Manusia Menciptakan Kiamatnya Sendiri

Dulu saat masih kecil, ketika duduk di bangku SD sering Kiamat dibicarakan di ruang kelas. Kiamat, oleh bapa ibu guru terlebih guru agama, acapkali digambar sebagai sesuatu yang mengerihkan, membuat merinding dan menakutan. Sebab kiamat dikatakan sebagai kutukan Tuhan yaitu saat di mana dunia (baca: bumi) terbalik. Dunia hancur berkeping-keping dan saat itu hanya akan ada kegelapan, tidak ada lagi cahaya matahari, bulan dan bintang. Semua manusia akan binasa beserta penghuni bumi lainnya.

Penyebab dari kiamat ini yaitu karena Tuhan murka akan perbuatan ciptaanNya yang selalu membuat ‘salah dan dosa’. Lantas guru agama mencontohkan perbuatan dosa seperti ini: di rumah melawan orangtua, memaki (omong kotor) kepada orangtua, tidak membantu orangtua. Di sekolah melawan guru. Malas bersekolah. Malas ke Gereja, dll. Penjelasan yang sangat sederhana tetapi artinya sangat dalam gaesss terlepas dari apa itu benar atau tidaknya penjelasan tersebut.

Kiamat sebagai saat di mana dunia terbalik, dunia hancur sepertinya bukan lagi kamuflase seorang guru SD mengajari muridnya. Sekarang dan saat ini, boleh dikatakan bahwa dunia kita sedang mengalami kiamat. Manusia, sadar atau tidak sadar, sedang dilingkupi kiamat yang sangat mengerihkan dan di mana-mana kita dihinggapi rasa takut dan waspada tingkat tinggi.

Tangisan anak-anak Suriah meratapi orangtuanya atau sebaliknya para orangtua yang meratapi anak-anaknya yang hilang ditelan puing-puing bangunan yang hancur dihantam bom. Kisah sedih anak-anak Afrika yang sekarat akibat kelaparan. Belum lagi penyebaran virus-virus mematikan di negara-negara di benua Afrika. Pertanyaannya mengapa virus-virus mematikan ini selalu berawal dari benua hitam? Apakah virusnya suka milih tempat gaes..virus kurang ajar nih namanya! 😀

Kisah para imigran berkulit hitam yang tiada henti mendapat perlakuan rasis di negara adidaya yang konon katanya sangat menghargai hak asasi manusia. Di benua biru teror dari para peneror semakin brutal, bom di Prancis, Turki, penembakan liar di jalan-jalan dan serangan di tempat ramai di Prancis dan Jerman. Dan yang terbaru penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki oleh terrorist yang berakibat pada ketegangan dunia kalau-kalau terjadi perang dunia. Kalau sampai Mr. Putin marah, tau sendiri kan gaess!

Di negeri sendiri kita dihadapkan pada kisah pilu penistaan. Rentetannya minoritas agamais lain mulai dihadapkan pada situasi sulit mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan dan mengamalkan kepercayaannya. Lantas pelaku politik yang katanya sangat patuh pada dasar dan falsafah Pancasila ikut menunggang ‘penis-taan’ untuk mengambil untung. Kasus bom di depan Gereja di Samarinda, kasus penganiayaan anak-anak SD di Sabu (NTT). Dan masih banyak lagi kisah tragis yang terjadi di negeri kita.

Seorang ayah yang malam ini berbincang penuh canda dengan anaknya bisa jadi keesokan harinya ia akan menjadi kenangan. Seorang suami yang malam ini sangat menikmati malam pertamanya dengan rayu cumbuh, bisa jadi keesokan harinya istrinya menangisinya sambil memikirkan masa depan calon buah hatinya yang tidak lagi ber-ayah. Seorang anak yang malam ini belajar keras menghadapi ujiannya di sekolah, bisa jadi itu adalah pamitan terakhirnya pada masa depan yang sudah ia cita-citakan. Sebuah keluarga yang sementara menikmati waktu rileks bersama bisa jadi itu adalah kebersamaan terakhir mereka. Apapun yang terjadi malam ini dan saat ini, bisa jadi yang terakhir. Karena apa? Karena kiamat menghampiri kita pada saat yang tidak disangka-sangka.

Pada saat ini boleh dikatakan bahwa kiamat bukan lagi kutukan Tuhan sebagaimana digambarkan oleh guru agama dulu, tetapi lebih karena manusia sudah menjadi serigala terhadap sesamanya sendiri. Manusia menciptakan kiamatnya sendiri dengan dalil ‘mati suci’, bela agama, bela harga diri, bela suku, bela negara dan lain sebagainya. Kalau alasannya sudah seperti ini kan sama bahwa manusia menciptakan kehancuran bagi dunianya sendiri. Manusia menjadi pembawa kemalangan bagi manusia lain.

Jangan sampai hal yang lebih mengerihkan terjadi di mana dunia di sekitar kita benar-benar hancur selamanya. Jangan sampai bahwa suatu waktu ‘kedamaian dan ketenangan’ hanya jadi impian.

Merry Christmas and Happy New Year 2017 🙂  

Tahun Membahagiakan Orangtua

Sejenak mengasingkan diri dari hingar bingar rutinitas kerja selama beberapa hari, tetapi tho masih menyempatkan dua hari untuk kembali menjamah pekerjaan yang adalah bagian dari tanggung jawab. Dan tak sanggup rasanya meninggalkan tanggung jawab.

Apapun itu, kesibukan rutinitas atau pun melakukan yang lain, yang pasti bahwa hari Natal barusan lewat. Ada kisah Natal yang terukir di sini, bahwa masih kembali merayakan Natal bersama orang-orang tercinta, ayah-ibu, saudara-saudari dan keluarga besar.

Beberapa tahun lalu kegalauan menerpah kala tak pernah merasakan moment Natal bersama orang-orang tercinta. Dan saat ini, kekalutan masa itu telah lewat. Sudah 3 tahun berturut-turut hadir merayakan Natal bersama mereka – orang-orang tercinta. Senang dan bahagia bahwa bapa-ibu masih sehat-sehat, adik-adik dan semua anggota keluargapun masih tersenyum merayakan Natal ini. Perasaan sukacita juga hadir bahwa usaha dan kerja keras mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya termasuk saya, perlahan-laha menuai hasil yang baik.

Saya menyadari betul usaha keras orangtua semasa masih mengenyam pendidikan. Karena itu apa balasannya? Orangtua dan semua orang yang kita cintai tentu tak mengharapkan yang mewah untuk diberikan kepada mereka sebagai balasjasa tetapi cukup membuat mereka bahagia dengan perilaku, tindak-tanduk yang baik dihadapan mereka. Selebihnya kita memiliki ‘kesadaran dari dalam’ untuk memberi yang terbaik untuk orangtua. Dan yang terbaik untuk saya berikan pada mereka tahun ini adalah men-cat rumah. Yang ini tak tersurat dalam resolusi tahun baru kali lalu, melainkan tersirat dalam tema besarnya ‘tahun membahagiakan orangtua’.

Sudah bertahun-tahun rumah tempat kami tingggal dan dibesarkan tak pernah tersentuh cat. Rumah hanya kelihatan besarnya tetapi nampak artistik warna-warni tak ada. Dari kejauhan rumah ini seolah lesuh, tak berbentuk dan seolah menggambarkan keberadaan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Alasan yang selalu terlontar dari bibir orangtua ialah ‘uang semua habis untuk menyekolahkan kamu’. Sedih! Dan pada saatnya, rasanya tak tega melihat ‘tempat yang selalu memberi kehidupan ini’ terus kusam dimakan usia. Sebagai hadiah Natal maka ini yang sanggup saya berikan. Perlahan-lahan ‘tempat tinggal’ mulai berbentuk dan ceriah di usianya yang tak lagi muda ini.

Hanya ini yang bisa kupersembahkan untuk orangtua dan orang-orang tercinta.
Merry Christmas 2014!!! 😀

Season’s Greetings & Merry Christmas

‘Time flies fast.’ Waktu berlalu begitu cepat! Satu kalimat yang sering saya temui saat menerjemahkan surat-surat yang dikirim oleh orangtua sponsor untuk anak sponsor.

Memang waktu berlalu begitu cepat. Satu kenyataan yang memang sangat dirasakan oleh kita semua – orang di belahan dunia lain pun merasakannya. Apalagi sekarang sudah berada pada bulan Desember – bulan terakhir dalam tahun. Satu kalimat yang sanggup terucap yaitu Waktu berlalu begitu cepat. Apapun yang terjadi ini adalah kenyataan yang harus dilewati bahwa sekarang sudah bulan Desember 2014. 😛

Kenyataan lain yang akan selalu dikenang dan menjadi momen yang sangat membahagiakan adalah datangnya hari Natal. Memang tidak semua tahu atau sengaja tidak mau tahu tentang hari Natal. Tetapi bagi mereka yang hidup dari tradisi Kristiani akan selalu menganggap bulan Desember sebagai bulan Natal – bulan yang penuh dengan kebahagiaan, keceriaan dan sukacita besar karena merupakan bulan kelahiran ‘Sang Juru Selamat’ (Orang Kristen mengimani hal ini).

Sebagai bulan sukacita dan bulan kebahagiaan maka tak jarang pada bulan Desember orang-orang akan mengirimkan atau membagikan sukacita Natal dengan sesama yang lain. Singkatnya orang mengirimkan ucapan Selamat Natal untuk sesama – bukan hanya untuk sesama orang Kristen saja tetapi juga ucapan Natal bisa dibagikan untuk sesama non Kristen. Dan orang Kristen tak mengenal apakah ini halal atau haram mengucapkan Selamat Natal, yang ada bahwa sukacita Natal harus dibagikan dengan sesama umat manusia.

Ada beragam cara untuk mengucapkan Selamat Natal. Dulu waktu masih kecil, sering ucapan Natal diungkapkan dengan mengirimkan kartu Natal yang bisa didapatkan di toko-toko. Dan pada bulan seperti ini, kartu Natal sangat mudah didapat di toko. Seiring dengan perkembangan zaman, kini ucapan Natal lebih sering diucapkan dalam bentuk SMS yang tentunya akan dibuat sekreatif mungkin menggunakan karakter-karakter SMS.

Dalam konteks di Indonesia, ucapan Selamat Natal tentu dikhususkan untuk diucapkan pada mereka yang Kristiani. Dan ini rasanya sah, sebagai orang Kristiani tentunya saya akan merasa sangat senang dan bahagia. Demikian juga kalau ada yang mau membuat ucapan Natal dalam bahasa Inggris. ‘Merry Christmas’ akan terasa sangat menyentuh dan berkesan.

Masih dalam penggunaan bahasa Inggris, kadang ada yang menggunakan kalimat ini ‘Season’s Greetings’. Kok Season’s Greeting ya? Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia paling kurang seperi ini ‘Selamat Musim’ atau ‘Selamat memasuki musim’. Sesuatu yang bernada kurang pas dan kurang berkesan. Mungkin hanya perasaan saya saja, orang lain mungkin merasakannya dengan kesan berbeda.

Akan tetapi sepertinya ada yang mengganjal dengan ucapan Season’s Greetings. Kadang saya bertanya, apakah kita merayakan musim? Musim apa ya? Musim hujan? Atau musim apa yang dimaksud? (asal jangan musim kawin saja! 😛 )

Hari ini saya iseng mencari tahu soal Season’s Greetings. Saya menemukan beberapa sumber yang cukup memuaskan dan bisa dibilang masuk akal.

Ya, ternyata Season’s Greeting untuk konteks mereka yang hidup di negeri Barat, ucapan ini untuk men-generalisir semua orang. Maksudnya ucapan ini tidak ditujukan untuk kaum tertentu (Kristiani), tetapi ucapan ini juga untuk mereka yang non Kristiani. Bahwa di negeri seberang pada bulan seperti ini ternyata ada beberapa perayaan seperti perayaan Natal, Hanaukkah dan Kwaanza. Dan bahwa ternyata perayaan ini juga berkaitan dengan akan datangnya libur musim dingin yang mana semua orang tentu bersuka cita menyambut liburan musim dingin dengan suasana yang berselimutkan salju. 😛

Konteks negeri barat Season’s Greetings memang betul-betul sebuah ucapan yang ditujukan untuk semua orang ketika maksudnya untuk semua orang yang merayakan beberapa perayaan besar ini. Bahwa ucapan ini juga untuk tidak menyinggung orang dengan latar belakang tradisi tertentu.

Di Indonesia, sejatinya tidak ada perayaan di bulan Desember selain perayaan Natal. Apakah Season’s Greetings maksudnya juga ucapan untuk perayaan menyambut Tahun Baru?

Tetapi saya setuju juga ketika mereka yang berlatar belakang Kristen mau membagikan sukacita Natal. Sebaiknya ucapan Season’s Greetings lebih menjadi pilihan yang tepat ketimbang mengucapkan Selamat Natal atau Merry Christmas.

Akhir kata Merry Christmas, Season’s Greetings! 😀

Season's Greetings!

Season’s Greetings!