Air Tagepe

Belakangan muncul satu objek wisata baru di kabupaten TTS bernama Air Tagepe. Tempat ini terletak di desa Noinbila kecamatan Mollo Selatan – sekitar 10 km sebelah utara kota SoE dengan mengambil jalur jalan menuju Kapan.

Air Tagepe. Dari namanya sudah bisa diketahui bahwa tempat wisata ini adalah jenis wisata air atau aquatic. ‘Tagepe’ berasal dari Bahasa Melayu Kupang yang dalam Bahasa Indonesia baku sama artinya dengan ‘terjepit atau terhimpit’. Sehingga Air Tagepe artinya air yang terjepit atau terhimpit. Tempat ini dinamakan Air Tagepe karena aliran air mengalir melewati celah barisan tebing batu yang sangat sempit. Lebar kedua sisi tebing bervariasi mulai dari 1 meter hingga 3 meter. Beberapa bagian memiliki lebar hanya 1 meter dan bagian lain berlebar 3 meter.

Air Tagepe adalah sebagian dari arus sungai yang memiliki hulu dan hilir namun hanya bagian ini yang memiliki keunikan. Bagian arus sungai ini yang menarik dan kelihatan indah karena barisan tebing batunya yang sangat mempesonakan mata. Barisan tebing nampak seperti hasil pahatan. Beberapa bagian lain berbentuk seperti gua-gua kecil. Tebing batu berwarna cokelat kehijau-hijauan karena lumut yang menempel. Tingkat kelembaban sangat tinggi di areal ini sehingga wajar kalau berlumut dan licin. Ada beberapa pancuran air yang mengalir turun melalui sisi-sisi tebing dan ada satu bagian yang berbentuk air terjun kecil. Semua bentuk tebing batu ini adalah proses alami.

Arus air tagepe sendiri tidak terlalu deras, walau air mengalir melalui tempat yang sempit. Terdapat beberapa genangan air yang cukup dalam sekitar 1 meter – setinggi dada orang dewasa. Orang dewasa tentu sangat enteng berjalan menyusuri sungai tetapi untuk anak-anak perlu diwaspadai oleh orangtua karena bisa tenggelam. Airnya juga dingin. Selain itu dasar sungai berbatu yang mana bisa melukai kaki jika tidak berhati-hati dan licin.

Areal Air Tagepe ini juga adalah areal hutan. Alam masih hijau dan sejuk karena banyak pohon rindang dan udaranya cukup dingin. Siang semakin terik di luar sana tetapi di areal Air Tagepe, yang ada hanya kesejukan dan rasanya ingin memeluk hangatnya kekasih di sini. Tetapi jika tak membawa kekasih, anda bisa memeluk pohon-pohon yang sudah setia menunggu anda. Suasana romantisme bercinta dengan alam di sini semakin indah dengan terdengarnya suara merdu burung-burung yang berkicau riuh rendah.

Tempat ini indah untuk diabadikan dalam setiap jepretan foto. Anda bisa menyusuri jalur Air Tagepe sepanjang 1 km sampai menemui air terjun dan pastikan anda membidik setiap sudut tempat ini untuk sewaktu-waktu bisa dikagumi ketika anda sudah menjauh darinya. Oh ya,..Air Tagepe pernah menjadi satu areal kunjungan MTMA (My Trip My Adventure) yang tayang di Trans TV pada hari Sabtu, 4 Februari 2017.

Satu pesan dari bro Nicholas Saputra – artis dan traveler sejati. ‘Kadang HP atau kamera saja yang diberi memori, tetapi otak kita lupa dikasih memori.’ Kata-katanya dalam broers. Jadi jangan lupa, otak dan hati kita harus selalu dikasih memori setiap mengunjungi tempat-tempat yang indah seperti ini. Semoga anda paham maksudnya. Kalau tidak paham, sering-seringlah mengunjungi alam bebas.

Air Tagepe menyimpan banyak keindahan broers. Tetapi dibalik keindahannya pengunjung perlu waspada dan berhati-hati. Pada musim hujan, tebing batu yang sempit ini bisa rawan longsor. Selain itu juga perlu waspada akan bahaya banjir. Sudah pasti jika terjadi banjir, air akan mengalir sangat deras dan dalam pada areal sempit seperti ini.

Akhir kata, sempatkan diri menikmati keindahan alam wisata Air Tagepe. Sekian.

IMG_7716IMG_7764IMG_7699IMG_7697IMG_7717IMG_7723IMG_7708IMG_7730IMG_7727IMG_7801

Musim Hujan Pindah Jadwal

Musim kemarau yang panjang ini rasanya sangat membakar karena panas matahari. Dari waktu ke waktu, terik matahari semakin menyengat, suhu bumi semakin membara. Setiap melewati jalan mengendarai sepeda motor, rasanya seluruh badan terpanggang sehingga tak sadar keringat harus bercucuran membasahi seluruh tubuh.

Syukur karena bisa berkeringat sehingga tak kelebihan lemak dalam tubuh akan tetapi keringatan karena panas matahari harusnya menjadi sebuah ‘peringatan’ bahwa global warming bukan main-main  – bukan  seruan belaka.

Dulu orang kenal kota SoE sebagai kota dingin karena memang dinginnya bukan main walau di siang bolong. Sekarang rasanya kota ini sudah semakin panas. Panasnya juga sudah tak beda jauh dengan tempat lain di daratan Timor ini. ‘SoE saja sudah panas, apalagi di tempat lain!’ Kita semua sudah semestinya berpikir jauh.

Banyak yang mengeluh karena panas tetapi rasanya beruntung karena kita yang terlahir di daratan Timor ini masih memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik. Walau panas sangat luar biasa, orang masih bisa beraktifitas di luar rumah, bahkan orang tua-orang tua di desa masih bisa berkebun – mempersiapkan lahan menyambut datangnya musim hujan.

Hujan pertama sudah terjadi di beberapa wilayah di daratan Timor termasuk kota SoE yang baru merasakan tetesan hujan pertama kemarin. Tanda-tanda baik bahwa musim hujan memang sudah di depan mata. Masyarakat petani tentunya sangat sangat bersyukur dan menaruh harapan tinggi bahwa mereka sudah bisa mengolah ladang mereka untuk menanam tanaman pangan. Sumber kehidupan sudah dekat.

Walaupun demikian yang menjadi concern tentunya musim kemarau yang semakin bergeser – tambah panjang dan musim hujan pun harus pindah jadwal – molor. Dulu biasanya musim hujan sudah terjadi pada bulan Oktober sehingga memasuki bulan November dan Desember semerbak hijaunya tanaman jagung sangat menggembirakan hati apalagi para petani. Sekarang bahkan sudah hampir memasuki bulan Desember, kita baru merasakan adanya hujan pertama. Berarti musim tanam bisa terjadi di akhir Desember atau bahkan di Januari dan Februari tahun berikutnya.

Manusia tentu bisa memiliki aneka cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim ini tetapi sampai kapan manusia akan terus bertahan kalau tidak bergegas dan sadar diri menghalau pemanasan global ini. Jangan sampai suatu hari tidak ada lagi musim hujan di tanah ini lalu kita akan?

 IMG_0267

Mengapa Selalu BBM Yang Jadi Masalah?

Tanggal 18 November 2014, BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi secara resmi naik dari Rp. 6.500 menjadi Rp. 8.500. Adalah Presiden baru kita, Jokowi, yang menjadi aktor utama kenaikan BBM ini. Dilantik 20 Oktober 2014 lalu dan belum genap sebulan menduduki jabatan sebagai Presiden RI ke-7, Jokowi dengan sangat berani menaikan harga BBM sebesar Rp. 2000.

Diungkapkkan bahwa alasan kenaikan ini untuk mengalihkan dana subsidi BBM dari sektor konsumtif ke sektor produktif. Selain itu untuk membantu memperbaiki dan membangun infrastruktur baru sebagaimana digariskan dalam pemaparan visi misinya. Dan bahwa pemerintah juga mengalihkan dana subsidi untuk meningkatkan berbagai layanan publik yang menjamin kehidupan masyarakat kecil. Sebut saja pengalihan dana untuk pembuatan 3 kartu yang dikatakan sakti yaitu Kartu Indonesia Sehat, Kartu Keluarga Sejahtera dan Kartu Indonesia Pintar.

Pemikiran pemerintah ini tentunya baik. Ketika dana subsidi yang sedianya untuk digunakan dan dinikmati oleh masyarakat kecil ternyata dimanfaatkan juga oleh mereka yang ‘horang kaya’, padahal BBM non subsidi sudah disediakan untuk kalangan ini. Namun niat baik pemerintah ini ternyata ‘tak mudah’ dipahami masyarakat luas. Masyarakat tetap menganggap kenaikan BBM sebagai sebuah ‘beban’ yang makin dan makin memberatkan hidup.

Sebagian masyarakat tentu paham akan kenaikan ini. Misalnya di media social banyak bermunculan meme seperti ini. ‘Rokok 16.000 ribu bisa beli’, Bear 25.000 ribu bisa beli, Chivas 200 ribu bisa beli, bensin naik 2.000 protes’ 😛 Dan masih ada banyak lagi meme yang ternyata bernada ‘mendukung’ kenaikkan BBM bersubsidi ini.

Bentuk dukungan kenaikan BBM juga beriringan dengan gelombang protes. Unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah yang memprotes kenaikan BBM bahkan berujung pada bentrok dengan aparat polisi. Tak hanya mahasiswa, kelompok-kelompok masyarakat lain juga ikut protes seperti aksi mogok Angkutan umum. Kalangan elite politik pun tak kurang memprotes kenaikan BBM ini. DPR kini berupaya menggunakan hak interpelasinya yaitu hak untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kenaikan BBM.

Mengapa selalu BBM yang jadi masalah? Seandainya BBM bisa ngomong pasti dia bisa bilang ‘Why Always Me?’ (Kalimat yang tertulis di kaos dalam Mario Ballotelli saat membela klub Manchester City. Super Mario menunjukkan tulisan ‘Why Always Me?’ ketika mencetak gol pembuka ke gawang Manchester United tahun 2011. Tulisan ini adalah ungkapan frustrasinya karena selalu menjadi sorotan berbagai pihak, tak kurang media, karena kelakuan kontroversialnya baik di dalam maupun di luar lapangan).

Memang perkara kenaikan BBM bukan perkara gampang. Perkara kenaikan BBM selalu menjadi masalah. Masalahnya tentu bukan kenaikan BBM itu saja tetapi yang sebenarnya menjadi permasalahan utama adalah harga-harga barang dan jasa ikut melonjak sebagai respond atas kenaikan BBM. Hampir semua hal yang berkaitan dengan ‘harga jual beli’ ikut naik. Hal ini yang dikuatirkan dan tentu berdampak pada daya beli masyarakat. Yang berduit saja mengeluh karena semua harga naik, apalagi masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah. Akibatnya yang miskin tetap miskin, bahkan bisa bertambah miskin. Yang belum miskin bisa perlahan-lahan menuju miskin. Berbagai kalangan melihat dan menilai seperti ini.

Seandainya BBM naik dan harga barang-barang lain tak ikut naik, tentu masyarakat tidak terlalu merisaukan dan terlampau galau memikirkan kenaikan BBM. Dan ini yang mungkin (sengaja) dilupakan pemerintah untuk melakukan inspeksi dan penekanan pasar setelah mengumumkan kenaikan BBM yang mana tujuannya tentu untuk menekan kenaikan harga-harga barang dan jasa. Atau mungkin inikah yang dinamakan sebuah ‘kompromi’ untuk tujuan yang lain – peningkatan ekonomi? Peningkatan ekonomi tetapi jika masyarakat nya juga tidak memiliki daya beli? Apakah ini peningkatan? Sementara ‘upah’ pun belum tentu langsung naik setelah BBM naik. 😛

Apapun itu, BBM sudah naik. Pemerintah tentu sudah memikirkan yang terbaik untuk bangsa ini. Mari kita percayakan semuanya pada pemimpin kita. 😀

Sakitnya thu di sini!

Sakitnya thu di sini!

Bapak Pilkada Tak Langsung

Orang Indonesia bilang tahun 2014 adalah tahun politik. Tak dapat disangkal bahwa tahun ini benar-benar menjadi tahun yang penuh dengan gejolak politik. Tak hanya para elite politik, masyarakat sipil yang sebelumnya tak paham dan tak mau tahu soal politik pun ikut berdinamika dalam dunia perpolitikan Indonesia. Gairah untuk mengikuti perkembangan dunia politik Indonesia tahun 2014 boleh dikatakan persentasinya naik (pendapat sendiri).

Euforia untuk terjun dan mengikuti perpolitikan Indonesia tentu tak lepas dari satu tokoh fenomenal yaitu Jokowi – sejak beliau dinyatakan resmi sebagai calon presiden Indonesia. Sadar atau tidak memang Jokowi lah yang menginspirasi, mengundang gejolak, menggairahkan batin dan jiwa seantero masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah, untuk ambil bagian dalam ritme perpolitikan Indonesia tahun 2014. Jokowi yang bernama lengkap Joko Widodo, adalah man of the match nya kalau kita pinjam istilah dunia sepak bola.

Tahun politik Indonesia. Mula-mula masyarakat Indonesia dihadapkan pada pemilihan legislatif yang berlangsung pada tanggal 9 April. Selanjutnya masyarakat berdinamika lagi dalam Pilpres yang berlangsung pada tanggal 9 Juli. Waktu setelah pemilu legislatif sampai hari H pilpres adalah masa yang seru, manakala hanya ada dua pasangan calon presiden dan wakil presiden – nomor urut 1 untuk Prabowo-Hatta dan nomor urut 2 untuk Jokowi-JK. Jual beli serangan bak permainan sepak bola sangat menguras tenaga dalam masa-masa kampanye. Masyarakat diibaratkan penonton, juga dibuat tegang. Kendati demikian, pada akhir pertandingan hanya ada satu pemenang dan pasangan nomor urut 2 – Jokowi-JK lah yang menang setelah KPU mengumumkan hasil perhitungannya secara resmi.

Tak hanya sampai di sini, gejolak politik masih terus berlanjut meski hasil perhitungan KPU sudah final. Masyarakat digiring ke tahap penggugatan hasil Pilpres di Mahkama Konstitusi (MK) oleh kubu yang kalah (baca: pasangan Prabowo-Hatta). Hasil dari gugatan ini ya tetap kalah juga (hadeww cuape dech pak). MK menolak gugatan yang resmi diputuskan pada tanggal 22 Agustus 2014.

Lagi-lagi cerita belum berakhir sampai di sini. Kini masyarakat kembali dibuat melek kalah isu pemilihan kepala daerah (Bupati, Walikota dan Gubernur) yang akan dilakukan oleh DPR benar-benar menjadi keputusan final dalam sidang paripurna DPR tanggal 25 September 2014. Palu sudah diketok (seandainya diketokkan di kepala ketua DPR nya). Artinya ke depan Pilkada akan dilakukan oleh DPR. Dan karena putusan ini, masyarakat luas merasa diperdaya secara sistimatis, massif dan membahayakan. Alhasil muncul beragam tanggapan di berbagai media yang pada intinya bahwa hak demokrasi masyarakat telah dikebiri oleh putusan ini.

Presiden SBY yang nota bene adalah hasil pemilihan langsung oleh rakyat, mejadi pribadi yang paling dibenci sejagat Indonesia. Beliau lantas mendapat julukan baru sebagai ‘Bapak Pilkada Tak Langsung’. Beliau bersama partainya – Partai Demokrat menjadi sasaran amukan masyarakat. Partai Demokrat juga dicap sebagai partai penipu dan pembohong besar rakyat Indonesia.

Dalam media sosial muncul has tag ini #ShameByYou#, #shameOnYouSBY#, #WelcomeMrLiar#.
Dari sekian banyak hujatan, makian dan sebagainya dalam media sosial, mungkin status ini yang perlu direnungkan bersama dan sepantasnya menjadi kata-kata penghiburan untuk masyarakat yang sampai detik ini masih memperjuangkan nasib Pilkada langsung.
Fullscreen capture 9302014 115914 PM

Salam bagimu ya Raja,.

Salam bagimu ya Raja,.

Go Green: Simbolisasi dan Suatu Pertanda

2 September 2014 menjadi hari yang sangat penting untuk ‘lembaga biru’ (baca: Plan Indonesia) tempat saya bekerja saat ini. Tanggal ini menjadi penting karena secara khusus lembaga ini merayakan Ulang Tahunnya yang ke-45 – artinya Plan sudah berkarya selama 45 tahun di negeri tercinta Indonesia. Lebih jauh tentang Plan Indonesia bisa dibaca di sini.

Dalam rangka memeriahkan hari jadi ini, maka tema besar yang diusung adalah ‘Go Green’ dengan semangat 45. Terpampang dalam official banner (banner resmi ULTA), bahwa 45 identik dengan semangat perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya, maka semangat yang sama yang mau ditransfer oleh lembaga ini dalam mengkampanyekan semangat Go Green – semangat mencinta bumi dengan menanam tanaman hijau.

Perayaan ULTA ini dirayakan secara serempak oleh semua kantor perwakilan Plan di beberapa wilayah Indonesia. Plan Program Unit Soe adalah salah satu kantor perwakilan Plan di kabupaten TTS – NTT. Sebagai bagian dari anggota keluarga lembaga biru, maka semua staff ikut ambil bagian dalam memeriahkan hari jadinya ini.

Plan PU SoE, sebutan singkatnya demikian, mewujudnyatakan tema besar ulang tahun Plan Indonesia dalam konteks budaya lokal di kabupaten TTS. Kali ini Plan PU Soe mencoba merayakan hari jadi Plan Indonesia di luar kantor, lebih tepatnya perayaan ini dilakukan di salah satu sekolah, Sekolah Satap Penmina yang masuk dalam wilayah dampingan Plan. Plan PU Soe mencoba merayakannya bersama anak-anak sekolah, guru-guru dan masyarakat – perwakilan masyarakat dengan tujuan yang lebih jauh dan mulia yaitu untuk mempromosikan semangat Go Green.

Bahwa semangat Go Green bukan hanya menjadi sebuah tema yang tertulis indah tetapi tema ini harus menjadi semangat bersama – semangat ‘lembaga biru’ sebagai sebuah LSM yang merangkul dan mengajak masyarakat untuk mencintai bumi dengan gerakan penghijauan.

Menjadi nilai tambah bahwa Plan Unit Soe sudah memilih tempat yang tepat di mana semangat Go Green dilakukan bersama anak-anak sekolah. Plan PU Soe menyediakan 450 anakan dan ditanam oleh anak-anak sekolah, guru-guru dan perwakilan beberapa masyarakat desa.

Semangat Go Green!

Semangat Go Green bersama anak-anak dan guru-guru!


Tanggal 2 September 2014 menjadi hari yang bersejarah untuk lembaga biru secara umum tetapi lebih khusus ini sangat berkesan untuk Plan PU Soe. Semua staff bersama anak-anak sekolah, guru-guru dan beberapa tokoh masyarakat nampak antusias untuk menanam anakan di sekitar lingkungan sekolah. Masing-masing anak diberi anakan. Mereka menggali lubang sendiri dan menanam anakannya. Tak lupa anakannya langsung disiram dengan air. Beruntung sekali bahwa lokasi sekolah ini ternyata sangat dekat dengan sebuah danau kecil.

Anak-anak didampingi oleh guru-guru dan staff Plan sendiri. Berkali-kali anak-anak dititipi pesan untuk selalu merawat tanamannya, menyiram tanamannya hingga tumbuh besar. Sangat mengesankan. Peristiwa hari ini hanya simbolisasi semangat Go Green – gerakan penghijauan akan tetapi juga menjadi suatu pertanda yang baik karena sudah mengajarkan anak-anak usia dini untuk mencintai lingkungannya, mencintai alamnya, mencintai buminya.

Sebagaimana bumi yang semakin tidak bersahabat – iklim yang tak menentu, perubahan cuaca, suhu bumi yang semakin panas (global warming) maka sekiranya hal kecil yang dilakukan bersama ini bisa membangkitkan kesadaran, menumbuhkan cinta akan alam semesta. Semoga simbolisasi yang dilakukan Plan PU Soe menjadi pertanda baik bagi anak-anak di wilayah dampingannya.

NB: Sekedar sharing dan dokumentasi mengenai kegiatan yang dilakukan Plan di desa!

Mari Menyambut Pilpres 9 Juli 2014

Sebulan lebih saya absen menulis dalam blog ini (baca: ngeblog). Banyak kesibukan yang akhirnya membuat diri lupa dan sedikit sulit menemukan waktu untuk ngeblog. Ada kegiatan kantor yang beruntun selama sebulan ini, ada hiruk pikuk pesta sepak bola dunia yang kalau tak nonton – apalagi team favorite, serasa ada yang hilang. Lebih dari itu, saya lagi merenungkan soal mau dibawa ke mana bangsa dan negara ini? Wkwkwkw 😀 Ya begitulah !!!

Intermezzo‼

Tanggal 9 Juli 2014, sejarah baru akan terlukis di tanah air tercinta Indonesia. Tanggal ini menandai babak baru pemilihan Capres dan Cawapres. Tinggal sehari lagi bangsa Indonesia akan memiliki pemimpin baru – Presiden dan Wakil Presiden baru yang akan menduduki tahta tertinggi di negeri ini selama 5 tahun ke depan.
Tentang pesta demokrasi lima tahunan ini, saya – sebagai warga negara, mau memberi secuil pandangan pribadi tentang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ini.

Pemilu kali ini rasa-rasanya menjadi Pilpres yang berbeda. Suasananya seru dan sangat menegangkan. Pemilu-pemilu sebelumnya mungkin sama menegangkan, tetapi tahun-tahun sebelumnya aggap saja saya masih buta – belum memahami apa itu Pemilu yang sebenarnya. Coblos pertama asal ikut rame. Tahun pertama ikut serta dalam Pemilu adalah tahun 2004 kala itu untuk pertama kalinya saya terdaftar sebagai salah satu DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang telah memenuhi batas usia minimum untuk ikut dalam Pemilu. Hasilnya saya ikut coblos penguasa yang sementara ini berkuasa. Ya intinya ikut rame. 😛

Yang beda dari sebelumnya bahwa dalam Pemilu kali ini hanya ada dua pasangan Capres dan Cawapres. Dengan demikian hak suara tiap warga negara tentunya hanya akan jatuh pada dua pilihan saja – nomor 1 atau nomor 2. Nomor 1 untuk Prabowo – Hatta sementara nomor 2 untuk Jokowi dan JK.

Hanya ada dua pilihan ini yang akhirnya membuat warga negara ini seolah dibawah atau tepatnya digiring untuk memihak pada satu kubu politik – kubu nomor urut 1 atau kubu nomor urut 2. Artinya perseteruan politik kaum elit negeri ini telah mempengaruhi masyarakat untuk masuk dalam drama politik Pilpres tahun 2014. Masyarakat yang sebelumnya tak melek politik akhirnya terbangun dan ramai-ramai ikut dalam dinamika Pilpres.

Masyarakat ramai-ramai omong politik, berargumen tentang Capres dan Cawapres. Black campaign terdengar dan tertulis di mana-mana. Lebih dari itu, masyarakat sendiri mulai terkotak dalam dua pilihan. Hasil dari kotak-kotak ini yang akhirnya melahirkan pertikaian horisontal antar masyarakat sendiri. Masyarakat yang sebelumnya tergolong dalam masyarakat cinta damai dan berhati nyaman malah bertikai hanya karena memihak pada salah satu pasangan Capres dan Cawapres (baca : tragedi di Jogja ).

Di dunia maya (Facebook, Twitter, BBM, Instagram – kebetulan saya punya ini) lebih rame lagi membahas tentang Capres dan Cawapres pilihannya. Media-media social ini sepertinya menjadi arena paling bebas untuk mengekspresikan dukungan pada salah satu pasangan baik melalui tulisan-tulisan sepotong maupun melalui foto atau meme. Hasilnya timbul komen-komen yang menjurus pada isu sara dan tak kurang ada yang berkonflik dalam dunia maya. Ada tindak kekerasan verbal dalam dunia maya.

Dalam media sosial, Capres dan Cawapres kali ini dibanding-bandingkan dengan kisah pewayangan antara Pandawa dan Kurawa – siapa yang Pandawa dan siapa yang Kurawa ya itu penilaian masyarakat yang sempat saya baca dalam media sosial. Yang lain membandingkan kedua pasangan Capres dan Cawapres ini dengan cerita Harry Potter – Dumbledor dan Voldemort. Ada lagi yang membandingkannya dengan cerita film The Lord of The Ring – salah satu Capres dan Cawapres dianggap sebagai the Companion of the Ring dan yang satunya dianggap pengikutnya Saruman. Wow. Aku gak ikut-ikut. Cuman baca trus tertawa geli. 😀

Itulah politik. Siapa saja bebas berbicara, berpendapat mengenai Capres dan Cawapres pilihannya. Tentunya tiap-tiap orang – sebagai warga negara yang baik tahu mana pilihan yang tepat. Tiap warga negara tentu memiliki alasannya sendiri untuk memilih no 1 atau no 2.

Politik adalah sesuatu yang saya benci dan sengaja untuk tidak tahu, tetapi pada akhirnya saya tidak bisa memungkiri bahwa politik ternyata penting untuk diketahui. Politik bukan hanya milik kaum elit politik tetapi juga milik tiap warga negara yang mau mengubah nasib bangsanya ke arah yang lebih baik. Ketika masyarakat salah memilih pemimpinnya maka negara ini akan hancur dalam segala aspek kehidupan – ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Mari kita sambut Pilpres besok (9/7/2014) dengan memilih Capres dan Cawapres yang tepat menurut pilihan hati nurani kita masing-masing.

Pilih saya yang setia menunggumu,.:-P

Pilih saya yang setia menunggumu,. 😛

Kapela Dipolitisasi?

Note: Buah pikiran yang gagal di post tanggal 1 April.

1 April,.April Mop, hari yang dianggap wajar untuk tipu menipu (untung hari ini tidak kena tipu malahan bisa menipu sedikit 🙂 ) . 1 April juga menandai awal bulan baru dan yang pasti tinggal 9 hari menuju perhelatan akbar pesta demokrasi di Indonesia – Pemilu. Seru?? So pasti seru,.karena tinggal hitung mundur dan angka ‘orang gila’ akan bertambah, paling sedikit dua sampai tiga orang lha:-) .

Di hari yang semakin singkat ini kampanye-kampanye dan promosi diri semakin gencar. Kampanye adalah hal wajar untuk mencari simpatisan dan dukungan untuk menjadi wakil rakyat. Tetapi yang menjadi soal kalau kampanye diikuti ‘tebar pesona’. Yang sebenarnya bukan berapa banyak amplop yang akan dikeluarkan untuk membiayai kampanye tetapi seberapa besar seorang caleg kompatible dalam menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Apakah visi misinya akan pas pada rakyat yang ia wakili?

Beberapa kejadian (satu kejadian yang paling nyata di desa sendiri) promosi diri caleg sangat menyayat hati nurani. Ceritanya di desa lagi heboh soal bantuan untuk pembangunan Kapela dari seorang Caleg. Secara pribadi saya tidak bisa mengatakan ‘setuju’ ataupun bilang ‘tidak setuju’. Untuk itu saya mencoba netral melihatnya dan membahasakannya di sini.

Alasan tidak setuju karena moment promosi diri yang model ini tidak pas. Singkat saja, kenapa niat membantu masyarakat tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang? Sudah dekat Pemilu baru kelihatan baiknya. Hehe 🙂 Setuju, kalau melihat situasi masyarakat saat ini. Sejarah panjang pembangunan Kapela ini juga menjadi alasan kenapa saya setuju dengan masyarakat desa yang setuju-setuju saja menerima bantuan ini.

Di tengah situasi yang tak menentu, masyarakat desa seakan menemukan ‘malaikat penyelamat’ yang datang di waktu yang tepat. Singkatnya bukan visi misi yang dilihat lagi oleh masyarakat tetapi niat tulus untuk membantu yang kemudian dianggap masyarakat sebagai orang yang baik dan tepat. So, salah???

Bukan hanya itu, masyarakat ini bukan tanpa alasan jikalau menoleh ke belakang dan melihat sejarah panjang pembangunan Kapela. Menurut cerita bapak yang sekarang menjabat sebagai Ketua Lingkungan, pembangunan Kapela sudah dimulai sejak saya belum lahir. Artinya rencana dan fanderen (sebutan orang desa untuk fondasi bangunan) sudah ada sejak tahun 1970an hingga 1980an. Pelopor pembangunan Kapela ini adalah Bapak Thobias Laka (almarhum, veteran dan ketua lingkungan saat itu). Saat saya sudah lahir dan duduk di banguku SD – tahun 90an, fanderen ini pun masih berdiri kokoh tetapi sudah ditumbuhi lumut.

Tahun-tahun berlalu, ada perubahan rencana. Fanderen untuk pembangunan Kapela dirubah dan dibuat lebih besar. Lubang untuk fanderen diperlebar dan diperdalam sekitar 1 X 1 m. Artinya pembangunan Kapela ini diperlebar dan diperbesar layak sebuah Gereja besar. Saya ingat saat masih SD, lubang untuk fanderen ini kami manfaatkan sebagai tempat persembunyian.

Seiring dengan pergantian Ketua Lingkungan, ada sedikit kemajuan. Lubang kosong ini akhirnya bisa diisi dengan fanderen. Tetapi lagi-lagi pembangunan Kapela ini terbengkalai. Fanderen yang sudah dibuat berdiri kokoh saja dengan rangka besi-besi yang siap untuk dicor. Lama ditinggal dan tak terurus dalam hitungan tahun, bahkan besi-besi yang siap cor hilang satu per satu tanpa bekas. Ketua lingkungan satu demi satu naik dan hasilnya sama. Pembangunan Kapela terbengkalai. Bapak Josef Sanam yang akhirnya naik sebagai Ketua Lingkungan pada tahun 2008 mencoba untuk meneruskan estafet pembangunan Kapela ini.

Sang Ketua Lingkungan dengan gigih memperjuangkan pembangunan Kapela ini. Berbagai upaya sudah ia lakukan, mulai dari menghimpun masyarakat, memotivasi mereka untuk kembali semangat sampai membuat mereka sadar untuk memberi sumbangan dalam rangka membangun Kapela. Hasilnya ada kemajuan pesat. Tiang-tiang Kapela mulai berdiri kembali.
Di tengah upaya pembangunan Kapela, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kadang sampai pada titik jenuh. Berbagai persoalan muncul, tantangan demi tantangan datang silih berganti. Pembangunan sempat terhenti sampai setahun. Tetapi prinsip teguh pada pendirian ini yang terus memompa semangat sang Ketua Lingkungan untuk melakukan segala daya.

Upaya lain mulai dilakukan yaitu pembuatan proposal untuk diajukan ke pemerintah daerah (Pemda). Syukur bahwa Pemda segera merespon melalui Kasisos. Masyarakat mendapat angin segar karena dibantu dengan sejumlah dana dan dana ini bisa dimanfaatkan untuk membuat rangka atap Kapela.

‘Putus nyambung putus nyambung’ seperti judul lagunya BBB milik Rafi Ahmad dkk. Pembangunan Kapela ini demikian. Putus, sambung lagi, putus dan sambung lagi. Kembali rangka baja atap ditinggal sampai setahun. Masyarakat seolah hilang harapan. Sang ketua lingkungan juga kehilangan semangat dan didera oleh tugas dinas. Masyarakat lagi-lagi jenuh dan enggan meneruskan pembangunan Kapela. Hal ini jelas bahwa semangat masyarakat sungguh redup.

Di tengah situasi ini, masyarakat seolah menemukan penyelamat. Muncul secercah harapan untuk meneruskan pembangunan Kapela terutama meneruskan pembuatan atap. Harapan ini muncul dari mana? Ya datang dari diri caleg ini. Bahwa ketika masyarakat kecil ini sudah tak berdaya didera tuntutan moral dan tuntutan keselamatan akhirat, maka bantuan dirasa sebagai sesuatu yang pas. Mereka tidak melihat dari siapa datangnya tetapi niat tulus untuk Tuhan yang kemudian dianggap wajar.

Situasinya demikian. Bahwa sejarah panjang telah mendera masyarakat. Saat masyarakat kecil ini yang sudah terkuras habis baik tenaga maupun kemampuan finansialnya, mereka akhirnya tak punya pilihan lain selain menerima segala bantuan dengan tangan terbuka. Kalau ada niat yang baik dari orang yang membantu kenapa tidak? Mungkin masyarakat berpikiran seperti ini. Lantas masyarakat ini akan langsung dicap bodoh dan murahan?

Politisasi? May be yes may be no. Mari kita renungkan saja dalam hati.

Proses Pembangunan Kapela

Proses Pembangunan Kapela