Kerja

Lupa diri lagi. Lagi-lagi lupa mengupdate blog. Keterbatasan ide dan tuntutan kerja yang tinggi disertai pressure dari segala arah membuat otak lelah dan berujung kaku. Dan memang cari duit itu tidak gampang. Semua pekerjaan itu ternyata tidak gampang. Sekilas kesimpulannya demikian.

Terbilang 1/2 tahun lupa menuangkan ide. Banyak hal terjadi dengan aneka warna tetapi apa daya, kala niat dilemahkan oleh berbagai kesibukan kerja yang sambung-menyambung tiada akhir dan bahkan hari-hari libur harus terisi dengan kesibukan kerja. “Kerja, kerja dan kerja,” pak Jokowi sih bilang begitu. “Yang tidak kerja tidak boleh makan,” ini kata seorang pastor :-P.

‘Saya mau resign.’ Dan si bos di rumah langsung sambar, ‘Anak! Kerja tidak ada yang gampang!’ Sini langsung diam dan kabur. Hadewww.

Ternyata semuanya bilang ‘Kerja’.

Kerja!!

Yo, mari kita lanjut kerja, apapun yang terjadi kita tabahkan hati dan pikiran. Segala perkara yang melemahkan hati dan pikiran biar berlalu bersama perputaran waktu. Hari besok akan lebih cerah, terus berusaha untuk membuat perubahan kecil dalam diri. Selebihnya serahkan pada Dia yang Maha tahu dan Maha penyayang.

Semangat kakak!!! 🙂

Iklan

‘Yang Abadi Hanya Perubahan’

Beberapa bulan belakangan ini, masyarakat pekerja yang bernaung di bawah payung lembaga ‘biru’ heboh dengan isu restrukturisasi yang tiba-tiba muncul sebagai kabar angin. Awalnya hanya kabar angin, yang tentunya belum jelas kebenarannya. Artinya benar dan salah nya berita ini masih menjadi tanda tanya besar.

Baru kabar angin, akan tetapi masyarakat pekerja sudah desas-desus ke mana-mana. Kabar akan restrukturisasi ini segera menjadi trending topik. Selalu menjadi topik utama cerita antar staff kala bersua dan bertegur sapa di lorong-lorong, di tempat parkir ataupun saat bersama di dalam ruang kerja. Seolah ini menjadi penghangat kebersamaan kala kopi dan teh panas tak lagi mempan menghalau dingin. Ada yang mengungkapkanya dengan nada serius tetapi ada yang mencoba membalutnya dengan canda dan tawa.

Obrolan-obrolan ini sangat mengasyikan dan kadang menggelitik sehingga beberapa staf yang hanya terdiam di dalam ruangan karena kesibukan kerja, kadang tergerak hati untuk ikut mendengarkannya. Saya sendiri kadang tergerak hati mendengarkan curahan hati mengenai perubahan yang akan berdampak pada phase out staf ini. Mendengar dan mencoba mencermatinya dari dua pribadi.

Sebagai orang baru yang terhitung belum lama bergabung dengan lembaga ini, dalam hati biasa-biasa saja. Apapun yang terjadi, ini bagian dari resiko pilihan yang harus diterima. Beda dengan PNS ya. Lebih dari itu, dari cerita yang beredar, memang posisi yang saya tempati sekarang masih aman – masih dibutuhkan. Lebih jauh, secara pribadi belum ada ‘tanggungan’ atau tanggung jawab untuk orang lain selain diri sendiri. Tak ada beban berlebih dalam diri sendiri 😀 .

Hal ini tentunya terlalu subjektif menilai. Kalau saya memposisikan diri dengan rekan-rekan lain yang ‘mungkin’ akan terkena imbas restrukturisasi, hal ini jelas beda. Yang pasti ada kekuatiran di sini. Ada kecemasan! Rekan-rekan tentunya memiliki alasan tersendiri untuk kuatir. Tersirat dalam cerita-cerita mereka bahwa ada ‘beban’ dalam hati kala harus menghadapi isu restrukturisasi.

Beberapa bulan, cerita-cerita ini hanya kabar angin yang belum jelas arahnya. Semuanya baru menjadi jelas ketika ada bunyi email resmi dari Ibu MM – sang direktor. Intinya bahwa struktur baru akan segera diimplementasikan. Seperti apa, bagaimana dan kapan, semuanya menunggu waktu saja. Kabar angin yang beredar akhirnya sampai pada titik kebenarannya.

Hari Rabu (13/8/14) isu restrukturisasi menjadi terang-benderang karena pada hari ini pula restrukturisasi resmi disosialisasikan kepada semua staf lembaga biru. Bertempat di aula Hotel Timor Megah, semua hal yang berkaitan dengan restrukturisasi disampaikan secara terbuka oleh perwakilan dari kantor pusat Jakarta – mulai dari alasan mengapa harus dilakukan restrukturisasi, seperti apa strukturnya sampai dengan akibat dari kejadian luar biasa ini.

Rekan-rekan yang selama ini hanya mengobral kabar angin akhirnya tahu dan merekan pun tentunya secara saksama menuangkan apa yang ada di benak mereka. Unek-unek yang selama ini hanya terpendam dalam hati akhirnya bisa diungkapkan secara langsung. Ya diskusi hari ini cukup seru dan boleh dikatakan ‘panas’. Semua panas berdiskusi tetapi pada akhirnya tidak akan merubah yang namanya restrukturisasi. Tim sempat berujar, ‘Tidak ada yang abadi, yang abadi hanya perubahan’!

So saudara-saudari sebangsa dan setanah air di negeri biru, mari kita hadapi perubahan dengan hati yang lapang!

Superman aja berubah,.

Superman aja berubah,.

Detail Is The Matter

Woshi woshi,
Hola hola
Hello hello
Kamastaka, 2X

Woshi
Hola
Hello
Kamastaka,

Noted, kata-kata di atas bukan puisi melainkan deretan kata yang artinya ‘hello, how are you’. Kata pertama sampai tiga memiliki arti yang sama ‘halo’ dan yang terakhir ‘apa kabar?’ dari bahasa Tagalog.

Baru pertama kali mendengar dan merasakan sensasi dari dinamika perkenalan ini 🙂 di acara Training Dasar ERT (Emergency Response Team). Capek yang sangat, setelah menempuh perjalanan udara 1 1/2 jam ditambah tugas kelompok yang langsung disodor tatkala check in di hotel, serasa sirna ketika diajak untuk menyanyikan penggalan kata-kata ini sambil menyalami satu sama lain.

Kesan pertama asyik dan menyenangkan. Teman-teman yang ikut dalam training ini juga pasti merasakan hal yang sama. Terlihat malam itu (16/03/2014) semua senyum-senyam lebar, bergerak kiri-kanan bahkan ada yang tabrak-tabrakan hanya mau memberi salam pada teman yang lain. Woshi (bowing), hola (ekspresi dah), hello (ekspresi dah juga), Kamastaka (menyalami teman).

Detail is the matter.

Awal perkenalan bersama sesama peserta dan panitia menyenangkan. Suasana kikuk yang sempat saya rasa bisa cair dan bisa segera mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lain. Tetapi kesenangan ini hanya sesaat. HP peserta langsung diamankan panitia, no contact, no say hallo again. Suasana emergency langsung di-setting malam itu juga. Peserta training mulai diwanti-wanti untuk selalu mengingat detail.

Lha saya bingung. Mulai bertanya-tanya dalam hati, yang dimaksud dengan detail itu apa?

Tanda tanya masih ter-ngiung-ngiung di kepala. Materi hari pertama rasanya berlangsung begitu cepat dan dalam penyampaian materi kata ‘detail’ selalu diulang. Detail is the matter dan memang ini kuncinya dalam training dasar emergency response ini. Rupanya ini adalah kejutan yang diberikan panitia. Kejutannya adalah simulasi-simulasi yang diperankan oleh panitia sendiri. ‘Perlu diingat kalau kita mengenakan nama berarti kita fasilitator, tetapi ketika melepaskan nama berarti kita menjadi lain,’ kata salah satu panitia. Saya dan mungkin teman-teman peserta lain juga belum paham akan penyampaian ini sampai terjadinya simulasi-simulai yang benar-benar menegangkan. Pressure nya betul terasa.

Hari pertama betul-betul menegangkan sampai saya sendiri bingung. Tetapi lebih baik bingung dari pada sok tau :-). Dan dalam kebingungan ini saya belajar dan belajar. Belajar mendengar, belajar menganalisa situasi dan akhirnya benar-benar belajar akan segala hal yang bisa saja terjadi dalam emergency response di lapangan. Pada akhirnya bisa tahu Detail is the matter yang dimaksud. Ternyata ini dan itu (maaf tidak bisa didetailkan karena rahasia perusahaan 🙂 )

Detail is the matter. Saya salut dengan pelatihan ini dan panitia yang menyiapkannya – berharap bisa menjadi salah satu dalam team. (Tepuk Salut)

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya

Sentuh Hati Anak-Anak

Sudah dua kali mengikuti acara Family Gathering, istilah kumpul keluarga dan anak-anak binaan Plan. Pertama di dusun Taetimu desa Nunleu yang diselenggarakan pada 4 Maret dan kedua kemarin tanggal 13 Maret di desa Pili. Kegiatan ini tentunya dimaksudkan untuk membina keakraban, kebersamaan antar keluarga dan anak-anak binaan Plan di desa dan mengakrabkan mereka dengan Plan dan stafnya. Lebih dari itu keluarga dan anak-anak bisa bersenang ria sambil lebih mengenal Plan dan mengetahui program-program yang dijalankan LSM ini. Bahwa supaya keluarga dan anak-anak tidak merasa ‘sia-sia’ menjadi bagian dari keluarga Plan.

Dua kali mengikuti proses ini, secara pribadi ada pembelajaran yang sangat berarti. Bisa mengamati proses yang terjadi di sana – apa yang dilakukan oleh masyarakat dan Plan dan bagaimana berinteraksi dengan keluarga dan anak-anak di desa. Saya lebih tahu akan posisi saya sebagai orang yang mempresentasikan lembaga dan kerja-kerjanya.

Selain ketertarikan untuk belajar, saya bisa mengalami dan memahami apa yang terjadi di desa. Saya juga adalah anak desa, tumbuh dan besar di desa, tentu saja kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan saya waktu masih kecil dulu. Melihat kehidupan keluarga dan anak-anak desa ini, saya seolah kembali merasakan suasana hidup tempoe doeloe – saat masih kecil. Sempat mengalami kehidupan yang belum ada listrik dan hanya mengandalkan lampu ‘pelita’. Kemudian kehidupan sedikit berkembang dengan adanya ‘lentera’ dan petromak atau sebutan orang desa  ‘lampu gas’. Malam sangat pekat dan rumah-rumah penduduk hanya diterangi cahaya pelita atau lentera atau petromak.

Saya pernah berada pada situasi di mana ketika sudah ada ‘listrik masuk desa’ tetapi hanya ada 2 TV di desa (milik Chinese yang tinggal di desa). Kami bergerombol dan berdesak-desakkan tanpa malu hanya untuk menonton serial film kesukaan seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng. Serial acara sore yang paling heboh seperti Satria Baja Hitam. Kadang diusir secara kasar oleh tuan rumah untuk tidak menonton – disiram dengan air, pintu dan jendela rumah ditutup. Tetapi tho kami tak tahu yang namanya ‘malu’. Yang ada di benak adalah bagaimana untuk bisa melewati rintangan dan hambatan untuk menonton ini.

Anak-anak Saat Asyik Melihat Klip Video di Laptop

Anak-anak; Saat Asyik Menonton Klip Lagu di Laptop

Saya pernah berada pada kehidupan belantara yang mana pilihan bermain selain di lingkungan sekolah adalah hutan, areal sawah, padang rumput dan kali. Pilihan bermain di sekolah pun hanya sebatas bermain kelereng, karet, kartu bergambar, siki doka (Indonesianya apa ya? biasanya dimainkan oleh anak-anak gadis tetapi kadang anak laki-laki juga ikut bermain), benteng, perang-perangan di hutan, gala asin. Permainan yang agak mewah mungkin hanya ‘kasti’ – kasti tradisional.

Saya sempat merasakan saat-saat suram dalam pendidikan – pendidikan keras ‘di ujung rotan ada emas’. Guru-guru sangat keras dalam mendidik sehingga hukuman ‘dirotan’ adalah hukuman yang wajar dan pantas untuk anak-anak.

Atribut untuk sekolah sangat minim. Topi, dasi dan sepatu hanya dikenakan pada hari Senin karena ada apel bendera (upacara bendera). Hari-hari selanjutnya hanya bisa mengenakan seragam merah-putih dan atribut lainnya – itupun hanya punya sepasang pakaian seragam. Sepasang seragam dipakai selama seminggu! bayangkan harumnya seperti apa? Apalagi jeda (istilah masih SD ‘bersenang’ I dan II) kami sukanya bermain bola kaki. 🙂

Demikian berada dua kali bersama keluarga, terutama anak-anak desa ini, ada proses belajar yang sangat mahal. Ada kesempatan di mana bisa mempresentasikan keberadaan lembaga pada masyarakat dan mencoba membangkitkan pemahaman mereka akan apa yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan LSM ini. Dan lebih serasa kenangan akan masa lalu bangkit kembali.

Kenangan akan kehidupan yang sulit ini yang senantiasa membuat saya lebih berani dan semangat untuk selalu kembali ke desa. Ingin rasanya saya bisa membagikan pengalaman hidup pada mereka. Dalam dua kali kesempatan ini saya selalu mengatakan ‘Bapak-ibu dan adik-adik, saya juga tinggal di desa. Saya dari desa, tetapi kemudian bisa sekolah sampai kuliah karena kerja keras orangtua.’

Pengalaman saya mungkin tak seberapa dan belum mahal harganya, tetapi paling kurang mereka (terutama orangtua) bisa termotifasi untuk terus menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin dan bukan hanya sebatas sampai S3 (SD-SMP-SMA), tetapi bisa sampai Perguruan Tinggi dan akhirnya bisa bekerja dan hidup mandiri – terutama kembali bisa memberi yang terbaik untuk masyarakatnya.

Ingin rasanya bisa menyentuh hati anak-anak ini lebih dalam, mengajak mereka untuk menikmati hidup mereka, riang gembira untuk bersekolah – belajar tanpa beban dan takut. Terus berjuang tanpa putus asa dan terus membangkitkan rasa percaya diri untuk menatap masa depan dan akhirnya bisa meraih cita-cita yang mereka impikan. Ingin rasanya menyentuh hati mereka lebih dalam agar mereka mengambil hikmah dari kehidupan yang saat ini mereka alami. Sehingga suatu saat ketika mereka menjadi orang sukses, mereka tahu seluk-beluk dan perjuangannya hingga mencapai sukses itu.

Sentuh hati anak-anak ini untuk mengenal diri mereka dan lingkungan di mana mereka berada. 🙂

Cerita Dari Desa

Perjalanan ke desa selalu menyisahkan banyak cerita. Selalu ada hal menarik yang perlu diceritakan. Bukan untuk mengekspose orang desa, mengeploitasi kehidupan mereka tetapi sekedar untuk mengingatkan kita bahwa ternyata banyak orang di tempat lain masih berkutat dengan kehidupan yang memprihatinkan, jauh dari kehidupan layak.

Ceritanya, kemarin saya melakukan perjalanan ke beberapa desa, desa Kokoi, desa Fatulunu dan terakhir berlabuh di desa Nunleu. Desa-desa ini masuk dalam Kecamatan Amanatun Selatan-Kab. TTS. Tujuan perjalanan saya hanya untuk mengantar merchandise berupa ‘Payung’ yang akan dibagikan untuk anak-anak Plan. Dalam perjalanan mata saya melihat banyak hal. Dari mata, masuk ke otak lalu turun ke hati – saya melihat lalu merenungkan semuanya. Yang selalu membuat saya ngeri dan selalu bertanya-tanya dalam hati adalah pertama tentu jalannya. Jangan pernah membayangkan untuk berjalan di atas aspal yang licin. Yang ada kita berjalan di aspal dan tanah bergelombang. Jalan rata hanya beberapa km kemudian kita akan memasuki jalan berlubang dan berkerikil.

Rumah Bulat

Rumah Bulat

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung


Pemandangan yang tak kalah menyayat hati adalah kondisi rumah dan kehidupan orang-orang di sana. Rumah-rumah warga masih jauh dari kata layak. Ada yang masih menghuni ‘rumah bulat’ – dikelilingi tanaman jagung yang tahun ini akan gagal panen karena curah hujan yang kurang. Ada yang sudah tinggal di rumah ber-seng dan bertembok, ya cukuplah. Tetapi tetap kehidupan sangat sulit di sana – Life is really tough. Kehidupan seperti ini yang akhirnya menghantar banyak anak-anak desa ke kota kabupaten, propinsi bahkan ke luar pulau untuk menjadi buruh kasar dan ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI.

Maka pantas saja di luar NTT, orang tahunya daerah kita daerah miskin. Memang itu kenyataannya dan kita tidak boleh marah jika dikatakan miskin – dalam artian kehidupan ekonomi kita masih jauh dari layak. Harian Kompas tanggal 3 Februari 2014 di salah satu tulisan yang berjudul ‘Saatnya Serius Mengevaluasi’ (halaman 5), menyebutkan bahwa NTT memiliki banyak warga miskin.

17 Agustus 2014, Indonesia sudah akan merayakan HUT Proklamasi kemerdekaan yang ke-69. Sudah 69 tahun Indonesia merdeka, tetapi melihat kehidupan masyarakat di sini, apakah betul Indonesia itu merdeka? Pada 17 Agustus dan hari-hari besar National, anak-anak di desa dengan suara lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Guru-guru di daerah sangat fanatik dan kadang kejam jika anak-anak sekolah salah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka memaksa agar menyanyikannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Indonesia, Tanah Airku
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
jadi pandu ibuku, dst

Anak-anak di desa sangat bangga menyanyikannya. Tetapi apakah Indonesia bangga memiliki anak-anak ini, apakah Indonesia bangga dengan kehidupan orang di desa-desa ini?

Sebentar lagi Indonesia akan mengadakan Pemilu – memilih calon perwakilan rakyat. Spanduk-spanduk ajakan untuk ikut Pemilu terpampang di mana-mana. ‘Ayo ikut Pemilu’. Seandainya di spanduk tertulis, ‘ayo ikut bantu warga miskin’. Tak kurang bahkan lebih banyak lagi poster, baliho dan spanduk calon DPR tertempel di mana-mana, menjadi pemandangan bagus yang menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan. Warga yang fanatik dengan calon nya bahkan terus memantau pemasangan baliho-baliho agar tidak rusak dan memastikannya masih nampak jelas terlihat. Para calon sendiri juga mulai lebih banyak turun ke desa-desa, melihat berbagai kekurangan yang akan diperbaikinya dan janji manis pun diobral. Pertanyaannya apa mereka ini calon perwakilan rakyat yang tepat dan mampu memperhatikan nasib rakyat yang ia wakili? Apakah betul mereka akan sungguh-sungguh bekerja memperjuangkan aspirasi rakyat? Memperbaiki segala hal yang telah mereka lihat di desa? Atau kehidupan akan kembali seperti sedia kala atau malah akan semakin buruk bahkan kehidupan masyarakatnya sendiri akan lebih susah? Hadew cape dech,.. 😛 (dalam hati persetan yang penting nanti dapat proyek! ckckckc)

Menyoal ini memang panjang dan bertahap. Dan lagi katanya pembangunan tidak sekali jadi, butuh proses. Sampai kapan proses itu akan terus berproses pak? Sudah 2014, milenium baru, abad baru, tahun-tahun kemerdekaan semakin panjang. Bertahun-tahun masyarakat ini hidup dalam lilitan kehidupan yang memprihatinkan dan kemiskinan semakin terstruktur. Apakah ini yang namanya proses pembangunan?

Lagi dikatakan pembangunan manusia dan karakternya serta pedidikan lebih diutamakan. Anak-anak di desa harus berjalan tak kurang dari 2 km untuk mencapai sekolahnya. Dan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka harus bersekolah siang karena masih dititipkan di bangunan SD – di sini dikenal dengan Sekolah Satap, Sekolah satu atap. Sudah cape berjalan, keringat bercucuran bahkan seragam sekolah mereka saja mulai usang. Dan sampai di sekolah kadang mereka tak menemui gurunya, guru tak mencukupi. Kebutuhan sekolahpun tak mencukupi di sana. Mereka belajar apa adanya.

Balik lagi ke kehidupan masyrakatnya, mereka pun seolah masih berjalan di tempat. Pembangunan seolah tak menyentuh mereka. Kalau pun ada, mereka pasti tak merasakan pembangunan yang berkarakter dan mendidik mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka akan selalu menjadi sasaran empuk pemangku kepentingan pemerintah, calon perwakilan daerah dan swasta.

Berharap kehidupan orang-orang desa akan diperhatikan dan mendapat kehidupan yang lebih layak.

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Anak Desa Menari Bonet Sambil Promosi Hak Anak

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan kami baru saja turun dari mobil yang membawa kami ke desa Oeekam, satu desa yang nun jauh ke arah tenggara dari kota SoE. Setelah keluar dari mobil, terlihat satu pemandangan yang luar biasa dan mempesona. Sekelompok anak desa bersama beberapa orang dewasa yang menjadi pendampingnya sudah berkumpul di dalam tenda yang disiapkan di depan kantor desa Oeekam. Mereka duduk berkelompok-kelompok menurut desanya. Terlihat beberapa masih sibuk di sana-sini, membetulkan pakaian dan perhiasan yang mereka kenakan, ada yang terlihat sementara melakukan latihan pemantapan terakhir – vocalizing sebelum perform. Hari ini anak-anak dari desa-desa dampingan Plan akan perform tarian Bonet¹ – salah satu rangkaian acara Jambore Anak yang berlangsung selama 2 hari, tanggal 5-6 Februari 2014.

Tarian Bonet dari salah satu peserta

Tarian Bonet dari salah satu peserta


Senang dan gembira terpancar dari wajah anak-anak desa yang polos ini. Terlihat senyum mereka tulus apa adanya. Ada yang kelihatan tegang dan serius menatap tetapi tetap tidak mengurangi semangat mereka untuk tampil di atas panggung. Sebaliknya mereka terlihat antusias dan siap untuk unjuk kebolehan dalam ber-bonet.

Anak-anak desa ini sudah berpakaian adat lengkap dengan segala perhiasan atau asesorisnya. Anak-anak gadis mengenakan tais² yang dipadukan dengan kebaya dan selendang kecil – dipakai melintang dari bahu kiri atas ke pinggul kanan bawah atau sebaliknya dari bahu kanan atas ke pinggang kiri bawah. Kalung-kalung berwarna juga melingkar di leher mereka. Sanggul dan pita berwarna pun dikenakan untuk menghiasi kepala. Bedak menjadi make up sederhana yang merias wajah, membuat mereka menjadi menarik dan terlihat cantik.

Anak-anak laki-laki juga tampil gagah dengan pakaian adat yang mereka kenakan. Mereka mengenakan kain bete³ yang diikat kencang menggunakan bete ana⁴ (baca: bet’ana) – fungsi lain dari bet ‘ana adalah sebagai ikat pinggang. Kain bete dipadukan dengan kemeja biasa, ada juga yang tak memakai kemeja tetapi menggantikan kemeja dengan kain bete – bete dililitkan di kedua bahu. Sementara asesoris yang mereka kenakan seperti alu⁵ (baca: aul ana) yang bermotif macam-macam lengkap dengan tiba. Anak laki-laki juga memiliki hiasan kepala yang khas yang beda dengan anak perempuan. Hiasan kepala ini biasa dinamakan piul nairuf⁶. Piul nairuf dibentuk menyerupai ikat kepala khas laki-laki, dipakai melingkar di kepala. Ada yang mengganti fungsi piul nairuf dengan bentuk paten ikat kepala lain dan bermotif macam-macam.

Melihat anak-anak sudah mengenakan pakaian adat lengkap – berarti mereka sudah siap untuk pentas. Dan sesaat setelah kami tiba dan duduk di dalam tenda acara, acarapun segera dibuka oleh MC. MC memberikan pengarahan dan pengantar awal tentang kegiatan ini, termasuk menyebutkan berapa banyak jumlah peserta yang terlibat di dalamnya. Ada 18 team/desa yang akan tampil.

Sebagai bagian dari acara pembukaan, MC segera mengundang beberapa perwakilan dari desa untuk segera naik ke atas panggung dan membacakan naskah janji peserta lomba. Setelah itu para dewan juri juga diundang ke atas panggung melakukan hal yang sama yaitu pembacaan naskah sumpah. Tujuan pembacaan sumpah tak lain adalah agar peserta dan dewan juri bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai mana mestinya.

Ada MC kedua. MC pemandu acara awal dan pembacaan sumpah adalah orang dewasa – seorang guru. Kali ini yang memandu jalannya acara Bonet adalah MC dari anak-anak – anak SMA. Mungkin wajar bagi mereka yang tinggal di kota, tetapi sangat menarik dan menjadi moment yang berkesan – luar biasa jika dilihat dari kacamata orang desa. Bukan mau menyepelekan anak-anak di desa, akan tetapi moment seperti ini biasanya langka. Bahwa anak-anak di desa sekarang tidak kalah dengan mereka yang di kota. Artinya mereka sudah bisa dan berani tampil dalam acara formal – event yang besar seperti jambore anak TTS ini.

Kalau dirunut, hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras Plan sebagai salah satu LSM international yang memfokuskan kerjanya pada anak. Sesuai dengan detail visinya yang sangat briliant, ‘Sebuah dunia di mana anak-anak mampu mewujudnyatakan seluruh potensi mereka dalam masyarakat yang menghargai hak-hak dan martabat manusia,’ maka penampilan yang bagus dari sang MC anak ini jelas merefleksikan seluruh karya Plan di desa.

Ketika tarian bonet mulai dipentaskan oleh anak-anak – desa demi desa perform, terasa lebih nyata bagaimana Plan berkarya untuk merangsang anak-anak mewujudkan seluruh potensinya. Terlihat bahwa mereka menikmatinya dan mampu menampilkan yang terbaik – mulai dari cara masuk-keluar panggung, cara memberi hormat pada penonton dan perform. Mereka bahkan mampu menyanyikan syair-syair bonet dengan begitu indah dan dengan suara yang lantang sambil memadukannya dengan gerakkan kaki dan tangan yang indah pula.

Plan ingin berkontribusi lebih dan lebih, mendorong anak-anak untuk terus mempromosikan hak-hak mereka dalam masyarakat. Maka tak tanggung-tanggung, syair-syair dalam lomba bonet ini juga adalah plesetan tentang materi hak anak, perlindungan anak, pengetahuan tentang pentingnya sanitasi dan pentingnya anak memiliki akte kelahiran. Baru di TTS di mana anak-anak bisa berbonet sambil promosi hak anak – pada acara jambore anak antar desa se-kabupaten TTS.

Semoga suara anak-anak ini didengar dan semakin membahana menembus segala batas ruang dan waktu. 🙂

Anak-anak dengan pakaian adat - salah satu pakaian yang khas di Timor

Anak-anak dengan pakaian adat – salah satu pakaian yang khas di Timor


Peserta Bonet - anak perempuan dengan pakaian khasnya

Peserta Bonet – anak perempuan dengan pakaian adat Timor

Catatan Kaki :

¹Bonet, tarian traditional orang Timor yang biasa dilakukan pada saat acara nikah, pesta adat, dan acara-acara lainnya. Tarian bonet dilakukan oleh sejumlah orang, wanita dan pria, menyanyi sambil berpegangan tangan dan menggerakan kaki ke kanan – berlawanan dengan arah jarum jam, kemudian maju dan mundur dalam bentuk lingkaran. Gerakan disesuaikan dengan syair yang dinyanyikan. Lebih mendalam tentang tarian Bonet bisa dibaca di sini Bonet, Tradisi Yang Terlupakan.

²Tais, kain tenun berbentuk seperti sarung yang khusus digunakan oleh kaum wanita. Tais becorak macam-macam.

³Bete, kain tenun yang dikhususkan untuk kaum laki-laki. Bercorak macam-macam. Umumnya Bete dibuat persegi panjang.

⁴Bete Ana (Bet ‘ana), bentuk dan ukurannya sama seperti selendang. Ada yang dikhususkan sebagai ikat pinggang.

⁵Alu (baca: Aul mamat), asesoris khusus pria berbentuk seperti tas kecil dilengkapai dengan tabung kecilnya yang disebut ‘tiba’. Alu fungsinya sebagai tempat sirih-pinang.Tiba, dipakai untuk tempat sirih, pinang dan tembakau.

⁶Piul Nairuf, ikat kepala khusus untuk pria. Dibentuk bermacam-macam.

Fatuulan: Negeri di Atas Awan

Tak banyak orang mengenal Fatuulan. Jangankan ditanya pada orang-orang yang tinggal di luar pulau Timor, orang-orang yang tinggal di Timor sekalipun atau yang tinggal di kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan) sekalipun pasti ada sebagian yang tidak tahu kalau ditanya mengenai Fatuulan. Fatuulan? Apa thu? Beta son tau ma.

<

p> Sepintas dilihat di peta, Fatuulan memang tidak ditunjukkan di sana. Untuk itu, mari kita mengenal Fatuulan lebih dekat. Adalah sebuah desa yang terletak jauh ke tenggara dari kota SoE, kota kabupaten TTS, Propinsi NTT. Desa ini termasuk salah satu desa dari Kecamatan Kie. Secara geografis, desa ini terletak di atas ketinggian atau di atas gunung.

Sebelumnya, kita bahas dulu perjalanan menuju ke Fatuulan. Perjalanan ke sana terbilang jauh sekitar 70-80 km dari kota SoE. Waktu tempuh 2 jam sampai 3 jam perjalanan. Kendaraan yang lazim ke sana adalah dengan mengendarai sepeda motor. Ada juga sarana angkutan umum, seperti bus, truck dan travel (mobil jenis Avanza, APV dan sebagainya yang disulap menjadi travel), akan tetapi semuanya hanya sampai pusat kecamatan yaitu Oinlasi. Truck bisa sampai ke Fatuulan namun tetap sopir akan menolak kalau harus sampai Fatuulan. Apalagi saat musim hujan. Jelas truck sekalipun tak berani masuk sampai Fatuulan.

Kondisi jalannya seperti yang saya gambarkan dalam tulisan sebelumnya Ke Desa. 3/4 jalan raya hampir tak beraspal alias rusak parah. Kondisi jalan yang baik adalah dari SoE sampai cabang Oinlasi. Selanjutnya dari cabang Oinlasi sampai Oinlasi sendiri, pengendara disuguhi aneka liuk-liuk jalan yang berlubang, berkerikil dan berlumpur kalau hujan. Perjalanan akan dilanjutkan dari Oinlasi menuju desa Fatuulan. Sekitar 1 ½ jam lagi dari Oinlasi menuju Fatuulan. Sekali lagi hanya sepeda motor yang bisa naik sampai Fatuulan. Itupun  hanya pengendara sepeda motor yang memiliki jam terbang tinggi (mahir), atau orang-orang desa setempat yang sudah mengenal medannya. Atau pengendara-pengendara motor yang nekat karena tugas.

Kondisi jalan masih sama bahkan ada bagian jalan yang kerusakkannya lebih parah yang mana kendaraan harus meliuk-liuk di jalan yang rusak tersebut. Pengendara sepeda motor saja kadang frustrasi karena harus zig-zag melewati jalan yang penuh lubang dan kerikil lepas. Apalagi pengendara roda empat. Bisa bayangkan betapa rumit dan sulitnya berkendara di medan seperti ini. Tak hati-hati, kendaraan bisa mogok di tengah jalan atau terjun bebas ke jurang. Demikian juga dengan pengendara roda dua. Tak hati-hati, motor bisa terguling dan menindih si pengemudi.

Kondisi jalan parah, lalu mengapa harus ke Fatuulan dan mengenalnya?

Rasanya belum banyak yang tahu tentang misteri di balik desa ini. Seperti yang digambarkan sebelumnya bahwa desa Fatuulan terletak di atas gunung sekitar 1000 meter dpl. Letak geografis ini yang membuatnya dasyat dan unik. Ketika naik melewati desa Tesiayofau menuju Fatuulan kita disuguhi pemandangan yang mempesona. Ada sebuah padang rumput luas dan terbuka terletak persis melewati desa Tesiayofanu. Dari atas kita bisa melihat deretan bukit dan gunung-gunung dari arah timur sampai arah barat, matahari terbenam. Lekukkan dan gelombang gunung nampak jelas yang membuat mata terpanah dan takjub.Image

ImageRumput hijau yang tumbuh di atas gunung juga yang membuat suasana hati riang gembira, melompat-lompat. ImageImageImageAda lagi beberapa kuda yang sengaja dibiarkan berkeliaran oleh pemiliknya dekat tempat pemberhentian ini, yang ikut menghiasi keindahan pemandangan dari atas gunung ini. Tempat ini adalah salah satu dari pemandangan Fatuulan yang terbaik. Sunset di tempat ini juga wow 🙂ImageImageImageMelanjutkan perjalanan ke desa Fatuulan, kita akan melewati sebuah hutan hujan tropis yang sangat lebat yang menghiasi separuh gunung Fatuulan. Hutan ini ditumbuhi aneka jenis pohon besar dan hampir seluruh pohon ditumbuhi lumut. Jam 10 pagi kabut mulai turun menyelimuti seluruh hutan sehingga jarak pandang sangat pendek. Kabut kemudian menyebar dan menutupi seluruh gunung. Dingin pun terasa seperti es, rasanya seperti di Eropa yang memiliki musim dingin. Situasi seperti ini biasa terjadi saat musim hujan. Kadang terjadi pada musim kemarau.Dengan adanya kabut, maka hari akan terasa gelap lebih awal karena pasti langsung mendung. Maka tak heran beberapa teman menamai desa ini sebagai ‘negeri di atas awan.’ Ya karena kabut turun masih sangat pagi dan bisa berlangsung sampai sore hari.

ImageKawasan hutan ini jelas menjadi kawasan yang indah dan mempesona. Pemandangan hutan nampak alami, sunyi dan menimbulkan nuansa seram. Hanya terdengar kicauan burung. Tetapi nuansa keindahannya tetap yang lebih menggelitik. Kawasan hutan ini juga adalah puncak dari gunung Fatuulan. Dan ada sebuah jalan pengerasan menerobos melewati tengah hutan yang bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Setelah melewati kawasan hutan, kita akan sedikit menuruni gunung dan langsung memasuki desa Fatuulan.

Pemandangan desa ini menjadi kawasan lain yang memanjakkan mata karena letaknya masih di lereng gunung Fatuulan. Menakjubkan!!! Dari sini kita bisa langsung melihat hamparan laut Timor. Kita bisa melihat dengan jelas garis tepi pantai dengan pasir putihnya padahal jarak dari desa ini terbilang masih sangat jauh ke sana. Image

Image Pandangan mata juga bisa melihat jelas kawasan pantai Kolbano yang terkenal dengan batu-batu putihnya yang licin. Kita juga bisa melihat jelas jalan penghubung antar desa yang nampak seperti garis. Kita juga bisa melihat liuk-liuk sungai yang sangat jelas.

Fatuulan adalah negeri di atas awan. 

Anda penggemar fotografi? Tempat yang sangat anggun untuk diabadikan dan beruntung saya sudah berkali-kali melewatinya dan mengabdikan beberapa foto.