Manusia Menciptakan Kiamatnya Sendiri

Dulu saat masih kecil, ketika duduk di bangku SD sering Kiamat dibicarakan di ruang kelas. Kiamat, oleh bapa ibu guru terlebih guru agama, acapkali digambar sebagai sesuatu yang mengerihkan, membuat merinding dan menakutan. Sebab kiamat dikatakan sebagai kutukan Tuhan yaitu saat di mana dunia (baca: bumi) terbalik. Dunia hancur berkeping-keping dan saat itu hanya akan ada kegelapan, tidak ada lagi cahaya matahari, bulan dan bintang. Semua manusia akan binasa beserta penghuni bumi lainnya.

Penyebab dari kiamat ini yaitu karena Tuhan murka akan perbuatan ciptaanNya yang selalu membuat ‘salah dan dosa’. Lantas guru agama mencontohkan perbuatan dosa seperti ini: di rumah melawan orangtua, memaki (omong kotor) kepada orangtua, tidak membantu orangtua. Di sekolah melawan guru. Malas bersekolah. Malas ke Gereja, dll. Penjelasan yang sangat sederhana tetapi artinya sangat dalam gaesss terlepas dari apa itu benar atau tidaknya penjelasan tersebut.

Kiamat sebagai saat di mana dunia terbalik, dunia hancur sepertinya bukan lagi kamuflase seorang guru SD mengajari muridnya. Sekarang dan saat ini, boleh dikatakan bahwa dunia kita sedang mengalami kiamat. Manusia, sadar atau tidak sadar, sedang dilingkupi kiamat yang sangat mengerihkan dan di mana-mana kita dihinggapi rasa takut dan waspada tingkat tinggi.

Tangisan anak-anak Suriah meratapi orangtuanya atau sebaliknya para orangtua yang meratapi anak-anaknya yang hilang ditelan puing-puing bangunan yang hancur dihantam bom. Kisah sedih anak-anak Afrika yang sekarat akibat kelaparan. Belum lagi penyebaran virus-virus mematikan di negara-negara di benua Afrika. Pertanyaannya mengapa virus-virus mematikan ini selalu berawal dari benua hitam? Apakah virusnya suka milih tempat gaes..virus kurang ajar nih namanya! 😀

Kisah para imigran berkulit hitam yang tiada henti mendapat perlakuan rasis di negara adidaya yang konon katanya sangat menghargai hak asasi manusia. Di benua biru teror dari para peneror semakin brutal, bom di Prancis, Turki, penembakan liar di jalan-jalan dan serangan di tempat ramai di Prancis dan Jerman. Dan yang terbaru penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki oleh terrorist yang berakibat pada ketegangan dunia kalau-kalau terjadi perang dunia. Kalau sampai Mr. Putin marah, tau sendiri kan gaess!

Di negeri sendiri kita dihadapkan pada kisah pilu penistaan. Rentetannya minoritas agamais lain mulai dihadapkan pada situasi sulit mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan dan mengamalkan kepercayaannya. Lantas pelaku politik yang katanya sangat patuh pada dasar dan falsafah Pancasila ikut menunggang ‘penis-taan’ untuk mengambil untung. Kasus bom di depan Gereja di Samarinda, kasus penganiayaan anak-anak SD di Sabu (NTT). Dan masih banyak lagi kisah tragis yang terjadi di negeri kita.

Seorang ayah yang malam ini berbincang penuh canda dengan anaknya bisa jadi keesokan harinya ia akan menjadi kenangan. Seorang suami yang malam ini sangat menikmati malam pertamanya dengan rayu cumbuh, bisa jadi keesokan harinya istrinya menangisinya sambil memikirkan masa depan calon buah hatinya yang tidak lagi ber-ayah. Seorang anak yang malam ini belajar keras menghadapi ujiannya di sekolah, bisa jadi itu adalah pamitan terakhirnya pada masa depan yang sudah ia cita-citakan. Sebuah keluarga yang sementara menikmati waktu rileks bersama bisa jadi itu adalah kebersamaan terakhir mereka. Apapun yang terjadi malam ini dan saat ini, bisa jadi yang terakhir. Karena apa? Karena kiamat menghampiri kita pada saat yang tidak disangka-sangka.

Pada saat ini boleh dikatakan bahwa kiamat bukan lagi kutukan Tuhan sebagaimana digambarkan oleh guru agama dulu, tetapi lebih karena manusia sudah menjadi serigala terhadap sesamanya sendiri. Manusia menciptakan kiamatnya sendiri dengan dalil ‘mati suci’, bela agama, bela harga diri, bela suku, bela negara dan lain sebagainya. Kalau alasannya sudah seperti ini kan sama bahwa manusia menciptakan kehancuran bagi dunianya sendiri. Manusia menjadi pembawa kemalangan bagi manusia lain.

Jangan sampai hal yang lebih mengerihkan terjadi di mana dunia di sekitar kita benar-benar hancur selamanya. Jangan sampai bahwa suatu waktu ‘kedamaian dan ketenangan’ hanya jadi impian.

Merry Christmas and Happy New Year 2017 🙂  

Advertisements

Musim Hujan Pindah Jadwal

Musim kemarau yang panjang ini rasanya sangat membakar karena panas matahari. Dari waktu ke waktu, terik matahari semakin menyengat, suhu bumi semakin membara. Setiap melewati jalan mengendarai sepeda motor, rasanya seluruh badan terpanggang sehingga tak sadar keringat harus bercucuran membasahi seluruh tubuh.

Syukur karena bisa berkeringat sehingga tak kelebihan lemak dalam tubuh akan tetapi keringatan karena panas matahari harusnya menjadi sebuah ‘peringatan’ bahwa global warming bukan main-main  – bukan  seruan belaka.

Dulu orang kenal kota SoE sebagai kota dingin karena memang dinginnya bukan main walau di siang bolong. Sekarang rasanya kota ini sudah semakin panas. Panasnya juga sudah tak beda jauh dengan tempat lain di daratan Timor ini. ‘SoE saja sudah panas, apalagi di tempat lain!’ Kita semua sudah semestinya berpikir jauh.

Banyak yang mengeluh karena panas tetapi rasanya beruntung karena kita yang terlahir di daratan Timor ini masih memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik. Walau panas sangat luar biasa, orang masih bisa beraktifitas di luar rumah, bahkan orang tua-orang tua di desa masih bisa berkebun – mempersiapkan lahan menyambut datangnya musim hujan.

Hujan pertama sudah terjadi di beberapa wilayah di daratan Timor termasuk kota SoE yang baru merasakan tetesan hujan pertama kemarin. Tanda-tanda baik bahwa musim hujan memang sudah di depan mata. Masyarakat petani tentunya sangat sangat bersyukur dan menaruh harapan tinggi bahwa mereka sudah bisa mengolah ladang mereka untuk menanam tanaman pangan. Sumber kehidupan sudah dekat.

Walaupun demikian yang menjadi concern tentunya musim kemarau yang semakin bergeser – tambah panjang dan musim hujan pun harus pindah jadwal – molor. Dulu biasanya musim hujan sudah terjadi pada bulan Oktober sehingga memasuki bulan November dan Desember semerbak hijaunya tanaman jagung sangat menggembirakan hati apalagi para petani. Sekarang bahkan sudah hampir memasuki bulan Desember, kita baru merasakan adanya hujan pertama. Berarti musim tanam bisa terjadi di akhir Desember atau bahkan di Januari dan Februari tahun berikutnya.

Manusia tentu bisa memiliki aneka cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim ini tetapi sampai kapan manusia akan terus bertahan kalau tidak bergegas dan sadar diri menghalau pemanasan global ini. Jangan sampai suatu hari tidak ada lagi musim hujan di tanah ini lalu kita akan?

 IMG_0267

Behave in Media Social!

Beberapa hari belakangan ini, nama Florence mungkin menjadi orang yang paling terkenal atau mendadak menjadi artis – artis SPBU di media social 😛 . Meminjam kata-kata Metro TV, Florence menjadi News Maker minggu ini bukan karena prestasi tetapi sebaliknya karena status kontroversial yang ditulisnya di media social Path.

Shut Up!

Shut Up! Behave mbak!

Karena status ini, seketika ribuan orang menyeruak dan marah dengan kata-kata umpetannya. Dan jelas kata-kata si Florence ini telah memancing emosi orang untuk memarahinya bahkan ia terancam untuk dipidana dan lebih buruk lagi ia bisa diusir dari wilayah Yogya. Bahwa penghinaan ini sudah melampaui batas, tidak masuk akal untuk seorang mahasiswa yang katanya S2 di UGM Yogya.

Semua orang jelas marah tetapi di sini saya tidak ikut-ikutan untuk menghina si nyonya ini. Dunia ini bulat. Tentu dia juga punya alasan mengapa sampai dia menulis demikian. Namanya orang marah pasti mulutnya lebih cerdas dari pada otaknya…hehehehe :-D, hanya marahnya dituangkan tidak pada tempatnya dan dengan cara yang tidak santun pula.

Sebaliknya ngangenin! :-P

Sebaliknya ngangenin!

Saya sadar bahwa sebagai manusia biasa kita tidak sempuran, tetapi sesungguhnya kita memiliki otak dan akal budi yang tidak dimiliki makluk lain. Untuk itu mari kita belajar sesuatu. Kejadian ini tentu memberikan satu pelajaran yang sangat berharga. Mulutmu harimaumu. Kalau orang Timor bilang ‘mulut jaga badan’.:-)

Perlu di simpan di otak bahwa media social bukan diary. Kita tidak dilarang untuk menulis di media social, tetapi sesungguhnya apa yang kita tulis seharusnya yang masuk akal, tidak berbau sara apalagi menghina orang (tulisan Florence menghina satu Propinsi). Apa yang tertulis di media social bisa dibaca ribuan orang – teman-temanmu, teman dari teman-temanmu dan seterusnya. So behave, fellas! 

Saya pernah menegur adik-adik saya yang belakangan gemar mengupdate status di facebook. Hampir tiap detik, status mereka muncul di beranda, bukan status yang menginspirasi, memotivasi diri sendiri atau status yang menghibur, tetapi sebaliknya status yang bernada sedih, kecewa, marah dan mengumpat orang. Wah ini bahaya. Sebagai seorang kakak (ya githu) terpaksa saya harus menegur mereka untuk tidak lagi memuat status-status yang berbau hal-hal negatif ini. Jangan sampai status mereka menjadi boomerang. 

Seorang guru saya (Pastor pembimbing rohani), dalam sebuah acara ret ret rohani pernah memberi trik untuk meluapkan amarah. Beliau mengatakan kalau marah dengan seseorang dan tidak bisa berbuat apa-apa – mau pukul salah, maka cari pohon pisang. Bayangkan seolah-olah pisang itu adalah si dia yang sudah bikin marah. Luapkan amarah di pohon pisang dan pukul pohon pisang sampai hancur.

Kalau marah dengan seseorang, atau sesuatu mungkin pohon pisang menjadi sasaran yang paling tepat. Again, behave in media social!

 

Note : Gambar diambil dari beberapa medsoc.

 

 

 

 

‘Yang Abadi Hanya Perubahan’

Beberapa bulan belakangan ini, masyarakat pekerja yang bernaung di bawah payung lembaga ‘biru’ heboh dengan isu restrukturisasi yang tiba-tiba muncul sebagai kabar angin. Awalnya hanya kabar angin, yang tentunya belum jelas kebenarannya. Artinya benar dan salah nya berita ini masih menjadi tanda tanya besar.

Baru kabar angin, akan tetapi masyarakat pekerja sudah desas-desus ke mana-mana. Kabar akan restrukturisasi ini segera menjadi trending topik. Selalu menjadi topik utama cerita antar staff kala bersua dan bertegur sapa di lorong-lorong, di tempat parkir ataupun saat bersama di dalam ruang kerja. Seolah ini menjadi penghangat kebersamaan kala kopi dan teh panas tak lagi mempan menghalau dingin. Ada yang mengungkapkanya dengan nada serius tetapi ada yang mencoba membalutnya dengan canda dan tawa.

Obrolan-obrolan ini sangat mengasyikan dan kadang menggelitik sehingga beberapa staf yang hanya terdiam di dalam ruangan karena kesibukan kerja, kadang tergerak hati untuk ikut mendengarkannya. Saya sendiri kadang tergerak hati mendengarkan curahan hati mengenai perubahan yang akan berdampak pada phase out staf ini. Mendengar dan mencoba mencermatinya dari dua pribadi.

Sebagai orang baru yang terhitung belum lama bergabung dengan lembaga ini, dalam hati biasa-biasa saja. Apapun yang terjadi, ini bagian dari resiko pilihan yang harus diterima. Beda dengan PNS ya. Lebih dari itu, dari cerita yang beredar, memang posisi yang saya tempati sekarang masih aman – masih dibutuhkan. Lebih jauh, secara pribadi belum ada ‘tanggungan’ atau tanggung jawab untuk orang lain selain diri sendiri. Tak ada beban berlebih dalam diri sendiri 😀 .

Hal ini tentunya terlalu subjektif menilai. Kalau saya memposisikan diri dengan rekan-rekan lain yang ‘mungkin’ akan terkena imbas restrukturisasi, hal ini jelas beda. Yang pasti ada kekuatiran di sini. Ada kecemasan! Rekan-rekan tentunya memiliki alasan tersendiri untuk kuatir. Tersirat dalam cerita-cerita mereka bahwa ada ‘beban’ dalam hati kala harus menghadapi isu restrukturisasi.

Beberapa bulan, cerita-cerita ini hanya kabar angin yang belum jelas arahnya. Semuanya baru menjadi jelas ketika ada bunyi email resmi dari Ibu MM – sang direktor. Intinya bahwa struktur baru akan segera diimplementasikan. Seperti apa, bagaimana dan kapan, semuanya menunggu waktu saja. Kabar angin yang beredar akhirnya sampai pada titik kebenarannya.

Hari Rabu (13/8/14) isu restrukturisasi menjadi terang-benderang karena pada hari ini pula restrukturisasi resmi disosialisasikan kepada semua staf lembaga biru. Bertempat di aula Hotel Timor Megah, semua hal yang berkaitan dengan restrukturisasi disampaikan secara terbuka oleh perwakilan dari kantor pusat Jakarta – mulai dari alasan mengapa harus dilakukan restrukturisasi, seperti apa strukturnya sampai dengan akibat dari kejadian luar biasa ini.

Rekan-rekan yang selama ini hanya mengobral kabar angin akhirnya tahu dan merekan pun tentunya secara saksama menuangkan apa yang ada di benak mereka. Unek-unek yang selama ini hanya terpendam dalam hati akhirnya bisa diungkapkan secara langsung. Ya diskusi hari ini cukup seru dan boleh dikatakan ‘panas’. Semua panas berdiskusi tetapi pada akhirnya tidak akan merubah yang namanya restrukturisasi. Tim sempat berujar, ‘Tidak ada yang abadi, yang abadi hanya perubahan’!

So saudara-saudari sebangsa dan setanah air di negeri biru, mari kita hadapi perubahan dengan hati yang lapang!

Superman aja berubah,.

Superman aja berubah,.

“Do What You Love and Love What You Do!”

Ungkapan ini sudah sering saya baca di media, terutama media sosial – Facebook, Twitter dan kawan-kawan. Teman-teman penyuka kata-kata inspiratif sering memposting atau hanya sekedar share gambar berupa kata-kata inspiratif dari tokoh-tokoh tertentu.

Kata-kata ini juga pernah saya dengar, diucapkan oleh para motivator. Dan saya pikir semua motivator yang beraliran entrepreneur pasti akan mengungkapkan hal yang sama dan dalam pikirannya pasti tertanam paham ini “Do What You Love and Love What You Do!”

Love What You Do

Steve Jobs saja mengatakannya,.:-)

Dalam perjalanan hidup dan dalam permenungan-permenungan kecil pribadi, ungkapan ini rasanya relevan. Secara tidak sengaja, pilihan-pilihan kecil dalam hidup menjadi jawaban atas ungkapan ini. Dulu – zaman masih sekolah, dari SD, SMP dan SMA, rasanya belum bisa banyak berbicara atau tahu dalam membahasakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Tahunya ‘Ini pilihan saya’.

Dalam rumah, sering berdebat dengan orangtua (baca: bapa) mengenai pilihan-pilihan yang saya buat. Tidak mudah memang untuk meyakinkan orangtua. Mereka mau A, saya mau B. Pilihan untuk kuliah ‘apa dan di mana’ pernah menjadi perdebatan hangat dan seru. Syukur bahwa pada akhirnya mereka merestui pilihan yang saya buat dan bisa tamat dengan hasil yang memuaskan – walau tidak Cum Laude 🙂 .

Perdebatan masih berlanjut. Setelah selesai kuliah, lagi-lagi berdebat ‘kerja di mana’. Pilihan hati, ingin berkarir di tanah rantau, sementara orangtua menginginkan agar kembali dan bekerja di kampung halaman. Saya menolak dan ingin membuktikan bahwa di tanah rantau saya bisa sukses, bisa memenuhi harapan mereka untuk hidup mandiri. Saya bisa menjalankan kehidupan saya dengan baik dan memberi manfaat setidaknya untuk diri sendiri. Keinginan saya ternyata tak kesampaian dan saya tak bisa membuktikan apa-apa. Saya kalah dan dalam hati ‘Orangtua tidak merestui’.

Kegagalan untuk menemukan kerja di tanah rantau berujung pada kesimpulan ini. Ada yang tak beres dan harus diperbaiki. Keputusan untuk pulang kampung menjadi pilihan yang harus. Perlu berdiskusi secara baik dengan orangtua, dari hati ke hati dan bisa meyakinkan mereka tentang pilihan-pilihan yang diinginkan. Ketika orangtua tak merestui, sekali-kali ‘jangan’, karena hasilnya akan tidak bagus bahkan sangat buruk.

Sekarang giliran sudah kerja dan hidup mandiri, kadang masih saja terjadi perdebatan soal pilihan karir ke depan. Kadang orangtua menyinggung soal kerja menjadi PNS. Hhmmm,.ya boleh lah. Menjadi PNS bukan tidak baik tetapi tidak harus menjadi ‘kewajiban’ kan? 😛 . Kalau tidak jadi PNS tidak mati juga kan? 😀 . Kalau ada kerja yang ternyata lebih mengena di hati, kenapa tidak dijalankan?

Di Timor pada khususnya dan umumnya di NTT, ada semacam satu pemahaman masal yang merasuk dalam diri para orangtua bahwa “PNS’ adalah pilihan kerja satu-satunya yang bisa membuat hidup lebih hidup. Seperti impian yang menjadi kenyataan kalau bisa kerja menjadi PNS. Hadew,..saya kira orang-orang di luar daerah akan menertawakan ini. Bob Sadino pasti tertawa terpingkal-pingkal mendengar hal ini 😀 .

So, Do What You Love and Love What You Do! Simply follow your heart and action!!!

Just Follow Your Heart

Just Follow Your Heart

Kapela Dipolitisasi?

Note: Buah pikiran yang gagal di post tanggal 1 April.

1 April,.April Mop, hari yang dianggap wajar untuk tipu menipu (untung hari ini tidak kena tipu malahan bisa menipu sedikit 🙂 ) . 1 April juga menandai awal bulan baru dan yang pasti tinggal 9 hari menuju perhelatan akbar pesta demokrasi di Indonesia – Pemilu. Seru?? So pasti seru,.karena tinggal hitung mundur dan angka ‘orang gila’ akan bertambah, paling sedikit dua sampai tiga orang lha:-) .

Di hari yang semakin singkat ini kampanye-kampanye dan promosi diri semakin gencar. Kampanye adalah hal wajar untuk mencari simpatisan dan dukungan untuk menjadi wakil rakyat. Tetapi yang menjadi soal kalau kampanye diikuti ‘tebar pesona’. Yang sebenarnya bukan berapa banyak amplop yang akan dikeluarkan untuk membiayai kampanye tetapi seberapa besar seorang caleg kompatible dalam menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Apakah visi misinya akan pas pada rakyat yang ia wakili?

Beberapa kejadian (satu kejadian yang paling nyata di desa sendiri) promosi diri caleg sangat menyayat hati nurani. Ceritanya di desa lagi heboh soal bantuan untuk pembangunan Kapela dari seorang Caleg. Secara pribadi saya tidak bisa mengatakan ‘setuju’ ataupun bilang ‘tidak setuju’. Untuk itu saya mencoba netral melihatnya dan membahasakannya di sini.

Alasan tidak setuju karena moment promosi diri yang model ini tidak pas. Singkat saja, kenapa niat membantu masyarakat tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang? Sudah dekat Pemilu baru kelihatan baiknya. Hehe 🙂 Setuju, kalau melihat situasi masyarakat saat ini. Sejarah panjang pembangunan Kapela ini juga menjadi alasan kenapa saya setuju dengan masyarakat desa yang setuju-setuju saja menerima bantuan ini.

Di tengah situasi yang tak menentu, masyarakat desa seakan menemukan ‘malaikat penyelamat’ yang datang di waktu yang tepat. Singkatnya bukan visi misi yang dilihat lagi oleh masyarakat tetapi niat tulus untuk membantu yang kemudian dianggap masyarakat sebagai orang yang baik dan tepat. So, salah???

Bukan hanya itu, masyarakat ini bukan tanpa alasan jikalau menoleh ke belakang dan melihat sejarah panjang pembangunan Kapela. Menurut cerita bapak yang sekarang menjabat sebagai Ketua Lingkungan, pembangunan Kapela sudah dimulai sejak saya belum lahir. Artinya rencana dan fanderen (sebutan orang desa untuk fondasi bangunan) sudah ada sejak tahun 1970an hingga 1980an. Pelopor pembangunan Kapela ini adalah Bapak Thobias Laka (almarhum, veteran dan ketua lingkungan saat itu). Saat saya sudah lahir dan duduk di banguku SD – tahun 90an, fanderen ini pun masih berdiri kokoh tetapi sudah ditumbuhi lumut.

Tahun-tahun berlalu, ada perubahan rencana. Fanderen untuk pembangunan Kapela dirubah dan dibuat lebih besar. Lubang untuk fanderen diperlebar dan diperdalam sekitar 1 X 1 m. Artinya pembangunan Kapela ini diperlebar dan diperbesar layak sebuah Gereja besar. Saya ingat saat masih SD, lubang untuk fanderen ini kami manfaatkan sebagai tempat persembunyian.

Seiring dengan pergantian Ketua Lingkungan, ada sedikit kemajuan. Lubang kosong ini akhirnya bisa diisi dengan fanderen. Tetapi lagi-lagi pembangunan Kapela ini terbengkalai. Fanderen yang sudah dibuat berdiri kokoh saja dengan rangka besi-besi yang siap untuk dicor. Lama ditinggal dan tak terurus dalam hitungan tahun, bahkan besi-besi yang siap cor hilang satu per satu tanpa bekas. Ketua lingkungan satu demi satu naik dan hasilnya sama. Pembangunan Kapela terbengkalai. Bapak Josef Sanam yang akhirnya naik sebagai Ketua Lingkungan pada tahun 2008 mencoba untuk meneruskan estafet pembangunan Kapela ini.

Sang Ketua Lingkungan dengan gigih memperjuangkan pembangunan Kapela ini. Berbagai upaya sudah ia lakukan, mulai dari menghimpun masyarakat, memotivasi mereka untuk kembali semangat sampai membuat mereka sadar untuk memberi sumbangan dalam rangka membangun Kapela. Hasilnya ada kemajuan pesat. Tiang-tiang Kapela mulai berdiri kembali.
Di tengah upaya pembangunan Kapela, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kadang sampai pada titik jenuh. Berbagai persoalan muncul, tantangan demi tantangan datang silih berganti. Pembangunan sempat terhenti sampai setahun. Tetapi prinsip teguh pada pendirian ini yang terus memompa semangat sang Ketua Lingkungan untuk melakukan segala daya.

Upaya lain mulai dilakukan yaitu pembuatan proposal untuk diajukan ke pemerintah daerah (Pemda). Syukur bahwa Pemda segera merespon melalui Kasisos. Masyarakat mendapat angin segar karena dibantu dengan sejumlah dana dan dana ini bisa dimanfaatkan untuk membuat rangka atap Kapela.

‘Putus nyambung putus nyambung’ seperti judul lagunya BBB milik Rafi Ahmad dkk. Pembangunan Kapela ini demikian. Putus, sambung lagi, putus dan sambung lagi. Kembali rangka baja atap ditinggal sampai setahun. Masyarakat seolah hilang harapan. Sang ketua lingkungan juga kehilangan semangat dan didera oleh tugas dinas. Masyarakat lagi-lagi jenuh dan enggan meneruskan pembangunan Kapela. Hal ini jelas bahwa semangat masyarakat sungguh redup.

Di tengah situasi ini, masyarakat seolah menemukan penyelamat. Muncul secercah harapan untuk meneruskan pembangunan Kapela terutama meneruskan pembuatan atap. Harapan ini muncul dari mana? Ya datang dari diri caleg ini. Bahwa ketika masyarakat kecil ini sudah tak berdaya didera tuntutan moral dan tuntutan keselamatan akhirat, maka bantuan dirasa sebagai sesuatu yang pas. Mereka tidak melihat dari siapa datangnya tetapi niat tulus untuk Tuhan yang kemudian dianggap wajar.

Situasinya demikian. Bahwa sejarah panjang telah mendera masyarakat. Saat masyarakat kecil ini yang sudah terkuras habis baik tenaga maupun kemampuan finansialnya, mereka akhirnya tak punya pilihan lain selain menerima segala bantuan dengan tangan terbuka. Kalau ada niat yang baik dari orang yang membantu kenapa tidak? Mungkin masyarakat berpikiran seperti ini. Lantas masyarakat ini akan langsung dicap bodoh dan murahan?

Politisasi? May be yes may be no. Mari kita renungkan saja dalam hati.

Proses Pembangunan Kapela

Proses Pembangunan Kapela

Detail Is The Matter

Woshi woshi,
Hola hola
Hello hello
Kamastaka, 2X

Woshi
Hola
Hello
Kamastaka,

Noted, kata-kata di atas bukan puisi melainkan deretan kata yang artinya ‘hello, how are you’. Kata pertama sampai tiga memiliki arti yang sama ‘halo’ dan yang terakhir ‘apa kabar?’ dari bahasa Tagalog.

Baru pertama kali mendengar dan merasakan sensasi dari dinamika perkenalan ini 🙂 di acara Training Dasar ERT (Emergency Response Team). Capek yang sangat, setelah menempuh perjalanan udara 1 1/2 jam ditambah tugas kelompok yang langsung disodor tatkala check in di hotel, serasa sirna ketika diajak untuk menyanyikan penggalan kata-kata ini sambil menyalami satu sama lain.

Kesan pertama asyik dan menyenangkan. Teman-teman yang ikut dalam training ini juga pasti merasakan hal yang sama. Terlihat malam itu (16/03/2014) semua senyum-senyam lebar, bergerak kiri-kanan bahkan ada yang tabrak-tabrakan hanya mau memberi salam pada teman yang lain. Woshi (bowing), hola (ekspresi dah), hello (ekspresi dah juga), Kamastaka (menyalami teman).

Detail is the matter.

Awal perkenalan bersama sesama peserta dan panitia menyenangkan. Suasana kikuk yang sempat saya rasa bisa cair dan bisa segera mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lain. Tetapi kesenangan ini hanya sesaat. HP peserta langsung diamankan panitia, no contact, no say hallo again. Suasana emergency langsung di-setting malam itu juga. Peserta training mulai diwanti-wanti untuk selalu mengingat detail.

Lha saya bingung. Mulai bertanya-tanya dalam hati, yang dimaksud dengan detail itu apa?

Tanda tanya masih ter-ngiung-ngiung di kepala. Materi hari pertama rasanya berlangsung begitu cepat dan dalam penyampaian materi kata ‘detail’ selalu diulang. Detail is the matter dan memang ini kuncinya dalam training dasar emergency response ini. Rupanya ini adalah kejutan yang diberikan panitia. Kejutannya adalah simulasi-simulasi yang diperankan oleh panitia sendiri. ‘Perlu diingat kalau kita mengenakan nama berarti kita fasilitator, tetapi ketika melepaskan nama berarti kita menjadi lain,’ kata salah satu panitia. Saya dan mungkin teman-teman peserta lain juga belum paham akan penyampaian ini sampai terjadinya simulasi-simulai yang benar-benar menegangkan. Pressure nya betul terasa.

Hari pertama betul-betul menegangkan sampai saya sendiri bingung. Tetapi lebih baik bingung dari pada sok tau :-). Dan dalam kebingungan ini saya belajar dan belajar. Belajar mendengar, belajar menganalisa situasi dan akhirnya benar-benar belajar akan segala hal yang bisa saja terjadi dalam emergency response di lapangan. Pada akhirnya bisa tahu Detail is the matter yang dimaksud. Ternyata ini dan itu (maaf tidak bisa didetailkan karena rahasia perusahaan 🙂 )

Detail is the matter. Saya salut dengan pelatihan ini dan panitia yang menyiapkannya – berharap bisa menjadi salah satu dalam team. (Tepuk Salut)

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya