Lovely Sasando

Sasando menjadi salah satu alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih khusus, alat musik ini berasal dari pulau Rote, salah satu pulau di NTT dan merupakan pulau terluar dan paling Selatan Indonesia. Sasando tentunya lahir dan dilestarikan turun-temurun oleh masyrakat Rote. Mereka yang ahli memainkan alat musik ini yang kemudian secara kedaerahan diakui sebagai musik tradisional asal NTT. Kini alat musik ini juga sudah meng-Indonesia dan sudah beberapa kali tampil memeriahkan acara-acara di TV. bahkan mendunia.

Kamis, 12 Mei 2016 menjadi kali kedua bisa mengunjungi House of Sasando di jalan trans Timor. Kali ini bisa mampir karena menemani sepasang suami istri bule dari Inggris yang baru saja mengunjungi anak sponsor mereka di SoE, kabupaten TTS.Β Yang unik juga bahwa pada kesempatan ini untuk pertama kalinya bisa menyaksikan dan mendengar alunan musik Sasando secara live – walau asli orang NTT tetapi selama ini hanya nonton dan mendengarnya di TV.

Menakjubkan dan membuat hati terasa hangat kala mendengar petikan-petikan dawai Sasando. Cuaca yang mendung dan gerimis seolah hangat oleh alunan melodinya. Lagu Bolelebo Tanah Timor Lelebo menjemput kami sesaat keluar dari mobil berjalan menuju ke hall house of Sasando. Sesaat setelah tahu bahwa tamu bule adalah orang Inggris, maka sang pemain Sasando cepat-cepat memainkan instrument lagu-lagu Western, Amazing Grace menyusul Pachelbel Canon, Let It Be milik the Beatles dan terakhir All of Me nya John Legend. Berkali-kali si ibu bule hanya bisa bilang lovely…lovely…lovely!

20150322_120911

House of Sasando

20160512_125634

Ibu Sylvia menyanyikan Lagu Let It Be diiringi instrument Sasando!

20160512_125722

Ibu Sylvia masih asyik menyanyi, sementara sang suami jalan-jalan keliling dan membuat dokumentasi!

 

 

 

Advertisements

Air Terjun Oenesu

IMG_0524

Mengayunkan langkah ke air terjun Oenesu ternyata hanya butuh waktu beberapa detik untuk berpikir mengiyakan tawaran.

Ayo! jawab saya singkat.

Memang hal-hal seperti ini yang diimpikan. Bisa jalan-jalan sambil menikmati keindahan alam dan sekitarnya yang kiranya bisa memanjakan mata dan yang terpenting membuat hati senang dan pikiranpun tenang.

Yes. You deserve to enjoy life when it seems life is unfair and you feel that yourself are trapped in uncertainty. You don’t know how to decide but then you realize that nature gives you the power of freedom to go and embrace it. Just few seconds you let go those da*n things. πŸ˜›

Air terjun Oenesu sudah lama terdengar tetapi seperti apa dan bagaimana rupanya itu yang belum tertangkap oleh mata. Dan ternyata akhir pekan ini membawa berkah tersendiri karena bisa menyempatkan diri untuk memandanginya secara langsung.

Air terjun ini terletak di kecamatan Kupang Barat – Batakte. Perjalanan ke sana terbilang cukup jauh sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor ke arah barat kota Kupang.

Jalan menuju air terjun ini relatif baik – dari kota kupang sampai cabang masuk air terjun, tetapi jalan aspal yang berlubang mulai terlihat dari cabang masuk menuju obyek wisata air terjunnya. Butuh diperhatikan pak-pak aparat mungkin. πŸ™‚

Pemandangannya memang baik. Suasana adem dan tenangnya membuat hati terasa damai. Pohon-pohon di sekitar air terjun masih hijau dan nuansa alamiahnya masih terasa. Intinya baik untuk me-rileks-kan pikiran.

Tetapi…dan lagi tetapi masih butuh untuk diperhatikan lebih.

‘Wariskanlah mata air kepada anak cucu kita bukan wariskan air mata’ Sebuah papan terpampang di salah satu sudut obyek wisata ini dengan kata-kata ini. Semoga tidak hanya jadi hiasan! πŸ™‚

This slideshow requires JavaScript.

‘Sepe’ – Si cantik nan Indah

Pohon Sepe. Apakah anda tahu apa itu pohon Sepe? Sepe merupakan sebutan yang sudah lazim dikenal oleh orang-orang yang hidup di daratan Timor. Pohon yang bernama ilmiah (Latin) Royal Poinciana* ini hampir bisa ditemukan di berbagai sudut tempat di daratan Timor. Tak kurang di sepanjang jalan trans Timor bisa dijumpai pohon ini.IMG_0142

Pohon Sepe layaknya pohon lain yang tumbuh liar di mana-mana. Beberapa orang memang sengaja menanamnya, menjadikannya hiasan di taman dan halaman rumah, akan tetapi kebanyakan dari pohon ini tumbuh liar tanpa bantuan manusia – tumbuh alamia.

IMG_0152 Hal yang membedakan pohon Sepe dengan pohon lain terletak pada keunikan warna bunganya. Bunga pohon Sepe berwarna merah merona yang mekar memenuhi ranting-ranting pohonnya. Tampak hanya kembang-kembang merah yang menjadi daunya.

Warna mekar bunganya ini yang sangat mempesona dan menyejukan hati. Dari kejauhan orang sudah bisa mengenalinya. Semua mata tertuju padanya, menjadi pusat perhatian di jalanan. Si cantik nan indah – demikian kata yang bisa terucap di bibir. Puja demi puja akan terus menyanjunginya.

Di tengah musim kering yang disertai panas yang membara, saat semua orang dilanda kegalauan karena panas dan hujan yang tak kunjung turun, bunga Sepe menawarkan keindahannya untuk dinikmati. Ia memberi dirinya menjadi salah satu pancaran kenikmatan saat bunga yang lain layu dan lusuh.IMG_0131

Setelah puas memberi dirinya dinikmati, diabadikan dalam jepretan kamera, bunga pohon Sepe akan perlahan-lahan layu dan gugur – helai demi helai. Sepe akhirnya hanya akan terlihat sebagai pohon biasa lagi yang berdaun hijau. Warna merah seketika berubah menjadi hijau. Tak ada lagi warna merah dan butuh waktu setahun lagi untuk bisa menikmati keindahan warna mekar bunganya ini. Biasanya mekar bunga pohon ini terjadi pada bulan November sampai Desember dalam tahun.

Indah memang. Seandainya pemerintah propinsi NTT menaruh perhatian khusus pada si Sepe dan menjadikannya objek wisata yang menarik. πŸ™‚

*Google search

This slideshow requires JavaScript.

Kerja

Lupa diri lagi. Lagi-lagi lupa mengupdate blog. Keterbatasan ide dan tuntutan kerja yang tinggi disertai pressure dari segala arah membuat otak lelah dan berujung kaku. Dan memang cari duit itu tidak gampang. Semua pekerjaan itu ternyata tidak gampang. Sekilas kesimpulannya demikian.

Terbilang 1/2 tahun lupa menuangkan ide. Banyak hal terjadi dengan aneka warna tetapi apa daya, kala niat dilemahkan oleh berbagai kesibukan kerja yang sambung-menyambung tiada akhir dan bahkan hari-hari libur harus terisi dengan kesibukan kerja. “Kerja, kerja dan kerja,” pak Jokowi sih bilang begitu. “Yang tidak kerja tidak boleh makan,” ini kata seorang pastor :-P.

‘Saya mau resign.’ Dan si bos di rumah langsung sambar, ‘Anak! Kerja tidak ada yang gampang!’ Sini langsung diam dan kabur. Hadewww.

Ternyata semuanya bilang ‘Kerja’.

Kerja!!

Yo, mari kita lanjut kerja, apapun yang terjadi kita tabahkan hati dan pikiran. Segala perkara yang melemahkan hati dan pikiran biar berlalu bersama perputaran waktu. Hari besok akan lebih cerah, terus berusaha untuk membuat perubahan kecil dalam diri. Selebihnya serahkan pada Dia yang Maha tahu dan Maha penyayang.

Semangat kakak!!! πŸ™‚

Prosesi Semana Santa Larantuka

Umat Katolik pada umumnya paham mengenai makna perayaan Pekan Suci. Pekan Suci dimulai dari Minggu Palma yang diikuti dengan perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Alleluya dan ditutup dengan Minggu Paskah. Perayaan Pekan Suci menjadi rangkaian kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus yang diimani oleh umat Kristiani pada umumnya.

Larantuka, salah satu kota di ujung timur pulau Flores yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, melaksanakan rangkaian perayaan Pekan Suci dengan cara yang unik dan istimewa yang dikenal dengan sebutan Semana Santa. Semana Santa (dari berbagai sumber) sejatinya berasal dari bahasa Spanyol yang kalau di – Indonesiakan sama artinya dengan Pekan Suci.

Semana Santa menjadi prosesi perayaan yang sangat penting bagi masyarakat kota Nagi – sebutan lain untuk Larantuka. Hal ini penting karena merupakan satu perayaan iman yang sudah mentradisi, turun-temurun sejak masa kolonialisme Portugis. Perayaan ini sudah dirayakan lebih dari 500 tahun atau lima abad di kota Larantuka sehingga tak mengherankan bahwa prosesi perayaan Semana Santa sudah dikenal luas bukan hanya di NTT saja tetapi juga sudah dikenal secara nasional dan bahkan sudah mendunia sebagai warisan perayaan iman Kristiani.

Rangkaian perayaan Semana Santa sudah terinkulturasi dengan budaya di Larantuka sehingga perayaan ini memasukan unsur-unsur budaya lokal di dalamnya. Perayaan Semana Santa sudah dimulai pada hari Rabu yang dikenal dengan sebutan Rabu Trewa. Pada hari ini, masyarakat atau suku yang sudah dipersiapkan (lebih tepatnya sudah ditunjuk setahun sebelumnya – setelah prosesi Semana Santa) melakukan persiapan-persiapan penting untuk acara prosesi seperti kegiatan Tikam Turo (pagar yang dibuat dari kayu dan bambu). Tikam Turo dipasang di sebelah kiri dan kanan sepanjang jalur prosesi. Tikam Turo ini akan dihiasi dengan lilin-lilin. Selain itu ada persiapan Armida (8 perhentian/stasi).

Patung Tuan Ma (patung Bunda Maria), Tuan Ana (patung kanak-kanak Yesus) dan Tuan Maneno (patung Yesus) serta kapela tempat bersemayamnya masing-masing patung ini juga dipersiapkan. Intinya Rabu Trewa menjadi hari persiapan dan serentak kota Larantuka berubah menjadi kota yang hening dan tenang dari segala bunyi-bunyian terutama di sepanjang jalur yang akan digunakan sebagai jalur prosesi. Hari berkabung dimulai.

Malam setelah perayaan Kamis Putih, masyarakat termasuk pesiarah secara bergantian mendaraskan doa dan nyanyian di masing-masing kapela, Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Manenu hingga pagi hari.

Kapela Tuan Ma

Kapela Tuan Ma

Penyembahan Tuan Ma

Penyembahan Tuan Ma

Tuan Ma

Tuan Ma

Kapela Tuan Ana

Kapela Tuan Ana

Penyembahan Tuan Ana

Penyembahan Tuan Ana

Hari Jumat Agung atau Sesta Vera menjadi puncak perayaan Semana Santa. Pada siang hari dilakukan Prosesi Laut – prosesi menghantar Patung Tuan Manenu dari kapela kediamannya menuju kapela Pohon Sirih. Patung Tuan Manenu dihantar menggunakan sebuah perahu khusus dan diiringi oleh para penghantarnya yang juga menggunakan perahu kecil. Selain pendamping sakral Tuan Manenu, umat pesiarah juga diizinkan untuk ikut mengiringi prosesi laut ini sambil berdoa dan bernyanyi.

Prosesi Laut

Prosesi Laut

Prosesi Laut

Tuan Maneno diarak menggunakan perahu

Setelah prosesi laut selesai, prosesi dilanjutkan dengan prosesi menghantar Tuan Ma yang menjemput Tuan Ana dan keduanya diarak menuju Katedral Larantuka. Kedua patung ini disemayamkan di dalam Katedral dan dilanjutkan dengan perayaan ibadat Jumat Agung seperti biasa. Setelah ibadat Jumat Agung, prosesi dilanjutkan lagi yaitu Tuan Ma dan Tuan Ana diarak melalui jalur prosesi yang sudah dipersiapan pada hari Rabu Trewa. Patung diarak dan diikuti oleh ribuan pesiarah sambil mendaraskan doa dan nyanyian. Perarakan akan berhenti disetiap Armida sambil melakukan pujian reflektif. Kegiatan prosesi yang dinamakan prosesi darat ini berakhir kembali di Katedaral dan ditutup dengan Ratapan bunda Maria – Ibu yang berkabung (Mater Dolorosa).

Prosesi Tuan Ma Menjemput Tuan Ana

Prosesi Tuan Ma Menjemput Tuan Ana

Tuan Ma menjemput Tuan Ana

Tuan Ma menjemput Tuan Ana

Background Kapela Tuan Ana & Patung Mater Dolorosa (Bunda yang Berkabung)

Background Kapela Tuan Ana & Patung Mater Dolorosa (Bunda yang Berkabung)

Rangkaian prosesi ini diikuti oleh ribuan umat, bukan hanya umat kota Larantuka, tetapi juga umat dari hampir semua wilayah NTT, dari luar wilayah NTT bahkan dari luar negeri. Yang unik juga bahwa ternyata prosesi ini juga diikuti oleh mereka yang non Katolik atau agama lain, tetapi mereka tetap menghormati perayaan iman ini.

Bahwa prosesi perayaan Semana Santa sudah menjadi destinasi wisata religius yang dikenal luas. Pada hari menjelang Paskah, ribuan umat tentu sudah berkeinginan atau terdorong untuk hadir mengikuti perayaan ini. Dan walau prosesi ini sudah menjadi destinasi wisata, nilai religius dan kesakralannya tetap dijaga sebagai perayaan iman mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus yang menjadi pusat iman umat Kristiani.

Ini adalah secuil pengetahuan yang saya tangkap ketika menghadiri perayaan Semana Santa di Larantuka dari tanggal 2-3 April 2015. Saya mengalami sendiri kekhusukan dari rangkaian prosesi ini. Walau menjadi tujuan wisata, akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa ada kesakralan yang harus ditaati dan dihargai. Iman lah yang mendorong untuk mengalami pengalaman suci ini.

Pagi yang Cerah di Kota Reinha Rosari - Larantuka

Pagi yang Cerah di Kota Reinha Rosari – Larantuka

Pengorbanan!

Siang itu, bersama seorang rekan kerja hendak makan siang di hotel – salah satu kegiatan kantor diselenggarakan di sana sehingga kami diundang untuk ikut makan siang. Diundang lho,. πŸ™‚ Dan lebih dari itu, ini namanya solidaritas – menghargai orang yang mengundang.

Sial! Bukannya enak yang didapat, malah sial yang datang. Baru saja keluar dari kantor, dan baru beberapa meter perjalanan, hujan deras langsung mengguyur.

Karena hujan, maka kami langsung menepikan motor di sebuah bangunan kios yang lagi tutup. Kami berteduh di emperan kios bersama beberapa orang ibu dan anak-anaknya yang baru dijemput di sekolah. Ada juga beberapa bapa-bapa. Sangkanya hujan akan segera berhenti, tetapi malah makin deras. Jarak pandang makin suram karena hujan makin deras. Kilat guntur mulai beriringan menghantam bumi.

Kami semua kedinginan di bawah naungan kecil emperan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dan memang ini waktunya untuk makan siang tetapi kami semua tidak bisa berbuat apa-apa karena hujan. Kami orang dewasa saja mulai rasa lapar apalagi anak-anak. Ibu-ibu yang bernaung bersama kami nampak mulai gelisa karena anak-anak mereka mulai mengeluh ‘lapar’.

Seorang ibu nampak mulai mencari akal atau cara. Beliau menelpon kenalan untuk menjemput mereka (anak-anak) menggunakan mobil. Tak lama berselang, mobil pick up muncul.

Suatu pemandangan yang menarik. Sang ibu memayung 2 anaknya menuju mobil menggunakan mantel yang ia pakai. Ia rela basah kuyup di bawah guyuran hujan yang deras asal anak-anaknya tidak basah dan makin kedinginan. Anak-anaknya berhasil dimasukkan ke dalam mobil tanpa basah kuyup, tetapi si ibu basah kuyup. Beliau kemudian mengenakan kembali mantelnya dan menyusul mobil itu menggunakan motor. Melihat kejadian ini, saya langsung berbisik pada teman saya, ‘memang pegorbanan seorang ibu!’

Pengorbanan seorang ibu itu sederhana, ia memberi yang terbaik untuk anak-anaknya, memberi dirinya seutuhnya pada mereka, sampai tak peduli dengan apa yang bisa menimpah dirinya. Memikul anaknya dalam kandungan selama 9 bulan, melahirkan anaknya dengan susah payah – perjuangan antara hidup dan mati. Kemudian merawat dan membesarkan anaknya hingga mereka kembali menjadi ibu atau ayah bagi generasi berikutnya.

Betapa durhakanya anak jika tak menghargai ibunya, apalagi sampai memaki dan
memukul ibunya. Belum terlambat untuk menghargai pengorbanan seorang ibu!

Love You, mom!

Love You, mom!

Impian dan Kenyataan

Impian,.

Menurut saya, yang paling tepat untuk mendefinisikan kata ini adalah sesuatu dalam angan yang mendorong hasrat.

Saya pernah memiliki impian ini – impian untuk merantau ke ibukota, bekerja di perusahaan ternama dan bisa menjadi orang yang sukses. Sukses yang saya maksud yaitu memiliki kecukupan finansial yang mantap, sehingga ke mana-mana gak perlu ngojek tapi bisa mengendarai mobil Honda Jazz sendiri. Kecukupan finansial juga bisa membawa saya jalan-jalan ke mana saja mengelilingi dunia – tidak hanya sendiri tetapi bisa membawa kedua oragtua melihat ‘dunia lain’ yang lebih luas dan bukan hanya dunia di mana mereka berada sekarang, sehari-hari hanya antara rumah, sawah, kolam ikan, kembali ke rumah lagi dan tidur. Sukses yang dimaksud juga adalah saat di mana memiliki rumah sendiri dengan pendamping yang cantik, baik hati, dan pokoknya setia sampai mati. Itu impian. πŸ˜›

Saya juga pernah meng-impikan ini – bisa menjadi pemain piano hebat, bisa memainkan musik-musik jazz dan klasik dengan sangat hebat, menjadi composer. Dan baru-baru ini, impian untuk mengembangkan karir. Dan masih banyak lagi impian yang muncul seiring dengan bertambahnya usia, yang mana lebih banyak didorong oleh hasrat untuk mencapai ini itu.

Kenyataannya,.

Impian masih sebatas impian. Impian belum sesungguhnya menjadi kenyataan. Dan sesungguhnya tak salah untuk ber-impian tinggi selagi itu masih gratis. πŸ˜€ Saya menjadi lebih tahu bahwa impian yang menjadi kenyataan itu butuh proses. Proses butuh kerja keras. Kerja keras butuh kesabaran. Kesabaran yang mulia akan menghasilkan kesuksesan. Tho sukses yang sesungguhnya tak sekali jadi.

Mari ber-impian untuk mencapai kenyataan yang mulia bagi diri sendiri, sesama dan terutama untuk Sang Pencipta.