya tidur dekat jendela itu. Saya memejamkan mata, tetapi sesekali saya buka untuk melihat si pria ini. Saya mencuri-curi pandang. Beberapa saat kemudian, si pria itu pun ikut naik ke tempat tidur untuk istirahat. Saya bisa merasakan napasnya. Saya sudah memejamkan mata tetapi belum nyenyak. Dalam hati saya berdoa sejenak, menyebutkan nama Tuhan, membayangkan wajah bapa-ibu, adik-adik dan seketika,….sudah di awan-awan.

Cemas dan takut larut bersama malam. Kecapaian yang sungguh luar biasa membawa saya dalam alam mimpi dan tak tahu mimpi apa saya malam itu. Mungkin memimpikan kebaikan seorang yang saya kira penjahat atau perampok, yang tiba-tiba datang bak seorang malaikat. He’s really an Angel. Dobel Angel mungkin.

Bayangkan, nyasar di tempat umum saat matahari sudah meninggalkan bumi. Tidak ada orang yang dikenal di sekitar pelabuhan. Tidak ada telpon genggam atau HP saat itu. Yang ada hanya telpon umum. Tetapi rasa malu berlebihan menghambat saya, membutakan mata hati dan otak saya untuk berpikir wajar dan cerdas. Ada Yovi Bano bersama pamannya di Pastoran Wara. Ada Gonsa Amtonis (keluarga Insana-Kefa) di Waingapu. Saya bisa saja menghubungi mereka untuk bermalam tetapi saya betul-betul tidak bisa melakukannya.

Terlepas dari bisa tidaknya saya menghubungi kenalan-kenalan ini, ternyata pengalaman ini menjadi hal yang tak terlupakan. Kalau diingat-ingat kembali, ada nilai pembelajaran berharga. Boleh jadi ini jalan Tuhan, jalan yang memang harus saya lalui. Ini adalah jalan di mana saya bisa bertemu dan belajar dari pengalaman hidup, belajar melihat kebaikan seseorang dengan ‘kaca mata iman dan kasih’. Bahwa kebaikan, kasih Tuhan bisa datang kapan saja, di mana saja dan hadir dalam orang yang buruk rupa sekalipun. Orang yang sangar belum tentu buruk hatinya. Demikian orang yang cakap rupanya belum tentu cakap hatinya. Ada kebaikan yang timbul dari dalam hati mereka yang terlanjur kita anggap ‘jahat’ ketika melihat sepintas wajah mereka. ‘Don’t judge a book from the cover’. Malam itu adalah buktinya.

Ke-capee-an membawa saya pada tidur yang lelap dan mendalam (Lebih dalam,..lebih dalam, magician sih bilang begitu-halah gak nyambung J). Malam berlalu dan pagi menjemput. Tak terasa matahari sudah menari-nari di atas langit, cahayanya menyelinap sampai ke dalam kamar melalui celah-celah dinding rumah. Walau kertas-kertas menempel menutupi celah bebak, namun kuatnya cahaya matahari bisa nampak terang dari balik kertas di dalam kamar.

Saya tersadar dengan mata yang masih berat dan saya masih berada di atas tempat tidur.

‘Syukur saya masih hidup dan melihat matahari,’ ungkap saya dalam hati lagi.

Dari dalam kamar saya mendengar suara orang-orang yang lagi asyik bercerita, dan tak lain suara si preman yang ternyata sudah bangun mendahului saya. Dia sedang bercerita dengan ibu dan kakaknya. Sepintas saya mendengar dia menceritakan saya pada ibu dan kakaknya. Saya masih di atas tempat tidur sambil terus menguping. Lagian saya juga malu kalau keluar.

Si preman mungkin sadar bahwa saya sudah bangun atau memang ia mau membangunkan saya. Yang jelas saya sudah bangun ketika dia hendak masuk kamar. Lantas dia mengajak saya untuk memperkenalkan diri pada ibu dan kakaknya serta 2 orang keponakannya, yang seorang perempuan dan seorang laki-laki. Keduanya masih SD.

Saya keluar kamar dengan perasaan malu. Malu-malu kucing. Maklum masih kecil dan memang rasa ini yang selalu menghampiri saya ketika berada di lingkungan baru. Saya memperkenalkan diri dan memang tak terjadi perbincangan hangat di antara kami. Saya tak cakap dalam berbicara. Dan malu lah yang senantiasa menghambat saya bercerita. Saya hanya menjawab atau mengeluarkan suara kalau ditanya.

Walau tak ada perbincangan hangat, namun saya bisa merasakan kehangatan cinta, kebaikan dari keluarga ini. Mereka sungguh baik. Saya mendapat sambutan yang ramah. Tak ada penolakkan walau saya dibawa oleh si preman pada malam hari tanpa restu dari ibu nya terlebih dahulu. Situasi seperti yang saya alami pasti membuat mereka mengerti bahwa anak seusia saya saat itu dengan bentuk fisik seperti saat itu pasti belum cakap dalam banyak hal alias ‘mete’ (istilah untuk orang bingung atau idiot).

Pagi makin panas karena memang cahaya matahari makin bergeser ke ufuk Barat. Kehangatan cinta makin terpancar dari mata dan hati keluarga si abang preman. Detik-menit berlalu, satu kebaikan, dua kebaikan dan seterusnya terus mengalir pada diri saya menghapus semua kecemasan dan ketakutan saya. Pagi ini menandai kehadiran seorang anggota keluarga baru yang ‘nyasar’ kemudian diangkat dan dijadikan anak piara paruh waktu. Pagi ini menandai kehadiran saya sebagai bagian dari anggota keluarga mereka.

Setelah sarapan, si abang harus berangkat ke tempat kerjanya. Beliau seorang ‘penjaga terminal’ menggantikan almarhum ayahnya yang pernah menggeluti  pekerjaan ini. Masih terngiang di ingatan saya, ayahnya meninggal tertabrak mobil. Beliau bercerita demikian, makanya dia melanjutkan karier sang ayah.

Walau abang bekerja, saya tetap di rumah, bermain dengan 2 keponakannya. Dan merekalah yang ternyata membuat saya riang berada di rumah ini, merasa seperti di rumah sendiri. Kami bermain bersama, sore hari saya membantu mereka menyirami tanaman di belakang rumah. Saya merasa terhibur bersama mereka sebelum si abang pulang dari tempat kerja. Ternyata perbedaan usia yang tidak terlalu jauh menjadikan kami sehati dan sepergaulan. Kami merasa gembira bermain bersama (saya sudah lupa nama kedua adik ini-dan mungkin sekarang mereka sudah besar, mungkin juga sudah menikah).

Hari berlalu begitu cepat. Kemarin Rabu baru saja nyasar. Kemudian memasuki hari Kamis dengan aneka cerita bersama keluarga si abang preman. Banyak sekali kisah, tutur yang terucap tetapi sayang bahwa saya tidak bisa mengurainya secara detail. Saya hanya bisa merasakan belas kasih sayang yang sudah mereka berikan saat itu. Their love will last forever in my heart and memory.

Hari ini hari Jum’at, hari di mana harus pulang ke rumah. Ada senang bisa kembali ke rumah Bapa Josef dan mama Maria, menikmati hari Natal bersama mereka dan adik-adik, tetapi juga ada sedih meninggalkan keluarga yang baik ini. Keluarga yang sudah mengaangkat dan menyelamatkan saya dari ketersesatan. Ya saya sesat dan saatnya kembali ke rumah.

Yang pasti bahwa saya tak akan melupakan kehangatan kasih dan kebaikan keluarga si abang. Saya tidak akan lupa si abang yang pertama kali menemukan saya di pinggir pelabuhan, memberi saya tumpangan ketika saya tak memiliki rumah. Saya tidak akan melupakan sarapan pagi ataupun makan bersama ibu si abang di meja bundarnya. Saya tidak akan melupakan kegembiraan bersama 2 keponakan si abang. Mereka senantiasa menjadi penghibur di kala duka karena nyasar. Saya tidak akan melupakan makanan masakan kakak si abang. Saya juga tidak akan lupa nasi bungkus buatannya yang menjadi bekal perjalanan di atas kapal. Saya tidak akan melupakan teman-teman si abang yang sudah menemani saya saat malam kecemasan, Kamis kegembiraan bersama di terminal dan menghantar kembali saya menaiki kapal. Saya naik kapal ‘gratis’ alias no charge (jangan ditiru ya J).

Kapal Veri perlahan meninggalkan dermaga Waingapu dan kisah sedih karena nyasar pun berlalu dihempas ombak ke tepian pantai. Kisah itu bermula dan berakhir di Waingapu. Sudah 13 tahun berlalu tetapi memori akan pengalaman ini terus terpatri dalam ingatan saya. Saya goreskan dalam tulisan ini sekedar untuk membuatnya tetap hidup sepanjang hidup saya dan setelah hidup saya. Saya berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan si abang yang baik hati ini, si preman yang berhati malaikat ini hanya sekedar untuk mengucapkan ‘Terima Kasih’.

***

                                                                      Bersambung,..