Trip to Rote Island

Trip to Rote Island selama 3 hari – 22-24 April 2017, akan menjadi kenangan terindah karena baru pertama kali menginjakan kaki di pulau asal Sasando ini. Selain itu keindahan pemandangan Pulau Rote memang memanjakan mata, menentramkan pikiran dan lebih mem-bunga-kan hati. Tidak menyesal sudah berjuang untuk sampai di sini. 🙂

Destinasi yang sudah terkenal sampai luar negeri adalah pantai #nembrala karena menjadi destinasi surfing. Tempat ini diincar para ‘bule’ untuk berselancar ria. Maka pengelolaan kawasan sepanjang pantai sudah sangat bagus dan nyaman, serasa seperti di Bali.

IMG_8196

Sunset di Pantai #numbrela

Foto-foto di atas adalah penampakan Pantai #nembrala. Sebenarnya bukan hanya menjadi destinasi surfing, pantai Nembrala memang indah untuk dinikmati. Nyiur-nyiur hijau melambai-lambai di sepanjang pantai yang menambah kesempurnaan Nembrala menjadi spot untuk sunset. Serasa matahari berjalan melewati lambaian nyiur-nyiur hijau yang sedang lambaikan cinta pada dia yang di seberang lautan 😀 .

Di Rote, pulau paling Selatan Indonesia, juga terdapat destinasi pantai lain yang layak untuk dikunjungi seperti pantai #Oesasole atau yang dikenal juga dengan nama pantai ‘Love’. Sayup-sayup terdengar cerita mengenai nama Love. Di pantai ini terdapat sebuah karang besar di tepi pantai yang berbentuk seperti hati – sign of love. Sepintas tidak terlihat bentuk hati tetapi jika dilihat dari sudut tertentu memang batu ini berbentuk hati.

Mungkin cintanya terlampau dalam sehingga hanya orang-orang budiman, pandai dan tidak sombong yang bisa melihat ketulusan cintanya. 😀

Pantai ini juga bersih dengan jenis pasir yang berbiji besar seperti biji padi. Warnanya putih kekuning-kuningan. Berbeda dengan pantai Nembrala, di pantai ini terdapat banyak pohon jenis pinus. Pantai Nembrala di sebelah Barat Pulau Rote, sedangkan pantai ini di sebelah Timur, sehingga mungkin akan pas untuk spot sunrise.

Dalam pengembaraan mencari pantai Oesasole ternyata kami menemukan pantai #P. Dinamakan pantai P karena lekukan pantainya yang menyerupai huruf P. Letaknya tidak berjauhan dengan pantai Oesasole kurang lebih 5 km tetapi pasir pantainya sangat berbeda. Pantai Oesasole memiliki jenis pasir yang berbiji besar dan kasar tetapi di pantai P, jenis pasirnya sangat halus dan berwarna putih. Sangat putih dan bersih sebersih cintaku 😀 .

IMG_8425IMG_8501

#triptoroteisland diakhiri dengan petualangan mencari Pantai Inaoe yang punya nama lain Pantai Perawan. Pantai ini tergolong baru bagi masyarakat Pulau Rote sendiri karena akses menuju ke sana baru dibuka. Pantai ini baru coba dipromosikan ke publik untuk menjadi destinasi wisata di Rote.

Karena baru maka jalan menuju ke pantainya butuh perjuangan yang sangat keras terlebih jika menggunakan sepeda motor. Sebagian besar jalan tidak beraspal, berbatu dan terdapat beberapa turunan yang memiliki kemiringan hampir 90 derajat.

Akan tetapi rasa cape bisa terbayarkan dengan panorama pantainya yang indah karena bentuk pantainya yang menjorok masuk ke daratan dan diapiti oleh bukit-bukit karang. Pantainya tenang dan cocok untuk mencoba akrobat loncat ke dalam air laut dari atas tebing karang. Gambar Pantai Inaoe – Pantai Perawan.

Terdapat lorong-lorong sempit yang bisa dilalui. Lorong-lorong ini kering dan sepintas terlihat seperti Petra di Yordania.

Rote Island memang indah dan cantik secantik nona-nona Rote 😀 . So, jangan lupa mampir ke Pulau Rote untuk piknik sekedar melupakan panik akan pekerjaan yang menumpuk.

Advertisements

Air Tagepe

Belakangan muncul satu objek wisata baru di kabupaten TTS bernama Air Tagepe. Tempat ini terletak di desa Noinbila kecamatan Mollo Selatan – sekitar 10 km sebelah utara kota SoE dengan mengambil jalur jalan menuju Kapan.

Air Tagepe. Dari namanya sudah bisa diketahui bahwa tempat wisata ini adalah jenis wisata air atau aquatic. ‘Tagepe’ berasal dari Bahasa Melayu Kupang yang dalam Bahasa Indonesia baku sama artinya dengan ‘terjepit atau terhimpit’. Sehingga Air Tagepe artinya air yang terjepit atau terhimpit. Tempat ini dinamakan Air Tagepe karena aliran air mengalir melewati celah barisan tebing batu yang sangat sempit. Lebar kedua sisi tebing bervariasi mulai dari 1 meter hingga 3 meter. Beberapa bagian memiliki lebar hanya 1 meter dan bagian lain berlebar 3 meter.

Air Tagepe adalah sebagian dari arus sungai yang memiliki hulu dan hilir namun hanya bagian ini yang memiliki keunikan. Bagian arus sungai ini yang menarik dan kelihatan indah karena barisan tebing batunya yang sangat mempesonakan mata. Barisan tebing nampak seperti hasil pahatan. Beberapa bagian lain berbentuk seperti gua-gua kecil. Tebing batu berwarna cokelat kehijau-hijauan karena lumut yang menempel. Tingkat kelembaban sangat tinggi di areal ini sehingga wajar kalau berlumut dan licin. Ada beberapa pancuran air yang mengalir turun melalui sisi-sisi tebing dan ada satu bagian yang berbentuk air terjun kecil. Semua bentuk tebing batu ini adalah proses alami.

Arus air tagepe sendiri tidak terlalu deras, walau air mengalir melalui tempat yang sempit. Terdapat beberapa genangan air yang cukup dalam sekitar 1 meter – setinggi dada orang dewasa. Orang dewasa tentu sangat enteng berjalan menyusuri sungai tetapi untuk anak-anak perlu diwaspadai oleh orangtua karena bisa tenggelam. Airnya juga dingin. Selain itu dasar sungai berbatu yang mana bisa melukai kaki jika tidak berhati-hati dan licin.

Areal Air Tagepe ini juga adalah areal hutan. Alam masih hijau dan sejuk karena banyak pohon rindang dan udaranya cukup dingin. Siang semakin terik di luar sana tetapi di areal Air Tagepe, yang ada hanya kesejukan dan rasanya ingin memeluk hangatnya kekasih di sini. Tetapi jika tak membawa kekasih, anda bisa memeluk pohon-pohon yang sudah setia menunggu anda. Suasana romantisme bercinta dengan alam di sini semakin indah dengan terdengarnya suara merdu burung-burung yang berkicau riuh rendah.

Tempat ini indah untuk diabadikan dalam setiap jepretan foto. Anda bisa menyusuri jalur Air Tagepe sepanjang 1 km sampai menemui air terjun dan pastikan anda membidik setiap sudut tempat ini untuk sewaktu-waktu bisa dikagumi ketika anda sudah menjauh darinya. Oh ya,..Air Tagepe pernah menjadi satu areal kunjungan MTMA (My Trip My Adventure) yang tayang di Trans TV pada hari Sabtu, 4 Februari 2017.

Satu pesan dari bro Nicholas Saputra – artis dan traveler sejati. ‘Kadang HP atau kamera saja yang diberi memori, tetapi otak kita lupa dikasih memori.’ Kata-katanya dalam broers. Jadi jangan lupa, otak dan hati kita harus selalu dikasih memori setiap mengunjungi tempat-tempat yang indah seperti ini. Semoga anda paham maksudnya. Kalau tidak paham, sering-seringlah mengunjungi alam bebas.

Air Tagepe menyimpan banyak keindahan broers. Tetapi dibalik keindahannya pengunjung perlu waspada dan berhati-hati. Pada musim hujan, tebing batu yang sempit ini bisa rawan longsor. Selain itu juga perlu waspada akan bahaya banjir. Sudah pasti jika terjadi banjir, air akan mengalir sangat deras dan dalam pada areal sempit seperti ini.

Akhir kata, sempatkan diri menikmati keindahan alam wisata Air Tagepe. Sekian.

IMG_7716IMG_7764IMG_7699IMG_7697IMG_7717IMG_7723IMG_7708IMG_7730IMG_7727IMG_7801

Dear Karina Nadila Niab…

Saya sangat menikmati proses pemilihan Puteri Indonesia 2017 yang ditayangkan live di salah satu stasiun TV swasta. 4 jam saya menonton tayangan langsung ini. Awalnya saya senang menonton bukan karena ingin melihat pemilihan Putri Indonesia, apalagi saya tahu bahwa selama ini – tahun demi tahun propinsi NTT belum pernah mendapatkan juara dan prestasi terbaik sebelumnya yaitu 2 kali masuk dalam fase top 10, tahun 2015 dan tahun 2012 – 2013 (sumber: Putri NTT ). Alasan saya bertahan menyaksikan live ini karena ada penampilan Magenta Orchestra yang di-lead oleh bang Andi Rianto – my favorite karena saya suka musik orkestra. Selain itu juga karena ada penampilan spesial dari Daniel Powter . Dan saya tahu pasti beliau akan menyanyikan lagu hits-nya, ‘Bad Day’.

Beberapa saat menyaksikan proses pemilihan ini, antusias saya tiba-tiba meningkat kala melihat wakil dari propinsi NTT melaju ke babak 10 besar. Ya, ada sedikit hiburan dan boleh dikata ‘luar biasa’. Masyarakat NTT yang menyaksikan tayangan ini pasti ikut merasa senang dan antusias. 10 besar rasanya sudah juara. Kita bangga akan propinsi NTT dalam ajang pemilihan bergengsi seperti ini walau baru masuk 10 besar.

Saya pun menunggu proses selanjutnya yaitu proses tanya jawab seperti yang diserukan oleh host Chocky Sitohang dan Zivanna Letisha Siregar . Dan ketika mendengar jawaban anda yang tepat dan penuh percaya diri, saya sudah menduga bahwa anda akan melaju sempurna ke babak 5 besar. Tepat kan, dengan senyum manis manja anda melangkah maju saat nama anda disebutkan untuk maju ke babak 5 besar (tahun ini sebutannya 6 besar karena ada tambahan 1 quota pilihan pemirsa). Katong semakin bangga. Beberapa orang yang menonton bersama saya (baca adik-adik) mulai bertanya-tanya. Ini nona ke pernah liat di mana ko?! Ini nona kayanya dari Kupang kah?! Kayanya ini nona tinggal di Jawa?! Kayanya dia artis?! Ya, walau ada banyak pertanyaan dan kontroversi sana-sini tetapi kita tetap bangga punya wakil NTT di babak 6 besar ini.

Proses tanya jawab di babak 6 besar dimulai. Pada sesi ini tim juri yang memberikan pertanyaan setelah peserta memilih buah apel yang di dalamnya berisi nama si penanya. Saya kok bisa ikut-ikutan deg-degan menanti giliran anda. Beberapa peserta sudah menjawab dan rasanya pertanyaan-pertanyaannya cukup sulit sehingga beberapa peserta menjawab dengan terbata-bata dan kelihatan gugupnya.

Tiba giliran anda. Saya menanti anda memberikan jawaban 😀 . Dan sangat mengesankan. Excellent dear Karina. Saya kira ini momen terbaik anda dalam proses pemilihan Puteri Indonesia 2017. Pertanyaan dijawab dengan sempurna dan percaya diri. Suara anda lantang dengan mimik yang anggun mempesona. Jawaban anda mengenai sejarah yang hanya tersimpan di perpustakaan itu sangat luar biasa. Saya kira dewan juri juga sangat terpanah dengan jawaban anda dan the best dari peserta 6 besar yang lain. Saya sangat yakin bahwa anda maju ke babak 3 besar.

Karina Nadila, NTT.

Perkiraan saya tepat. Anda di 3 besar. Kali ini lebih luar biasa karena sejauh ini belum ada Puteri NTT yang melaju ke babak 3 besar. Anda merupakan yang pertama bagi wakil NTT di ajang pemilihan Puteri Indonesia yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1992. Tentunya orang NTT sangat bangga. 10 besar rasanya seperti sudah juara, apalagi babak 3 besar. Keyakinan pun sempat melayang tinggi bahwa anda akan dimahkotai sebagai Puteri Indonesia 2017. Dan kali ini alasan masih bertahan menonton pemilihan Puteri Indonesia yang ke-21 ini adalah karena ada wakil propinsi NTT dan itu anda dear nona Karina.

Dear Karina…well, this is a competition. There is another god in a competition which is Jury. Selama proses pemilihan ini anda mungkin tahu siapa yang berhak atas mahkota juara, tetapi keputusan juri adalah hal yang mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Anda sudah tampil maksimal, tetapi kembali bahwa juri sangat memegang peranan penting dalam kompetisi ini.

Tragedi pembacaan ulang runner up 2 tentu sangat mengecewakan. Amplop segel yang dibuka oleh host ternama dan berkelas seperti Chocky Sitohang rupanya adalah kekeliruan dan tak sah. Rupanya host sekelas Chocky dan Zhivanna bisa salah membaca nama peraih runner up 2 Puteri Indonesia 2017. Anyway kita tetap berpikir positif bahwa host dan juri sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, transparan dan akuntabel. And no cheatting.

Dear Karina… anda adalah pemenang di hati orang NTT walau hanya dinobatkan sebagai runner up 2 Puteri Indonesia 2017. Prestasi yang tentunya di luar dugaan karena merupakan yang pertama dalam ajang kompetisi ini. Anda sudah membantu mengharumkan nama NTT dalam ajang kompetisi level nasional seperti ini. Belum lama ini nama-nama seperti Mario Klau dan Andmesh Kamleng menjuarai kompetisi pencarian bakat yang ditayangkan TV swasta. Anda juga dalam ajang pemilihan Puteri Indonesia 2017 sudah menaikan harkat dan martabat orang NTT. Propinsi NTT ini adalah propinsi yang besar dan sudah sepantasnya dibicarakan bukan kerena kemiskinan dan kekeringan tetapi karena kualitas manusianya yang bisa memberi perubahan bagi kemajuan Indonesia dalam dunia seni.

Dear Karina…anda dinobatkan menjadi runner up 2 Puteri Indonesia dan otomatis anda juga dinobatkan sebagai Puteri Pariwisata Indonesia 2017. Ini sangat menarik dan tentunya menantang. Sama seperti Indonesia, orang asing lebih mengenal Bali dari pada Indonesia itu sendiri. Orang Indonesia lebih mengenal Labuan Bajo dari pada NTT. Artinya bahwa pariwisata di NTT perlu mendapat perhatian lebih. Ada banyak sumber daya pariwisata di NTT tetapi baru ¼ yang dikelola dengan baik. Ada banyak tempat wisata di NTT seperti wisata pantai, wisata pegunungan, wisata hutan, wisata air terjun, wisata religi tetapi belum dimaksimalkan. Semoga kehadiran anda sebagai Runner Up 2 Puteri Indonesia 2017 dan sebagai Duta Pariwisata Indonesia 2017 bisa membawa berkah bagi kemajuan pariwisata di propinsi NTT.

Akhir kata, selamat atas pencapaian anda dan selamat berkarya untuk kemajuan Indonesia dan kemajuan propinsi NTT. Kotong Orang NTT Bisa!

Salam

KarinaKarinaa

‘Sepe’ – Si cantik nan Indah

Pohon Sepe. Apakah anda tahu apa itu pohon Sepe? Sepe merupakan sebutan yang sudah lazim dikenal oleh orang-orang yang hidup di daratan Timor. Pohon yang bernama ilmiah (Latin) Royal Poinciana* ini hampir bisa ditemukan di berbagai sudut tempat di daratan Timor. Tak kurang di sepanjang jalan trans Timor bisa dijumpai pohon ini.IMG_0142

Pohon Sepe layaknya pohon lain yang tumbuh liar di mana-mana. Beberapa orang memang sengaja menanamnya, menjadikannya hiasan di taman dan halaman rumah, akan tetapi kebanyakan dari pohon ini tumbuh liar tanpa bantuan manusia – tumbuh alamia.

IMG_0152 Hal yang membedakan pohon Sepe dengan pohon lain terletak pada keunikan warna bunganya. Bunga pohon Sepe berwarna merah merona yang mekar memenuhi ranting-ranting pohonnya. Tampak hanya kembang-kembang merah yang menjadi daunya.

Warna mekar bunganya ini yang sangat mempesona dan menyejukan hati. Dari kejauhan orang sudah bisa mengenalinya. Semua mata tertuju padanya, menjadi pusat perhatian di jalanan. Si cantik nan indah – demikian kata yang bisa terucap di bibir. Puja demi puja akan terus menyanjunginya.

Di tengah musim kering yang disertai panas yang membara, saat semua orang dilanda kegalauan karena panas dan hujan yang tak kunjung turun, bunga Sepe menawarkan keindahannya untuk dinikmati. Ia memberi dirinya menjadi salah satu pancaran kenikmatan saat bunga yang lain layu dan lusuh.IMG_0131

Setelah puas memberi dirinya dinikmati, diabadikan dalam jepretan kamera, bunga pohon Sepe akan perlahan-lahan layu dan gugur – helai demi helai. Sepe akhirnya hanya akan terlihat sebagai pohon biasa lagi yang berdaun hijau. Warna merah seketika berubah menjadi hijau. Tak ada lagi warna merah dan butuh waktu setahun lagi untuk bisa menikmati keindahan warna mekar bunganya ini. Biasanya mekar bunga pohon ini terjadi pada bulan November sampai Desember dalam tahun.

Indah memang. Seandainya pemerintah propinsi NTT menaruh perhatian khusus pada si Sepe dan menjadikannya objek wisata yang menarik. 🙂

*Google search

This slideshow requires JavaScript.

Musim Hujan Pindah Jadwal

Musim kemarau yang panjang ini rasanya sangat membakar karena panas matahari. Dari waktu ke waktu, terik matahari semakin menyengat, suhu bumi semakin membara. Setiap melewati jalan mengendarai sepeda motor, rasanya seluruh badan terpanggang sehingga tak sadar keringat harus bercucuran membasahi seluruh tubuh.

Syukur karena bisa berkeringat sehingga tak kelebihan lemak dalam tubuh akan tetapi keringatan karena panas matahari harusnya menjadi sebuah ‘peringatan’ bahwa global warming bukan main-main  – bukan  seruan belaka.

Dulu orang kenal kota SoE sebagai kota dingin karena memang dinginnya bukan main walau di siang bolong. Sekarang rasanya kota ini sudah semakin panas. Panasnya juga sudah tak beda jauh dengan tempat lain di daratan Timor ini. ‘SoE saja sudah panas, apalagi di tempat lain!’ Kita semua sudah semestinya berpikir jauh.

Banyak yang mengeluh karena panas tetapi rasanya beruntung karena kita yang terlahir di daratan Timor ini masih memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik. Walau panas sangat luar biasa, orang masih bisa beraktifitas di luar rumah, bahkan orang tua-orang tua di desa masih bisa berkebun – mempersiapkan lahan menyambut datangnya musim hujan.

Hujan pertama sudah terjadi di beberapa wilayah di daratan Timor termasuk kota SoE yang baru merasakan tetesan hujan pertama kemarin. Tanda-tanda baik bahwa musim hujan memang sudah di depan mata. Masyarakat petani tentunya sangat sangat bersyukur dan menaruh harapan tinggi bahwa mereka sudah bisa mengolah ladang mereka untuk menanam tanaman pangan. Sumber kehidupan sudah dekat.

Walaupun demikian yang menjadi concern tentunya musim kemarau yang semakin bergeser – tambah panjang dan musim hujan pun harus pindah jadwal – molor. Dulu biasanya musim hujan sudah terjadi pada bulan Oktober sehingga memasuki bulan November dan Desember semerbak hijaunya tanaman jagung sangat menggembirakan hati apalagi para petani. Sekarang bahkan sudah hampir memasuki bulan Desember, kita baru merasakan adanya hujan pertama. Berarti musim tanam bisa terjadi di akhir Desember atau bahkan di Januari dan Februari tahun berikutnya.

Manusia tentu bisa memiliki aneka cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim ini tetapi sampai kapan manusia akan terus bertahan kalau tidak bergegas dan sadar diri menghalau pemanasan global ini. Jangan sampai suatu hari tidak ada lagi musim hujan di tanah ini lalu kita akan?

 IMG_0267

Detail Is The Matter

Woshi woshi,
Hola hola
Hello hello
Kamastaka, 2X

Woshi
Hola
Hello
Kamastaka,

Noted, kata-kata di atas bukan puisi melainkan deretan kata yang artinya ‘hello, how are you’. Kata pertama sampai tiga memiliki arti yang sama ‘halo’ dan yang terakhir ‘apa kabar?’ dari bahasa Tagalog.

Baru pertama kali mendengar dan merasakan sensasi dari dinamika perkenalan ini 🙂 di acara Training Dasar ERT (Emergency Response Team). Capek yang sangat, setelah menempuh perjalanan udara 1 1/2 jam ditambah tugas kelompok yang langsung disodor tatkala check in di hotel, serasa sirna ketika diajak untuk menyanyikan penggalan kata-kata ini sambil menyalami satu sama lain.

Kesan pertama asyik dan menyenangkan. Teman-teman yang ikut dalam training ini juga pasti merasakan hal yang sama. Terlihat malam itu (16/03/2014) semua senyum-senyam lebar, bergerak kiri-kanan bahkan ada yang tabrak-tabrakan hanya mau memberi salam pada teman yang lain. Woshi (bowing), hola (ekspresi dah), hello (ekspresi dah juga), Kamastaka (menyalami teman).

Detail is the matter.

Awal perkenalan bersama sesama peserta dan panitia menyenangkan. Suasana kikuk yang sempat saya rasa bisa cair dan bisa segera mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lain. Tetapi kesenangan ini hanya sesaat. HP peserta langsung diamankan panitia, no contact, no say hallo again. Suasana emergency langsung di-setting malam itu juga. Peserta training mulai diwanti-wanti untuk selalu mengingat detail.

Lha saya bingung. Mulai bertanya-tanya dalam hati, yang dimaksud dengan detail itu apa?

Tanda tanya masih ter-ngiung-ngiung di kepala. Materi hari pertama rasanya berlangsung begitu cepat dan dalam penyampaian materi kata ‘detail’ selalu diulang. Detail is the matter dan memang ini kuncinya dalam training dasar emergency response ini. Rupanya ini adalah kejutan yang diberikan panitia. Kejutannya adalah simulasi-simulasi yang diperankan oleh panitia sendiri. ‘Perlu diingat kalau kita mengenakan nama berarti kita fasilitator, tetapi ketika melepaskan nama berarti kita menjadi lain,’ kata salah satu panitia. Saya dan mungkin teman-teman peserta lain juga belum paham akan penyampaian ini sampai terjadinya simulasi-simulai yang benar-benar menegangkan. Pressure nya betul terasa.

Hari pertama betul-betul menegangkan sampai saya sendiri bingung. Tetapi lebih baik bingung dari pada sok tau :-). Dan dalam kebingungan ini saya belajar dan belajar. Belajar mendengar, belajar menganalisa situasi dan akhirnya benar-benar belajar akan segala hal yang bisa saja terjadi dalam emergency response di lapangan. Pada akhirnya bisa tahu Detail is the matter yang dimaksud. Ternyata ini dan itu (maaf tidak bisa didetailkan karena rahasia perusahaan 🙂 )

Detail is the matter. Saya salut dengan pelatihan ini dan panitia yang menyiapkannya – berharap bisa menjadi salah satu dalam team. (Tepuk Salut)

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya

Our Team (kiri-kanan); Theus, Arie, Anggoro, Godlief, Cece & saya

Sentuh Hati Anak-Anak

Sudah dua kali mengikuti acara Family Gathering, istilah kumpul keluarga dan anak-anak binaan Plan. Pertama di dusun Taetimu desa Nunleu yang diselenggarakan pada 4 Maret dan kedua kemarin tanggal 13 Maret di desa Pili. Kegiatan ini tentunya dimaksudkan untuk membina keakraban, kebersamaan antar keluarga dan anak-anak binaan Plan di desa dan mengakrabkan mereka dengan Plan dan stafnya. Lebih dari itu keluarga dan anak-anak bisa bersenang ria sambil lebih mengenal Plan dan mengetahui program-program yang dijalankan LSM ini. Bahwa supaya keluarga dan anak-anak tidak merasa ‘sia-sia’ menjadi bagian dari keluarga Plan.

Dua kali mengikuti proses ini, secara pribadi ada pembelajaran yang sangat berarti. Bisa mengamati proses yang terjadi di sana – apa yang dilakukan oleh masyarakat dan Plan dan bagaimana berinteraksi dengan keluarga dan anak-anak di desa. Saya lebih tahu akan posisi saya sebagai orang yang mempresentasikan lembaga dan kerja-kerjanya.

Selain ketertarikan untuk belajar, saya bisa mengalami dan memahami apa yang terjadi di desa. Saya juga adalah anak desa, tumbuh dan besar di desa, tentu saja kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan saya waktu masih kecil dulu. Melihat kehidupan keluarga dan anak-anak desa ini, saya seolah kembali merasakan suasana hidup tempoe doeloe – saat masih kecil. Sempat mengalami kehidupan yang belum ada listrik dan hanya mengandalkan lampu ‘pelita’. Kemudian kehidupan sedikit berkembang dengan adanya ‘lentera’ dan petromak atau sebutan orang desa  ‘lampu gas’. Malam sangat pekat dan rumah-rumah penduduk hanya diterangi cahaya pelita atau lentera atau petromak.

Saya pernah berada pada situasi di mana ketika sudah ada ‘listrik masuk desa’ tetapi hanya ada 2 TV di desa (milik Chinese yang tinggal di desa). Kami bergerombol dan berdesak-desakkan tanpa malu hanya untuk menonton serial film kesukaan seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng. Serial acara sore yang paling heboh seperti Satria Baja Hitam. Kadang diusir secara kasar oleh tuan rumah untuk tidak menonton – disiram dengan air, pintu dan jendela rumah ditutup. Tetapi tho kami tak tahu yang namanya ‘malu’. Yang ada di benak adalah bagaimana untuk bisa melewati rintangan dan hambatan untuk menonton ini.

Anak-anak Saat Asyik Melihat Klip Video di Laptop

Anak-anak; Saat Asyik Menonton Klip Lagu di Laptop

Saya pernah berada pada kehidupan belantara yang mana pilihan bermain selain di lingkungan sekolah adalah hutan, areal sawah, padang rumput dan kali. Pilihan bermain di sekolah pun hanya sebatas bermain kelereng, karet, kartu bergambar, siki doka (Indonesianya apa ya? biasanya dimainkan oleh anak-anak gadis tetapi kadang anak laki-laki juga ikut bermain), benteng, perang-perangan di hutan, gala asin. Permainan yang agak mewah mungkin hanya ‘kasti’ – kasti tradisional.

Saya sempat merasakan saat-saat suram dalam pendidikan – pendidikan keras ‘di ujung rotan ada emas’. Guru-guru sangat keras dalam mendidik sehingga hukuman ‘dirotan’ adalah hukuman yang wajar dan pantas untuk anak-anak.

Atribut untuk sekolah sangat minim. Topi, dasi dan sepatu hanya dikenakan pada hari Senin karena ada apel bendera (upacara bendera). Hari-hari selanjutnya hanya bisa mengenakan seragam merah-putih dan atribut lainnya – itupun hanya punya sepasang pakaian seragam. Sepasang seragam dipakai selama seminggu! bayangkan harumnya seperti apa? Apalagi jeda (istilah masih SD ‘bersenang’ I dan II) kami sukanya bermain bola kaki. 🙂

Demikian berada dua kali bersama keluarga, terutama anak-anak desa ini, ada proses belajar yang sangat mahal. Ada kesempatan di mana bisa mempresentasikan keberadaan lembaga pada masyarakat dan mencoba membangkitkan pemahaman mereka akan apa yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan LSM ini. Dan lebih serasa kenangan akan masa lalu bangkit kembali.

Kenangan akan kehidupan yang sulit ini yang senantiasa membuat saya lebih berani dan semangat untuk selalu kembali ke desa. Ingin rasanya saya bisa membagikan pengalaman hidup pada mereka. Dalam dua kali kesempatan ini saya selalu mengatakan ‘Bapak-ibu dan adik-adik, saya juga tinggal di desa. Saya dari desa, tetapi kemudian bisa sekolah sampai kuliah karena kerja keras orangtua.’

Pengalaman saya mungkin tak seberapa dan belum mahal harganya, tetapi paling kurang mereka (terutama orangtua) bisa termotifasi untuk terus menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin dan bukan hanya sebatas sampai S3 (SD-SMP-SMA), tetapi bisa sampai Perguruan Tinggi dan akhirnya bisa bekerja dan hidup mandiri – terutama kembali bisa memberi yang terbaik untuk masyarakatnya.

Ingin rasanya bisa menyentuh hati anak-anak ini lebih dalam, mengajak mereka untuk menikmati hidup mereka, riang gembira untuk bersekolah – belajar tanpa beban dan takut. Terus berjuang tanpa putus asa dan terus membangkitkan rasa percaya diri untuk menatap masa depan dan akhirnya bisa meraih cita-cita yang mereka impikan. Ingin rasanya menyentuh hati mereka lebih dalam agar mereka mengambil hikmah dari kehidupan yang saat ini mereka alami. Sehingga suatu saat ketika mereka menjadi orang sukses, mereka tahu seluk-beluk dan perjuangannya hingga mencapai sukses itu.

Sentuh hati anak-anak ini untuk mengenal diri mereka dan lingkungan di mana mereka berada. 🙂