Tempat Wisata Kelas Dunia di NTT

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu propinsi yang terletak di zona waktu Indonesia bagian Tengah (WITA) bersama propinsi NTB, Bali, propinsi-propinsi di Pulau Sulawesi dan sebagian propinsi di Kalimantan – Kal. Utara, Kal. Selatan, Kal. Timur. Tetapi umumnya orang mengenal NTT sebagai bagian dari zona Indonesia Timur. (Dari pengalaman berada di beberapa tempat, ada sebagian orang Indonesia yang tidak mengenal letak wilayah NTT – how come??!!).

Peta Propinsi NTT

Peta Propinsi NTT

NTT adalah propinsi kepulauan yang memiliki kurang lebih 550 pulau akan tetapi terdapat beberapa pulau besar yang menjadi patokan untuk mengenal NTT. Beberapa pulau tersebut terangkum dalam jargon FLOBAMORATA – Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata. Jargon ini adalah nama lain untuk menyebut nama NTT.

Walau demikian, sama seperti Bali dan Lombok yang lebih dikenal dari pada Indonesia, demikian juga dengan beberapa pulau atau wilayah kecil di NTT yang lebih dikenal bahkan sangat terkenal sampai mancanegara daripada nama propinsi NTT itu sendiri. Daerah atau wilayah atau pulau-pulau ini menjadi terkenal karena tempat wisatanya yang berkelas dunia.

    1. Taman National Komodo (Pulau Komodo)
      Tak diragukan lagi, Pulau Komodo kini menjadi situs warisan dunia UNESCO. Taman National Komodo menjadi satu-satunya tempat habitat Komodo Dragon di dunia dan pulau ini merupakan bagian dari wilayah NTT.
      Pulau Komodo sangat terkenal tetapi sayang, orang Indonesia sendiri terkadang salah mengalamatkan pulau Komodo.
      Pulau Komodo itu adanya di propinsi NTT.

      Komodo di TN Pulau Komodo

      Komodo di TN Pulau Komodo

      Komodo di TN Pulau Komodo

      Si Komo

    2. Labuan Bajo 
      Labuan Bajo adalah ibu kota dari Kabupaten Manggarai Barat – salah satu kabupaten di propinsi NTT yang terletak di ujung Barat pulau Flores. Labuan Bajo kini menjadi salah satu destinasi unggulan di Indonesia dan mancanegara karena adanya Pulau Komodo dan karena adanya gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya yang sangat indah dan eksotis, sebut saja Pulau Padar, Pulau Kanawa, Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Gili Lawa. Selain pulau, terdapat pantai-pantai yang sangat indah-gemulai, seperti Pink Beach, pantai Nemo. Dan yang tak kalah eksotis, Labuan Bajo menjadi surga bagi para divers. Di Labuan Bajo juga terdapat Manta point yang sangat disukai oleh mereka yang hobi snorkeling.
      Begitu terkenalnya Labuan Bajo sehingga Arjen Roben dan Opa Valentino Rossi ikutan greget untuk datang menikmati pesona Labuan Bajo dan sekitarnya.
      Labuan Bajo juga masuk dalam list tempat wisata Bali Baru di Indonesia.
    3. Desa Waerebo
      Desa Waerebo merupakan bagian dari kabupaten Manggarai. Desa Waerebo unik dengan adanya 7 buah rumah bulat berujung runcing yang terletak di atas ketinggian kurang lebih 1200mdpl. Letak Desa Waerebo terpisah dari perkampungan padat penduduk sehingga akses ke sana harus berjalan kaki melewati hutan. Orang Waerebo juga dikatakan sebagai keturunan orang Minang – Sumatera Barat. Fakta-fakta unik inilah yang membuat Waerebo selalu masuk dalam list tour atau trip Labuan Bajo – baik turis lokal maupun manca. Kini Desa Waerebo sangat mudah ditemukan di media social instagram dan Facebook.
      Dan lagi-lagi, Labuan Bajo jadi pintu masuk wisatawan menuju Waerebo.

      waerebo2 (2)

      Desa Wearebo

      Waerebo

      Taman di salah satu sudut Desa Waerebo

    4. Danau Kelimutu
      Jauh sebelum Labuan Bajo terkenal, NTT punya Danau Kelimutu yang akrab di telinga wisatawan lokal dan wisman. Danau Kelimutu adalah danau 3 warna (biru-merah-hijau) hasil letusan gunung berapi ratusan tahun yang lalu. Danau 3 warna ini secara alamiah berubah-ubah yang menjadikannya sebagai salah satu keajaiban dunia. Karena itu, wisatawan berbondong-bondong selalu ingin mengunjungi Taman National Kelimutu.
      Secara scientific Danau Kelimutu dikatakan berubah-ubah warna karena pengaruh element oksidasi dari lumpur yang terdapat dalam danau. Walau demikian terdapat cerita mitos dari masyarakat setempat mengenai 3 warna Danau Kelimutu sehingga masing-masing danau diberi nama dengan sebutan Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua), Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri (Danau nama sepasang orang muda – laki-laki dan perempuan) dan Tiwu Ata Polo (Peyihir/orang jahat). Oleh masyarakat sekitar, Danau Kelimutu juga dipercayai sebagai tempat yang sakral, tempat beristirahatnya leluhur mereka. Tiwu Ata Mbupu, tempat beristirahatnya arwah para orangtua. Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri, tempat beristirahatnya orang muda dan Tiwo Ata Polo, tempat beristirahatnya orang-orang jahat.
      Danau Kelimutu terletak di Kabupaten Ende – Flores – NTT. Pintu masuk menuju Danau Kelimutu bisa melalui kota Ende atau kota Maumere.

      Kelimutu

      Sunrise di puncak Danau Kelimutu

      kelimutu 4

      Salah satu kawah Danau Kelimutu

      kelimutu 2

      2 kawah Danau Kelimutu

    5. Pantai Nembrala – Rote
      Rote – pulau ter-Selatan Indonesia dan menjadi bagian dari NTT. Tidak hanya terkenal dengan alat musik Sasando, kain tenunnya yang unik dan surga gula aren, tetapi di sana ada Pantai Nembrala. Wisman banyak berkunjung ke Nembrala untuk berselancar dan menikmati pemandangan pantainya yang tenang dan jauh dari keramaian kota.  Ber-sunset di Nembrala adalah pengalaman yang sangat mendamaikan hati. Saat matahari terbenam, anda akan sadar bahwa ‘akhir’ bukanlah akhir dari segalanya sebaliknya akhir adalah semangat baru untuk menyongsong hari esok. Sunset di Nembrala adalah salah satu spot sunset terbaik.
      Di Nembrala sudah terdapat banyak penginapan yang eksotis yang mengadopsi budaya setempat. Ada perpaduan Antara kemewahan dan kekayaan budaya lokal.
      Masih di pulau Rote, selain Nembrala terdapat beberapa Pantai yang tak kalah eksotis dan berciri khas. Pantai P – pantai yang berpasir putih ceria dan mengkilau. Pantai Oesasole memiliki pasir kuning berbiji besar dan ada pantai Inaoe yang letaknya diapiti karang-karang terjal.

      IMG_8048

      Pantai Nembrala

      IMG_8196

      Sunset di Pantai Nembrala

      IMG_8345

      Pantai P: Pasirnya putih mengkilau

      DSC_3095

      Pasir pantai Oesasole

    6. Nihiwatu dan Sumba Island
      Nihiwatu masuk dalam list 100 hotel terbaik dunia versi majalah Travel and Leisure (no. 9 dari 100 di bulan November 2018).
      Nihiwatu menawarkan konsep eco wisata kembali ke alam dengan view pantai dan alam terbuka. Keunikan Nihiwatu juga ada pada gaya arsitek bangunan yang mengadopsi rumah adat Sumba yang mana atap rumahnya menjulang tinggi. Kemewahaan dipadu dengan khasanah budaya lokal yang menjadikan Nihiwatu sebagai tempat relaksasi bagi para petualang lokal dan mancanegara.
      Tak hanya di Nihiwatu yang dikenal wisatawan, Sumba sendiri kini masuk dalam list para travelling. Kekayaan budaya dan pesona alam Sumba yang menjadi daya tarik wisatawan. Budaya Sumba masih kental dan terawat dengan baik. Hal ini nampak dalam kain tenunnya dan menjadi salah satu yang terbaik. Bangunan rumah adat Sumba pun unik karena memiliki atap yang menjulang tinggi. Nihiwatu mengadopsi gaya bangunan ini.
      Di Sumba juga masih terdapat makam Megalitik, bangunan makan besar yang terbuat dari batu. Terdapat beberapa desa adat yang bisa dikunjungi untuk mengenal budaya Sumba seperti Desa Prai Ijing, Kampung Tarung dan Desa Ratenggaro.
      Festival Pasola adalah festival budaya yang sangat terkenal di Sumba dan biasanya diadakan antara bulan Februari atau Maret. Pasola adalah pertarungan lempar lembing sambil menunggang kuda. Si penunggang kuda akan sangat bangga jika lembing yang dilempar bisa mengenai lawannya atau bahkan bisa menjatuhkan lawannya dari atas kuda. Ini adalah festival budaya sehingga pakaian yang dikenakan hanyalah pakaian adat.
      Alam Sumba juga khas dengan padang Savanah nya. Salah satu yang terkenal adalah Bukit Wairinding. Danau Wekuri, Sungai Waekelo Sawah, pantai Walakiri dengan dancing mangrove nya dan pantai Bawana masuk dalam a-must-list touring Sumba.

      nihiwatu

      Nihiwatu Resort

      SAMSUNG CAMERA PICTURES

      Bukit Wairinding

      pasola

      Atraksi Pasola

Demikian beberapa list tempat wisata di NTT yang berkelas dunia versi ManaShines. NTT tentu bukan hanya tempat-tempat ini akan tetapi perlu diakui bahwa tempat-tempat wisata inilah yang mendapat pengakuan luas dari warga travelers lokal dan mancanegara sebagai tempat yang indah – tentu sebagai tempat eksotis yang dimiliki NTT. Keindahan alam dan kekayaan budaya lokal adalah daya tarik yang dimiliki tempat-tempat wisata ini.

Semoga wilayah lain di NTT semakin berbenah dalam meningkatkan pariwisatanya dan ekonomi masyarakat bisa tumbuh dari pariwisata.

#exotic_NTT #lombablog_exoticNTT #destinasiwisata_NTT

 

Iklan

Naik-Naik Ke Puncak Fatumnasi

Rasanya belum seru kalau touring yang membuat senang dan gembira belum diceritakan dalam bentuk tulisan – di blog ini maksudnya 🙂 .

Ceritanya hari kemarin libur, Pesta Kenaikan Isa Almasih – pesta khusus untuk umat Kristiani. Tetapi lebih dari itu, liburan untuk orang yang sehari-hari ngantor tentu menjadi sesuatu yang membahagiakan, serasa dunia (hati saya) gembira menyambutnya. Ya, walau hanya sehari akan tetapi rehat sejenak dari rutinitas sangat berarti – bisa istirahat atau bisa refreshing mencari suasana baru.

Liburan kemarin sebenarnya niatnya hanya mau istirahat – masuk gereja, makan dan tidur. Yang pertama dan kedua sudah saya jalankan. Pagi kemarin sudah ke gereja menunaikan tugas iman, kemudian makan untuk mengisi kantong perut yang sudah nyaring, dan terakhir juga sudah meletakkan kepala dengan tenang di bantal. Matapun sudah tertutup. Dunia serasa tenang.

HP yang tanpa sengaja saya taruh di dekat telinga tiba-tiba berbunyi nyaring, membuat saya terbangun. Bunyi BBM. Mata masih berat melihat tulisan-tulisan di HP.

Hasil kong kali kong,.

Hasil kong kali kong,.


Teman kantor ngajak jalan-jalan ke Fatumnasi. Katanya bertiga saja, si pengundang – Ika Rambu bersama Ricky Modok (teman kantor juga) dan saya sendiri. Sebenarnya liburan ini, enaknya tidur saja. Malas jalan, tetapi membaca nama Fatumnasi, kantuk yang sudah di ubun-ubun langsung pending. Sempat pikiran juga soal jalannya, apalagi motor kesayangan belum pernah masuk medan berat. Tetapi dalam hati perjalanan hari ini akan sangat menyenangkan. Kegembiraan hari ini menentukan kegembiraan selanjutnya 😛 .

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Fatumnasi,.jalan lurus dari Arah SoE

Alhasil liburan hari kemarin diisi dengan touring ke puncak Fatumnasi – mencari udara segar dan suasana baru di sana. Fatumnasi di mana? Ya mari kita lihat di peta pulau Timor (mudah-mudahan nampak di sana). Fatumnasi itu ada di kabupaten TTS, propinsi NTT. Wilayah ini terletak sekitar 50 km di sebelah utara kota SoE. Fatumnasi berada di dekat puncak gunung Mutis – gunung tertinggi di NTT dengan tinggi 2427 dpl. Sensasi ketinggiannya ini yang membuat hati ini serasa dipacu untuk mengatakan ‘ia’. Mari kita jalan! Suasananya tak beda jauh dengan cerita tentang Fatuulan .

Jalan menuju ke Fatumnasi memang tak ada pilihan lain kecuali kita harus melewati jalan yang berbatu, berkelok dan ada tanjakan-tanjakan. Tanjakan sih tidak masalah, tetapi tanjakan diikuti dengan jalan yang rusak, itu yang soal. Kendati demikian pengalaman melewati medan berat seperti ini justru akan selalu terkenang. Ini menantang bro,… kalau menggunakan kendaraan roda dua. Badan terhentak-hentak sama seperti gelora hati yang berdebar-debar ingin ke puncak Fatumnasi.

Menarik bukan? Sangat menarik. Setelah melewati perkampungan desa Ajobaki, kami melewati barisan hutan pinus. Barisan pohonnya rapi, lebih dari itu rindang dan hampir seluruh batang pohonnya ditumbuhi lumut hijau yang menambah keindahan pemandangannya. Saya jepret beberapa bagian keindahan hutan ini.

Ada puncak bukit kecil di kiri jalan hutan pinus ini. Kami berhenti sejenak dan menikmati keindahan gelombang gunung-gunung nun jauh di sana. Di kejauhan terlihat deretan gunung-gunung. Hampir tak ada kata-kata untuk bisa mengekspresikan rasa senang dan kagum ini. Parade foto sesi pertama dimulai.

Pinus yang indah

Pinus yang indah

Hati yang gembira adalah obat :-)

Hati yang gembira adalah obat 🙂

Awesome landscape hahh,..

Awesome landscape hahh,..

Tidak hanya sampai di sini. Perjalanan kami lanjutkan. Masih 5 km lagi untuk mencapai puncak Fatumnasi. Setelah puas foto di ujung desa Ajobaki, kami melaju lagi dengan motor menuju tempat tujuan utama. Kanan dan kiri jalan masih hutan pinus dan setelah keluar dari hutan ini kami memasuki perkampungan yang nota bene masih asli, alamnya masih perawan alias masih terjaga dengan baik, masih hijau dan yang pasti udaranya dingin walau waktu menunjukkan pukul 13.12 WITA. Mataharinya panas tetapi angin yang bertiup terasa sangat dingin. Untung kami semua mengenakan sweater, jadi bisa membantu menghangatkan tubuh.

Naik-naik ke puncak Fatumnasi. Seandainya bisa dibuatkan lagu, pasti indah juga. Karena alamnya begitu indah.Beruntung bahwa kabut belum turun saat kami masih dalam perjalanan ke sana.

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Welcome to Lopo Mutis Homestay

Kami akhirnya mencapai puncak Fatumnasi dan kami langsung menuju homestay ‘Lopo Mutis’. Sebagaimana tertulis di papan namanya, Lopo Mutis menyediakan informasi singkat mengenai wilayah yang akan kami kunjungi dan tentunya lapor diri juga. Teman Ricky sudah kenal dengan penghuninya, sehingga lapor diri dibarengi dengan basa-basi sambil bertanya mengenai homestay ini. Kami sangat penasaran, apa sih yang ada di homestay ini? Sesuai dengan namanya yaitu rumah untuk menginap. Jumlahnya ada 8 buah, 6 berbentuk rumah kecil dan sisanya berbentuk rumah bulat yang merupakan salah satu kearifan lokal. Isinya hanya perlengkapan untuk tidur, tempat tidur dan teman-temannya.
Salah satu penghuni sekaligus penjaganya, bapak Mateos Anin, mengatakan sering ada tamu yang berkunjung ke sana, bukan hanya dari dalam negeri seperti dari daerah Jawa tetapi juga dari luar negeri. Sehingga tempat ini disediakan untuk menginap. Terlebih orang-orang bule, mereka suka menginap di rumah bulat., kata bapak Anin yang membawa kami keliling untuk melihat-lihat.

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Benda-benda pusaka di Lopo Mutis

Beliau kemudian membawa kami untuk melihat barang-barang pusaka di rumah utamanya sekaligus tempat beliau bersama keluarganya menginap. Barang-barang pusaka peninggalan nenek moyang yang masih tersimpan dengan baik, digantung di tiang-tiang penyanggah rumahnya. Ada gong, bano (giring-giring), pedang, tongkat, kalunga, dan mata uang perak. Salah satu mata uang perak keramat digantung di lehernya. Yang ini tidak sembarang dipakai. Hanya turunan Sani Anin (nenek moyang beliau – generasi ke-8) yang boleh memakainya. Bapa Mateos sendiri sekarang generasi ke-11. Beberapa barang lain yang juga katanya keramat dan tidak boleh dipegang orang lain adalah tongkat, kursi. Semuanya warisan yang tidak bisa dipegang selain turunan dari nenek moyangnya. Beliau mengatakan barang-barang pusaka ini sudah ada sejak tahun 1848. Wow. Pembicaraan akhirnya berakhir dengan suguhan minuman panas – teh dan kopi panas. Aroma kopi panas rasanya sangat nikmat menghalau dinginnya Fatumnasi.

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Bapa Mateos, benda pusaka dan jamuan penutupnya

Beberapa saat di homestay, kami melanjutkan perjalanan ke cagar alam gunung Mutis. Satu pemandangan alam yang tak kalah menarik. Isinya hanya hutan yang tentunya dilindungi. Barisan pohon-pohon besar di kanan dan kiri jalan. Sepanjang 5 km, hanya berdiri pohon-pohon ini.

Waktu semakin sore. Suasana cagar alam ini cukup menyeramkan untuk pendatang baru karena memang tak ada penghuni. Tetapi beruntung anak-anak dari perkampungan di Fatumnasi sementara lalu-lalang di sini. Mereka berjalan berkelompok, laki-laki dan perempuan. Ada yang sementara berjalan kaki searah dengan arah motor kami. Sementara dari kejauhan nampak kelompok kecil lainnya berjalan berlawanan dengan arah motor. Mereka juga jalan kaki saja. Yang perempuan, masing-masing menjunjung seikat kayu kering, demikian juga yang laki-laki. Tetapi mereka membawanya dengan cara memikul. Rupanya anak-anak ini baru kembali mencari kayu api. Anak-anak ini kemudian kami ajak untuk berfoto bersama, foto BIAAG.

Sebenarnya kami masih mau melanjutkan perjalanan hingga dekat dengan puncak gunung Mutis, tetapi waktu sudah semakin sore. Kabut juga mulai turun, menutupi sebagian hutan. Udaranya jelas bertambah dingin. Touring kami berakhir di tengah hutan cagar alam ini. Kami lanjut foto-foto, narsis selagi bisa. Alam ini ini serasa menyambut kami dengan tangan terbuka. Hanya kabut yang mulai menyelimuti hutan ini tetapi hari ini tetaplah cerah. Kami pun ceriah menikmatinya. Bahagia selagi bisa menikmati secuil bahagia itu.
Rasa kuatir dengan motor kesayangan akhirnya terbayar lunas dengan menikmati alam liar yang sangat indah. Bersyukur hari ini bisa menikmati keindahan alam. Dalam hati, ternyata bukan hanya di seberang sana yang memiliki tempat alam yang indah. Di sini, wilayah yang juga adalah asal nenek moyang saya, memiliki tempat yang jauh lebih indah 😀 .

Welcome to Cagar Alam Mutis

Welcome to Cagar Alam Mutis

BIAAG Yuk,.

BIAAG Yuk,.

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Salah satu pemandangan yang baik di Cagar Alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Tengah hutan cagar alam Mutis

Kapela Dipolitisasi?

Note: Buah pikiran yang gagal di post tanggal 1 April.

1 April,.April Mop, hari yang dianggap wajar untuk tipu menipu (untung hari ini tidak kena tipu malahan bisa menipu sedikit 🙂 ) . 1 April juga menandai awal bulan baru dan yang pasti tinggal 9 hari menuju perhelatan akbar pesta demokrasi di Indonesia – Pemilu. Seru?? So pasti seru,.karena tinggal hitung mundur dan angka ‘orang gila’ akan bertambah, paling sedikit dua sampai tiga orang lha:-) .

Di hari yang semakin singkat ini kampanye-kampanye dan promosi diri semakin gencar. Kampanye adalah hal wajar untuk mencari simpatisan dan dukungan untuk menjadi wakil rakyat. Tetapi yang menjadi soal kalau kampanye diikuti ‘tebar pesona’. Yang sebenarnya bukan berapa banyak amplop yang akan dikeluarkan untuk membiayai kampanye tetapi seberapa besar seorang caleg kompatible dalam menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Apakah visi misinya akan pas pada rakyat yang ia wakili?

Beberapa kejadian (satu kejadian yang paling nyata di desa sendiri) promosi diri caleg sangat menyayat hati nurani. Ceritanya di desa lagi heboh soal bantuan untuk pembangunan Kapela dari seorang Caleg. Secara pribadi saya tidak bisa mengatakan ‘setuju’ ataupun bilang ‘tidak setuju’. Untuk itu saya mencoba netral melihatnya dan membahasakannya di sini.

Alasan tidak setuju karena moment promosi diri yang model ini tidak pas. Singkat saja, kenapa niat membantu masyarakat tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang? Sudah dekat Pemilu baru kelihatan baiknya. Hehe 🙂 Setuju, kalau melihat situasi masyarakat saat ini. Sejarah panjang pembangunan Kapela ini juga menjadi alasan kenapa saya setuju dengan masyarakat desa yang setuju-setuju saja menerima bantuan ini.

Di tengah situasi yang tak menentu, masyarakat desa seakan menemukan ‘malaikat penyelamat’ yang datang di waktu yang tepat. Singkatnya bukan visi misi yang dilihat lagi oleh masyarakat tetapi niat tulus untuk membantu yang kemudian dianggap masyarakat sebagai orang yang baik dan tepat. So, salah???

Bukan hanya itu, masyarakat ini bukan tanpa alasan jikalau menoleh ke belakang dan melihat sejarah panjang pembangunan Kapela. Menurut cerita bapak yang sekarang menjabat sebagai Ketua Lingkungan, pembangunan Kapela sudah dimulai sejak saya belum lahir. Artinya rencana dan fanderen (sebutan orang desa untuk fondasi bangunan) sudah ada sejak tahun 1970an hingga 1980an. Pelopor pembangunan Kapela ini adalah Bapak Thobias Laka (almarhum, veteran dan ketua lingkungan saat itu). Saat saya sudah lahir dan duduk di banguku SD – tahun 90an, fanderen ini pun masih berdiri kokoh tetapi sudah ditumbuhi lumut.

Tahun-tahun berlalu, ada perubahan rencana. Fanderen untuk pembangunan Kapela dirubah dan dibuat lebih besar. Lubang untuk fanderen diperlebar dan diperdalam sekitar 1 X 1 m. Artinya pembangunan Kapela ini diperlebar dan diperbesar layak sebuah Gereja besar. Saya ingat saat masih SD, lubang untuk fanderen ini kami manfaatkan sebagai tempat persembunyian.

Seiring dengan pergantian Ketua Lingkungan, ada sedikit kemajuan. Lubang kosong ini akhirnya bisa diisi dengan fanderen. Tetapi lagi-lagi pembangunan Kapela ini terbengkalai. Fanderen yang sudah dibuat berdiri kokoh saja dengan rangka besi-besi yang siap untuk dicor. Lama ditinggal dan tak terurus dalam hitungan tahun, bahkan besi-besi yang siap cor hilang satu per satu tanpa bekas. Ketua lingkungan satu demi satu naik dan hasilnya sama. Pembangunan Kapela terbengkalai. Bapak Josef Sanam yang akhirnya naik sebagai Ketua Lingkungan pada tahun 2008 mencoba untuk meneruskan estafet pembangunan Kapela ini.

Sang Ketua Lingkungan dengan gigih memperjuangkan pembangunan Kapela ini. Berbagai upaya sudah ia lakukan, mulai dari menghimpun masyarakat, memotivasi mereka untuk kembali semangat sampai membuat mereka sadar untuk memberi sumbangan dalam rangka membangun Kapela. Hasilnya ada kemajuan pesat. Tiang-tiang Kapela mulai berdiri kembali.
Di tengah upaya pembangunan Kapela, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kadang sampai pada titik jenuh. Berbagai persoalan muncul, tantangan demi tantangan datang silih berganti. Pembangunan sempat terhenti sampai setahun. Tetapi prinsip teguh pada pendirian ini yang terus memompa semangat sang Ketua Lingkungan untuk melakukan segala daya.

Upaya lain mulai dilakukan yaitu pembuatan proposal untuk diajukan ke pemerintah daerah (Pemda). Syukur bahwa Pemda segera merespon melalui Kasisos. Masyarakat mendapat angin segar karena dibantu dengan sejumlah dana dan dana ini bisa dimanfaatkan untuk membuat rangka atap Kapela.

‘Putus nyambung putus nyambung’ seperti judul lagunya BBB milik Rafi Ahmad dkk. Pembangunan Kapela ini demikian. Putus, sambung lagi, putus dan sambung lagi. Kembali rangka baja atap ditinggal sampai setahun. Masyarakat seolah hilang harapan. Sang ketua lingkungan juga kehilangan semangat dan didera oleh tugas dinas. Masyarakat lagi-lagi jenuh dan enggan meneruskan pembangunan Kapela. Hal ini jelas bahwa semangat masyarakat sungguh redup.

Di tengah situasi ini, masyarakat seolah menemukan penyelamat. Muncul secercah harapan untuk meneruskan pembangunan Kapela terutama meneruskan pembuatan atap. Harapan ini muncul dari mana? Ya datang dari diri caleg ini. Bahwa ketika masyarakat kecil ini sudah tak berdaya didera tuntutan moral dan tuntutan keselamatan akhirat, maka bantuan dirasa sebagai sesuatu yang pas. Mereka tidak melihat dari siapa datangnya tetapi niat tulus untuk Tuhan yang kemudian dianggap wajar.

Situasinya demikian. Bahwa sejarah panjang telah mendera masyarakat. Saat masyarakat kecil ini yang sudah terkuras habis baik tenaga maupun kemampuan finansialnya, mereka akhirnya tak punya pilihan lain selain menerima segala bantuan dengan tangan terbuka. Kalau ada niat yang baik dari orang yang membantu kenapa tidak? Mungkin masyarakat berpikiran seperti ini. Lantas masyarakat ini akan langsung dicap bodoh dan murahan?

Politisasi? May be yes may be no. Mari kita renungkan saja dalam hati.

Proses Pembangunan Kapela

Proses Pembangunan Kapela

Sentuh Hati Anak-Anak

Sudah dua kali mengikuti acara Family Gathering, istilah kumpul keluarga dan anak-anak binaan Plan. Pertama di dusun Taetimu desa Nunleu yang diselenggarakan pada 4 Maret dan kedua kemarin tanggal 13 Maret di desa Pili. Kegiatan ini tentunya dimaksudkan untuk membina keakraban, kebersamaan antar keluarga dan anak-anak binaan Plan di desa dan mengakrabkan mereka dengan Plan dan stafnya. Lebih dari itu keluarga dan anak-anak bisa bersenang ria sambil lebih mengenal Plan dan mengetahui program-program yang dijalankan LSM ini. Bahwa supaya keluarga dan anak-anak tidak merasa ‘sia-sia’ menjadi bagian dari keluarga Plan.

Dua kali mengikuti proses ini, secara pribadi ada pembelajaran yang sangat berarti. Bisa mengamati proses yang terjadi di sana – apa yang dilakukan oleh masyarakat dan Plan dan bagaimana berinteraksi dengan keluarga dan anak-anak di desa. Saya lebih tahu akan posisi saya sebagai orang yang mempresentasikan lembaga dan kerja-kerjanya.

Selain ketertarikan untuk belajar, saya bisa mengalami dan memahami apa yang terjadi di desa. Saya juga adalah anak desa, tumbuh dan besar di desa, tentu saja kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan saya waktu masih kecil dulu. Melihat kehidupan keluarga dan anak-anak desa ini, saya seolah kembali merasakan suasana hidup tempoe doeloe – saat masih kecil. Sempat mengalami kehidupan yang belum ada listrik dan hanya mengandalkan lampu ‘pelita’. Kemudian kehidupan sedikit berkembang dengan adanya ‘lentera’ dan petromak atau sebutan orang desa  ‘lampu gas’. Malam sangat pekat dan rumah-rumah penduduk hanya diterangi cahaya pelita atau lentera atau petromak.

Saya pernah berada pada situasi di mana ketika sudah ada ‘listrik masuk desa’ tetapi hanya ada 2 TV di desa (milik Chinese yang tinggal di desa). Kami bergerombol dan berdesak-desakkan tanpa malu hanya untuk menonton serial film kesukaan seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng. Serial acara sore yang paling heboh seperti Satria Baja Hitam. Kadang diusir secara kasar oleh tuan rumah untuk tidak menonton – disiram dengan air, pintu dan jendela rumah ditutup. Tetapi tho kami tak tahu yang namanya ‘malu’. Yang ada di benak adalah bagaimana untuk bisa melewati rintangan dan hambatan untuk menonton ini.

Anak-anak Saat Asyik Melihat Klip Video di Laptop

Anak-anak; Saat Asyik Menonton Klip Lagu di Laptop

Saya pernah berada pada kehidupan belantara yang mana pilihan bermain selain di lingkungan sekolah adalah hutan, areal sawah, padang rumput dan kali. Pilihan bermain di sekolah pun hanya sebatas bermain kelereng, karet, kartu bergambar, siki doka (Indonesianya apa ya? biasanya dimainkan oleh anak-anak gadis tetapi kadang anak laki-laki juga ikut bermain), benteng, perang-perangan di hutan, gala asin. Permainan yang agak mewah mungkin hanya ‘kasti’ – kasti tradisional.

Saya sempat merasakan saat-saat suram dalam pendidikan – pendidikan keras ‘di ujung rotan ada emas’. Guru-guru sangat keras dalam mendidik sehingga hukuman ‘dirotan’ adalah hukuman yang wajar dan pantas untuk anak-anak.

Atribut untuk sekolah sangat minim. Topi, dasi dan sepatu hanya dikenakan pada hari Senin karena ada apel bendera (upacara bendera). Hari-hari selanjutnya hanya bisa mengenakan seragam merah-putih dan atribut lainnya – itupun hanya punya sepasang pakaian seragam. Sepasang seragam dipakai selama seminggu! bayangkan harumnya seperti apa? Apalagi jeda (istilah masih SD ‘bersenang’ I dan II) kami sukanya bermain bola kaki. 🙂

Demikian berada dua kali bersama keluarga, terutama anak-anak desa ini, ada proses belajar yang sangat mahal. Ada kesempatan di mana bisa mempresentasikan keberadaan lembaga pada masyarakat dan mencoba membangkitkan pemahaman mereka akan apa yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan LSM ini. Dan lebih serasa kenangan akan masa lalu bangkit kembali.

Kenangan akan kehidupan yang sulit ini yang senantiasa membuat saya lebih berani dan semangat untuk selalu kembali ke desa. Ingin rasanya saya bisa membagikan pengalaman hidup pada mereka. Dalam dua kali kesempatan ini saya selalu mengatakan ‘Bapak-ibu dan adik-adik, saya juga tinggal di desa. Saya dari desa, tetapi kemudian bisa sekolah sampai kuliah karena kerja keras orangtua.’

Pengalaman saya mungkin tak seberapa dan belum mahal harganya, tetapi paling kurang mereka (terutama orangtua) bisa termotifasi untuk terus menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin dan bukan hanya sebatas sampai S3 (SD-SMP-SMA), tetapi bisa sampai Perguruan Tinggi dan akhirnya bisa bekerja dan hidup mandiri – terutama kembali bisa memberi yang terbaik untuk masyarakatnya.

Ingin rasanya bisa menyentuh hati anak-anak ini lebih dalam, mengajak mereka untuk menikmati hidup mereka, riang gembira untuk bersekolah – belajar tanpa beban dan takut. Terus berjuang tanpa putus asa dan terus membangkitkan rasa percaya diri untuk menatap masa depan dan akhirnya bisa meraih cita-cita yang mereka impikan. Ingin rasanya menyentuh hati mereka lebih dalam agar mereka mengambil hikmah dari kehidupan yang saat ini mereka alami. Sehingga suatu saat ketika mereka menjadi orang sukses, mereka tahu seluk-beluk dan perjuangannya hingga mencapai sukses itu.

Sentuh hati anak-anak ini untuk mengenal diri mereka dan lingkungan di mana mereka berada. 🙂

Cerita Dari Desa

Perjalanan ke desa selalu menyisahkan banyak cerita. Selalu ada hal menarik yang perlu diceritakan. Bukan untuk mengekspose orang desa, mengeploitasi kehidupan mereka tetapi sekedar untuk mengingatkan kita bahwa ternyata banyak orang di tempat lain masih berkutat dengan kehidupan yang memprihatinkan, jauh dari kehidupan layak.

Ceritanya, kemarin saya melakukan perjalanan ke beberapa desa, desa Kokoi, desa Fatulunu dan terakhir berlabuh di desa Nunleu. Desa-desa ini masuk dalam Kecamatan Amanatun Selatan-Kab. TTS. Tujuan perjalanan saya hanya untuk mengantar merchandise berupa ‘Payung’ yang akan dibagikan untuk anak-anak Plan. Dalam perjalanan mata saya melihat banyak hal. Dari mata, masuk ke otak lalu turun ke hati – saya melihat lalu merenungkan semuanya. Yang selalu membuat saya ngeri dan selalu bertanya-tanya dalam hati adalah pertama tentu jalannya. Jangan pernah membayangkan untuk berjalan di atas aspal yang licin. Yang ada kita berjalan di aspal dan tanah bergelombang. Jalan rata hanya beberapa km kemudian kita akan memasuki jalan berlubang dan berkerikil.

Rumah Bulat

Rumah Bulat

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung

Rumah Bulat Dikelilingi Tanaman Jagung


Pemandangan yang tak kalah menyayat hati adalah kondisi rumah dan kehidupan orang-orang di sana. Rumah-rumah warga masih jauh dari kata layak. Ada yang masih menghuni ‘rumah bulat’ – dikelilingi tanaman jagung yang tahun ini akan gagal panen karena curah hujan yang kurang. Ada yang sudah tinggal di rumah ber-seng dan bertembok, ya cukuplah. Tetapi tetap kehidupan sangat sulit di sana – Life is really tough. Kehidupan seperti ini yang akhirnya menghantar banyak anak-anak desa ke kota kabupaten, propinsi bahkan ke luar pulau untuk menjadi buruh kasar dan ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI.

Maka pantas saja di luar NTT, orang tahunya daerah kita daerah miskin. Memang itu kenyataannya dan kita tidak boleh marah jika dikatakan miskin – dalam artian kehidupan ekonomi kita masih jauh dari layak. Harian Kompas tanggal 3 Februari 2014 di salah satu tulisan yang berjudul ‘Saatnya Serius Mengevaluasi’ (halaman 5), menyebutkan bahwa NTT memiliki banyak warga miskin.

17 Agustus 2014, Indonesia sudah akan merayakan HUT Proklamasi kemerdekaan yang ke-69. Sudah 69 tahun Indonesia merdeka, tetapi melihat kehidupan masyarakat di sini, apakah betul Indonesia itu merdeka? Pada 17 Agustus dan hari-hari besar National, anak-anak di desa dengan suara lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Guru-guru di daerah sangat fanatik dan kadang kejam jika anak-anak sekolah salah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka memaksa agar menyanyikannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Indonesia, Tanah Airku
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
jadi pandu ibuku, dst

Anak-anak di desa sangat bangga menyanyikannya. Tetapi apakah Indonesia bangga memiliki anak-anak ini, apakah Indonesia bangga dengan kehidupan orang di desa-desa ini?

Sebentar lagi Indonesia akan mengadakan Pemilu – memilih calon perwakilan rakyat. Spanduk-spanduk ajakan untuk ikut Pemilu terpampang di mana-mana. ‘Ayo ikut Pemilu’. Seandainya di spanduk tertulis, ‘ayo ikut bantu warga miskin’. Tak kurang bahkan lebih banyak lagi poster, baliho dan spanduk calon DPR tertempel di mana-mana, menjadi pemandangan bagus yang menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan. Warga yang fanatik dengan calon nya bahkan terus memantau pemasangan baliho-baliho agar tidak rusak dan memastikannya masih nampak jelas terlihat. Para calon sendiri juga mulai lebih banyak turun ke desa-desa, melihat berbagai kekurangan yang akan diperbaikinya dan janji manis pun diobral. Pertanyaannya apa mereka ini calon perwakilan rakyat yang tepat dan mampu memperhatikan nasib rakyat yang ia wakili? Apakah betul mereka akan sungguh-sungguh bekerja memperjuangkan aspirasi rakyat? Memperbaiki segala hal yang telah mereka lihat di desa? Atau kehidupan akan kembali seperti sedia kala atau malah akan semakin buruk bahkan kehidupan masyarakatnya sendiri akan lebih susah? Hadew cape dech,.. 😛 (dalam hati persetan yang penting nanti dapat proyek! ckckckc)

Menyoal ini memang panjang dan bertahap. Dan lagi katanya pembangunan tidak sekali jadi, butuh proses. Sampai kapan proses itu akan terus berproses pak? Sudah 2014, milenium baru, abad baru, tahun-tahun kemerdekaan semakin panjang. Bertahun-tahun masyarakat ini hidup dalam lilitan kehidupan yang memprihatinkan dan kemiskinan semakin terstruktur. Apakah ini yang namanya proses pembangunan?

Lagi dikatakan pembangunan manusia dan karakternya serta pedidikan lebih diutamakan. Anak-anak di desa harus berjalan tak kurang dari 2 km untuk mencapai sekolahnya. Dan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka harus bersekolah siang karena masih dititipkan di bangunan SD – di sini dikenal dengan Sekolah Satap, Sekolah satu atap. Sudah cape berjalan, keringat bercucuran bahkan seragam sekolah mereka saja mulai usang. Dan sampai di sekolah kadang mereka tak menemui gurunya, guru tak mencukupi. Kebutuhan sekolahpun tak mencukupi di sana. Mereka belajar apa adanya.

Balik lagi ke kehidupan masyrakatnya, mereka pun seolah masih berjalan di tempat. Pembangunan seolah tak menyentuh mereka. Kalau pun ada, mereka pasti tak merasakan pembangunan yang berkarakter dan mendidik mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka akan selalu menjadi sasaran empuk pemangku kepentingan pemerintah, calon perwakilan daerah dan swasta.

Berharap kehidupan orang-orang desa akan diperhatikan dan mendapat kehidupan yang lebih layak.

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Salah Satu Rumah Warga di Atas Bukit

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah

Siswa-Siswa SMP, Dalam Perjalanan ke Sekolah