Bahasa Dawan – Uab Meto

Bahasa Dawan dikatakan sebagai bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Oleh penutur asli, bahasa Dawan juga disebut Uab Meto atau Molok Meto.

Bahasa Dawan atau Uab Meto adalah salah satu bahasa dengan jumlah penutur yang banyak – sekitar 600.000 lebih penutur. Penutur bahasa Dawan tersebar di pulau Timor khususnya Timor Barat yang mencakup wilayah kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), sebagian wilayah selatan kabupaten Kupang seperti Buraen, Amarasi, wilayah utara seperti Amfoan. Bahasa ini juga ditutur oleh sebagian masyarakat di kantong wilayah Timor Leste – Ambenu.

Tersebarnya penutur bahasa Dawan di berbagai wilayah ini maka dengan sendirinya berpengaruh pada ‘dialek’. Antara wilayah satu dengan wilayah yang lain, ada perbedaan dialek. Misalnya dialek di wilayah kabupaten TTU berbeda dengan dialek di wilayah TTS atau kabupaten Kupang. Sementara di wilayah TTU sendiri, ada perbedaan dialek pula antara satu atau beberapa kecamatan dengan kecamatan lain, misalnya dialek orang Insana berbeda dengan dialek orang Miomaffo dan Noemuti.

Peta Persebaran Bahasa Dawan - Uab Meto
Peta Persebaran Bahasa Dawan – Uab Meto (sumber : www.indonesiatraveling.com)

Bahasa Dawan sejatinya belum memiliki struktur resmi atau baku, baik kosa kata dan struktur kalimatnya. Bukti-bukti tertulis mengenai bahasa ini memang agak sulit ditemukan. Artinya bahwa bahasa ini lebih banyak digunakan secara lisan atau ditutur dari pada didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Hampir pasti tidak ada cerita-cerita daerah yang dituangkan dalam bentuk tulisan bahasa Dawan.

Sering ada semacam candaan bahwa bahasa Dawan atau Uab Meto lebih gampang ‘di-omongkan’ dari pada ditulis. Jika bisa ditulis, penutur asli bahkan akan kesulitan untuk membaca kembali tulisan dalam bahasa Dawan tersebut:-) . Penutur asli merasa ‘kesulitan’ untuk membaca kembali tulisan dalam bahasa Dawan karena memang ‘tekanan-tekanan’ dalam bahasa verbal tidak nampak dalam kosa kata yang tertulis.

Bahasa Dawan dipengaruhi juga oleh kolonialisasi – Portugis, Belanda. Kata-kata yang berkaitan dengan keagamaan (Kristen) banyak diserap ke dalam bahasa Dawan. Bahasa Indonesia juga berpengaruh dalam bahasa Dawan, menjadi bahasa serapan tetapi dengan cara tutur yang sedikit berbeda dan bisa sama seperti bahasa Indonesianya.

Terlepas dari kompleksitas bahasa Dawan ini, beruntung bahwa seiring dengan perkembangan teknologi – this heavenet, ada banyak penutur asli Dawan atau Uab Meto yang mulai mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Beruntung ada Pak Yohanes Manhitu – penutur Dawan asli yang telah mendedikasikan seluruh dirinya untuk menciptakan dan membuat kosa kata-kosa kata baku dalam bahasa Dawan. Beliau juga sering membuat opini, cerita bahkan puisi dalam bahasa Dawan dengan menggunakan kosa kata yang ia ciptakan. Sekiranya karya beliau yang akan menjadi baku untuk digunakan oleh setiap penutur Uab Meto.

Saya yakin bahwa beliau telah berhasil membuat bahasa Dawan menjadi hidup dan menghidupi setiap penuturnya menjadi manusia yang sadar akan kekayaan budayanya. (Disadur dari berbagai sumber)

Sentuh Hati Anak-Anak

Sudah dua kali mengikuti acara Family Gathering, istilah kumpul keluarga dan anak-anak binaan Plan. Pertama di dusun Taetimu desa Nunleu yang diselenggarakan pada 4 Maret dan kedua kemarin tanggal 13 Maret di desa Pili. Kegiatan ini tentunya dimaksudkan untuk membina keakraban, kebersamaan antar keluarga dan anak-anak binaan Plan di desa dan mengakrabkan mereka dengan Plan dan stafnya. Lebih dari itu keluarga dan anak-anak bisa bersenang ria sambil lebih mengenal Plan dan mengetahui program-program yang dijalankan LSM ini. Bahwa supaya keluarga dan anak-anak tidak merasa ‘sia-sia’ menjadi bagian dari keluarga Plan.

Dua kali mengikuti proses ini, secara pribadi ada pembelajaran yang sangat berarti. Bisa mengamati proses yang terjadi di sana – apa yang dilakukan oleh masyarakat dan Plan dan bagaimana berinteraksi dengan keluarga dan anak-anak di desa. Saya lebih tahu akan posisi saya sebagai orang yang mempresentasikan lembaga dan kerja-kerjanya.

Selain ketertarikan untuk belajar, saya bisa mengalami dan memahami apa yang terjadi di desa. Saya juga adalah anak desa, tumbuh dan besar di desa, tentu saja kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan saya waktu masih kecil dulu. Melihat kehidupan keluarga dan anak-anak desa ini, saya seolah kembali merasakan suasana hidup tempoe doeloe – saat masih kecil. Sempat mengalami kehidupan yang belum ada listrik dan hanya mengandalkan lampu ‘pelita’. Kemudian kehidupan sedikit berkembang dengan adanya ‘lentera’ dan petromak atau sebutan orang desa  ‘lampu gas’. Malam sangat pekat dan rumah-rumah penduduk hanya diterangi cahaya pelita atau lentera atau petromak.

Saya pernah berada pada situasi di mana ketika sudah ada ‘listrik masuk desa’ tetapi hanya ada 2 TV di desa (milik Chinese yang tinggal di desa). Kami bergerombol dan berdesak-desakkan tanpa malu hanya untuk menonton serial film kesukaan seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng. Serial acara sore yang paling heboh seperti Satria Baja Hitam. Kadang diusir secara kasar oleh tuan rumah untuk tidak menonton – disiram dengan air, pintu dan jendela rumah ditutup. Tetapi tho kami tak tahu yang namanya ‘malu’. Yang ada di benak adalah bagaimana untuk bisa melewati rintangan dan hambatan untuk menonton ini.

Anak-anak Saat Asyik Melihat Klip Video di Laptop

Anak-anak; Saat Asyik Menonton Klip Lagu di Laptop

Saya pernah berada pada kehidupan belantara yang mana pilihan bermain selain di lingkungan sekolah adalah hutan, areal sawah, padang rumput dan kali. Pilihan bermain di sekolah pun hanya sebatas bermain kelereng, karet, kartu bergambar, siki doka (Indonesianya apa ya? biasanya dimainkan oleh anak-anak gadis tetapi kadang anak laki-laki juga ikut bermain), benteng, perang-perangan di hutan, gala asin. Permainan yang agak mewah mungkin hanya ‘kasti’ – kasti tradisional.

Saya sempat merasakan saat-saat suram dalam pendidikan – pendidikan keras ‘di ujung rotan ada emas’. Guru-guru sangat keras dalam mendidik sehingga hukuman ‘dirotan’ adalah hukuman yang wajar dan pantas untuk anak-anak.

Atribut untuk sekolah sangat minim. Topi, dasi dan sepatu hanya dikenakan pada hari Senin karena ada apel bendera (upacara bendera). Hari-hari selanjutnya hanya bisa mengenakan seragam merah-putih dan atribut lainnya – itupun hanya punya sepasang pakaian seragam. Sepasang seragam dipakai selama seminggu! bayangkan harumnya seperti apa? Apalagi jeda (istilah masih SD ‘bersenang’ I dan II) kami sukanya bermain bola kaki. 🙂

Demikian berada dua kali bersama keluarga, terutama anak-anak desa ini, ada proses belajar yang sangat mahal. Ada kesempatan di mana bisa mempresentasikan keberadaan lembaga pada masyarakat dan mencoba membangkitkan pemahaman mereka akan apa yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan LSM ini. Dan lebih serasa kenangan akan masa lalu bangkit kembali.

Kenangan akan kehidupan yang sulit ini yang senantiasa membuat saya lebih berani dan semangat untuk selalu kembali ke desa. Ingin rasanya saya bisa membagikan pengalaman hidup pada mereka. Dalam dua kali kesempatan ini saya selalu mengatakan ‘Bapak-ibu dan adik-adik, saya juga tinggal di desa. Saya dari desa, tetapi kemudian bisa sekolah sampai kuliah karena kerja keras orangtua.’

Pengalaman saya mungkin tak seberapa dan belum mahal harganya, tetapi paling kurang mereka (terutama orangtua) bisa termotifasi untuk terus menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin dan bukan hanya sebatas sampai S3 (SD-SMP-SMA), tetapi bisa sampai Perguruan Tinggi dan akhirnya bisa bekerja dan hidup mandiri – terutama kembali bisa memberi yang terbaik untuk masyarakatnya.

Ingin rasanya bisa menyentuh hati anak-anak ini lebih dalam, mengajak mereka untuk menikmati hidup mereka, riang gembira untuk bersekolah – belajar tanpa beban dan takut. Terus berjuang tanpa putus asa dan terus membangkitkan rasa percaya diri untuk menatap masa depan dan akhirnya bisa meraih cita-cita yang mereka impikan. Ingin rasanya menyentuh hati mereka lebih dalam agar mereka mengambil hikmah dari kehidupan yang saat ini mereka alami. Sehingga suatu saat ketika mereka menjadi orang sukses, mereka tahu seluk-beluk dan perjuangannya hingga mencapai sukses itu.

Sentuh hati anak-anak ini untuk mengenal diri mereka dan lingkungan di mana mereka berada. 🙂

Buat Dia Bangga (Random Story, Special for Dad)

Beberapa kejadian penting dalam hidup saya bersama orang-orang tercinta berlalu dengan sejuta makna. 2 Minggu lalu tepatnya tanggal 20 Februari 2014, saya bersama keluarga merasa sangat gembira dan bahagia karena Ulang Tahun bapak tercinta, Josef Sanam, yang genap berusia 60 tahun. Sungguh suatu pengalaman yang indah karena masih bisa melihat beliau tersenyum dan semangat menjalani hidupnya. Senang dan bahagia karena melihat bapak JS, sapaan akrabnya sekarang, masih terlihat sehat dan segar. Guratan-guratan wajah yang keriput sudah mulai nampak tetapi semangat hidup dan semangat untuk membuat sesuatu yang berharga belum luntur dimakan usia. Malah ia makin dan makin bersemangat untuk berbuat baik bagi generasi penerusnya. Lebih dari itu senang masih merasakan kasih sayang orangtua. Mereka masih bisa menemani kami anak-anaknya mengarungi kehidupan ini.

One Moment in Borobudur Temple

One Moment in Borobudur Temple

Tambak ikan yang baru saja dibuat dan sementara ditata menjadi salah satu bukti nyata betapa beliau mau meninggalkan sesuatu yang berharga untuk anak-anaknya. ‘Suatu saat ini bisa menjadi aset berharga, tempat pemancingan dan bila perlu menjadi tempat hiburan untuk banyak orang,’ kata beliau kala menemani dia di tepi kolam-kolam ikan itu. Dari pengeluaran yang beliau sudah kucurkan memang terlihat kolam-kolam ikan menjadi perhatian serius beliau dan sudah ia rancang untuk menjadi alternatif karirnya setelah pensiun menjadi seorang PNS. Lebih dari itu ini menjadi investasi untuk masa depan.

Seminggu setelah Ulang Tahun bapak JS, giliran anak lelakinya yang tunggal berULTA. Tanggal 1 Maret menjadi hari yang berharga dan berarti untuk lelakinya itu. Bukan hanya membuka lembaran hari baru di bulan baru, tetapi juga kembali membuka lembaran baru kehidupannya. Kendati demikian, tak banyak yang tahu kecuali orangtua, adik-adik dan keluarga dekat saja. Dan memang pribadi lelaki itu agak tertutup dan kehidupannya tak mau diketahui banyak orang. Apa lagi media wkwkwkwk. Sehingga ULTA kali ini dirayakan di rumah seadanya. Tahun-tahun sebelumnya, orangtua yang menghidangkan makanan enak dan lezat alias pengeluaran ditanggung ortu, tetapi kali ini giliran dia yang menguras dompet untuk biaya makan-makan di rumah. Bahagianya,..akhirnya bisa mengeluarkan sedikit biaya dari hasil keringat sendiri untuk makan bersama ortu, adik-adik dan keluarga. Berharap makin banyak rejeki mengalir, Amin.

Seminggu lagi berlalu dengan cepat. Tanggal 8 Maret 2014, kembali mendapatkan undangan resmi dari Bapak untuk menghadiri acara perpisahan beliau dengan guru-gurunya di Wini-Kecamatan Insana Utara- Kefamenanu, sekaligus acara pelepasan jabatan alias pensiun sebagai seorang PNS. Tanggal 1 Maret 2014 menjadi hari resmi, hari terakhirnya sebagai PNS tetapi acara pesta perpisahannya terlaksana di tanggal 8 Maret ini.

Sempat menolak untuk hadir, tetapi akhirnya luluh karena beliau sudah berkali-kali mengundang dan dengan nada meminta yang sangat halus. Rasanya tak tega mendengar orangtua terus meminta dan berharap anaknya bisa menghadiri acaranya. Saya sudah sangat cape dengan rutinitas kerja selama seminggu, ditambah perjalanan jauh kembali ke rumah, dari SoE ke Noemuti, sangat melelahkan. Alasan ini yang membuat saya menolak untuk hadir, tetapi kata-kata beliau yang terakhir membuat saya tak kuasa lagi untuk menolak, “Kalau orang lain yang undang kalian hadir, tetapi bapak sendiri yang undang kamu tolak.” Dalam kata-katanya.

Saya kemudian merenung bahwa kehadiran saya ternyata lebih dari hanya sekedar hadir. Ada kebanggaan tersendiri yang beliau rasakan jika saya ada di tengah-tengah teman-teman gurunya, para pengawas dan utusan dari dinas PPO kabupaten. Beliau merasa sangat bangga dengan kehadiran saya. Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya saya ikut hadir dalam acara perpisahan beliau yang mana perjalanan ke Wini harus ditempuh dalam waktu 3 jam.

Yang saya renungkan bahwa membuat orangtua bangga dan bahagia dengan sendirinya kita sudah memperpanjang usia mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah bapak dalam acara pensiunnya akan senantiasa membuat dia hidup lebih lama dan lama. Saya juga berpikir bahwa membahagiakan orangtua tak selamanya harus membawa mereka keliling dunia tetapi cukup dengan mendukung mereka atas apa yang mereka minta dan mereka lakukan, dengan sendirinya kita sudah membuat mereka sangat bahagia dan bangga menjalani hari-hari hidupnya. Love you Dad,.live a long life! Happy 60th Birthday!

Sanam Sr & Sanam Jr

Sanam Sr & Sanam Jr

Cerita Dari Desa

Perjalanan ke desa selalu menyisahkan banyak cerita. Selalu ada hal menarik yang perlu diceritakan. Bukan untuk mengekspose orang desa, mengeploitasi kehidupan mereka tetapi sekedar untuk mengingatkan kita bahwa ternyata banyak orang di tempat lain masih berkutat dengan kehidupan yang memprihatinkan, jauh dari kehidupan layak.

Ceritanya, kemarin saya melakukan perjalanan ke beberapa desa, desa Kokoi, desa Fatulunu dan terakhir berlabuh di desa Nunleu. Desa-desa ini masuk dalam Kecamatan Amanatun Selatan-Kab. TTS. Tujuan perjalanan saya hanya untuk mengantar merchandise berupa ‘Payung’ yang akan dibagikan untuk anak-anak Plan. Dalam perjalanan mata saya melihat banyak hal. Dari mata, masuk ke otak lalu turun ke hati – saya melihat lalu merenungkan semuanya. Yang selalu membuat saya ngeri dan selalu bertanya-tanya dalam hati adalah pertama tentu jalannya. Jangan pernah membayangkan untuk berjalan di atas aspal yang licin. Yang ada kita berjalan di aspal dan tanah bergelombang. Jalan rata hanya beberapa km kemudian kita akan memasuki jalan berlubang dan berkerikil.

Rumah Bulat

Rumah Bulat

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung


Pemandangan yang tak kalah menyayat hati adalah kondisi rumah dan kehidupan orang-orang di sana. Rumah-rumah warga masih jauh dari kata layak. Ada yang masih menghuni ‘rumah bulat’ – dikelilingi tanaman jagung yang tahun ini akan gagal panen karena curah hujan yang kurang. Ada yang sudah tinggal di rumah ber-seng dan bertembok, ya cukuplah. Tetapi tetap kehidupan sangat sulit di sana – Life is really tough. Kehidupan seperti ini yang akhirnya menghantar banyak anak-anak desa ke kota kabupaten, propinsi bahkan ke luar pulau untuk menjadi buruh kasar dan ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI.

Maka pantas saja di luar NTT, orang tahunya daerah kita daerah miskin. Memang itu kenyataannya dan kita tidak boleh marah jika dikatakan miskin – dalam artian kehidupan ekonomi kita masih jauh dari layak. Harian Kompas tanggal 3 Februari 2014 di salah satu tulisan yang berjudul ‘Saatnya Serius Mengevaluasi’ (halaman 5), menyebutkan bahwa NTT memiliki banyak warga miskin.

17 Agustus 2014, Indonesia sudah akan merayakan HUT Proklamasi kemerdekaan yang ke-69. Sudah 69 tahun Indonesia merdeka, tetapi melihat kehidupan masyarakat di sini, apakah betul Indonesia itu merdeka? Pada 17 Agustus dan hari-hari besar National, anak-anak di desa dengan suara lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Guru-guru di daerah sangat fanatik dan kadang kejam jika anak-anak sekolah salah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka memaksa agar menyanyikannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Indonesia, Tanah Airku
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
jadi pandu ibuku, dst

Anak-anak di desa sangat bangga menyanyikannya. Tetapi apakah Indonesia bangga memiliki anak-anak ini, apakah Indonesia bangga dengan kehidupan orang di desa-desa ini?

Sebentar lagi Indonesia akan mengadakan Pemilu – memilih calon perwakilan rakyat. Spanduk-spanduk ajakan untuk ikut Pemilu terpampang di mana-mana. ‘Ayo ikut Pemilu’. Seandainya di spanduk tertulis, ‘ayo ikut bantu warga miskin’. Tak kurang bahkan lebih banyak lagi poster, baliho dan spanduk calon DPR tertempel di mana-mana, menjadi pemandangan bagus yang menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan. Warga yang fanatik dengan calon nya bahkan terus memantau pemasangan baliho-baliho agar tidak rusak dan memastikannya masih nampak jelas terlihat. Para calon sendiri juga mulai lebih banyak turun ke desa-desa, melihat berbagai kekurangan yang akan diperbaikinya dan janji manis pun diobral. Pertanyaannya apa mereka ini calon perwakilan rakyat yang tepat dan mampu memperhatikan nasib rakyat yang ia wakili? Apakah betul mereka akan sungguh-sungguh bekerja memperjuangkan aspirasi rakyat? Memperbaiki segala hal yang telah mereka lihat di desa? Atau kehidupan akan kembali seperti sedia kala atau malah akan semakin buruk bahkan kehidupan masyarakatnya sendiri akan lebih susah? Hadew cape dech,.. 😛 (dalam hati persetan yang penting nanti dapat proyek! ckckckc)

Menyoal ini memang panjang dan bertahap. Dan lagi katanya pembangunan tidak sekali jadi, butuh proses. Sampai kapan proses itu akan terus berproses pak? Sudah 2014, milenium baru, abad baru, tahun-tahun kemerdekaan semakin panjang. Bertahun-tahun masyarakat ini hidup dalam lilitan kehidupan yang memprihatinkan dan kemiskinan semakin terstruktur. Apakah ini yang namanya proses pembangunan?

Lagi dikatakan pembangunan manusia dan karakternya serta pedidikan lebih diutamakan. Anak-anak di desa harus berjalan tak kurang dari 2 km untuk mencapai sekolahnya. Dan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka harus bersekolah siang karena masih dititipkan di bangunan SD – di sini dikenal dengan Sekolah Satap, Sekolah satu atap. Sudah cape berjalan, keringat bercucuran bahkan seragam sekolah mereka saja mulai usang. Dan sampai di sekolah kadang mereka tak menemui gurunya, guru tak mencukupi. Kebutuhan sekolahpun tak mencukupi di sana. Mereka belajar apa adanya.

Balik lagi ke kehidupan masyrakatnya, mereka pun seolah masih berjalan di tempat. Pembangunan seolah tak menyentuh mereka. Kalau pun ada, mereka pasti tak merasakan pembangunan yang berkarakter dan mendidik mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka akan selalu menjadi sasaran empuk pemangku kepentingan pemerintah, calon perwakilan daerah dan swasta.

Berharap kehidupan orang-orang desa akan diperhatikan dan mendapat kehidupan yang lebih layak.

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Anak Desa Menari Bonet Sambil Promosi Hak Anak

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan kami baru saja turun dari mobil yang membawa kami ke desa Oeekam, satu desa yang nun jauh ke arah tenggara dari kota SoE. Setelah keluar dari mobil, terlihat satu pemandangan yang luar biasa dan mempesona. Sekelompok anak desa bersama beberapa orang dewasa yang menjadi pendampingnya sudah berkumpul di dalam tenda yang disiapkan di depan kantor desa Oeekam. Mereka duduk berkelompok-kelompok menurut desanya. Terlihat beberapa masih sibuk di sana-sini, membetulkan pakaian dan perhiasan yang mereka kenakan, ada yang terlihat sementara melakukan latihan pemantapan terakhir – vocalizing sebelum perform. Hari ini anak-anak dari desa-desa dampingan Plan akan perform tarian Bonet¹ – salah satu rangkaian acara Jambore Anak yang berlangsung selama 2 hari, tanggal 5-6 Februari 2014.

Tarian Bonet dari salah satu peserta

Tarian Bonet dari salah satu peserta


Senang dan gembira terpancar dari wajah anak-anak desa yang polos ini. Terlihat senyum mereka tulus apa adanya. Ada yang kelihatan tegang dan serius menatap tetapi tetap tidak mengurangi semangat mereka untuk tampil di atas panggung. Sebaliknya mereka terlihat antusias dan siap untuk unjuk kebolehan dalam ber-bonet.

Anak-anak desa ini sudah berpakaian adat lengkap dengan segala perhiasan atau asesorisnya. Anak-anak gadis mengenakan tais² yang dipadukan dengan kebaya dan selendang kecil – dipakai melintang dari bahu kiri atas ke pinggul kanan bawah atau sebaliknya dari bahu kanan atas ke pinggang kiri bawah. Kalung-kalung berwarna juga melingkar di leher mereka. Sanggul dan pita berwarna pun dikenakan untuk menghiasi kepala. Bedak menjadi make up sederhana yang merias wajah, membuat mereka menjadi menarik dan terlihat cantik.

Anak-anak laki-laki juga tampil gagah dengan pakaian adat yang mereka kenakan. Mereka mengenakan kain bete³ yang diikat kencang menggunakan bete ana⁴ (baca: bet’ana) – fungsi lain dari bet ‘ana adalah sebagai ikat pinggang. Kain bete dipadukan dengan kemeja biasa, ada juga yang tak memakai kemeja tetapi menggantikan kemeja dengan kain bete – bete dililitkan di kedua bahu. Sementara asesoris yang mereka kenakan seperti alu⁵ (baca: aul ana) yang bermotif macam-macam lengkap dengan tiba. Anak laki-laki juga memiliki hiasan kepala yang khas yang beda dengan anak perempuan. Hiasan kepala ini biasa dinamakan piul nairuf⁶. Piul nairuf dibentuk menyerupai ikat kepala khas laki-laki, dipakai melingkar di kepala. Ada yang mengganti fungsi piul nairuf dengan bentuk paten ikat kepala lain dan bermotif macam-macam.

Melihat anak-anak sudah mengenakan pakaian adat lengkap – berarti mereka sudah siap untuk pentas. Dan sesaat setelah kami tiba dan duduk di dalam tenda acara, acarapun segera dibuka oleh MC. MC memberikan pengarahan dan pengantar awal tentang kegiatan ini, termasuk menyebutkan berapa banyak jumlah peserta yang terlibat di dalamnya. Ada 18 team/desa yang akan tampil.

Sebagai bagian dari acara pembukaan, MC segera mengundang beberapa perwakilan dari desa untuk segera naik ke atas panggung dan membacakan naskah janji peserta lomba. Setelah itu para dewan juri juga diundang ke atas panggung melakukan hal yang sama yaitu pembacaan naskah sumpah. Tujuan pembacaan sumpah tak lain adalah agar peserta dan dewan juri bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai mana mestinya.

Ada MC kedua. MC pemandu acara awal dan pembacaan sumpah adalah orang dewasa – seorang guru. Kali ini yang memandu jalannya acara Bonet adalah MC dari anak-anak – anak SMA. Mungkin wajar bagi mereka yang tinggal di kota, tetapi sangat menarik dan menjadi moment yang berkesan – luar biasa jika dilihat dari kacamata orang desa. Bukan mau menyepelekan anak-anak di desa, akan tetapi moment seperti ini biasanya langka. Bahwa anak-anak di desa sekarang tidak kalah dengan mereka yang di kota. Artinya mereka sudah bisa dan berani tampil dalam acara formal – event yang besar seperti jambore anak TTS ini.

Kalau dirunut, hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras Plan sebagai salah satu LSM international yang memfokuskan kerjanya pada anak. Sesuai dengan detail visinya yang sangat briliant, ‘Sebuah dunia di mana anak-anak mampu mewujudnyatakan seluruh potensi mereka dalam masyarakat yang menghargai hak-hak dan martabat manusia,’ maka penampilan yang bagus dari sang MC anak ini jelas merefleksikan seluruh karya Plan di desa.

Ketika tarian bonet mulai dipentaskan oleh anak-anak – desa demi desa perform, terasa lebih nyata bagaimana Plan berkarya untuk merangsang anak-anak mewujudkan seluruh potensinya. Terlihat bahwa mereka menikmatinya dan mampu menampilkan yang terbaik – mulai dari cara masuk-keluar panggung, cara memberi hormat pada penonton dan perform. Mereka bahkan mampu menyanyikan syair-syair bonet dengan begitu indah dan dengan suara yang lantang sambil memadukannya dengan gerakkan kaki dan tangan yang indah pula.

Plan ingin berkontribusi lebih dan lebih, mendorong anak-anak untuk terus mempromosikan hak-hak mereka dalam masyarakat. Maka tak tanggung-tanggung, syair-syair dalam lomba bonet ini juga adalah plesetan tentang materi hak anak, perlindungan anak, pengetahuan tentang pentingnya sanitasi dan pentingnya anak memiliki akte kelahiran. Baru di TTS di mana anak-anak bisa berbonet sambil promosi hak anak – pada acara jambore anak antar desa se-kabupaten TTS.

Semoga suara anak-anak ini didengar dan semakin membahana menembus segala batas ruang dan waktu. 🙂

Anak-anak dengan pakaian adat - salah satu pakaian yang khas di Timor

Anak-anak dengan pakaian adat – salah satu pakaian yang khas di Timor


Peserta Bonet - anak perempuan dengan pakaian khasnya

Peserta Bonet – anak perempuan dengan pakaian adat Timor

Catatan Kaki :

¹Bonet, tarian traditional orang Timor yang biasa dilakukan pada saat acara nikah, pesta adat, dan acara-acara lainnya. Tarian bonet dilakukan oleh sejumlah orang, wanita dan pria, menyanyi sambil berpegangan tangan dan menggerakan kaki ke kanan – berlawanan dengan arah jarum jam, kemudian maju dan mundur dalam bentuk lingkaran. Gerakan disesuaikan dengan syair yang dinyanyikan. Lebih mendalam tentang tarian Bonet bisa dibaca di sini Bonet, Tradisi Yang Terlupakan.

²Tais, kain tenun berbentuk seperti sarung yang khusus digunakan oleh kaum wanita. Tais becorak macam-macam.

³Bete, kain tenun yang dikhususkan untuk kaum laki-laki. Bercorak macam-macam. Umumnya Bete dibuat persegi panjang.

⁴Bete Ana (Bet ‘ana), bentuk dan ukurannya sama seperti selendang. Ada yang dikhususkan sebagai ikat pinggang.

⁵Alu (baca: Aul mamat), asesoris khusus pria berbentuk seperti tas kecil dilengkapai dengan tabung kecilnya yang disebut ‘tiba’. Alu fungsinya sebagai tempat sirih-pinang.Tiba, dipakai untuk tempat sirih, pinang dan tembakau.

⁶Piul Nairuf, ikat kepala khusus untuk pria. Dibentuk bermacam-macam.